"Mungkin aku memang pemain wanita, tapi aku tidak akan menelantarkanmu karena kamu sedang mengandung anakku." Adrian.
"Jika aku tidak mengandung anakmu, apakah kamu tetap akan bertanggung jawab padaku?" Amira.
Sebuah kecerobohan yang dilakukan Amira membuatnya harus kehilangan kesuciannya dan mengandung benih dari Adrian, pria yang terkenal dengan julukan casanova. Amira harus menjadi selir rahasia dari Adrian sampai ia melahirkan bayinya.
Follow ig : Siran_rhmwtii6
facebook : Siran Ran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti Besar
"Anda positif hamil, sudah 4 minggu!" Ulang dokter itu dengan suara yang cukup keras. Mata Mira masih membelalak tak percaya.
Hanya satu kali melakukannya akibat kebodohan dan kecerobohannya sendiri, ia harus mengandung benih dari Adrian. Sementara Adrian tersenyum sinis pada Mira.
"Baiklah, saya tinggal dulu!" Pamit dokter itu yang mengerti tatapan Adrian pada Mira.
Mira terlihat sangat terkejut, matanya sudah memanas dan hampir saja meluncurkan tetesan air mata. Namun ia berhasil menahannya, berusaha tidak bersedih di hadapan ayah dari anak yang di kandungnya.
Adrian menatap mata Mira dengan tatapan mengejek, ia tak menyangka Mira yang belum menikah bisa hamil. Tentunya Adrian hanya memiliki 1 kesimpulan dalam pikirannya, yaitu Mira adalah wanita yang seperti di pikirannya. Wanita yang rela menyerahkan tubuhnya demi uang.
"Anak dari pria ke berapa yang tidur bersamamu?" Tanyanya yang langsung menggores hati Mira seketika, gambaran bahwa Adrian akan bertanggung jawab atas bayi yang di kandungnya buyar dengan tuduhan itu.
"Saya bukan j*l*ng, Pak. Bayi ini memiliki ayah yang jelas. Ayahnya tidak mau bertanggung jawab, maka dari itu aku juga tidak akan pernah memberikan anak ini jika suatu saat dia tidak punya anak dengan istrinya." Ucap Mira dengan kata-kata yang begitu menusuk hati Adrian, ia tidak menyangka wanita di hadapannya melontarkan kata-kata yang sangat menyakitkan.
Tiba-tiba amarah memuncak, membuat Adrian langsung mencekal tangan Mira yang saling menggenggam.
"Apa kau bilang? Kau tidak akan memberikan anak itu padaku?!"
"Bukannya tadi kau tidak mengakuinya?"
Adrian menarik napas panjang, meredam emosinya yang belum sepenuhnya terlampiaskan.
"Jadi, itu anakku? Berikan buktinya bahwa memang kau tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain setelah waktu itu!"
"Usia kandungan ini membuktikannya, apa kau tidak dengar yang dikatakan dokter tadi?"
Adrian mengingat kembali apa yang dokter itu katakan, bahwa kandungan Mira sudah berumur 4 minggu atau 1 bulan. Itu artinya, Mira memang sedang mengandung anaknya.
Tiba-tiba sebuah pikiran terbesit dalam benaknya, ia merasa dapat jawaban dari setiap tuntutan dan tantangan dalam hidupnya.
"Jika kau tidak mau bertanggung jawab tidak mengapa, aku masih sanggup membesarkannya sendirian. Aku akan membawanya pergi jauh agar tidak ada yang tahu bahwa CEO Widiatama Group memiliki anak di luar pernikahannya." Adrian menunjukan telapak tangannya, mengisyaratkan Mira untuk berhenti bicara.
Ia merasa kembali tertusuk dengan kata-kata Mira. Harga dirinya yang selalu ia banggakan jatuh di hadapan gadis yang ia nodai tersebut.
"Mungkin aku memang seorang pemain wanita, tapi aku tidak akan pernah menelantarkanmu. Karena kamu sedang mengandung bayiku." Ucap Adrian sambil menunjuk perut Mira
"Jika aku tidak sedang mengandung bayimu, apa kamu akan tetap bertanggung jawab setelah kejadian itu? Kau membuatku ragu, karena kau selalu bermain wanita dengan tidak tahu tempat. Apa kamu tidak ingat, jika kamu juga lahir dari rahim seorang wanita?"
Setiap kata-kata Mira selalu menusuk hatinya, namun Adrian heran pada dirinya sendiri, meski kata-kata Mira sangat menusuk hatinya, ia tak sedikitpun tersinggung.
"Jadi, apa kau mau menikah denganku? Aku akan menanggung seluruh biaya hidupmu dan menjadi suamimu sampai anak ini lahir. Setelah itu, kau bebas pergi tanpa perlu memikirkan anak ini, aku akan mengambilnya dan merawatnya bersama istriku, Tasya."
Mira langsung berada dalam dilema besar. Tak pernah ia harapkan sedikitpun kondisi seperti ini, menyesal bahkan sudah tiada guna. Ia tidak bisa selalu berandai-andai.
Malam kelam tempo hari bukan sepenuhnya kesalahan dan kesengajaan Adrian. Itu juga kecerobohan Mira. Andai kata dia tidak minum sampai mabuk berat, mungkin tidak akan ada benih yang tumbuh dan bersemayam dalam rahimnya saat ini.
Ia mengangguk meski berat, mau bagaimanapun Adrian adalah ayah dari bayinya. Mira tidak mungkin juga pergi membawa bayi itu tanpa ikatan pernikahan.
"Kita akan menikah secara siri,"
Mira mengangguk setuju lagi, meski Mira tahu konsekuensi dari pernikahan siri. Ia tak akan memiliki hak apapun terutama materi saat nanti berpisah.
...****************...
Hari semakin gelap, kini Mira sudah berada di dalam sebuah apartemen milik Adrian. Tentunya bersama dengan Adrian juga. Keduanya akan melangsungkan pernikahan mereka.
Beberapa orang yang bertugas menikahkan sudah datang. Acara itu berlangsung dengan sangat tersembunyi, hanya ada Dimas yang menjadi saksi dan orang yang akan dijadikan sebagai suami palsu dari Mira jika seseorang di kantor mempertanyakannya nanti.
Pernikahan telah selesai dengan kesedihan mendalam di hati Mira. Ia sangat merasa miris, ketika impian pernikahannya sejak dulu hancur.
Dari pesta hingga mempelai, semua tidak ada. Bahkan cintapun tidak ada dalam pernikahannya. Hanya ada tanggung jawab dan juga materi.
"Tanda tangani!" Adrian tiba-tiba melemparkan sebuah dokumen ke atas pangkuan Mira.
"A-apa ini?" Tangan Mira bergetar ketika mengambil berkas itu.
"Kau tidak buta huruf, kan?! Baca saja!"
Perlahan Mira membukanya, membaca setiap huruf yang tertata rapi dalam selembar kertas yang sudah ditempeli materai dan ditanda-tangani Adrian juga Dimas. Hanya tinggal Mira yang belum menandatanganinya.
Surat itu berisi sebuah perjanjian antara Mira dan Adrian.
Sebelum Mira membacanya, Adrian sudah lebih dulu keluar dari apartemen bersama Dimas.
"Peraturan dalam pernikahan tertulis juga?" Gumam Mira saat ia hampir selesai membaca setengah isi surat itu.
**Peraturan dan apa saja yang harus dipenuhi pihak ke dua dalam pernikahan singkat ini :
-Pihak ke dua wajib melayani pihak pertama sebagaimana mestinya seorang istri, tak terkecuali melayani dalam urusan ranjang.
-pihak kedua harus memiliki izin dari pihak pertama untuk bisa keluar dari apartemen atau membawa seseorang ke dalam apartemen.
-Jika melanggar, maka akan dikenakan sanksi dengan denda sebesar 300 juta rupiah**.
Mata Mira tak henti-hentinya membelalak sempurna ketika membaca surat perjanjian itu.
Mungkin sudah nasibku harus seperti ini, aku harus kehilangan seluruh apa yang aku miliki. Dan sekarang aku perlahan menjadi budak dari pria Casanova seperti Adrian.
Ia menyeka air matanya yang lolos tanpa aba-aba.
"Jika ayah masih hidup, mungkin aku tidak akan seperti ini." Lirih Mira dalam tangisannya. Kemudian ia menunduk, melihat perutnya yang masih datar. Mira mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan ibu. Suatu saat nanti kamu harus ikut dengan orang yang berhak untukmu. Kamu mungkin akan jadi titipan terindah dari Tuhan untuk ibu dalam 8 bulan lagi."
Mira menangis sesenggukan di dalam apartemen itu, hingga ia menyadari bahwa hari semakin malam. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakan kecilnya saja.
...****************...
Pagi harinya, ia sudah berada di kantor lebih awal. Bukan karena ada pekerjaan, melainkan karena panggilan dari Adrian yang mengirim Dimas untuk menjemputnya di kontrakan.
Mira bahkan sangat terkejut saat mendapati Dimas berdiri di depan pintu rumah sewanya. Ia kebingungan karena tidak pernah memberikan alamatnya pada Dimas ataupun Adrian.
"Untuk apa Pak Adrian memanggilku ke kantor sepagi ini?" Tanya Mira yang sudah duduk di ruangan Adrian. Ia duduk di sofa panjang dalam ujung ruangan tersebut.
"Untuk semua itu, Mir-..." Dimas memukul keningnya sendiri, menyadari sebuah kekeliruan dalam panggilannya. "Maksudku... Bu Mira, silahkan makan semua itu." Dimas menunjuk kotak sedang di atas meja.
Kotak itu berwarna putih, dengan sebuah stiker bertuliskan sesuatu menemprl di tutup kotak itu.
"Makanan untuk ibu hamil?"
"Ya, setiap pagi, siang, atau malam pak Adrian akan mengirim ini untuk anda. Dia tidak mau anda sembarangan dalam memakan makanan. Agar tidak membahayakan bayinya."
Mira tertegun, namun ia malas berdebat. Ia langsung memakan makanan itu dengan lahap. Setelah selesai, ia langsung bergegas ke ruangannya tanpa berkata apa-apa lagi.
Meninggalkan Dimas yang setia berdiri disana mengawasi Mira sampai selesai makan.
Mira duduk dengan rasa kesal di hatinya. Ia pikir surat perjanjian itu tidak lengkap, karena tidak menerangkan makanan yang akan Mira makan.
Semua orang pekerja memperhatikan Mira yang terlihat kesal. Siska yang bermaksud ingin menemui staf HRD bahkan mengunjungi Mira di ruangannya.
"Kamu tadi di panggil Pak Adrian, Mir?" Mira menjawab pertanyaan Siska dengan anggukan. "Ada apa? Kamu di pecat?!"
Wajah Siska mulai panik, seolah tidak terima jika Mira di pecat. Karena dalam sebulan ini, kedekatan Mira dengan Siska membuat mereka seperti sahabat.
"Enggak, cuma disuruh makan!" Mira menutup mulut dengan tangannya, ia seharusnya tidak mengatakan itu agar tidak mengundang kecurigaan teman-teman kantor.
"Makan?" Ulang Siska dengan pandangan kebingungan.
"Maksudnya membantu membuat makanan." Bohong Mira dengan memasang wajah tenang.
"Ooo..." Siska membulatkan bibirnya.
Sebelum sempat ada yang berbicara lagi, Mira merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, ia merasa akan ada yang keluar dari dalam mulutnya.
Dengan secepat mungkin Mira berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan seluruh isi perut yang tadi masuk ke perutnya. Siska yang khawatir mengikuti Mira dan memijat tengkuk leher belakang Mira.
"Kamu sakit, Mir?" Tanya Siska setelah Mira merasa lebih baik.
"Em... Iya, mungkin masuk angin." Mira kembali berbohong, sebab ini sudah pesan dari Adrian agar ia menyembunyikan kehamilannya. Kecuali jika perutnya terlihat membesar. Adrian menyuruh Mira untuk mengakui Dimas sebagai suaminya.
"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat dan pulang saja! Aku akan membuat laporan untuk ke Pak Adrian." Tawar Siska yang membuat Mira mengangguk setuju.
Mira tak memungkiri bahwa ia memang benar-benar ingin pulang, sebab ia merasakan pusing yang sangat hebat di kepalanya.
...****************...
Rasa mual kembali menerpa Mira, padahal ia sudah dua jam berada di rumah setelah izin pulang lebih awal dari kantor tadi.
Sudah hampir 4 kali Mira terus keluar masuk kamar mandi. Hingga tak ada lagi yang bisa Mira keluarkan dari dalam perutnya, kecuali cairan berwarna kekuningan.
Ia benar-benar tidak tahan, hingga memutuskan untuk meminta bantuan seseorang yang sudah lama ia tidak kunjungi. Dengan tangan yang lemas, Mira meraih ponselnya bermaksud untuk menghubungi seseorang.
Brak...
"Apa yang kau lakukan?!"
-
-
-
Bersambung...
apa bedanya dengan Adrian yang celup sana sini, alias Casanova 🤦🏻♀️
g punya kaca X Adrian 🤣🤣🤣🤣
mira.....liat apa an?????