Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KE MANAPUN AKU PERGI
Anaxa refleks menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran negatif. Tapi tindakannya malah membuat Dimas dan Keenan khawatir
"Kenapa, masih pusing? " Tanya Dimas
"Tidak. Cuma lagi peregangan." Ucapan Anaxa langsung dibalas "Ohhh.." dari Keenan.
Setelah beberapa saat jalan kaki melewati gedung kantor, taman kota, dan swayalan, akhirnya sampai juga di gedung kos Dimas dan Keenan. Tanpa sensor, Anaxa langsung bertanya "Pasti mahal ya? Kalian sharing?"
"Biar lebih hemat, bro" Ucap Dimas sembari memimpin jalan. Naik lift ke lantai delapan. Kemudian sampai juga ke kamar kos 814.
Dimas membuka pintu dan langsung menyalahkan lampu ruangan.
"Agh!" Sontak Anaxa langsung memejamkan mata dan memijat dahinya.
Keenan yang biasanya cengengesan, sukses dibuat khawatir oleh Anaxa. Keenan menepuk pundak temannya itu, dengan cemas Keenan berkata "Perlu ke rumah sakit gak?"
Anaxa menggeleng kan kepala
"Yakin bro? Kalau tambah parah gimana?" Dimas pun ikut khawatir
"Gak papa. Aku hanya gak bisa liat yang terang-terang. Mataku terlalu sensitif."
"Ahhh begitu ya." Dengan cekatan, Dimas mematikan semua lampu. Hanya menyisakan pencahayaan remang dari kamar mandi yang setengah tertutup dan cahaya dari meja belajar
Melihat itu semua, Anaxa jadi merasa tidak enak. "Maaf udah bikin repot."
"Gak papa kok. Kamu lagi sakit, dan gue juga gak tau sama kondisi mata lu. Maaf juga ya."
"Selain pintar banget, bro ini ternyata seorang vampire!" Celutuk Keenan.
Dimas langsung tertawa karena lelucon itu. Mau tak mau Anaxa juga ikut tertawa. Dia menggaruk-nggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Anaxa juga tersenyum tipis.
"Ini mau langsung tidur atau gimana kalian?" Anaxa sedikit bingung. Dia tidak tahu kebiasaan apa aja yang dilakukan teman saat sedang menginap.
"Nonton film suka?"
"Tidak."
"Main game?"
Anaxa menggeleng
"Nonton bola?"
"Apakah seorang lelaki harus menyukai bola?"
"Agh!" Keenan berteriak histeris. Seperti kena mental karena Anaxa
"Lalu apa yang kamu lakukan, Anaxa?" Kali ini Dimas yang bertanya. Pria itu juga penasaran dengan Anaxa.
"Biasanya nulis esai penelitian. Lalu... Kerja partime." Kini, senyum canggung terukir di sudut bibir Anaxa.
"DEMI KERANG AJAIB. TERNYATA GINI YA PERBEDAAN ANAK BODOH DENGAN ANAK JENIUS?" Keenan kembali berteriak histeris.
"Berisik, bodoh!" Ucap Dimas. Mengambil bantal lalu melemparkan nya tepat ke wajah Keenan. Kena telak!
"Awh!"
Atensi Dimas kembali ke Anaxa. "Kamu kerja partime dimana? Jadi apa? Udah lama kah?"
"Hmm.. Itu.. Jadi anak data entry di PsikoData Nusantara. Lumayan sih gajinya..."
Namun, diluar dugaan, Dimas dan Keenan malah menatap Anaxa.. Mata keduanya melotot kaget.
Sampai akhirnya.. "LUMAYAN APANYAA DASAR GILA? Itu perusahaan yang banyak di idam-idamkan sama lulusan sini. Terus HELLO kamu jadi data entry? UDAH GILA EMANG UDAH GILA." Keenan mencengkram kedua bahu Anaxa kemudian memaju-mundurkannya dengan barbar.
"Anaxa diam-diam ternyata bom ya?! Hahahaha." Dimas ikut tertawa. Perutnya juga terasa sakit akibat tertawa terus melihat reaksi pasrah dari Anaxa.
"Malam ini kita harus nonton film bareng sampai pagi hari. Gak boleh ada tapi-tapian! Dimas, tolong satuin dua kasurnya biar nonton filmnya leluasa."
"Siap kapten!" Dengan cekatan, Dimas mulai mengatur letak kasur. Sedangkan Keenan mempersiapkan cemilan bahkan sampai membuat popcorn.
Anaxa sebenarnya mau melawan. Tapi melihat teman-teman barunya yang begitu antusias untuk menghabiskan waktu bersama dengan Anaxa, membuat dirinya membatalkan niat.
Anaxa hanya bisa berdiri sambil tersenyum tipis. Dalam hati bersyukur sekaligus bertanya, "Kenapa bisa dapat teman serandom ini? "
Setelah belasan menit berlalu, Anaxa sudah duduk di tengah-tengah kasur dengan Dimas di sebelah kanannya dan Keenan di sebelah kirinya. Selimut menenggelamkan mereka. Film action terputar di laptop.
Baru menit-menit pertama film mulai, namun Keenan sudah melahap popcorn nya. Dimas juga sudah mulai mengunyah cemilan.
Didorong rasa penasaran akibat tingkah kedua temannya, Anaxa akhirnya mengikuti. Dia mengambil segenggam popcorn dan memakannya satu-persatu. Pikirnya "Ternyata tidak buruk juga untuk melakukan ini."
Semakin lama menonton, Anaxa seakan masuk ke dunia filmnya. Dia ikut merasa tegang saat adegan balap-balapan mobil menghindari kejaran polisi. Anaxa juga hampir berteriak kecewa karena penjahatnya gagal lolos dari kejaran polisi. Mobil yang penjahatnya kendarai malah kehilangan arah dan menghantam toko swayalan. Dimas dan Keenan juga turut menyatakan kekecewaan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam tiga pagi. Rasa kantuk mulai menghinggapi Anaxa. Dia bertanya kepada Dimas dan Keenan apakah mereka sudah mengantuk, namun dibalas gelengan kepala oleh keduanya.
"Oke. Kalau begitu aku tidur duluan." Ucap Anaxa sambil berpindah posisi. Dari yang tadinya berada di tengah-tengah sekarang pindah ke posisi pojok kiri.
Anaxa membenarkan selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Tidur meringkuk seperti kepompong. Memejamkan mata. Tapi pikirannya sama sekali tidak bisa diajak kerjasama. Pikirannya secara otomatis memikirkan detail-detail kecil di buku jurnal yang tak boleh untuk dibawa pulang. Beruntunglah dia sempat memfotonya sebelum mengembalikan buku jurnal itu.
Dan kenapa Anaxa malah memfoto buku itu?
Karena... Anaxa sedikit merasa familiar oleh detail tulisan tangan di halaman buku jurnal itu. Mirip... Tulisan dosen barunya, Aglaea.
Karena Anaxa pernah melihat tulisan seperti
itu saat Aglaea memberikan masukan di buku binder kuliahnya.
Dalam pikirannya, Anaxa membandingkan....
"Huruf A..."
"Huruf g..."
"Tanda titik..."
Mirip.
Tapi...
Belum cukup bukti.
Anaxa menggaruk-nggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu memutuskan untuk memejamkan mata. Dia ingin tidur. Rasanya lelah sekali hari ini.
Dan Anaxa membiarkan Dimas dan Keenan yang masih asik menonton. Sesekali Anaxa terbangun karena berisik, dan dia masih melihat mereka menonton film. Tak mau ambil pusing, Anaxa kembali tidur.
Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Dan tentu saja Anaxa yang bangun pertama kali. Dia melirik ke sebelah. Layar laptop yang mati, dan kedua temannya yang masih tidur dengan posisi berantakan.
Anaxa hanya menggeleng-nggeleng kan kepala saja. Kemudian dia beranjak ke kamar mandi hanya untuk membasuh muka.
Dia kembali ke kamar dan meraih celana panjang yang di lipatnya dan ditaruh di atas meja. Selama di kos an Dimas dan Keenan, dia memakai celana pendek yang terbalut dibalik celana panjangnya. Dengan cepat Anaxa memakai celana panjangnya itu.
Kemudian Anaxa mencari secarik kertas dan pena. Dia menuliskan pesan kepada Dimas dan Keenan bahwa dia ingin kembali ke kos nya untuk siap-siap ke kampus. Dan secarik kertas itu diletakkan diatas meja beserta pena nya.
Anaxa berniat membuka pintu dan langsung berjalan keluar. Tapi langkahnya segera terhenti, karena tepat di depan pintu kamar kos Dimas dan Keenan, dia menemukan amplop coklat yang sama persis.
Dengan secepat kilat Anaxa mengambil amplop tersebut dan berlari menuju kos nya. Sepanjang perjalanan, dia benar-benar keringat dingin.
"Bagaimana bisa aku tetap diteror bahkan sampai merambat ke kos temanku? Bagaimana kalau temanku juga ikut diteror?"
Jantung Anaxa berdegup kuat setelah pikiran mengerikan itu terlintas di benaknya.