NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Bali

Hujan turun ketika Retna akhirnya sampai di kampung halamannya.

Setelah berjam-jam menempuh perjalanan, ia berdiri di depan rumah orang tuanya dengan satu tas pakaian di tangan.

Rumah sederhana itu masih sama.

Pagar kayu yang mulai kusam.

Pohon mangga di halaman.

Teras kecil tempat dulu ia sering duduk bersama ibunya.

Tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman setelah hidupnya berantakan.

Namun kali ini, Retna tidak tahu apakah dirinya masih punya tempat di sana.

Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

Tok... tok... tok...

Tidak lama kemudian, pintu terbuka.

Ibunya, Bu Sari, berdiri di sana.

Begitu melihat Retna, wajahnya langsung berubah.

“Retna?”

Air mata Retna seketika menggenang.

“Bu...”

Ia berharap ibunya akan memeluknya.

Ia berharap ada seseorang yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tetapi Bu Sari justru memandang tas di tangan putrinya.

“Kamu pulang?”

Retna mengangguk.

“Iya, Bu.”

“Arman mana?”

Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokan Retna tercekat.

“Aku sudah bercerai.”

Bu Sari terdiam.

Dari dalam rumah, ayah Retna yang mendengar percakapan itu segera keluar.

“Apa?”

Retna menunduk.

“Aku diceraikan Arman.”

Ayahnya, Pak Hadi, menatap putrinya beberapa detik.

Kemudian bukannya mendekat, ia justru menghela napas panjang.

“Sudah Ayah bilang dari dulu.”

Retna mengangkat wajah.

“Yah...”

“Dulu kamu tidak mau mendengarkan.”

Kalimat itu membuat air mata Retna jatuh.

“Aku tahu.”

“Dulu Ayah sudah bilang jangan menikah dengan Arman.”

“Aku tahu, Yah.”

“Ibu juga sudah berkali-kali memperingatkanmu.”

“Aku tahu...”

“Tapi kamu tetap keras kepala.”

Retna menggigit bibir.

Ia datang untuk mencari tempat berlindung.

Tetapi baru beberapa menit berada di rumah itu, ia sudah merasa semakin kecil.

“Aku salah, Yah.”

“Sekarang kamu baru sadar?”

Bu Sari ikut bicara.

“Dulu Ibu bilang laki-laki itu bukan pasangan yang baik untukmu. Keluarganya juga tidak pernah menghargai kita.”

Retna mengusap air matanya.

“Aku pikir dia akan berubah.”

“Dan sekarang?”

“Dia menceraikanku.”

Pak Hadi menggeleng.

“Makanya jangan terlalu percaya pada laki-laki.”

Retna tertawa pahit.

“Bukankah aku sudah merasakannya?”

Ayahnya terdiam.

Retna masuk ke ruang tamu dan meletakkan tasnya.

Tubuhnya terasa begitu lelah.

“Aku cuma ingin pulang, Yah.”

Tidak ada jawaban.

Retna duduk perlahan.

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi.”

Bu Sari memandangnya.

“Kamu punya kami.”

Untuk sesaat, hati Retna sedikit menghangat.

Namun kalimat berikutnya justru kembali membuatnya terluka.

“Tapi jangan berharap kami akan terus membenarkan keputusanmu.”

Retna menatap ibunya.

“Aku tidak minta dibenarkan, Bu.”

“Lalu?”

“Aku cuma ingin didengarkan.”

Suasana mendadak sunyi.

Retna menundukkan kepala.

“Aku sudah dihina.”

Suaranya bergetar.

“Aku dibilang tidak cantik. Tidak punya uang. Tidak berguna. Aku dipaksa tanda tangan surat cerai. Setelah itu aku diusir tanpa uang.”

Bu Sari menatap putrinya.

Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat sedikit melunak.

“Kenapa Arman bisa sampai seperti itu?”

“Karena dia punya perempuan lain.”

“Apa?”

“Namanya Claudia. Keluarganya kaya. Mereka bisa membantu bisnis Arman.”

Pak Hadi mengepalkan tangan.

“Kurang ajar.”

Retna menatap ayahnya.

“Tapi aku tetap salah, Yah.”

Pak Hadi tidak menjawab.

“Aku memang tidak mendengarkan kalian dulu.”

Ia menghapus air matanya.

“Jadi aku tidak akan menyalahkan siapa pun.”

Bu Sari duduk di sampingnya.

“Retna...”

“Aku cuma capek.”

Suaranya pecah.

“Aku capek sekali, Bu.”

Untuk pertama kalinya sejak datang, Retna menangis seperti anak kecil.

Ibunya memeluknya.

Tetapi pelukan itu tidak cukup untuk menghapus luka yang sudah terlalu dalam.

Malam itu Retna tidur di kamar lamanya.

Namun ia tidak benar-benar tidur.

Ia menatap langit-langit sambil memikirkan masa depan.

Ia sudah kehilangan suami.

Kehilangan rumah.

Dan sekarang ia mulai merasa dirinya hanya menjadi beban bagi orang tuanya.

Pagi harinya, ketika mendengar ayah dan ibunya berbicara di ruang tengah, Retna kembali terdiam di balik pintu.

“Kalau dia mau tinggal di sini, ya biarkan,” kata Bu Sari.

“Tapi dia harus mulai bekerja,” jawab Pak Hadi. “Kita juga tidak bisa terus membiayainya.”

“Ibu tahu,pak.”

Retna memejamkan mata.

Ia tahu orang tuanya tidak bermaksud jahat.

Tetapi setelah semua yang terjadi, setiap kalimat terdengar seperti penolakan.

Ia tidak ingin menjadi beban.

Tidak ingin dikasihani.

Dan yang paling penting, ia ingin memulai hidup dari awal.

Hari itu Retna menghubungi sahabat lamanya, Lilis.

Mereka berbicara cukup lama.

“Aku mau pergi ke Bali,” kata Retna.

“Bali?”

“Iya.”

“Sendirian?”

“Ada kamu di sana.”

Lilis terdiam.

“Kamu serius?”

“Aku butuh pekerjaan.Lis”

“Aku bisa bantu carikan.”

“Kerja apa saja.”

Lilis berpikir sejenak.

“Kebetulan aku punya kenalan yang sedang mencari ART.”

Retna terdiam.

“ART?”

“Iya. Pekerjaan rumah tangga. Rumahnya milik seorang warga asing yang tinggal di Bali.”

Retna menghela napas.

“Tidak masalah.”

“Kamu yakin?”

“Aku tidak peduli kerja apa.Yang penting aku bisa menata hidup baru.”

Retna menatap koper kecil di samping tempat tidur.

“Aku cuma ingin pergi dari sini.”

Lilis masih terdengar ragu.

“Orangnya baik. Tapi dia seorang bule.”

Retna tersenyum tipis.

“Justru bagus.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin mengenal laki-laki Indonesia lagi.”

Lilis tertawa kecil.

“Kamu masih trauma?”

Retna terdiam.

“Bukan trauma.”

Ia menatap cincin pernikahannya yang sudah dilepas.

“Aku cuma tidak percaya laki-laki lagi.”

Malamnya, setelah memastikan kedua orang tuanya tidur, Retna memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.

Ia tidak membawa banyak.

Hanya pakaian, beberapa dokumen penting, dan sedikit uang yang tersisa.

Di atas meja, ia menulis sebuah pesan.

Ayah, Ibu. Maaf. Retna pergi bukan karena membenci kalian. Retna hanya ingin belajar berdiri sendiri. Jangan cari Retna. Kalau nanti Retna sudah bisa mengurus hidup Retna sendiri, Retna akan pulang.

Air mata jatuh di atas kertas.

Retna mengusapnya.

Ia tidak ingin menangis lagi.

Pukul lima pagi, ia keluar dari rumah secara diam-diam.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada perpisahan.

Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.

Dengan koper kecil di tangan, Retna berjalan menuju kendaraan yang akan membawanya pergi.

Bali.

Tempat yang bahkan belum pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari hidupnya.

Beberapa jam kemudian, saat kendaraan meninggalkan kampung halamannya, Retna menatap keluar jendela.

Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian.

Namun anehnya, ada sedikit kelegaan di dadanya.

Tidak ada Arman.

Tidak ada Bu Mira.

Tidak ada orang yang terus mengingatkan bahwa ia gagal mempertahankan pernikahan.

Di Bali, ia akan menjadi Retna yang baru.

Ia tidak tahu akan seperti apa hidupnya nanti.

Ia bahkan tidak tahu apakah bekerja sebagai ART di rumah seorang bule akan mudah.

Tetapi Retna tidak peduli.

Selama ia bisa mendapatkan tempat untuk tinggal dan uang untuk bertahan hidup, ia akan menjalaninya.

Ia hanya belum tahu bahwa rumah yang akan menjadi tempat kerjanya nanti ternyata dihuni oleh seorang pria bule yang bukan hanya tampan, tetapi juga akan perlahan mengubah seluruh hidupnya.

Dan pertemuan pertama mereka...

Sama sekali tidak seperti yang Retna bayangkan.

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!