Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.
Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.
Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Realitas Kampus dan Senyuman Misterius
Tap! Tap! Tap!
Suara derap langkah kakiku menggema di sepanjang koridor gedung Fakultas Bahasa. Aku berlari sekuat tenaga sembari mendekap buku catatan di dada. Sesekali aku melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 07.58 WIB.
"Mati aku... dua menit lagi!" gumamku dengan napas terengah-engah.
Begitu sampai di depan pintu kelas, aku langsung mendorongnya pelan dan menyelinap masuk. Beruntung, dosen belum tiba. Namun, di barisan bangku ketiga, seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda sudah menatapku dengan mata melotot dia Rara Sahabat ku.
Aku segera mengambil tempat duduk di sebelahnya sembari menyeka keringat di dahi.
"Shavia Aurelien. Lo bener-bener ya!" bisik Rara dengan nada mengomeli yang tertahan agar tidak terdengar seisi kelas.
"Untung Pak Broto belum datang. Kalau lo telat semenit aja, udah dikunci di luar lo!"
"Maaf, Ra... tadi jalanan agak macet," kilahku sambil meringis canggung.
"Macet atau kamunya yang sengaja malas bangun karena masih mau memperpanjang adegan ciuman di mimpi lo itu, hah?" sindir Rara tajam, membuat pipiku mendadak merona merah.
"Ih, Rara, kecilin suara kamu!" bisikku panik sembari membekap mulutnya.
Rara menarik tanganku dari mulutnya lalu menghela napas panjang. Tatapannya berubah menjadi lembut dan penuh perhatian. Dia menggenggam jemariku di bawah meja.
"Vi, gue serius," ucap Rara lirih, kali ini tanpa nada bercanda.
"Gue hafal lo dari SMA. Gue tahu dunia nyata kadang menuntut banyak hal dan bikin capek. Tapi lo gak bisa terus-menerus melarikan diri ke dunia khayalan lo itu. Lo harus mulai membuka diri buat realitas, Vi. Cowok di mimpi lo itu gak akan pernah bisa memeluk lo di sini."
Kata-kata Rara menggantung di udara saat Pak Broto akhirnya melangkah masuk ke kelas.
Aku hanya terdiam, menatap halaman kosong buku catatanku. Aku tahu Rara menyayangiku dan ingin yang terbaik untukku, tapi hatiku masih terlalu terikat pada kehangatan semalam.
Tiga jam berlalu, bel istirahat akhirnya berbunyi. Rara langsung menarik lenganku dengan semangat menuju kafe di area luar kampus.
"Ayo cepetan, Via. Doni udah nungguin di meja pojok sana!" seru Rara menggebu-gebu.
"Ra, pelan-pelan... Aku bisa jalan sendiri," keluhku pasrah mengikuti tarikannya.
Di meja pojok kafe, seorang cowok berkaus rapi sedang melambaikan tangan ke arah kami. Wajahnya manis, senyumannya ramah, dan pembawaannya tampak sangat sopan.
"Hai, Ra. Ini ya, teman yang kamu ceritakan itu?" tanya cowok itu saat kami berdua duduk di hadapannya.
"Yup! Don, kenalin ini Shavia, panggil aja Via. Vi, ini Doni, anak teknik sipil yang tempo hari gue bilang," jawab Rara dengan senyum penuh arti, seolah baru saja menyelesaikan misi besar.
Doni mengulurkan tangannya dengan sopan. "Hai Via, salam kenal ya. Kamu tau, Rara sering banget cerita tentang kamu, tidak kusangaka kamu secantik ini."
"Ah, iya, salam kenal juga, Doni, Terimakasih untuk pujiannya juga" balasku sembari menyambut uluran tangannya seadanya.
Orangnya memang baik dan ramah. Sepanjang obrolan, Doni berusaha mencairkan suasana dengan menceritakan lelucon seputar tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk.
Rara beberapa kali menyenggol lenganku, memberi kode agar aku merespons lebih aktif.
"Oh ya, Via. Kamu jurusannya apa? Suka nongkrong di sekitaran sini juga?" tanya Doni mencoba mencari topik baru.
Namun, fokusku mendadak buyar. Pertanyaan Doni menguap begitu saja dari kepalaku. Pandanganku beralih menatap es teh di depanku yang mulai mencair.
Pikiranku mendadak terlempar kembali ke ruang tamu megah di alam mimpi semalam.
Aku teringat bagaimana cara sosok "Sayang" aku menangkup pipiku, membayangkan bagaimana tatapan matanya yang lekat mengunci seluruh duniaku, dan bagaimana sentuhan hangat bibirnya yang terasa begitu magis.
Mengingat itu semua, sudut bibirku perlahan terangkat. Aku tersenyum-senyum sendiri, hanyut dalam romansa fiksi yang belum mau kulepaskan.
"Via? ... Via?"
Panggilan Doni yang berulang akhirnya memecah lamunanku.
Aku tersentak dan mengerjapkan mata. Di depanku, Doni dan Rara sedang menatapku dengan dahi berkerut, tampak sangat heran melihat tingkah lakuku.
"Eh... Iya, Don. Kenapa?" tanyaku gugup, merasa bersalah.
"Kamu... enggak apa-apa kan, Via?" tanya Doni bingung sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tadi aku tanya jurusanmu, tapi kamu malah senyum-senyum sendiri melihat gelas es teh."
Rara langsung menepuk dahinya sendiri dengan frustrasi. "Aduh, Via... kumat lagi deh pintarnya."
Rara kemudian menatap Doni dengan senyum canggung yang dipaksakan.
"Maaf ya, Don. Via ini memang suka tiba-tiba dapat inspirasi mendadak. Maklum, anak sastra, otaknya penuh estetika."
Doni hanya tertawa kecil, walau guratan bingung masih jelas tercetak di wajahnya.
Sementara itu, Rara memberikan tatapan tajam yang seolah berbisik. 'Awas lo ya, Via. Habis ini lo kena ceramah dari gue!'
Aku hanya bisa menunduk sembari menyembunyikan senyumanku yang tersisa. Di dunia nyata ini, bersama orang sebaik Doni sekalipun, hatiku tetap terasa kosong. Jiwaku telanjur tertinggal di alam mimpi semalam, mendekap sosok sempurna yang tidak berwujud.
Begitu jam istirahat berakhir, Doni pamit untuk kembali ke gedung fakultasnya karena ada kelas siang. Setelah punggung cowok itu benar-benar menghilang di balik pintu kafe,
Rara langsung melipat kedua tangannya di atas meja. Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat tajam, siap menginterogasiku.
"Shavia Aurelien. Jelaskan. Sekarang!" tuntut Rara dengan suara yang ditekan, menahan kekesalannya.
Aku menghela napas panjang, sengaja memutar-mutar sedotan di dalam gelasku untuk menghindari tatapan matanya.
"Jelaskan apa sih, Ra. Kan tadi aku udah minta maaf karena melamun."
"Minta maaf aja gak cukup, Via. Lo tahu gak, tindakan lo tadi itu gak sopan banget!" omel Rara, nadanya naik satu oktaf.
"Doni itu orangnya baik, dia udah berusaha ramah dan cari topik obrolan. Tapi lo, lo malah mengabaikan dia dan senyum-senyum sendiri kayak orang kurang waras!"
"Aku gak sengaja, Rara..." bisikku lirih, mulai merasa bersalah.
"Lo sengaja, Via. Otak lo itu selalu sengaja melarikan diri ke cowok fiksi lo itu setiap kali ada orang nyata yang mencoba mendekat!"
Rara memajukan tubuhnya, memukul meja kafe dengan pelan namun bertenaga.
"Mau sampai kapan lo begini, hah. Sampai kapan lo mau pacaran sama bayangan yang bahkan gak punya nama nyata?!"
"Dia punya nama. Aku memanggilnya Sayang, dan dia juga memanggilku begitu!" sahutku, mendadak merasa defensif karena tidak terima duniaku direndahkan.
"Itu bukan nama, Shavia. Itu cuma sebutan yang lo ciptakan sendiri!" bentak Rara, namun sedetik kemudian suaranya melunak. Guratan frustrasi dan rasa khawatir yang tulus tercetak jelas di wajah sahabatku itu.
Rara menghela napas berat, lalu meraih kedua telapak tanganku yang mendadak terasa dingin.
"Vi... dengerin gue," ucap Rara, menatap mataku lekat-lekat dengan kehangatan seorang sahabat sejati.
"Gue ngomel begini karena gue sayang sama lo. Gue gak mau melihat lo melewatkan hidup yang berharga ini, hanya demi mendekap sesuatu yang gak nyata. Dunia nyata memang gak sempurna, Via. Di sini ada rasa kecewa, ada tugas kuliah yang menumpuk, dan cowok-cowoknya mungkin gak setampan Andy William di mimpi lo."
Aku terdiam, tenggorokanku mendadak terasa tercekat.
"Tapi di dunia nyata, lo bisa merasakan hangatnya matahari, lo bisa makan es krim bareng gue, dan suatu hari nanti, lo bisa menggenggam tangan seseorang yang benar-benar bernapas di sebelah lo," lanjut Rara, matanya berkaca-kaca.
"Buka diri lo untuk dunia ini, Via. Tolong, jangan hanyut terlalu dalam, sampai lo gak bisa pulang lagi ke realitas."
Kata-kata Rara telak menghantam lubuk hatiku yang paling dalam. Dadaku terasa sesak. Aku tahu semua yang dikatakan Rara adalah kebenaran yang mutlak. Namun, ingatan tentang ciuman hangat di alam mimpi semalam, masih terlalu kuat mencengkeram jiwaku.
"Aku... Aku bakal mencoba, Ra," bisikku akhirnya, memberikan janji yang aku sendiri belum tahu apakah bisa kutepati.
Rara tersenyum lega, lalu menepuk punggung tanganku pelan. "Nah, begitu dong. Ya udah, ayo balik ke kelas. Tapi janji ya, malam ini tidurnya buat istirahat, bukan buat lanjut pacaran di mimpi!"
Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang dipaksakan. Di dalam hati, aku tahu aku berbohong pada Rara. Alih-alih ingin beristirahat, aku justru sudah tidak sabar menunggu malam tiba. Aku ingin segera memejamkan mata dan kembali ke pelukan sosok yang paling sempurna yang ada hanya di duniaku.