SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Rukun sama ?
BAB 2: "RUKUN SAMA RATU DRAMA? OGAH!"
Suara bising khas ruang kelas 11-IPA 2 melayang ke mana-mana. Meja-meja digeser seenaknya, beberapa cowok lagi asyik main tepok kartu di pojokan, dan geng cewek populer lagi sibuk ngerumpiin skincare terbaru.
Aira berjalan santai menyusuri koridor. Gaya jalannya nggak ada anggun-anggunnya sama sekali—tegap, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku rok, sambil asyik mengunyah permen karet. Seragamnya yang acak-acakan bikin beberapa murid yang berpapasan sama dia langsung berbisik-bisik.
"Eh, itu beneran Aira?"
"Kok gayanya beda banget? Biasanya nunduk kayak buronan."
"Kesambet setan apa dia semalem?"
Aira cuma memutar bola matanya malas mendengar bisik-bisik tetangga sekolah.
Penduduk di sini pada kurang kerjaan apa gimana, sih? batinnya.
Begitu Aira menendang pelan pintu kelas 11-IPA 2 hingga terbuka lebar, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak agak hening. Semua mata tertuju ke arah pintu. Aira nggak peduli, dia mengedarkan pandangan mencari bangku kosong.
"Aira! Di sini, Sayang!"
Sebuah suara lembut, manis, tapi terdengar sangat palsu di telinga Aira menyapa. Di sudut kelas dekat jendela, seorang cewek dengan rambut dikuncir setengah, wajah di-makeup tipis ala cewek polos natural, melambaikan tangan sambil tersenyum manis.
Valerie Anindya. Sang Antagonis Utama. Ratu drama berkedok malaikat.
Di ingatan Aira Shena yang lama, Valerie ini dianggap sahabat terbaik. Padahal di balik layar, Valerie cuma manfaatin Aira buat jadi penampung suruhan, nyuruh ngerjain tugas, sampai bikin Aira dibenci sama satu sekolah gara-gara fitnah halus yang selalu dia sebar.
Aira tersenyum miring. Nih dia, dalang utama yang ngebawa pemilik tubuh ini ke jurang maut.
Aira melangkah mendekati meja Valerie. Valerie makin memperlebar senyumnya, lalu menyodorkan tumpukan buku tebal ke hadapan Aira.
"Aira, kok baru dateng sih? Aku nungguin dari tadi tahu!" tutur Valerie dengan nada bermanja-manja. "Nih, PR Matematika sama Fisika aku belum selesai. Kamu tolong kerjain ya sekarang? Nanti sebelum bel masuk harus udah beres.
Kamu kan sahabat aku yang paling pinter\~"
Beberapa murid di kelas cuma natap kasihan ke arah Aira, tapi nggak ada yang berani ngebantu. Valerie itu anak pemilik yayasan, jadi nggak ada yang berani nyari gara-gara sama dia.
Aira menatap tumpukan buku di mejanya, lalu beralih menatap muka Valerie yang sok polos.
"PR lu?" tanya Aira singkat, nadanya datar banget.
"Iya dong! Kayak biasanya. Kan kamu rajin banget. Nanti aku beliin es teh deh di kantin sebagai gantinya!" Valerie terkikik, mengira Aira bakal nurut kayak anjing leher terikat seperti biasa.
PLAK!
Aira menepis tumpukan buku itu kasar sampai semuanya jatuh berserakan di lantai kelas. Suaranya bergema nyaring, membuat seisi kelas langsung bungkam total. Kertas-kertas melayang ke udara sebelum mendarat tragis di lantai yang kotor.
Mata Valerie belalak. "A-Aira?! Kamu apa-apaan sih?!"
Aira memajukan badannya, menopang kedua tangannya di atas meja Valerie. Dia meniup gelembung permen karetnya sampai meletus—POP!—lalu menatap lurus ke dalam mata Valerie dengan pandangan dingin yang meremehkan.
"Punya tangan kan lu?" tanya Aira pelan, tapi menusuk. "Atau otak lu udah membusuk sampai ngerjain tugas sekolah sendiri aja nggak becus?"
"Aira! Kok kamu ngomongnya gitu?!" Wajah Valerie langsung memerah, antara kaget dan malu setengah mati karena ditatap seisi kelas. Matanya mulai berkaca-kaca—jurus andalannya buat nyari simpati. "Aku kan cuma minta tolong! Kalau gak mau ya tinggal bilang, nggak usah pake kasar gini!"
"Minta tolong?" Aira terkekeh sinis. "Minta tolong itu sekali dua kali. Kalau tiap hari lu numpang nama di tugas gue, itu namanya ngelunjak, Bego. Lu kira gue pembantu lu?"
"Kamu... kamu kok berubah banget sih?!" Valerie mulai terisak pelan, air matanya menetes pas banget seperti skenario drama TV. "Aku salah apa sama kamu, Ra? Aku kan sahabat kamu!"
"Sahabat?" Aira mengambil satu langkah mundur, memiringkan kepalanya sambil tertawa geli. "Sahabat yang suka nyebar gosip kalau gue anak haram? Sahabat yang suka sengaja numpohin kuah bakso ke rok gue minggu lalu terus pura-pura panik? Sahabat modelan begitu mending gue buang ke tempat sampah!"
GAS! Seisi kelas langsung bisik-bisik makin kencang.
"Anjir, Aira savage banget!"
"Bener juga sih, gue juga risih liat Valerie nyuruh-nyuruh Aira terus."
"Gila, berani banget dia ngelawan ceweknya yayasan!"
Valerie mengepalkan tangannya di bawah meja, giginya gemetaran menahan malu dan emosi. Kedok cewek baik-baiknya mendadak terancam hancur dalam hitungan menit cuma gara-gara Aira yang mendadak kesetrum setan apa tahu.
Sebelum Valerie sempat membela diri dengan manipulasi selanjutnya, pintu kelas kembali terbuka.
Atmosfer di dalam kelas mendadak berubah drastis. Dingin, mencekam, dan berat.
Sesosok cowok tinggi dengan seragam rapi terbalut jas OSIS berjalan masuk. Wajahnya rupawan bak pahatan patung Yunani, tapi tatapan matanya begitu tajam dan tanpa ekspresi, seolah menatap semua orang di ruangan itu tak lebih dari sekadar tumpukan debu.
Langit Biru Adhitama. Ketua OSIS, murid paling berprestasi, sekaligus bos geng motor Averus yang ditakuti di jalanan. Dan pastinya... male lead dingin yang punya trauma masa kecil.
Langit berjalan masuk didampingi dua anggota OSIS lainnya buat mengecek kerapihan kelas pagi. Begitu masuk, pandangan Langit langsung tertuju pada buku-buku yang berserakan di lantai, Valerie yang lagi nangis mendayu-dayu, dan Aira yang berdiri santai sambil mengunyah permen karet.
Valerie yang melihat Langit langsung mendapat kesempatan emas. Dia berdiri, lalu berlari kecil ke balik punggung Langit sambil memegang lengan jas cowok itu, berakting ketakutan.
"Langit... tolongin aku..." bisik Valerie dengan suara gemetar yang dibuat-buat. "Aira mendadak marah-marah gak jelas. Dia ngorbanin buku-buku aku terus bentak-bentak aku di depan umum..."
Langit menatap lengan bajunya yang dipegang Valerie dengan kilatan risih, tapi dia tidak menepisnya. Matanya yang kelam beralih menatap Aira.
"Shena," suara Langit terdengar berat dan dingin. "Bikin keributan lagi sebelum bel masuk?"
Di novel, Aira Shena bakal langsung gemetaran setengah mati kalau ditatap Langit kayak gini, lalu minta maaf sambil nangis-nangis. Tapi Aira yang sekarang? Dia cuma membalas tatapan Langit tanpa rasa takut sedikit pun.
"Keributan?" Aira mendengkus, lalu melangkah santai menuju bangkunya sendiri di pojok belakang. "Gue cuma lagi ngajarin cewek di belakang lu itu cara jadi manusia mandiri. Lagian, mata lu pea apa gimana? Dia yang ngebossy, gue yang dibentak. Lu Ketua OSIS apa hakim memihak?"
DEGG!
Satu kelas menahan napas serentak. Nggak ada—sekali lagi, NGGAK ADA—murid di SMA Nusantara Mandiri yang berani ngomong pake nada nyolot begitu ke Langit Biru.
Langkah Langit terhenti. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, alis cowok dingin itu bertaut. Dia menatap Aira dengan rasa ingin tahu yang samar di balik matanya yang biasanya mati.
"Lu ngomong apa barusan?" tanya Langit, suaranya makin rendah, mengintimidasi.
Aira duduk di kursi belakangnya, menyilangkan kaki di atas meja dengan santai, lalu menatap Langit sambil tersenyum mengejek.
"Gue bilang: jangan sok tahu kalau gak tahu lapak masalahnya, Ketua OSIS yang terhormat. Mending lu urus tuh cewek benalu yang nempel-nempel di lengan lu, sebelum bajumu ketularan bau ketiak palsunya."
Valerie melotot tak percaya. "AIRA!"
Langit tidak menjawab. Dia hanya menatap Aira dalam diam selama beberapa detik. Ada sesuatu yang beda dari cewek di depannya ini. Aira Shena yang dia kenal biasanya cuma cewek tak terlihat yang selalu nunduk kalau lewat di depannya. Tapi cewek di depannya sekarang... punya aura liar yang sangat berbahaya.
Dan entah kenapa, dada Langit mendadak berdesir aneh.
Aira cuma tersenyum tipis melihat respon Langit. Bagus, langkah pertama acak-acak alur cerita: sukses besar!
see you next bab 3
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?