Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Ospek dan Jaket Lusuh
Matahari baru saja naik beberapa jengkal, namun aspal lapangan utama universitas sudah memancarkan hawa panas yang menyengat. Ratusan mahasiswa baru berdiri berbaris rapi seperti prajurit, mengenakan seragam wajib yang seragam: kemeja putih lengan panjang yang dikancingkan sampai atas, celana kain hitam formal, dan papan nama dari kardus yang dikalungkan di leher dengan tali rafia.
Di tengah lautan formalitas yang kaku itu, Gavin Dewantara berdiri di barisan paling belakang dengan pose yang sangat tidak mencerminkan seorang mahasiswa teladan. Kemeja putihnya yang sengaja dibeli dengan ukuran dua kali lebih besar tidak dimasukkan ke dalam celana sepenuhnya—hanya bagian depan yang terselip canggung. Kancing paling atasnya dibiarkan terbuka, memamerkan kaus dalam hitam yang mengintip. Sebagai pelengkap, sebuah jaket denim pudar dengan bagian siku yang hampir bolong tersampir malas di pundak kanannya.
Gavin mengunyah permen karet dengan ritme yang konstan, matanya bergerak malas menyusuri panggung utama tempat para petinggi senat memberikan pidato sambutan yang membosankan.
"Heh! Kamu! Yang di ujung kanan belakang! Sini kamu!"
Sebuah teriakan melengking memecah keheningan barisan. Seorang senior bertubuh tegap dengan ban lengan merah bertuliskan KOMISI DISIPLIN berjalan tegap ke arah Gavin. Wajah senior itu merah padam, napasnya memburu, merasa otoritasnya dilecehkan oleh penampilan santai Gavin. Namanya Danu, mahasiswa tingkat tiga yang terkenal paling gila hormat di Fakultas Teknik.
Gavin menoleh ke kiri dan ke kanan, menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari. "Saya, Bang?"
"Iya, kamu! Maju ke depan sekarang!" bentak Danu, suaranya menggema di antara barisan mahasiswa baru yang langsung menunduk ketakutan.
Gavin melangkah santai. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu kanvas murah berdecit di atas aspal. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Danu, melipat tangannya di dada tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Kamu tahu aturan tata tertib berpakaian di kampus ini?" Danu melotot, mencoba mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang sedikit lebih tinggi. "Kemeja keluar, kancing terbuka, bawa jaket gembel ke lapangan. Kamu mau kuliah atau mau markir angkot?"
Beberapa senior lain mulai berdatangan, ikut mengerumuni Gavin untuk memberikan tekanan mental. Namun, mereka salah memilih target. Gavin telah menghabiskan masa remajanya berhadapan dengan tatapan dingin Baskoro Dewantara dan jajaran direksi korporasi multi-nasional. Gertakan mahasiswa tingkat tiga sama sekali tidak ada apa-apanya.
Gavin meniup gelembung permen karetnya hingga pecah dengan bunyi plop kecil. "Aturan itu dibuat supaya tertib dan fokus belajar kan, Bang? Bukan buat pamer pita merah di lengan baju. Kalau kemeja saya keluar sedikit bisa bikin akreditasi kampus ini turun dari A jadi B, baru saya minta maaf dan masukin sekarang juga."
Bisikan kaget dan tarikan napas tertahan langsung menjalar di antara barisan mahasiswa baru yang menyaksikan konfrontasi itu. Belum pernah ada mahasiswa baru yang berani membalas argumen Komisi Disiplin dengan retorika sesantai dan setajam itu.
Wajah Danu berganti dari merah menjadi keunguan karena menahan amuk. "Berani kamu ya! Siapa namamu?!"
"Gavin, Bang. Dari Teknik Kimia," jawab Gavin sambil melempar senyum miring khasnya. Ia membetulkan posisi jaket denim di pundaknya. "Kalau Abang mau hukum saya lari keliling lapangan atau push-up, silakan saja. Tapi mohon cepat ya, Bang. Kasihan teman-teman yang lain keburu jemuran mereka kering di kosan kalau nungguin kita debat kusir di sini."
Danu mengepalkan tinjunya, namun ia tahu ia tidak bisa main fisik di tengah lapangan terbuka yang diawasi oleh dosen dari lantai atas gedung rektorat. "Oke, Gavin. Kamu pikir kamu hebat? Hari ini kamu lolos. Tapi ingat wajah saya. Selama satu semester ke depan, hidup kamu di fakultas ini gak akan pernah tenang."
Gavin hanya mengangguk hormat dengan dua jari menempel di pelipisnya, lalu berbalik berjalan kembali ke barisannya tanpa beban. Di balik jaket jins lusuhnya, ada prinsip yang terpatri kuat sejak ia meninggalkan Menteng: ia tidak akan pernah menundukkan kepala pada manusia yang merasa besar hanya karena selembar ban lengan atau jabatan semu.