NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst



Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.

Ketika seseorang telah memiliki segala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fang Ye [FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]

Di Sekte Pedang Qingyun, ada satu peraturan yang ditulis di gerbang utama dengan huruf sebesar tubuh manusia:

Pedang membedakan benar dan salah, bukan kuat dan lemah.

Fang Ye sudah membaca kalimat itu setiap pagi selama sepuluh tahun, sejak ia cukup tinggi untuk melihatnya tanpa mendongak. Ia tidak pernah bosan membacanya. Bukan karena kalimat itu indah—meski memang indah—tapi karena setiap kali ia membacanya, ia merasa dunia baru saja berjanji sesuatu kepadanya.

Masalahnya, dunia tidak selalu menepati janji yang ditulis orang lain atas namanya.

 

Latihan pagi dimulai sebelum matahari sepenuhnya bangun, saat kabut masih menggantung di antara pilar-pilar batu Lapangan Sembilan Pedang. Delapan puluh tiga murid luar berdiri dalam barisan, napas mereka mengepul putih, pedang kayu tergenggam di tangan yang belum cukup kuat untuk memegang pedang sungguhan.

Fang Ye berdiri di barisan paling belakang. Bukan karena bakatnya paling rendah—meski itu yang selalu dikatakan orang—tapi karena ia selalu memilih posisi dari mana ia bisa melihat semua orang sekaligus.

Kebiasaan itu tidak pernah ia jelaskan pada siapa pun. Bahkan pada dirinya sendiri.

"Posisi Kuda-Kuda Awan." Suara Paman Guru Lin memecah kabut. "Tahan."

Delapan puluh tiga tubuh menurun bersamaan. Beberapa gemetar dalam sepuluh detik. Fang Ye tidak.

Ia sudah lama menyadari sesuatu yang aneh tentang dirinya: tubuhnya belajar lebih cepat daripada semestinya, tapi hanya untuk hal-hal yang berhubungan dengan pedang. Ia masih kesulitan mengingat rumus alkimia dasar. Ia masih canggung saat harus menari dalam upacara sekte. Tapi begitu pedang kayu itu ada di tangannya, sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang lebih tua dari usianya sendiri—tahu persis apa yang harus dilakukan.

Ia tidak menganggap itu bakat.

Ia menganggapnya ingatan yang belum sempat ia alami.

Pikiran seperti itu selalu membuatnya sedikit gelisah, jadi ia mendorongnya keluar dari kepalanya, seperti biasa, dan kembali fokus pada napasnya sendiri.

 

Keributan dimulai saat latihan selesai.

Chen Bo—murid dalam, tiga tingkat di atas murid luar, putra seorang tetua sekte—menyeret seorang bocah ke tengah lapangan sambil tertawa. Bocah itu bernama Xiao Lu, murid luar termuda, baru delapan tahun, dengan lengan yang masih terlalu tipis untuk memegang pedang kayu sekalipun.

"Kudengar kau menyebutku 'anjing sombong' di belakangku." Chen Bo mendorong bahu Xiao Lu hingga anak itu terjatuh ke tanah berbatu. "Coba katakan sekali lagi, di depanku kali ini."

Xiao Lu tidak menjawab. Wajahnya pucat, tapi ia tidak menangis. Fang Ye memperhatikan itu—cara anak kecil itu menggigit bibirnya sendiri, menahan sesuatu yang jauh lebih berat daripada rasa sakit di lututnya.

Murid-murid lain mundur selangkah, seperti air yang menghindari batu yang jatuh. Bukan karena mereka tidak peduli. Tapi karena mereka semua tahu aturan tak tertulis sekte: murid dalam boleh "mendisiplinkan" murid luar, selama tidak melukai secara permanen. Itu bahkan tercantum di salah satu pasal peraturan sekte, ditulis oleh tetua entah berapa generasi lalu, dengan alasan "membentuk ketahanan mental murid muda."

Secara hukum sekte, Chen Bo tidak melakukan kesalahan apa pun.

Fang Ye berdiri di tepi lapangan, memandangi kalimat di gerbang yang bahkan dari sini masih bisa ia baca dalam ingatannya.

Pedang membedakan benar dan salah, bukan kuat dan lemah.

Tapi apa yang harus dilakukan ketika hukum itu sendiri yang salah?

Ia melangkah maju.

 

"Chen Bo."

Suaranya tidak keras. Tidak perlu keras. Ada sesuatu dalam nada bicaranya—datar, tidak tergesa, seperti seseorang yang sudah lama berhenti perlu membuktikan apa pun—yang membuat beberapa murid di sekitar situ menoleh lebih cepat daripada seharusnya untuk seorang murid luar tak dikenal.

Chen Bo mendengus. "Fang Ye. Si yatim piatu tanpa nama keluarga." Ia menyeringai. "Kau juga ingin menjadi jadi contoh ya?"

"Lepaskan dia."

"Berdasarkan apa? Peraturan sekte mengizinkanku."

"Peraturan sekte," Fang Ye berkata, "mengizinkanmu mendisiplinkan murid yang bersalah. Xiao Lu belum terbukti bersalah. Kau hanya 'mendengar'." Ia berhenti sebentar. "Kau tidak sedang menegakkan aturan, Chen Bo. Kau menyalahgunakannya."

Kerumunan menahan napas.

Tidak ada yang berbicara seperti itu kepada Chen Bo. Bukan karena Chen Bo sekuat itu—kekuatannya biasa saja untuk ukuran murid dalam—tapi karena ayahnya adalah tetua, dan di Sekte Qingyun, seperti di banyak tempat lain, garis keturunan kadang berbicara lebih keras daripada aturan yang tertulis di gerbang.

Chen Bo tertawa, meski tawanya sedikit gemetar. "Kau pikir kau siapa? Elder Wei bahkan tidak akan mengingat namamu jika aku melaporkan ini."

"Mungkin," Fang Ye menjawab. "Tapi aku akan tetap mengingat wajah Xiao Lu, kalau aku diam saja sekarang."

 

Chen Bo melepaskan Xiao Lu—tidak karena kalah argumen, tapi karena ia butuh kedua tangannya bebas untuk mencabut pedang kayunya.

"Kalau begitu," katanya, senyumnya berubah dingin, "mari kita selesaikan ini dengan cara yang lebih mudah."

Duel antar murid, jika keduanya setuju, adalah hal yang diizinkan sekte, bahkan didorong—cara sekte menyaring bakat dan menyelesaikan perselisihan tanpa melibatkan tetua. Chen Bo memilih ini karena satu alasan sederhana: ia tiga tingkat kultivasi di atas Fang Ye, dan dalam duel, tingkat kultivasi hampir selalu menang.

Hampir selalu.

Fang Ye mengangkat pedang kayunya. Posisinya rendah, tenang, tidak seperti kuda-kuda yang baru saja diajarkan Paman Guru Lin, tapi sesuatu yang lebih sederhana—seolah pedang itu bukan senjata yang ia pegang, melainkan bagian dari lengannya yang baru saja ia sadari keberadaannya.

"Heh... kau bahkan tidak tahu jurus dasar dengan benar," Chen Bo mengejek, memutar pedangnya dengan gaya yang jelas sudah dilatih di depan cermin. "kalau begitu ini akan berlangsung dengan cepat."

Ia menyerang lebih dulu—tebasan diagonal yang cukup kuat untuk membuat murid luar seusia Fang Ye mundur beberapa langkah.

Fang Ye tidak mundur.

Ia memiringkan tubuhnya beberapa derajat, cukup untuk membiarkan pedang kayu Chen Bo lewat sejengkal dari bahunya, lalu pedangnya sendiri sudah berada di leher Chen Bo—tidak menyentuh, hanya berhenti tepat di sana, seperti pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Lapangan sunyi.

Chen Bo berdiri kaku, matanya melebar, menyadari bahwa pertarungan sudah selesai tiga detik yang lalu dan ia baru saja menyadarinya sekarang.

 

Yang membuat semua orang diam bukan kecepatan Fang Ye—meski itu memang di luar nalar untuk seorang murid luar tak berbakat.

Yang membuat mereka diam adalah caranya.

Ia tidak menyerang untuk melukai. Ia menyerang untuk menyelesaikan, dengan gerakan sehemat mungkin, seolah tubuhnya sudah menghitung setiap kemungkinan gerakan Chen Bo sebelum Chen Bo sendiri memutuskannya.

Paman Guru Lin, yang sejak tadi mengawasi dari tepi lapangan tanpa ikut campur—karena duel antar murid adalah hak mereka—melangkah maju dengan wajah yang sulit dibaca.

"Fang Ye." Suaranya datar, menilai. "Di mana kau belajar gerakan itu?"

"Aku tidak mempelajarinya dari siapapun, kecuali yang di ajarkan sekte, Paman Guru." Fang Ye menurunkan pedangnya, dan untuk sesaat, ekspresinya berubah jadi sesuatu yang lebih jujur daripada kesopanan biasa murid luar kepada tetuanya—kebingungan yang tulus. "Aku.... seakan tubuhku bergerak dengan sendirinya, paman guru."

Itu bukan jawaban yang memuaskan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

Tapi itu satu-satunya jawaban yang jujur.

 

Malam itu, di kamar sempitnya di asrama murid luar, Fang Ye duduk memandangi pedang kayunya di bawah cahaya lilin tunggal.

Xiao Lu sudah berterima kasih padanya sore tadi, canggung dan terbata, sebelum berlari kembali ke asramanya sendiri. Chen Bo tidak melaporkan apa pun ke ayahnya—entah karena malu, atau karena sesuatu dalam dirinya juga tahu bahwa ia sedang berada di pihak yang salah sejak awal, hanya belum pernah ada yang cukup berani menunjukkannya.

Fang Ye seharusnya merasa puas.

Yang ia rasakan justru sebuah pertanyaan yang tidak bisa ia usir.

Ia memutar pedang kayu itu perlahan di antara jarinya, memperhatikan bagaimana gerak pergelangan tangannya sudah tahu ke mana harus berhenti, ke mana harus berputar, seolah ada seseorang lain di dalam dirinya yang sudah melakukan ini ribuan kali sebelum Fang Ye sendiri lahir.

Ia memejamkan mata.

Untuk sepersekian detik—begitu singkat hingga ia hampir yakin itu hanya kelelahan—ia merasa seperti mendengar sesuatu. Bukan suara. Lebih seperti gema dari sebuah kalimat yang diucapkan seseorang, entah di mana, entah kapan, dalam nada yang santai, hampir jenaka, sama sekali tidak cocok dengan keheningan malam ini:

Tunjukkan padaku sesuatu yang belum pernah kulihat.

Fang Ye membuka mata.

Kamarnya tetap sama. Lilin masih menyala. Pedang kayu masih di tangannya.

Ia menatap pedang itu lebih lama daripada biasanya, lalu meletakkannya di samping bantal—dekat, seperti biasa ia lakukan sejak kecil, meski ia tidak pernah benar-benar tahu mengapa.

Di luar, angin melewati Lapangan Sembilan Pedang, menggetarkan huruf-huruf besar di gerbang sekte, seolah kalimat itu sendiri sedang menunggu seseorang untuk membuktikannya benar.

Fang Ye belum tahu bahwa suatu hari, pertanyaan itu akan jauh lebih rumit daripada yang bisa dijawab oleh pedang mana pun.

Tapi untuk malam ini, ia tidur dengan tangan tetap dekat gagang kayu itu, seperti seseorang yang—tanpa ia sadari sepenuhnya—sedang menunggu dipanggil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!