NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang Bayang Cinta Rangga.

​Setiap detik, menit, dan jam yang bergulir kini dipenuhi rasa gelisah yang memburu. Pikiran Winta sepenuhnya tertambat pada Rangga, pria yang ia kenal melalui dunia maya.

​Ada hasrat yang membuncah untuk bertatap muka secara langsung, tetapi rasa takut selalu berhasil menahannya. Meski begitu, hari-hari Winta tak pernah sepi. Chatting panjang di WhatsApp bersama Rangga menjadi candu tersendiri.

​Suatu hari, saat Rangga bercerita dengan tulus tentang perjalanan umrah, kekaguman Winta kian membumbung tinggi. Tutur kata pria itu begitu santun, mencerminkan sosok yang saleh. Setiap kali memasuki waktu salat, Rangga sering mengirimkan foto suasana masjid tempatnya beribadah.

​Di usianya yang sudah berkepala enam, perhatian itu membuat Winta merasa kembali muda. Namun, di balik rasa bahagianya, sebuah tanya terus bergema di benaknya, Benarkah Rangga seorang duda? Lantas, mengapa WhatsApp-nya begitu sering tidak aktif? Di saat rindu begitu menyiksa dan ia tumpahkan lewat pesan singkat, sering kali Winta hanya mendapati centang satu di layarnya.

​Sabtu, 16 Agustus

​Pagi itu, jemari Winta sudah lincah menari di atas layar ponsel, membalas pesan dari Rangga.

​"Assalamualaikum, Umi,"

sapa Rangga.

​"Waalaikumsalam. Lagi di mana, Abi?"

​"Abi mau main futsal. Umi lagi sibuk apa pagi ini?.

​"Nggak ada, Bi. Ini lagi nulis cerpen, rencananya mau rilis di FB nanti malam."

​"Wah, cerpen tentang apa itu, Umi?"

​"Tentang kisah hidup Abi,"

balas Winta menggoda halus.

​"Oh, ya? Bagus itu. Ya sudah, Umi lanjut nulis dulu, ya. Abi mau mulai main futsal."

​"Iya, Abi. Baik-baik, hati-hati mainnya, jangan sampai jatuh."

​"Siap, Umi."

​Matahari makin meninggi ketika anak Winta berpamitan hendak berkunjung ke rumah iparnya bersama seluruh keluarga. Jantung Winta langsung berdesir kencang. Sisi nekat dalam dirinya tiba-tiba menyeruak, mengalahkan rasa cemas yang biasanya bertengger rapi.

​Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengetik pesan.

​"Abi, siang ini Umi bisa keluar. Kita ketemu, yuk?"

​"Umi serius?"

balas Rangga cepat.

​"Serius, Abi."

​"Benar, nih?"

​"Iya, benar. Tapi kita mau ke mana? Umi nggak mau ya kalau ketemu di tempat ramai, takut ketemu teman-teman Umi."

​"Kita nonton di bioskop aja, Umi."

​"Duh, ke bioskop kan tetap banyak orang yang lihat, Bi."

​"Tenang, ini bioskop mini kok."

​"Bioskop mini? Maksudnya gimana?"

​"Cuma ada kita berdua di dalam ruangan."

​"Eh... Nggak mau, ah! Umi takut,"

cegat Winta prihatin.

​"Nggak apa-apa, Umi... Abi nggak bakal makan orang, kok,"

kelakar Rangga menenangkan.

​"Ya sudah. Nanti kalau anak Umi sudah berangkat, Umi langsung siap-siap."

​"Baik, Umi. Kabari Abi, ya.

​Di tengah debar dada yang kian tak menentu, Winta memperhatikan gerak-gerik anak dan cucunya yang berbenah.

​"Ma, nanti ada paket mau datang. Tolong ambilkan, ya. Ini uangnya,"

ujar anaknya seraya menyodorkan beberapa lembar uang.

​Waduh! Gimana bisa keluar kalau harus nunggu paket? bisik Winta panik dalam hati.

​Namun, karena janji sudah terlanjur terucap, Winta memutar otak. Ia berniat menitipkan uang dan paket tersebut ke tetangga depan rumah yang memiliki warung dan selalu berada di tempat.

​Begitu mobil anaknya melaju menjauh, Winta langsung menelepon Rangga.

​"Abi, anak Umi sudah pergi. Umi siap-siap dulu, ya."

​"Baik, Umi. Kalau sudah siap, kabari Abi biar Abi pesan taksi online buat Umi."

​Hanya dalam kurun waktu lima belas menit, Winta selesai berdandan. Ia kembali menghubungi Rangga.

​"Abi, Umi sudah siap."

​"Oke, kirim sharelock sekarang. Abi pesankan taksinya."

​Winta melangkah keluar, mengunci pintu, lalu menempelkan secarik kertas di daun pintu untuk kurir paket.

> "Bang, nanti barangnya titip di warung depan ya. Uangnya sudah saya titipkan di sana."

​Setelah menyerahkan uang paket ke pemilik warung, Winta berdiri menanti kedatangan taksi. Debar di dadanya kian kencang membentur dinding dada. Tak lama, taksi yang dipesan Rangga pun tiba.

​Sepanjang perjalanan, Winta lebih banyak bungkam. Tatapannya sesekali tertuju pada layar ponsel, membalas obrolan singkat dari Rangga untuk mengikis rasa gugupnya.

​Tiba di lokasi bioskop mini yang dituju, sosok yang ditunggu-tunggu rupanya sudah berdiri menanti.

​Masya Allah... Dia tampan sekali. Badannya tinggi besar, dengan brewok tipis yang menghias parasnya, bisik Winta terpana dalam hati.

​Rangga mengukir senyum hangat begitu melihat Winta, lalu melangkah mendekat.

​"Ayo masuk, Umi. Abi sudah pilihkan filmnya."

Mereka berdua masuk dan naik ke lantai dua bioskop.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!