azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua
"Apaaaa?" teriak Azalea kaget, sendok di tangannya sampai terjatuh karena syoknya.
"Ibu gila?"
"Azaaa!" sergah pak Umar cepat, pria paruh baya itu melotot kaget.
Azalea menjumput sendoknya yang terjatuh, matanya menatap kedua orangtuanya bergantian.
"Aza nggak salah dengarkan pak?"
Pria paruh baya itu menggeleng.
"Tccckkkk" Azalea mendecak kesal, "Aza nggak mau!"
"Zaaa" panggil ibunya lembut menenangkan, namun gadis itu sudah menggeleng.
"Gila aja buk, masa aza harus nikahi mas Kian"
"Demi Rara, Nduk"
Azalea menggeleng keras, sorot matanya masih protes. Menatap kedua orangtuanya kesal,
"Tanpa menikahi mas Kian, Aza tetap akan menjaga Rania pak. Rania tetap keponakan Aza.."
"Bapak tahu" sahut ayahnya cepat mengangguk," Tapi masmu tidak mengijinkan Rara tinggal dengan kita di sini"
Kembali terdengar decakan kesal dari mulut Azalea, gadis cantik berambut bondol itu menggeleng kasar.
"Saat ini saja Kian bersedia meninggalkan Rania di sini, karena bapak dan ibu mengusulkan pernikahanmu dengannya"
"Gilaaa" sergah Azalea kesal, "Mas Kian setuju?"
"Setuju, Nduk" angguk buk Danila, wanita paruh baya itu meraih jemari putrinya dan meremasnya lembut.
"Mungkin ibu dan bapak terdengar egois, tapi kami nggak tega kalau Rara dibesarkan wanita lain, Nduk"
Azalea melengos jengah, tatapan penuh harap ibunya membuatnya kesal.
Azalea nggak habis pikir, bagaimana bisa pria itu setuju dengan ide gila orang tuanya. Bagaimana mungkin hubungannya dengan Kiano berubah, dari saudara ipar menjadi suami istri.
"Tccckkkk" kembali decakan kasar keluar dari bibir tipis gadis cantik itu.
Tangannya mengusap rambutnya kasar, sorot matanya masih terlihat kesal.
"Kamu keberatan Za?" tanya pak Umar yang masih mengamati putrinya itu.
"Apa kamu punya pacar?"
"Ada dong pak" sahut Azalea cepat, "Aza lagi dekat dengan seseorang saat ini"
Matanya masih menatap gusar kedua orangtuanya yang sedikit tersentak.
"Yakali gadis secantik Aza, jomblo"
Ayahnya tergelak, putri keduanya ini memang selalu blak-blakan. Berbeda jauh dari kakaknya yang lembut dan anggun, Azalea selalu ceplas-ceplos dan apa adanya.
Azalea Anindyah, gadis berusia 22 tahun itu memang sangat apa adanya. Tapi walau sifatnya yang sangat bertentangan bagai langit dan bumi dengan Naima, hubungan kakak beradik itu sangat erat. Mereka saling menyayangi dengan cara mereka masing-masing.
"Siapa ?"
Azalea menoleh ke arah ibunya yang bertanya tiba-tiba, matanya memicing heran.
"Siapa pria yang sedang dekat dengan kamu itu?" tanya bu Danila, mata wanita paruh baya itu menelisik tajam.
"Azzam bu" sahut Azalea santai,"tapi Aza dan Azzam nggak pacaran, kita cuman hts-an"
"Hts-an?apa itu?" pak Umar menatap putrinya penasaran.
"Temenan doang pak, tapi pakai rasa sayang"
"Astaghfirullah" seru ibunya kaget, "Azzam yang tatoan itu?teman SMA kamu?"
Azalea kembali mengangguk santai, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi meja makan.
"Ini kenapa kita malah membahas Azzam sih?"
Kedua orangtuanya saling berpandangan,
"Bisa nggak sih, Bapak dan Ibu membujuk mas Kian lagi, supaya ngijinin kita mengurus Rania"
Buk danila menggeleng lemah, "Mas Kianmu bersikeras membawa Rania kemarin, dia mau meninggalkan Rania karena ibu dan bapak mengusulkan pernikahan kalian, kalau kamu setuju, Mas Kian akan kembali kemari, menikahimu dan kemudian memboyong kalian pulang ke Jakarta"
"Hhhhhhhh" Azalea menghela nafasnya kasar, matanya menerawang jauh.
"Apa Aza nggak punya pilihan lain bu?agak geli membayangkan Aza jadi istri Mas Kian"
"Zaaa"
Azalea menoleh, menatap ayahnya.
"Kamu bersedia kan nduk?"
"tapi Aza boleh bicara dulu dengan Mas Kian kan?"
Kedua orangtuanya mengangguk lega, walau terlihat tatapan mata mereka iba. Kejam, sedikit kejam memang.
Mereka harus mengorbankan hidup azalea demi cucu mereka dari Naima, namun tak terpikir lagi, cara apa yang bisa mereka lakukan.
^^^^^^^^^^^^^
"Setelah akad kita langsung pulang ke Jakarta, Zaa"
Azalea menoleh, menatap kakak iparnya itu. Kiano baru saja tiba pagi tadi, pria itu hanya cuti 2 hari.
"Mas Kian kenapa setuju ide gila bapak dan ibu sih?"
Pria itu menarik nafasnya dalam-dalam, menatap lekat Azalea yang mengamatinya.
"Kamu sendiri?kenapa setuju?" tanyanya balik.
Azalea juga menghela nafasnya, "Karena Rara mas"
"Sama, aku juga" sahut Kiano, "Pernikahan ini demi Rania"
"Hhhhhhhhhh" bersamaan keduanya menghela nafas.
"Maaf Za, kalau aku hanya bisa akad nikah saja, kerjaan di kantor menumpuk"
Azalea menggeleng lesu, "Nggak apa-apa Mas"
Akad nikah antara Azalea dan Kiano berjalan lancar, malam itu Azalea yang terlihat sangat cantik dengan hijabnya resmi menjadi istri Kiano.
Tidak ada tepuk tangan, tidak ada lampu blitz kamera, pernikahan sakral itu berlangsung sederhana.
Azalea menunduk dalam, sekelebat kenangannya tentang Naima kembali melintas.
Naima pernah memintanya, untuk bisa menjadi ibu untuk putrinya, jika penyakit yang menggerogoti hatinya itu membawanya kepada kematian. Azalea menyanggupi karena ia berpikir mungkin itu hanya angan-angan Naima saja, ia memang sangat menyayangi kakaknya itu. Dan sungguh tak terduga ternyata Naima beneran meninggalkan mereka semua tanpa aba-aba, dan meninggalkan Azalea, adiknya menjadi istri dari suaminya sendiri
"Salim masmu, Nduk!"
Teguran ibunya membuat Azalea mendongak, menatap penuh tanya. Mengedar tatapan ke sekeliling, ternyata semua yang hadir menatapnya.
"Mas Kian sekarang suamimu, salim nduk"
Azalea, mau tak mau meraih tangan yang terulur itu, mengenggamnya dan meletakkan ke keningnya.
Kiano tidak mencium kepala Azalea, seperti yang biasa mempelai pria lakukan, ia hanya meletakkan tangannya di atas kepala yang sedang berhijab itu.
Tangannya meraih jemari Azalea sebelah kanan, dan menyematkan sebuah cincin emas di jari manis gadis itu.
Azalea melirik jari manis Kian, masih tersemat cincin perak pernikahannya dengan Naima. Azalea tak berkomentar apapun, dia tahu Kiano tidak akan mungkin sanggup melepas cincin pernikahannya dengan Naima.
Kiano duduk di tepi ranjang, menatap Azalea yang duduk di meja rias. Gadis itu sudah membuka hijabnya, mereka masih saling terdiam.
"Mas..."
"Za..."
Keduanya saling memanggil, namun Azalea langsung mengangguk cepat.
"Mas Kian duluan deh!"
"Kamu aja"
Azalea menghembuskan nafasnya sedikit kasar. Wajahnya terlihat serius, kepalanya menunduk sesaat.
"Aku..aku.."
"Aku tak akan menyentuhmu Za.."
Azalea mendongak, sorot matanya penuh tanya.
"Aku tahu pernikahan kita ini demi Rania, aku juga sangat mencintai Naima. Aku tak mungkin menyentuhmu"
"Kenapa mas?" tanya Azalea santai, terlihat Kiano sedikit tersentak.
"Apa aku nggak layak untuk jadi istrimu?"
"Zaaa" panggil Kiano hati-hati.
"Walau kita menikah demi Rara, aku kan tetap istri sahmu, mas"
Kiano menatap lekat, menelisik tajam, seakan ingin menemukan sesuatu dari diri Azalea.
"Apa mas Kian jijik padaku?"
"Bukan.." geleng Kiano cepat, "Kamu salah paham Za"
Azalea hanya diam mengamati Kiano,
"Aku mencintai Naima, aku tidak akan bisa menyentuhmu Za, karena kamu adiknya Naima"
Azalea masih saja diam, sejujurnya ia juga tidak siap menjadi istri sesungguhnya Kiano. Membayangkan pria itu menyentuhnya saja, membuat Azalea bergidik geli.
Namun pernikahan apa yang akan ia jalani ini,Azalea hanya bisa pasrah dengan takdirnya.
"Aku yakin kamu juga tidak ingin kan?"
Azalea menoleh, masih saja diam.
"Sampai Rania sedikit besar Za, bantu aku. 2 tahun saja tolong aku, setelah itu aku akan membebaskanmu"
"Mas!" panggil Azalea sedikit kaget.
"Aku akan menjagamu, sampai kamu menemukan pria yang ingin kamu nikahi"
Tatapan mata Kiano dan juga anggukan kepalanya yang mantap, malah membuat Azalea menghela nafasnya berat.
'Pernikahan apa ini?' keluhnya dalam hati
Bersambung...
.