Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 - RASANYA INGIN KUUSAP
Di balik keputusan Kirana untuk menerima pinangan Danendra Prasaja, tersimpan serentetan alasan yang cukup panjang dan rumit, yang sebagian besar berkaitan erat dengan masa lalunya sendiri yang tak banyak orang ketahui.
Ia terbaring begitu lama di dalam Peti Kaca Rembulan, dan ketika akhirnya terbangun, kepalanya dibanjiri terlalu banyak kenangan dari masa-masa di Alam Kuna. Semua kenangan itu bercampur aduk, membuatnya kesulitan menyesuaikan diri, persis seperti orang yang baru menyeberangi zaman yang sama sekali berbeda.
Terlebih lagi, tubuhnya baru saja pulih dan masih terasa sangat lemah, sehingga ia belum mampu melakukan aktivitas yang berat. Dokter yang merawatnya bahkan berpesan agar ia tidak memaksakan diri berlebihan.
Selama hampir dua tahun setelah terbangun, ia nyaris tidak pernah meninggalkan kediaman Wijaya. Kegiatannya hanya berkisar di dalam rumah, berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, sesekali menyinggahi jaringan Gema untuk membaca kabar atau sekadar membuang waktu bersama pelayan yang setia menemaninya.
Setelah terbangun, ia hampir tidak pernah berhubungan dengan lawan jenis yang bukan kerabat dekatnya sendiri, dan itu pun sudah menjadi kebiasaannya sejak lama.
Terlebih lagi, Kirana dan Danendra telah dipertunangkan oleh kedua kakek mereka sejak keduanya masih kecil, jauh sebelum Kirana mengerti arti sebuah kata yang bernama cinta, bahkan sebelum ia bisa membedakan mana perasaan dan mana kewajiban.
Mereka dianggap sepadan, dan bisa dikatakan seperti sepasang kekasih yang tumbuh bersama sejak kecil. Tahun ini, keduanya bahkan sama-sama diterima di jurusan Peracikan Ramu Akademi Militer Kekaisaran, sebuah pencapaian yang membanggakan kedua keluarga.
Dengan begitu, pernikahan di antara mereka menjadi hal yang wajar-wajar saja, hampir seperti kewajiban yang tinggal dijalankan.
Kekaisaran Cakrawala memiliki aturan yang sangat tegas: setiap perempuan biasa wajib memiliki pasangan sah di usia dua puluh tahun, dan aturan itu sama sekali tidak bisa ditawar-tawar oleh siapa pun, termasuk oleh anak dari keluarga bangsawan sekalipun.
Jika tidak, Arsip Agung akan menunjuk seorang suami sebagai "hadiah ulang tahun" pada hari ia genap berusia dua puluh tahun, tepat setelah tengah malam berlalu.
Ketidakpastian penunjukan acak itu terlalu besar. Siapa yang tahu suami seperti apa yang akan ditentukan oleh Arsip Agung untuk dirinya nanti, apakah ia tampan atau tidak, baik hati atau jahat, muda atau tua, semua bergantung pada keberuntungan belaka.
Bagi Kirana, menikahi Danendra yang segalanya sudah ia kenal jauh lebih baik daripada harus menerima orang asing yang tidak dikenal sama sekali.
Namun siapa sangka, pada detik-detik terakhir menjelang pernikahan, Sekar berhasil menggunakan tipu muslihat untuk membujuk Danendra pergi, membuatnya mustahil untuk menikahi Kirana!
Kirana menghela napas panjang. Ia tahu bahwa Sekar mengingini Danendra, dan Danendra sendiri juga menyimpan perasaan kepada Sekar. Keduanya memang sudah saling menyukai, meskipun berusaha ditutup-tutupi dari orang lain.
Bukan berarti Danendra itu tak tergantikan bagi Kirana.
Namun kini tinggal beberapa jam menuju tengah malam. Dari mana ia bisa mencari pria yang menarik hatinya untuk segera dinikahi dalam waktu sesingkat itu, sementara semua tamu sedang menunggu di balai jamuan?
Apakah ia harus pasrah dan menunggu keputusan Arsip Agung yang serba tidak pasti itu?
---
Dengan perasaan enggan menyerah, Kirana melangkah menyusuri koridor panjang sambil mengangkat ujung gaunnya dengan tangan. Tiba-tiba, sesuatu yang berbulu melintas cepat di hadapan penglihatannya, nyaris membuatnya berhenti melangkah.
Ia yang mengenakan sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter itu tersentak, nyaris kehilangan keseimbangan, lalu mundur selangkah untuk menenangkan diri.
Begitu pandangannya pulih, Kirana melihat sepasang mata basah yang besar sedang menatapnya dari kejauhan, dengan sorot yang campur aduk antara bingung dan penuh harap.
Pemuda itu sangat tampan, dengan fitur wajah yang halus dan tegas, serta kulit yang begitu putih hingga nyaris tidak terlihat pori-porinya sama sekali. Bulu matanya panjang, dan wajahnya tampak begitu bersih seperti belum pernah tersentuh debu, dengan alis yang tegas namun tetap meninggalkan kesan lugu di setiap sudutnya.
Rambutnya berwarna keperakan dengan ujung yang acak-acakan, dan sepasang tanduk kecil dengan warna yang sama bergetar pelan seolah-olah ia sedang takut, persis seperti gambaran manusia naga dalam cerita rakyat yang selama ini ia dengar, sosok yang setengah manusia dan setengah binatang suci.
Hati Kirana ikut bergetar oleh pemandangan yang begitu menakjubkan itu, seolah ada sesuatu yang hangat mengalir di dadanya.
Astaga! Wajah mungilnya! Rasanya ia ingin segera mengusap dan membelai pipi itu sepuas-puasnya!
Tiba-tiba punggung kakinya terasa geli. Ia menunduk dan melihat seutas ekor naga keperakan yang halus sedang meliuk-liuk pelan di atas punggung kakinya, seolah-olah sedang menyapa dengan takzim.
Kirana bertanya, "Siapa kau?"
Manusia naga secantik ini, jika ia pernah melihatnya sebelumnya, pasti ia tidak akan pernah melupakannya seumur hidup!
Namun ia baru saja melewatkan lima tahun tidur, dan hampir dua tahun setelah terbangun, Kirana nyaris tidak mengenal satu pun lawan jenis yang bukan kerabatnya.
Pemuda besar itu memonyongkan bibirnya yang tipis lalu berkata dengan suara pelan dan sedikit canggung, "Namaku Rangga."
Hanya nama panggilan.
Meskipun pemuda besar ini benar-benar sesuai dengan selera Kirana di segala hal, prioritas utamanya saat ini adalah mencari pengganti pengantin pria yang baru saja kabur.
Urusan yang paling sulit di hadapannya, biarlah ia selesaikan terlebih dahulu sebelum memikirkan hal lain.
Kirana hendak pergi sambil mengangkat ujung gaunnya, tetapi betisnya tiba-tiba terjerat oleh ekor naga yang besar dan lentur itu.
Ia mengangkat kepala dan mendapati pemuda itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, bertanya dengan suara lirih, "Mau ke mana kau?"
Karena pihak lain begitu tampan dan menggemaskan, kesabaran Kirana pun tetap terpelihara, meskipun sebenarnya ia sedang tergesa-gesa sekali.
Ia berkata dengan lembut, "Kakak sedang buru-buru. Kakak harus mencari pria untuk dinikahi. Nanti kakak kembali ke sini menemui kamu, ya?"
"Jangan, jangan dulu." Pemuda besar itu menggigit sudut bibirnya dengan wajah yang sangat sedih dan tertekan. Matanya yang gelap berkabut air, tetapi ekor naganya tetap erat melilit pergelangan kaki Kirana, seolah takut ia akan kabur secepat kedatangannya. Semburat keperakan di ujung ekor itu berkilau redup, menambah kesan polos yang tidak bisa ia tolak. "Jangan pergi, ya?"
Kirana memegangi dadanya, dadanya yang tiba-tiba berdebar-debar tidak karuan.
Siapa yang tega pergi meninggalkan pemandangan seperti itu?
Terpaksa ia berkata setengah bercanda setengah serius, "Hei, kakak benar-benar sedang buru-buru sekarang dan sangat butuh pengantin pria. Alangkah baiknya jika kamu sudah berusia lebih dari dua puluh tahun, supaya bisa membantu kakak menyelesaikan urusan yang mendesak ini."
Mata basah Rangga yang seperti anak rusa itu langsung membelalak penuh keterkejutan.