NovelToon NovelToon
A Saintess From The Flower Street

A Saintess From The Flower Street

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: flowy_

Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.

Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Bukan Saintess

Lily dan Rose tampaknya merasakan firasat yang sama seperti Violet. Keduanya menggenggam tangan Violet erat-erat.

"Kenapa dia memasang wajah seperti itu?"

Aster berbisik kepada Lily.

Hanya Freesia yang masih tersenyum ceria dan berbicara dengan nada manja.

"Oh, ksatriaku! Kenapa kau tidak menjawab?"

Meski mendengar suara lembut itu, sang ksatria tetap menatapnya dengan wajah datar.

Sesaat kemudian, kilatan cahaya keperakan melintas.

Aster, Lily, dan Rose menjerit bersamaan.

"Freesiaaa!"

Hanya Violet yang tidak mampu mengeluarkan suara karena terlalu terkejut.

Pedang besar sang ksatria menembus perut Freesia dengan begitu mudah.

Freesia bahkan tak sempat menjerit sebelum tubuhnya terjatuh ke depan.

Setelah menepis darah yang menempel pada pedangnya, sang ksatria menatap mereka.

"Atas perintah Yang Mulia Marquis Rivera, kami akan membasmi sisa-sisa kelompok bandit."

Bagi mereka, itu seperti hukuman mati.

Tubuh yang tergeletak, darah yang mengalir, dan jeritan para wanita.

Mereka tahu, orang-orang ini tidak berniat membiarkan mereka hidup.

Mereka ingin menjelaskan bahwa mereka bukan bagian dari kelompok bandit itu. Namun, naluri mereka memperingatkan bahwa jika berhenti untuk bicara, pedang dan gada para prajurit itu akan lebih dulu membungkam mereka.

Harapan yang baru saja tumbuh begitu besar mendadak hancur tanpa sisa, menyisakan keputusasaan.

Aster menjadi orang pertama yang tertusuk tombak.

Rose dan Lily berlari tanpa sempat menoleh, meninggalkan suara erangannya di belakang.

Violet pun melakukan hal yang sama.

Mereka kembali berlari menuju Flower Street yang telah berubah menjadi kekacauan.

Saat itulah beberapa kelompok prajurit muncul dari arah kota.

Zirah pasukan kerajaan mereka berkilau merah diterpa cahaya api.

Dari belakang maupun dari depan, pasukan kerajaan terus mendekati mereka.

Mereka terjebak dan tak mampu melarikan diri. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menjerit ketakutan.

Para prajurit yang mengejar dari depan mendadak ragu ketika melihat rombongan wanita yang begitu rapuh.

Terlebih lagi saat melihat Violet yang masih begitu muda.

Ketika para prajurit itu masih bimbang, seorang ksatria yang menunggang kuda berteriak, "Apa yang kalian lakukan?! Kalian berniat menentang perintah Yang Mulia?!"

Seolah tersadar oleh teriakan sang ksatria, beberapa prajurit maju sambil mengayunkan gada.

Seseorang tiba-tiba memeluk Violet dengan erat.

Lalu terdengar suara aneh, seperti sesuatu yang jatuh dengan berat.

Pelukan itu mendadak terlepas.

Violet mengangkat kepala, ia ingin melihat siapa yang tadi memeluknya. Namun, ia tidak bisa mengenalinya.

Orang itu sudah tidak memiliki kepala.

Darah menyembur deras dan membasahi wajah Violet.

Ia bahkan tak mampu menjerit. Tubuhnya hanya membeku saat darah dari leher yang terputus menyiram wajahnya.

Jeritan terdengar dari samping, lalu mendadak sunyi.

Violet menoleh ke sekeliling.

Ia tak lagi tahu mana Rose dan mana Lily.

Keduanya telah tewas dengan kepala hancur dan terlempar jauh.

Violet tak akan pernah tahu.

Karena sebentar lagi, ia juga akan mati.

Air mata menggenang di matanya.

Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak ada suara yang keluar.

Jantungnya kembali berdegup kencang.

Violet menatap seorang prajurit yang perlahan mendekatinya. Ia hanya bisa diam ketika pria itu mengangkat gada, membayangkan rasa sakit saat benda itu menghantam kepalanya.

Ia bahkan tidak sanggup memejamkan mata.

Air mata mengalir perlahan di pipinya.

Kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit.

Violet yakin gada itu telah menghantam kepalanya.

Bersamaan dengan rasa sakit tersebut, pandangannya mendadak dipenuhi cahaya putih.

Apakah ini pelukan Tuhan?

Apakah dirinya sudah mati?

Namun, cahaya yang begitu menyilaukan itu perlahan meredup.

Violet hanya bisa berdiri terpaku.

Anehnya, ia sama sekali tidak merasakan sakit.

Saat pandangannya kembali jelas, ia menyadari bahwa dirinya masih berada di dalam hutan.

Cahaya merah dari obor yang tergeletak di tanah menerangi tubuh Rose dan Lily yang terbaring tak berdaya.

Dan ada satu mayat lagi.

Itu adalah prajurit yang tadi hendak membunuh Violet setelah membunuh kedua kakaknya.

Kepalanya hancur, seolah-olah justru dihantam oleh gada yang ia ayunkan sendiri.

Dengan tubuh gemetar, Violet menatap wajah para prajurit di sekitarnya.

Namun, ada sesuatu yang aneh.

Mereka ternyata sama takutnya dengan Violet.

Para prajurit itu hanya menatapnya dengan wajah pucat dan kebingungan.

Dari kejauhan, terdengar suara derap kaki kuda.

Violet tidak tahu berapa banyak kuda yang mendekat.

Sekelompok orang dengan zirah berkilauan muncul dari balik kegelapan.

Beberapa prajurit langsung berlutut dengan wajah pucat.

"S-Saintess..."

......................

Di Kerajaan Suci Asteria, terdapat sebuah legenda yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Dahulu, ada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, serta iblis yang membenci Tuhan dan membenci seluruh ciptaan-Nya. Sang iblis menciptakan Abyss, makhluk yang mengutuk segala kehidupan, lalu menggunakannya untuk menghancurkan seluruh makhluk yang ada.

Para ksatria dan prajurit kerajaan dikerahkan untuk melawannya, tetapi mereka tak berdaya. Satu demi satu, mereka menemui ajal di tangan Abyss.

Itulah zaman Kegelapan.

Zaman ketika seluruh makhluk hidup perlahan menuju kematian.

Namun, pada akhirnya muncul seseorang yang mengakhiri zaman tersebut.

Dialah Asteria, Saintess pertama sekaligus utusan Tuhan.

Dalam lukisan-lukisan yang menggambarkan mitos tersebut, Asteria selalu digambarkan sebagai seorang wanita bertubuh kecil. Dengan kekuatan yang dianugerahkan Tuhan, ia berhasil mengalahkan dan memusnahkan Abyss.

Namun, sebelum menghilang, ia meninggalkan sebuah ramalan yang mengkhawatirkan.

Kejahatan tidak akan menyerah.

Dan Tuhan pun tidak akan menyerah.

Marquis Rivera mengernyitkan dahi, kepalanya terasa berdenyut.

Legenda tersebut sebenarnya bisa saja dianggap sebagai mitos indah tentang berdirinya kerajaan.

Namun, ada satu masalah.

Saintess dan Abyss ternyata benar-benar ada dan terus muncul secara turun-temurun hingga seratus dua puluh tahun yang lalu.

Pertarungan antara Saintess dan Abyss terus terjadi dari generasi ke generasi, dengan jeda beberapa puluh tahun. Pertarungan itu akhirnya telah berakhir ketika Amelisse, Sang Saintess terakhir, berhasil mengalahkan Abyss.

Setelah Amelisse menghilang, tidak ada lagi Saintess maupun Abyss yang muncul selama seratus dua puluh tahun.

Yang masih mempertahankan kepercayaan terhadap mereka bukanlah raja atau para bangsawan yang memimpin kerajaan, melainkan rakyat yang menjadi pengikut agama di Kota Suci Avelis, di bawah kepemimpinan Paus.

Mereka yang tinggal di wilayah kekuasaan Paus, lebih menghormati Paus daripada raja.

Para bangsawan yang berpihak kepada Paus pun rutin membawa persembahan ke kuil.

Bagi mereka, raja hanyalah penguasa kedua.

"Hahaha..."

Pria yang duduk di kursi emas di atas panggung itu tertawa terbahak-bahak.

Marquis Rivera mengerutkan dahi dan bertukar pandang dengan Count Loraine.

Apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Fakta bahwa Saintess muncul di wilayah kekuasaannya membuat Marquis Rivera merasa tidak tenang. Saat ini, sang Saintess sedang dalam perjalanan menuju kediamannya di ibu kota dengan kereta yang melaju secepat mungkin. Jika menggunakan kuda terbaik, ia mungkin akan tiba dalam waktu singkat.

Kemunculan kembali seorang Saintess seharusnya menjadi sesuatu yang patut disambut.

Namun, tidak seorang pun di ruangan itu merasa senang.

Bahkan mungkin faksi pro-Paus sekalipun.

Tawa gelisah sang raja menggema di ruang audiensi. Para bangsawan yang berpihak kepada Paus belum tiba.

"Marquis, siapa sangka seorang Saintess muncul pada masa pemerintahanku. Sungguh peristiwa yang luar biasa!"

Raja tertawa hambar.

Marquis Rivera dapat melihat mata sang raja yang gelisah. Sepasang mata emas itu dipenuhi amarah.

"Sepertinya Tuhan telah meninggalkanku."

"Yang Mulia!"

Raja mengangkat sebelah sudut bibirnya sambil menatap sang Marquis.

"Dengan kemunculan ini, faksi pro-Paus yang selama ini susah payah kita tekan akan kembali memperoleh kekuasaan. Dan setelah kemunculannya yang begitu mencolok, mustahil bagi kita untuk menyembunyikannya."

Ia kembali tertawa.

"Seorang Saintess dengan stigmata di dahinya. Hahaha!"

Faksi pro-Paus pasti akan semakin kuat setelah berhasil mendapatkan Saintess.

Memang, mereka tentu tidak akan senang jika wibawa mereka pada akhirnya berada di bawah Saintess. Namun, itu bukan masalah besar. Selama Saintess yang masih muda itu dapat dibujuk dan diarahkan, semuanya akan terkendali.

Selama ini, sang raja telah berusaha keras membalas penghinaan yang diterima ayahnya, raja sebelumnya, yang pernah berlutut di hadapan Paus.

Namun...

Apakah Tuhan benar-benar telah meninggalkan keluarga kerajaan?

Saintess ke-34 telah muncul setelah seratus dua puluh tahun.

Saat itulah secercah cahaya melintas di mata biru Marquis Rivera.

Mungkin masih ada cara.

"Yang Mulia, saya punya sebuah cara."

......................

Dahulu kala, orang-orang yang beriman kepada Tuhan hidup dengan damai di dunia yang telah diciptakan-Nya.

Namun, iblis tidak dapat memaafkan manusia yang percaya kepada Tuhan. Karena itu, ia menciptakan monster yang mengutuk Tuhan.

Monster bernama Abyss itu merenggut nyawa manusia yang beriman kepada Tuhan satu per satu. Banyak orang kehilangan nyawa.

Seorang anak laki-laki dengan mata biru yang indah, seorang gadis yang tampak cantik dalam gaun merah, seorang raja, bahkan para kesatria yang melindunginya—semuanya tewas dengan menyedihkan.

Banyak orang berusaha mengalahkan Abyss.

Para pemuda yang kuat, anak-anak dengan kaki yang gesit, hingga orang tua yang bijaksana. Semua manusia yang masih hidup berharap Abyss dapat dimusnahkan.

Namun, tak seorang pun mampu mengalahkannya.

Bahkan sebelum berhasil mendekati Abyss, tubuh mereka telah meleleh dan lenyap.

Tuhan merasa iba kepada manusia.

Karena itu, Dia mengirim utusan-Nya untuk menyelamatkan mereka.

Utusan itu tidak kuat, tidak memiliki kaki yang gesit, dan bukan pula seseorang yang cerdas.

Yang dikirim Tuhan hanyalah seorang gadis kecil yang sangat biasa.

Rambut peraknya yang jernih menyerupai aliran air di lembah, sementara matanya biru seperti langit. Di dahinya terukir tanda yang diberikan Tuhan.

Namun, tak seorang pun percaya bahwa gadis kecil itu mampu mengalahkan Abyss.

Para pemuda yang kuat, anak-anak yang gesit, bahkan orang-orang tua yang bijaksana menertawakannya.

Namun, gadis itu berhasil menang.

Pada akhirnya, yang menang adalah kasih Tuhan kepada manusia.

Semua orang bersukacita. Dan di tempat gadis itu memenangkan pertarungan sucinya, mereka menamai negeri mereka dengan sebuah nama yang indah.

Asteria.

Namun, gadis itu memperingatkan bahwa Abyss tidak akan menyerah.

Selama kegelapan masih ada di hati manusia, Abyss akan terus kembali.

Tetapi selama harapan masih hidup di dalam hati manusia, Tuhan dan dirinya juga tidak akan pernah menyerah untuk melindungi mereka.

Dan seperti yang dikatakannya...

Abyss terus bermunculan setiap kali mendapat kesempatan, berusaha menghancurkan umat manusia.

Namun, setiap itu pula, Tuhan mengirim gadis suci tersebut untuk menyelamatkan mereka.

-

Saat itu...

Suara ibunya kembali terdengar dalam ingatan.

Ia bahkan bisa merasakan tangan lembut yang mengusap kepalanya.

Setelah seharian bekerja keras di rumah jagal, ibunya sering menceritakan berbagai kisah. Namun, cerita yang paling disukai Violet adalah legenda tentang berdirinya negeri yang sedang ia pijak saat ini—Asteria.

Kisah tentang seorang utusan Tuhan yang turun ke dunia dan menyelamatkan umat manusia.

Konon, Saintess yang telah menyelamatkan dunia masih mencintai manusia dan sesekali turun untuk mengawasi mereka.

Sederhana, tetapi indah.

Betapa mulia dan cantiknya sosok itu.

Betapa miripnya ia dengan seorang malaikat.

Violet membayangkan wajah Saintess yang disebut Asteria.

Setiap kali membayangkan wajah Saintess yang begitu indah, Violet bahkan tidak lagi menyadari bau amis daging yang selalu memenuhi rumah mereka.

Violet berbalik, ingin melihat wajah ibunya yang sedang mengusap kepalanya.

Namun, yang terlihat justru wajah Rose dengan kepala yang separuh hancur.

Bau amis yang sejak tadi ia cium ternyata bukan bau daging.

Itu bau darah yang begitu pekat.

Violet segera bangkit dan berlari.

"Selamatkan aku, Violet."

Rose berbicara kepadanya.

Rambut merahnya yang dulu indah kini basah oleh darah.

Violet mundur beberapa langkah hingga punggungnya menyentuh seseorang.

"Violet."

Mendengar suara yang begitu dikenalnya, Violet tahu ia seharusnya tidak menoleh.

Namun, ia tetap melakukannya.

Rambut pirang panjang milik Lily langsung terlihat.

Lily tersenyum kepadanya dengan mulut yang terkoyak.

Violet terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa dirinya sedang menangis.

Ia juga menyadari bahwa tubuhnya terbungkus pakaian yang sangat lembut dan terbaring di atas kasur yang empuk.

Dengan gelisah, ia memandang sekeliling.

Kepalanya masih terasa sakit.

Di mana ini?

Ingatan tentang mayat yang tergeletak tepat di sampingnya kembali muncul.

"Ugh..."

Rasa mual tiba-tiba menyerang Violet.

Bagi seorang gadis yang baru berusia sepuluh tahun, apa yang baru saja dilihatnya sudah jauh melampaui batas yang mampu ia terima.

Bahkan lebih mengerikan daripada saat ia melihat ayahnya dipenggal oleh para bandit, atau menyaksikan ibunya diperlakukan dengan kejam hingga akhirnya tewas.

Violet tidak tahu di mana dirinya berada.

Ia hanya bisa menangis pelan.

Saat itulah pintu terbuka.

Seorang pelayan wanita masuk dan langsung menatap Violet dengan terkejut.

"Oh, kau sudah bangun?"

Violet bahkan tidak sanggup menatap mata pelayan itu.

Pakaiannya terlihat begitu bagus. Ia tampak seperti pelayan kelas atas, seperti yang dikatakan Aster.

Para wanita yang bekerja sebagai pelayan di kediaman bangsawan biasanya bersikap angkuh, seolah mereka sendiri berasal dari kalangan bangsawan. Mereka sering memandang rendah dan mencaci para wanita dari Flower Street.

Melihat Violet terus menghindari tatapannya, pelayan itu tampak kebingungan.

"Di... di mana ini?"

Mendengar pertanyaan Violet, pelayan itu tampak lega.

"Ini kediaman keluarga Marquis Rivera."

"Apa...?"

Kediaman seorang marquis?

Bukankah itu tempat tinggal para bangsawan berpangkat tinggi?

Rivera...

Keluarga macam apa itu?

Nama tersebut terasa tidak asing. Sepertinya Violet pernah mendengarnya, tetapi ia tidak ingat dari mana.

Tubuh Violet gemetar.

Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana dirinya bisa sampai di tempat ini. Untuk sesaat, ia bahkan berpikir bahwa dirinya telah diculik dan dibawa ke suatu tempat.

"Saintess, apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"

Saintess?

Violet langsung tersentak.

Matanya mencari-cari sosok yang disebut Saintess.

Apakah tokoh dalam dongeng yang sering diceritakan ibunya benar-benar ada?

Di sini?

Di mana dia?

Violet menoleh ke segala arah, berusaha menemukan Saintess yang dimaksud, tetapi tidak menemukan siapa pun.

"Saintess?"

Mendengar panggilan itu lagi, Violet perlahan mengangkat kepala dan menatap pelayan di hadapannya.

Wanita itu memiliki wajah polos dengan mata cokelat hangat. Entah mengapa, wajahnya mengingatkan Violet pada ibunya.

Saat pelayan itu menggenggam tangannya yang gemetar dengan lembut, Violet akhirnya berani bertanya.

"A-Apa... Anda memanggil saya?"

"Ya, Saintess."

Mata Violet membesar.

"A-Aku bukan Saintess. Anda pasti salah orang."

Violet mulai menyadari ada sesuatu yang keliru.

Saintess?

Pasti seseorang telah salah mengenalinya dan membawanya ke tempat ini.

"Maaf... Aku benar-benar bukan Saintess. Tolong jangan sakiti aku. Aku tidak bermaksud menipu siapa pun. Tolong..."

Violet menangis sambil memohon.

Pelayan itu menatapnya dengan iba.

"Jangan berkata seperti itu, Saintess. Kalau Tuhan mendengarnya, Dia akan murka."

Pelayan itu menggenggam tangan Violet erat-erat, lalu membantunya turun dari tempat tidur.

"Nah, coba lihat dirimu di cermin."

Violet belum pernah melihat cermin sebesar ini seumur hidupnya.

Bahkan di kamar Rose, wanita paling populer di rumah bordil itu, hanya ada sebuah cermin kecil yang cukup untuk melihat wajah.

Cermin dengan bingkai emas yang dibuat begitu indah itu membuat Violet merasa gentar hanya dengan memandangnya.

Ia menatap pelayan itu dengan takut, tetapi wanita tersebut hanya tersenyum lembut sambil menunjuk ke arah cermin.

Dengan hati-hati, Violet melihat pantulan dirinya.

"Ah!"

Ia menjerit dan langsung terduduk.

Rambutnya aneh.

Wajahnya juga aneh.

Tidak.

Semuanya terasa aneh.

Rambut Violet sebelumnya berwarna cokelat biasa. Orang-orang sering mengatakan rambutnya terlihat indah karena akan berkilau seperti emas saat terkena sinar matahari. Namun, warna itu tetaplah warna yang biasa ditemui di mana-mana.

Sekarang, rambut itu berubah menjadi putih.

Setelah diperhatikan lebih saksama, ternyata bukan putih, melainkan perak yang begitu indah.

Violet buru-buru menyentuh rambutnya.

Sejak tadi ia memang merasa ada sesuatu yang aneh. Namun, ia sama sekali tidak menyangka warna rambutnya telah berubah.

Lalu matanya.

Ayahnya menamainya Violet berdasarkan warna mata yang terlihat sejak ia lahir.

Namun, warna ungu itu kini telah lenyap.

Yang tersisa hanyalah warna biru jernih seperti langit.

Jika diperhatikan lebih dekat, masih ada sedikit semburat ungu di dalamnya. Namun, mata Violet kini didominasi warna biru muda.

Karena begitu terkejut, ia sampai tidak mampu bernapas selama beberapa saat.

"Apa ini?"

"Nah, coba lihat baik-baik."

Pelayan itu mengulurkan tangan dan menyibakkan poni yang menutupi dahi Violet.

Violet menatap pantulan dirinya di cermin dan menahan napas.

Ia mengenal tanda itu.

Itu adalah lambang besar yang terukir pada pakaian para pendeta.

Namun, mengapa lambang itu terukir di dahinya?

Sebuah tanda berwarna biru yang terdiri dari satu titik dan bentuknya menyerupai tiga kelopak bunga.

Entah mengapa, tanda itu terasa begitu menakutkan.

Violet mengangkat tangan dan mencoba menghapus tanda asing tersebut.

Namun, sekeras apa pun ia menggosoknya, tanda itu tidak menghilang. Dahinya hanya menjadi merah karena gesekan.

"Itu adalah stigmata."

Violet menatap tanda yang terukir di dahinya.

Ia tidak bisa mempercayainya.

Bagaimana mungkin seseorang seperti dirinya, yang bahkan mengira Tuhan telah meninggalkannya, justru dipilih oleh-Nya?

Violet menatap cermin dengan cukup lama.

Penampilannya telah berubah.

Dan kini ada tanda suci di dahinya.

Pasti sesuatu yang mengerikan telah terjadi padanya.

Tiba-tiba Violet menangis.

Pelayan yang berdiri di sampingnya segera memeluk dan menenangkannya.

Saat itulah pintu terbuka.

"Seina! Cepat, ganti pakaian Saintess!"

"Hah?"

"Yang Mulia Raja memerintahkan Saintess untuk segera datang ke istana!"

"Ya ampun, bukankah beliau baru tiba di ibu kota?"

Ibu kota?

Jadi, tempat ini adalah ibu kota?

Violet masih ingat dirinya berada di desa belum lama ini.

Bagaimana mungkin ia yang berasal dari Flower Street bisa sampai di ibu kota, bahkan bukan di wilayah kekuasaan langsung sang marquis?

Ia sama sekali tidak mengerti.

"Tidak ada waktu. Saintess, maafkan kami!"

Sebelum sempat menghentikan tangisnya, pakaian Violet sudah dipaksa dilepas.

Mendengar suara pelayan yang mulai kesal karena ia terus menangis, Violet berusaha menahan isaknya.

Dalam sekejap, pakaiannya diganti dan rambutnya diikat.

Meski begitu, air matanya masih terus mengalir.

"Aduh, jangan menangis terus. Anda akan menghadap Yang Mulia Raja."

"Mina, jangan membentaknya."

"Bagaimana tidak? Pantas saja dia berasal dari Flower Street. Dalam keadaan seperti ini pun masih menangis tanpa mengerti apa yang sedang terjadi. Kalau kita terlambat, kitalah yang akan kena masalah."

Seina tidak mampu membalas ucapan Mina. Ia hanya sibuk menenangkan Violet yang terus menangis.

"Saintess, tolong jangan menangis."

Pelayan bernama Seina itu mengusap kepala Violet.

Seolah memahami ketakutan yang terpancar dari mata Violet, Seina segera memeluknya dengan lembut.

"Semuanya akan baik-baik saja. Saintess adalah orang paling mulia di negeri ini."

Violet menggenggam tangan Seina erat-erat saat menaiki kereta.

Ini pertama kalinya ia naik kereta.

Seorang pria menakutkan duduk di dekatnya untuk mengawal perjalanan. Begitu melihat zirahnya, kenangan tentang Rose dan Lily kembali muncul.

Violet hampir menjerit ketakutan dan langsung bersembunyi di belakang Seina.

Ia sama sekali tidak memahami apa yang sedang terjadi.

Hanya dirinya yang diam di tempat, sementara semua orang di sekelilingnya bergerak dengan tergesa-gesa.

Rasanya seperti berdiri di atas batu kecil di tengah arus deras. Ia merasa, jika bergerak sedikit saja, dirinya akan terseret dan tak akan pernah bisa kembali.

Di dalam kereta, Violet baru menyadari bahwa pakaian yang dikenakannya terasa sangat tidak nyaman.

Kainnya terlalu panjang dan berlapis-lapis hingga membuatnya sulit bergerak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!