NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: Hadiah yang Kutolak

Empat hari kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di depan pagar tepat saat aku pulang dari minimarket.

Aku mengenal mobil itu sebelum pintunya terbuka.

Damar turun sendirian. Tidak ada Mbak Laras. Tidak ada sopir. Ia membawa tas kertas dari restoran dan satu kotak panjang berwarna biru tua.

Langkahku berhenti di ujung gang.

"Saya kebetulan lewat," katanya.

Tak ada orang yang berkali-kali kebetulan berada di jalan hidup orang lain tanpa sengaja.

"Mbak Laras nggak di rumah."

"Saya datang untukmu."

Kalimat itu diucapkan setenang orang menyebut cuaca. Aku melirik pintu rumah. Tertutup, tetapi televisi terdengar dari dalam. Ibu ada di ruang tengah. Ayah biasanya menyiram tanaman menjelang magrib.

Aku menjaga jarak dua langkah. "Ada apa?"

Damar mengulurkan tas kertas lebih dulu. Aroma lontong kari hangat keluar dari celahnya. Merek restoran tercetak di sisi tas. Tempat kecil dekat kampus yang sering kudatangi saat kuliah, jauh dari jalur perumahan kami.

Di atas bungkus makanan ada satu strip obat migrain dan sekotak kecil permen jahe.

"Laras bilang kamu sulit makan beberapa hari ini," ujarnya. "Kamu juga mengeluh sakit kepala minggu lalu."

Aku memang sempat mengirim pesan kepada Mbak Laras soal migrain. Hanya satu kalimat, di tengah percakapan tentang kebaya. Tentang lontong kari itu, aku tak pernah bercerita kepadanya.

Perutku yang kosong bereaksi pada aromanya. Sesaat, rasa hangat yang memalukan muncul di dada.

Tak ada seorang pun di rumah yang tahu makanan apa yang masih bisa kutelan ketika mual. Ibu memasak sesuai kesukaan Mbak Laras. Ayah memberiku apa pun yang berhasil ia sembunyikan. Bahkan aku sendiri sudah lama berhenti berharap diperhatikan sampai sedetail itu.

Damar melihatku.

Benar-benar melihat.

Dan itulah yang membuat perhatian itu terasa seperti tangan yang menyusup ke dalam rumah tanpa izin.

"Bawa pulang," kataku.

"Makanannya akan terbuang."

"Berikan ke orang lain."

Ia masih mengulurkan tas tersebut. "Kamu belum makan sejak siang."

"Mas mengikuti aku?"

"Saya memperhatikan."

Jawaban yang sama seperti di mobil.

Aku mundur. "Jangan."

Damar menurunkan tas, lalu membuka kotak biru. Di dalamnya terbaring jam tangan tipis dengan tali kulit pucat. Pada mahkotanya terpasang batu biru kecil, warna yang hampir sama dengan tirai di Menara Cakrawala.

"Ini untuk mengganti hadiah Lebaran yang terlewat."

Aku menatap benda itu, lalu dirinya. "Aku sudah bilang nggak butuh hadiah."

"Waktu itu kamu bilang begitu karena dipermalukan di depan keluarga."

Napas tertahan di dadaku.

Ia bukan hanya melihatku. Ia melihat saat aku terluka dan menyimpannya sebagai informasi.

"Semua orang dapat hadiah kecuali kamu," lanjutnya. "Itu tidak adil."

"Ketidakadilan di keluargaku bukan urusan Mas."

"Bisa menjadi urusan saya."

"Tidak." Aku mengucapkannya lebih keras. "Mas adalah tunangan Mbak Laras. Aku adiknya. Hadiah seperti ini nggak pantas."

Matanya tidak berubah. "Kalau kamu tidak suka jamnya, saya kirim yang lain."

"Bukan barangnya yang nggak kusuka."

"Lalu apa?"

"Cara Mas terus datang, tahu ke mana aku pergi, tahu apa yang kumakan, tahu apa yang kusukai. Berhenti."

Untuk pertama kalinya aku mengucapkan semuanya tanpa bersembunyi di balik kesopanan. Suaraku gemetar, tetapi setiap kata sampai kepadanya.

Damar menutup kotak itu. "Kamu marah karena tidak pernah diperhatikan, lalu marah ketika ada yang memperhatikan."

"Aku takut. Itu berbeda."

Hening jatuh di antara kami.

Pintu rumah terbuka sedikit. Aku mendengar suara Ibu memanggil Ayah dari dapur, tetapi belum ada yang keluar.

Damar melangkah mendekat dan mengulurkan kotak sekali lagi. "Ambil."

"Nggak."

"Sekar."

"Aku bilang nggak."

Aku mendorong kotak itu kembali. Jemarinya bergerak, menyentuh bagian dalam pergelangan tanganku.

Hanya sentuhan singkat.

Tubuhku bereaksi seperti dilempar kembali ke malam hujan. Kasur turun. Napas asing. Telapak yang menahan persis di tempat yang sama.

Aku tersentak begitu keras hingga kantong belanja jatuh. Botol air menggelinding ke selokan. Napasku putus-putus, pandangan bergetar.

Damar menangkap siku sebelum aku terjatuh.

"Jangan sentuh aku!"

Teriakanku memantul di dinding gang.

Tangannya langsung lepas. Bukan karena terkejut, melainkan karena sosok Ayah muncul di ujung halaman.

"Sekar?"

Damar berubah dalam satu tarikan napas. Bahunya rileks, ekspresinya sopan. Ia membungkuk mengambil kantong belanjaku dan memasukkan botol yang masih bersih ke dalamnya.

"Maaf, Pak. Saya mengejutkannya," katanya.

Ayah mendekat dengan dahi berkerut. Pandangannya berpindah dari wajahku ke kotak biru di tangan Damar.

"Ada apa?"

"Mas Damar mau menitipkan makanan," jawabku cepat.

"Dan hadiah kecil yang Sekar tidak berkenan menerima," tambah Damar.

Ia menutup kotak, memasukkannya bersama tas makanan, lalu kembali ke mobil. Sebelum membuka pintu, ia menatapku.

"Istirahatlah. Kamu terlihat pucat."

Seolah dialah orang yang paling berhak mengkhawatirkanku.

Mobil pergi. Ayah tetap berdiri di sampingku.

"Dia menyentuhmu?" tanyanya pelan.

Aku membuka mulut.

Inilah saatnya. Aku bisa menceritakan mobil yang dikunci, apartemen yang dibuat mengikuti kesukaanku, suara dalam gelap, dan bekas di pergelangan.

Lalu dari dalam rumah, Ibu berseru, "Mas Damar tadi? Kenapa nggak disuruh masuk?"

Semua kata menyusut kembali ke tenggorokan.

"Nggak sengaja," jawabku. "Aku cuma kaget."

Ayah tidak tampak percaya, tetapi Ibu sudah mendekat. Ia melihat mobil yang menjauh dan memarahiku karena tidak bersikap ramah kepada calon keluarga Mbak Laras.

"Hadiah dari orang baik ditolak. Makanan juga ditolak. Kamu maunya apa?" omel Ibu. "Kalau Mas Damar tersinggung, Mbakmu yang kena akibatnya."

"Dia bilang hadiah itu untukku, bukan untuk Mbak Laras."

Ibu malah menatapku seolah aku sengaja mencari masalah. "Ya karena waktu Lebaran kamu belum dapat. Dia perhatian kepada keluarga calon istrinya. Jangan merasa terlalu penting."

Ayah menyentuh lengan Ibu. "Sudah. Sekar nggak wajib menerima kalau tidak nyaman."

"Kamu selalu membuat anak ini besar kepala."

Ibu masuk sambil membanting pintu kasa. Ayah tertinggal bersamaku. Ia tidak mengulang pertanyaannya, hanya berkata sangat pelan, "Kalau bukan tidak sengaja, bilang pada Ayah. Kapan saja."

Aku menggigit bagian dalam pipi sampai terasa asin. "Iya, Yah."

Kali ini kata itu bukan janji. Hanya satu-satunya jawaban yang mampu kuberikan tanpa runtuh di halaman.

Aku mengambil belanjaan, masuk, lalu mengunci diri di kamar malam itu.

Di balik pintu, kakiku kehilangan tenaga. Aku meluncur duduk ke lantai dan menekan telapak pada dada, berusaha memaksa napas kembali teratur.

Tak ada jam tangan di tanganku. Tak ada makanan pemberian Damar di rumah.

Aku telah menolak semuanya.

Namun perhatian itu tidak ikut dibawa pergi.

Ia tertinggal seperti sidik jari yang tak terlihat, menempel pada makanan kesukaanku, warna kesukaanku, dan setiap sudut hidup yang seharusnya hanya kukenal sendiri.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!