Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Satu bulan berlalu sejak tragedi kecelakaan mengerikan itu, dan Barra masih setia terlelap dalam komanya. Selama 30 hari penuh, Farra tak pernah berpaling dari sisi suaminya, merawat dan memanjatkan doa tanpa henti meski tubuhnya sendiri kian letih menahan beban kehamilan yang makin membesar.
Siang itu, bertepatan dengan jam makan siang, pintu kamar perawatan VIP terbuka pelan. Ben dan Gabriella melangkah masuk membawa sekantong makanan hangat. Raut wajah kedua sahabat itu dipenuhi rasa cemas melihat kondisi Farra yang kian pucat dan lesu.
"Far, kamu harus makan dulu. Dari pagi kamu belum menyentuh makanan sama sekali, kan?" ujar Gabriella lembut sembari mengusap bahu Farra.
"Benar, Far. Biar kami berdua yang jaga Barra sebentar di sini," puji Ben menimpali. "Kamu keluar dulu ke kantin atau ruang istirahat, isi perut kamu demi si kembar. Jangan sampai kamu ikutan tumbang."
Setelah didesak secara halus oleh kedua sahabatnya, Farra akhirnya mengangguk pasrah. Dengan berat hati, ia mengecup dahi Barra yang dingin sebelum perlahan melangkah keluar kamar perawatan untuk makan siang.
Sepeninggal Farra, suasana kamar menjadi hening. Ben dan Gabriella duduk di sofa, menatap tubuh Barra yang masih dipasangi berbagai instrumen medis. Namun, tak berselang lama, bunyi monitor detak jantung mendadak berubah ritme. Jemari tangan kanan Barra bergerak pelan, disusul oleh deru napasnya yang perlahan memberat.
Gabriella yang menyadari pergerakan itu langsung terlonjak dari duduknya. "Ben! Lihat tangannya Barra!"
Kedua mata Barra perlahan terbuka, berkedip pelan menyesuaikan pendar cahaya ruangan. Kesadaran pria itu akhirnya kembali setelah satu bulan tenggelam dalam koma.
Tanpa membuang waktu, Ben segera menekan tombol darurat untuk memanggil tim medis, sementara Gabriella dengan tangan gemetar mengambil ponselnya dan memanggil nomor Farra.
"Farra! Cepat balik ke kamar! Barra siuman! Barra sudah sadar, Far!" seru Gabriella histeris di telepon.
Mendengar kabar ajaib itu dari seberang telepon, Farra yang baru saja hendak menyantap makanannya seketika membeku. Air mata kebahagiaan menyembur deras membasahi pipinya. Tanpa memedulikan rasa lelah, rasa pusing, bahkan melupakan kondisi perutnya yang membuncit karena hamil, Farra langsung berlari kencang menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar perawatan Barra.
BRAK!
Pintu kamar terdorong lebar. Mata sembab Farra menangkap sosok Barra yang kini tengah bersandar lemah di kepala ranjang, menatapnya dengan tatapan sayu namun sarat akan kerinduan yang mendalam.
"Barra...!" tangis Farra pecah.
Ia berlari menghampiri ranjang dan langsung merengkuh tubuh Barra dalam pelukan yang sangat erat, menumpahkan seluruh kerinduan, ketakutan, dan rasa syukurnya selama satu bulan terakhir. Barra menyambut pelukan istrinya dengan lemas, mengusap lembut punggung Farra dan mengecup rambutnya penuh kehangatan.
Tak lama kemudian, dokter spesialis masuk dan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada kondisi fisik Barra. Setelah memeriksa respons saraf dan tanda-tanda vitalnya, dokter menyunggingkan senyum lega ke arah keluarga.
"Ini sebuah keajaiban. Kondisi Pak Barra sudah sangat membaik dan stabil," jelas dokter ramah. "Fungsi organ vitalnya berangsur pulih dengan sangat cepat. Setelah masa pemulihan dan terapi fisik singkat, beliau bisa dinyatakan sembuh total."
"apakah ada yang dirasa tidak nyaman atau ada yang sakit ? beritahu pada dokter" kata Farra. Namun Barra hanya menggelengkan kepala nya dan menggenggam tangan istrinya.
Mendengar penuturan dokter, Farra kembali memeluk erat Barra sembari mengusap air matanya, bersyukur karena masa-masa kelam mereka telah usai dan Barra kembali untuk mendampingi kehamilannya.