Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di Dermaga Empat
Malam merayap cepat, menyelimuti kawasan Pelabuhan Timur dengan kabut tipis dan deburan ombak yang membentur tiang-tiang pancang beton. Dermaga Empat yang biasanya penuh dengan aktivitas bongkar muat kontainer, malam ini mendadak hening total—sebuah keheningan semu yang mencekam.
Sebuah kapal kargo hitam tanpa identitas meluncur perlahan menerobos kabut. Di atas geladak utama, Ketua Dewan Proyek Pandora—seorang pria tua berjas taktis perak dengan mata kiri artifisial—berdiri sambil menatap dermaga yang gelap gulita.
"Laporan navigasi!" seru sang Ketua Dewan dingin melalui earpiece. "Kenapa kemudi kapal mendadak terkunci dan memandu kita tepat ke dermaga ini?"
"Sistem kemudi telah di-override dari jauh, Tuan!" jawab teknisi kapal dengan suara panik di saluran radio. "Kami kehilangan akses total pada mesin utama! Seseorang telah membelokkan rute kita!"
Belum sempat sang Ketua Dewan memproses informasi tersebut, bunyi bzzzt halus bergema dari langit malam.
Di lantai 80 Leonhart Tower, Chiko berdiri memegang konsol peretasnya. Melalui pindaian satelit Leonhart-01, ia telah mengunci koordinat mesin kapal tersebut.
‘Meretas navigasi kapal dari jarak sepuluh ribu mil... Kerja bagus untuk sistem siberku,’ batin Chiko tersenyum dingin. Ia menekan satu tombol di konsolnya. ‘Sekarang, matikan seluruh daya kapal.’
CLINK—BZZZZT!
Seketika itu juga, seluruh lampu di kapal kargo tersebut mati total. Kapal raksasa itu terombang-ambing kaku dalam kegelapan, persis di samping dermaga beton.
"Musuh menyerang siber! Siapkan pasukan!" teriak Ketua Dewan murka.
Namun, begitu lusinan tentara bayaran berarmor kuantum melompat turun ke dermaga untuk mengambil posisi bertahan...
SREETTT!
Sorot lampu tembak berkekuatan tinggi mendadak menyala bersamaan dari atas tumpukan kontainer, menerangi dermaga bagaikan panggung pertunjukan.
Di puncak tumpukan kontainer tertinggi, berdiri Mila dalam balutan pakaian taktis serba hitam bertengger anggun. Angin laut mengibaskan rambut panjangnya, sementara dua pisau titanium di tangannya berkilat dingin di bawah sorotan lampu.
Di belakangnya, puluhan eksekutor elit Black Crimson telah mengepung seluruh sudut dermaga dengan senjata siap tembak.
"Selamat datang di Kota kami, Paman-Paman dari Proyek Pandora," ucap Mila dengan suara Ratu Viper yang bergema dingin dan mematikan. "Kalian melangkah terlalu jauh saat memutuskan untuk menyentuh putriku."
Ketua Dewan menatap Mila dengan mata artifisialnya yang berkedip cepat. "Ratu Viper... Jadi organisasi mafia Black Crimson yang melindungi Subject 04?"
Ia terkekeh sinis, lalu mengangkat tangannya. Pasukan berarmor kuantum di belakangnya langsung mengarahkan senapan laras panjang berpeluru penghancur energi ke arah Mila.
"Kalian hanyalah mafioso lokal," ejek Ketua Dewan sombong. "Armor kuantum kami tidak bisa ditembus oleh pisau konyolmu—"
BOM!
Sebelum Ketua Dewan menyelesaikan kalimatnya, sebuah serangan peretasan dari satelit Chiko menghantam sirkuit power-core di armor kuantum seluruh pasukan musuh dari jarak jauh!
BZZZZT-KLEK!
Armor canggih yang kebal peluru itu mendadak korslet, mengunci seluruh persendian baju besi pasukan Pandora hingga mereka berdiri kaku seperti patung besi yang tak bisa bergerak!
"A-apa yang terjadi dengan armor kita?!" teriak para tentara panik.
Mila menyipitkan matanya heran dari atas kontainer. ‘Sirkuit armor mereka dikunci dari luar oleh sinyal siber berkekuatan raksasa?’ batin Mila tertegun, sebelum akhirnya tersenyum mematikan. ‘Siapa pun yang melakukannya di luar sana... terima kasih atas bantuannya!’
Mila melompat turun dari ketinggian sepuluh meter dengan kelenturan luar biasa. Tanpa ada armor yang melindungi mereka, pisau titanium di tangan Mila bergerak secepat kilat. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, seluruh pasukan pengawal tergeletak lumpuh tanpa sempat melepaskan satu tembakan pun!
Mila melangkah tenang, menyandarkan ujung pisaunya yang dingin tepat di bawah dagu Ketua Dewan yang kini gemetar ketakutan.
"S-siapa sebenarnya kalian..." bisik Ketua Dewan dengan napas memburu. "Bagaimana mungkin penculikan anak kecil biasa bisa berubah jadi neraka seperti ini..."
Mila mendekatkan wajahnya, berbisik dingin dengan tatapan mata pembunuh terkejam:
"Anak kecil yang kamu sebut 'biasa' itu... adalah putri kesayangan Keluarga Leonhart. Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh mengganggu tidur nyenyak bayiku."
Pfft!
Mila menghantamkan gagang pisaunya ke tengkuk Ketua Dewan, membuat pimpinan Proyek Pandora itu pingsan seketika di atas dinginnya semen dermaga.
Sementara pertempuran puncak di pelabuhan selesai dengan kemenangan mutlak dalam kurun waktu lima menit...
Di dalam kamar anak rumah nomor 12B yang hangat, Lala duduk bersila di atas tempat tidurnya. Kotak pensil panda di pangkuannya menampilkan tayangan live-stream tiga dimensi dari Pelabuhan Timur secara langsung melalui peretasan kamera pelabuhan.
Lala mengunyah biskuit pandanya yang terakhir sambil menyunggingkan senyuman paling puas di dunia.
"Wah... Bunda keren sekali lempar pisaunya! Papa juga hebat langsung matikan armor besinya dari kantor!" gumam Lala riang, menepuk-nepuk tangannya yang mungil. Puk-puk-puk.
Lala mematikan proyeksi hologramnya, menarik selimut gambar pandanya sampai ke dada, lalu memeluk boneka pandanya erat-erat.
"Paman jahat sudah kalah, Papa dan Bunda sebentar lagi pulang... Waktunya Lala tidur nyenyak!"
Dua puluh menit kemudian, suara langkah kaki halus terdengar dari luar kamar.
Chiko yang baru saja pulang dengan kemeja agak kusut (setelah pura-pura lembur di kantor) dan Mila yang baru sampai dengan gaun santainya (setelah pura-pura habis belanja malam) saling berpapasan di depan pintu kamar Lala.
Keduanya saling menatap, lalu tersenyum hangat dengan kelelahan manis di wajah masing-masing.
"Papa baru pulang? Lembur kantornya berat ya?" tanya Mila lembut sambil membetulkan kolar kemeja Chiko.
"Iya, Bunda. Banyak dokumen kearsipan yang harus dirapikan," jawab Chiko lembut sambil mengelus jemari Mila. "Bunda juga baru selesai beli camilan malam?"
"Iya, Papa. Udara di luar dingin sekali tadi."
Chiko dan Mila secara perlahan membuka pintu kamar Lala yang agak renggang. Di dalam kegelapan kamar yang hangat, mereka melihat putri kecil mereka sedang tertidur lelap dengan napas yang teratur dan raut wajah paling damai di dunia.
Chiko merangkul pinggang Mila dari samping, dan Mila menyandarkan kepalanya di bahu Chiko.
Di balik rahasia besar, topeng rahasia, dan kemampuan mematikan yang mereka sembunyikan dari satu sama lain, mereka bertiga adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan: Keluarga Leonhart, keluarga paling berbahaya, paling genius, dan paling penuh kasih sayang di seluruh dunia.
Bersambung..