"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15 - Malam yang Tidak Seharusnya
Eyang Wiratama melewati masa kritis setelah dua hari.
Beliau belum sepenuhnya sadar, tapi dokter mengatakan responsnya membaik. Keluarga akhirnya bisa bernapas sedikit. Tante Nadia memaksa Damar dan Alya pulang ke rumah utama untuk mandi dan tidur beberapa jam.
"Kalian berdua seperti mayat hidup," kata Tante Nadia.
Alya tidak membantah.
Damar juga tidak.
Rumah utama keluarga Wiratama terasa sama seperti dua tahun lalu. Besar, rapi, dan penuh kenangan yang bukan milik Alya. Kamar yang disiapkan untuk mereka berada di lantai dua. Kamar pasangan.
Tentu saja.
Di depan keluarga, mereka tetap suami istri.
Alya masuk lebih dulu, meletakkan tas di kursi. Damar berdiri di ambang pintu.
"Aku tidur di sofa ruang kerja."
Alya menoleh.
Ucapan itu seharusnya membuatnya lega.
Tapi setelah dua hari di rumah sakit, setelah Damar membelanya di depan keluarga, setelah dia melihat wajah lelah pria itu saat menjaga Eyang, kalimat itu justru terasa seperti dinding yang kembali dipasang.
"Terserah Anda."
Damar mengamati wajahnya.
"Kamu marah?"
"Saya terlalu lelah untuk marah."
"Itu bukan jawaban."
"Anda juga sering tidak menjawab."
Mereka saling diam.
Pintu kamar belum tertutup. Dari bawah terdengar suara keluarga dan pekerja rumah tangga. Kalau ada yang lewat dan melihat Damar keluar dari kamar, gosip baru akan lahir sebelum sarapan.
Alya menghela napas.
"Tidur saja di sini. Ada sofa."
Damar menatap sofa panjang di dekat jendela.
"Kamu yakin?"
"Saya dokter. Saya pernah tidur di kursi jaga yang jauh lebih buruk. Saya tidak akan trauma karena Anda tidur tiga meter dari saya."
Damar masuk dan menutup pintu.
Kalimat Alya terbukti terlalu percaya diri.
Setelah mandi, dia keluar memakai piyama panjang dan kerudung longgar. Damar baru selesai mandi juga, rambutnya basah, kaus hitam melekat di bahu. Dia berdiri di depan lemari, mencari selimut tambahan.
Alya langsung memalingkan wajah.
Damar melihatnya dari pantulan kaca.
"Aku pakai baju."
"Saya tidak bilang Anda tidak."
"Kamu memalingkan wajah seperti melihat bahaya."
"Anda memang sering jadi bahaya."
Tangannya berhenti.
Alya menyesal lagi.
Damar mengambil selimut tanpa membalas. Dia duduk di sofa, membuka ponsel, mengecek laporan dari pos perbatasan. Alya naik ke ranjang, menjaga jarak sejauh mungkin dari sisi sofa.
Lampu dimatikan.
Kamar gelap, hanya cahaya kota dari jendela.
Alya pikir dia akan langsung tidur.
Ternyata tidak.
Matanya terbuka. Pikirannya terlalu penuh. Eyang di ICU. Siska yang selalu tahu cara berdiri di dekat Damar. Keluarga yang menilai. Kalimat Damar tentang tanggung jawab. Tangannya yang gemetar saat menekan luka.
Sofa berderit pelan.
"Belum tidur?" suara Damar terdengar.
"Anda juga."
"Aku cek laporan."
"Saya menatap plafon."
"Menarik?"
"Sangat. Lebih mudah dipahami daripada Anda."
Hening sesaat.
Lalu Damar tertawa pelan.
Alya hampir menoleh.
Dia jarang mendengar Damar tertawa. Suara itu rendah, pendek, tapi cukup untuk membuat kamar terasa berbeda.
"Aku serumit itu?"
"Anda mau jawaban sopan atau jujur?"
"Jujur."
"Iya."
Damar meletakkan ponselnya.
"Kalau begitu jelaskan."
Alya menatap plafon.
"Anda membenci saya, tapi mengirim obat. Menyebut saya hanya status, lalu marah ketika saya terluka. Menjaga jarak, tapi membela saya di depan keluarga. Mengatakan semua karena tanggung jawab, tapi..."
Dia berhenti.
"Tapi apa?"
Jantung Alya berdetak cepat.
"Tidak apa-apa."
"Alya."
"Saya lelah."
Sofa berderit lagi.
Langkah Damar mendekat.
Alya langsung duduk.
"Apa?"
Damar berdiri di sisi ranjang. Dalam cahaya redup, wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya.
"Aku memang pernah membencimu."
Kalimat itu menusuk meski Alya sudah tahu.
"Terima kasih atas kejujurannya."
"Dengarkan dulu."
Alya diam.
"Aku pikir kamu datang untuk memanfaatkan janji keluarga. Aku pikir kamu tahu Laras kabur dan memakai kesempatan itu. Aku pikir kamu sama seperti orang-orang yang selalu mencoba mengatur hidupku lewat nama Wiratama."
"Dan sekarang?"
Damar menatapnya.
"Sekarang aku tidak yakin apa pun yang kupikirkan dulu benar."
Napas Alya tertahan.
Kalimat itu bukan permintaan maaf.
Tapi dari Damar, mungkin itu hal paling dekat dengan penyesalan.
"Tidak yakin bukan berarti percaya," kata Alya.
"Aku tahu."
"Dan Anda tidak bisa menarik kembali semua kata yang sudah Anda ucapkan."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa bicara sekarang?"
Damar duduk di tepi ranjang, cukup jauh untuk tidak menyentuhnya.
"Karena kamu benar. Aku tidak pernah menjawab."
Alya menatapnya.
"Kalau aku bilang aku tidak hanya merasa bertanggung jawab, kamu akan percaya?"
Dunia seperti berhenti.
Alya bisa mendengar suara AC, detak jam, bahkan napasnya sendiri.
"Jangan bicara karena lelah," katanya pelan.
"Aku tidak."
"Jangan bicara karena Eyang sakit."
"Bukan karena itu."
"Jangan bicara karena Siska ada di sini."
Nama itu akhirnya keluar.
Damar menatapnya lebih tajam.
"Siska masa lalu."
"Masa lalu yang masih tahu banyak tentang Anda."
"Dia tahu Damar yang dulu. Bukan yang sekarang."
"Dan saya tahu yang mana?"
Damar diam.
Alya tertawa kecil. "Lihat? Bahkan Anda tidak tahu."
Dia turun dari ranjang, ingin mengambil air di meja. Tapi mungkin karena terlalu cepat, mungkin karena belum benar-benar pulih, kepalanya berkunang-kunang.
Damar menangkap bahunya.
"Pelan."
"Saya baik."
"Kalimat favoritmu."
Jarak mereka dekat.
Terlalu dekat.
Alya bisa mencium aroma sabun dari tubuh Damar. Tangannya berada di bahu Alya, hangat dan hati-hati, tidak seperti cengkeraman penuh amarah dua tahun lalu.
Dia seharusnya mundur.
Damar juga.
Tidak ada yang bergerak.
"Alya," Damar berkata pelan.
Suaranya berbeda.
Lebih rendah.
Lebih berbahaya.
Alya mengangkat wajah.
Mata Damar turun sebentar ke bibirnya, lalu kembali ke matanya. Gerakan kecil itu membuat seluruh tubuh Alya tegang.
"Kalau kamu ingin aku mundur, bilang sekarang."
Alya tahu dia harus bilang.
Mundur.
Jangan.
Kita bukan pasangan seperti itu.
Tapi yang keluar hanya napas yang gemetar.
Damar menunggu.
Ketika Alya tidak menjawab, dia menunduk perlahan.
Ciuman pertama itu tidak kasar.
Justru karena tidak kasar, Alya hampir hancur.
Damar menyentuh bibirnya seperti meminta izin yang terlambat. Alya memejamkan mata. Tangannya, yang semula menggantung kaku, tanpa sadar mencengkeram kaus Damar.
Damar menarik napas tajam.
Dia menjauh sedikit.
"Alya..."
Nama itu terdengar seperti peringatan.
Alya membuka mata.
Mereka saling menatap dalam gelap.
Kesadaran datang terlambat.
Dia baru saja mencium suaminya.
Suami yang selama dua tahun menyebut pernikahan mereka status.
Dia mundur cepat.
"Maaf."
Damar mengerutkan kening. "Kenapa kamu minta maaf?"
"Saya tidak seharusnya..."
"Aku yang mulai."
"Tepat. Anda yang mulai. Dan besok Anda mungkin akan bilang ini karena lelah, karena situasi, karena tanggung jawab, atau karena apa pun yang terdengar masuk akal."
Damar menatapnya.
"Aku tidak akan bilang begitu."
"Anda tidak tahu."
Alya mengambil air, tangannya gemetar. Dia minum seteguk, lalu meletakkan gelas.
"Kita tidur. Besok harus ke rumah sakit."
Damar berdiri diam.
"Alya."
"Tolong."
Satu kata itu membuat Damar berhenti.
Dia kembali ke sofa.
Alya naik ke ranjang dan menarik selimut sampai dada. Bibirnya masih terasa hangat. Dadanya sakit oleh sesuatu yang hampir mirip bahagia, dan itu membuatnya takut.
Di sofa, Damar tidak tidur.
Dia menatap langit-langit yang sama, menyadari satu hal dengan sangat jelas.
Malam itu bukan kesalahan.
Yang salah adalah dua tahun yang dia habiskan untuk berpura-pura bahwa perempuan di ranjang itu tidak berarti apa-apa.
Subuhnya, Alya bangun lebih dulu.
Damar tertidur di sofa dengan posisi tidak nyaman, satu tangan jatuh ke samping, wajahnya tampak jauh lebih muda saat tidak sedang memasang ekspresi komandan. Selimutnya merosot sampai pinggang.
Alya berdiri lama di samping ranjang.
Dia bisa membiarkannya kedinginan.
Itu pilihan paling aman.
Tapi akhirnya dia turun pelan, mengambil ujung selimut, dan menariknya sampai menutupi dada Damar.
Damar tidak bangun.
Alya menatapnya sebentar, lalu mundur.
"Jangan membuat saya bingung lagi," bisiknya, nyaris tanpa suara.
Di sofa, mata Damar terbuka perlahan setelah Alya masuk kamar mandi.
Dia mendengar.
Dan kali ini, dia tahu kebingungan itu bukan hanya milik Alya.