"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22 - Di Bawah Reruntuhan
Fatukoa bawah tampak seperti dihantam tangan raksasa.
Beberapa rumah kayu miring. Dinding bata retak. Jalan desa tertutup lumpur dan batu. Warga berdiri di luar rumah dengan wajah kosong, sebagian memeluk anak, sebagian menggali puing dengan tangan kosong.
Alya turun dari kendaraan sebelum Damar selesai memberi instruksi.
Kali ini Damar tidak menahannya.
"Posko medis di balai desa," katanya. "Rina, Joko, ikut Dokter Alya. Rendra, bagi tim pencarian. Prioritas rumah yang runtuh dan warga hilang."
"Siap!"
Alya membuka tas, menarik napas, lalu memulai triase.
Hijau untuk luka ringan.
Kuning untuk cedera yang perlu penanganan tapi masih stabil.
Merah untuk gawat.
Hitam untuk yang sudah tidak bernapas dan tidak ada denyut setelah pemeriksaan cepat.
Setiap warna terasa seperti pisau.
Seorang anak laki-laki dibawa dengan kepala berdarah. Alya membersihkan luka, memastikan tidak ada tanda penurunan kesadaran berat, lalu meminta Rina observasi.
Seorang pria tua mengalami patah tulang terbuka. Joko hampir muntah, tapi Alya menatapnya tajam.
"Pak Joko. Lihat saya."
Joko menelan ludah.
"Fokus ke balutan. Jangan ke tulangnya."
"Siap, Dok."
Seorang ibu hamil delapan bulan menangis karena tidak merasakan gerakan janin. Alya meminjam doppler manual dari bidan desa, mencari denyut dengan tangan yang mulai gemetar. Ketika suara detak kecil terdengar, ibu itu menangis lebih keras.
Alya menutup mata satu detik.
Lalu lanjut.
Damar bergerak di sisi lain desa. Dia membantu mengangkat balok, mengatur warga, dan memastikan tidak ada yang masuk ke rumah retak tanpa pengaman. Wajahnya penuh lumpur, seragamnya basah, tapi suaranya tetap stabil.
Menjelang sore, kabar buruk datang.
"Dan!" Rendra berlari dari arah lereng. "Ada tiga warga terjebak di rumah Pak Markus. Struktur miring. Kami dengar suara dari bawah, tapi akses sempit."
Damar langsung bergerak.
Alya yang sedang membalut luka seorang remaja mendengar nama lokasi itu.
"Saya ikut."
Damar menoleh.
"Kamu tetap di posko."
"Kalau ada yang hidup di bawah sana, mereka mungkin butuh tindakan saat dikeluarkan."
"Ruangnya sempit dan tidak stabil."
"Maka saya tidak masuk kalau tidak perlu. Tapi saya harus dekat."
Damar ingin menolak.
Lalu dia ingat kalimat di mobil.
Jangan mengambil keputusan untuk saya.
Dia mengatupkan rahang.
"Dekat. Bukan masuk."
"Baik."
Rumah Pak Markus berada di tepi lereng. Sebagian lantainya amblas. Atap seng tertekuk. Dari celah bawah, suara lemah terdengar.
"Tolong..."
Alya berlutut di tanah, mendekat ke celah.
"Saya dokter. Siapa di dalam?"
Suara perempuan menjawab terputus-putus. "Saya... Lina... anak saya... bapak..."
"Ada yang tidak sadar?"
"Bapak... tidak bergerak..."
Alya menatap Damar.
"Kita butuh akses."
Damar dan tim mulai bekerja. Mereka memasang penyangga darurat, memotong bagian seng, dan mengangkat puing sedikit demi sedikit. Waktu terasa berjalan terlalu lambat.
Langit makin gelap.
Hujan mulai turun lagi.
Rendra mengingatkan, "Dan, lereng belakang retak. Kalau hujan deras, bisa longsor susulan."
"Percepat."
Alya tetap di dekat celah, berbicara pada Lina agar tetap sadar.
"Lina, anaknya berapa umur?"
"Empat..."
"Namanya?"
"Mika."
"Mika bisa dengar Kakak?"
Suara kecil menangis.
"Bisa..."
"Bagus. Mika pegang tangan Mama, ya. Jangan tidur dulu."
Damar mendengar suara Alya yang tetap tenang. Dia tahu perempuan itu juga takut. Dia bisa melihatnya dari cara jari Alya menggenggam senter terlalu kuat.
Tapi suara Alya tidak pecah.
Setelah hampir tiga puluh menit, celah cukup besar untuk satu orang merayap masuk.
Seorang prajurit paling kecil tubuhnya bersiap.
Alya menahan.
"Tunggu. Saya perlu masuk sebentar untuk cek posisi mereka."
"Tidak," kata Damar langsung.
"Damar."
"Aku bilang tidak."
"Kalau kita tarik dengan posisi salah, anaknya bisa tertimpa balok."
"Aku kirim prajurit dengan instruksimu."
"Dia tidak bisa menilai perdarahan dalam."
"Alya!"
Suaranya terlalu keras.
Semua orang menoleh.
Alya menatapnya.
"Saya masuk tiga menit. Tali di pinggang. Kalau ada aftershock, tarik saya."
Damar menatap celah gelap itu.
Dia melihat risiko.
Dia melihat kemungkinan kehilangan.
Dia juga melihat mata Alya yang tidak akan mundur karena di dalam sana ada anak empat tahun.
Akhirnya dia mengambil tali dari prajurit.
"Aku yang pasang."
Alya tidak membantah.
Damar mengikat tali di pinggangnya dengan tangan cepat. Ketika selesai, dia menahan ujung tali itu seolah menahan nyawa Alya langsung di tangannya.
"Tiga menit."
"Iya."
"Kalau aku tarik, kamu keluar."
"Iya."
"Jangan berdebat di dalam reruntuhan."
Alya menatapnya.
"Saya akan berusaha."
Itu bukan jawaban yang menenangkan.
Dia masuk.
Ruang di bawah lantai sempit, gelap, bau tanah basah dan kayu patah. Alya merayap pelan mengikuti suara Lina. Senter menyorot wajah perempuan muda yang terjepit di antara lemari dan balok. Di pelukannya ada Mika, pucat tapi sadar. Di sisi lain, seorang pria tua terbaring dengan dada bergerak sangat lemah.
"Lina, saya Alya. Saya akan cek sebentar."
Lina menangis.
"Tolong anak saya."
"Iya."
Alya memeriksa Mika cepat. Tidak ada perdarahan besar, tapi kaki kirinya terjepit papan. Lina mengalami luka di kepala dan kemungkinan patah lengan. Pria tua tidak sadar, napas lemah, nadi sangat tipis.
Dia berbicara ke luar.
"Anak sadar, kaki kiri terjepit. Ibu sadar, cedera lengan. Lansia tidak sadar, napas lemah. Kita keluarkan anak dulu!"
Damar menjawab dari luar, "Diterima."
Alya mengarahkan prajurit yang masuk berikutnya. Mereka menggeser papan sedikit, cukup untuk menarik Mika. Anak itu menangis kesakitan, tapi keluar hidup.
Lalu Lina.
Saat giliran pria tua, tanah bergetar lagi.
Aftershock.
Kecil, tapi cukup membuat puing bergerak.
Damar berteriak dari luar, "Alya, keluar!"
Alya melihat pria tua itu.
Napasnya makin pelan.
"Sebentar!"
"Keluar!"
"Saya bisa buka jalan napasnya!"
Dia merayap ke sisi pria itu, mengangkat dagu, membersihkan tanah dari mulutnya, dan memasang kasa untuk menjaga posisi. Napas pria itu sedikit membaik.
Tali di pinggangnya tertarik.
"Alya!"
Dia mundur, tapi saat berbalik, balok kecil jatuh dan menimpa sisi lorong. Jalan keluar menyempit.
Debu memenuhi ruang.
Alya batuk.
"Damar!"
Di luar, wajah Damar berubah.
"Tarik pelan! Jangan paksa!"
Tali tertarik. Alya mencoba merayap, tapi kakinya tersangkut pecahan kayu. Dia menarik, nyeri menyambar betis.
"Kaki saya tersangkut!"
Damar tidak berpikir lagi.
Dia masuk.
Rendra berteriak, "Dan!"
Damar merayap ke celah dengan tubuh lebih besar, memaksa ruang yang nyaris tidak cukup. Dia mencapai Alya, menarik kayu dari kaki Alya, lalu mendorongnya ke arah keluar.
"Jalan!"
"Pria tua itu—"
"Tim masuk setelah kamu keluar!"
"Tapi—"
"Alya, keluar!"
Kali ini suaranya bukan perintah komandan.
Itu ketakutan.
Alya bergerak.
Dia berhasil keluar lebih dulu. Dua prajurit menariknya. Beberapa detik kemudian, Damar keluar dengan bahu tergores dan napas berat.
Belum sempat mereka berdiri, bagian rumah runtuh lagi.
Tanah dan kayu jatuh menutup sebagian celah.
Alya menjerit, "Bapak Markus masih di dalam!"
Damar langsung berbalik, tapi Rendra menahan.
"Dan, struktur turun!"
"Masih ada orang!"
Hujan tiba-tiba deras.
Di lereng belakang, suara retakan terdengar.
Alya menatap Damar.
Damar menatap rumah runtuh itu.
Untuk pertama kalinya hari itu, dia terlihat seperti orang yang harus memilih dan membenci semua pilihan.
Lalu dari celah lain, prajurit yang sempat masuk bersama tim kecil berteriak.
"Kami dapat dia! Masih hidup!"
Semua bergerak lagi.
Alya hampir jatuh karena lega, tapi Damar menahan sikunya.
Dia menatap kaki Alya yang berdarah.
"Kamu terluka."
"Nanti."
"Alya."
"Nanti, Damar."
Pria tua itu akhirnya keluar dengan napas lemah, tapi ada. Alya langsung bekerja di bawah terpal, membersihkan jalan napas, memasang oksigen, dan menyiapkan rujukan.
Saat malam turun, posko penuh korban.
Tidak ada waktu untuk merasakan takut.
Belum.
Baru setelah Markus dibawa ke ambulans, tangan Alya mulai gemetar. Ia menyembunyikannya dengan mengganti sarung tangan, tapi Damar melihat.
"Duduk satu menit."
"Pasien masih banyak."
"Satu menit juga perintah medis."
Alya hampir tertawa, tapi tenggorokannya perih oleh debu. Ia duduk di bangku bambu yang setengah patah. Damar menuangkan air mineral ke tutup botol dan memberikannya. Bukan karena tidak ada gelas, melainkan karena hanya itu yang bersih.
"Kau masuk ke reruntuhan tanpa menunggu tali pengaman," katanya.
"Kalau aku menunggu, anak itu kehabisan napas."
Damar menahan napas. "Aku tahu."
Jawaban itu membuat Alya diam. Ia kira Damar akan memarahinya. Ternyata pria itu hanya berdiri di sana, basah, kotor, dan marah pada keadaan.