NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Percakapan di Balik Senyum

Acara berjalan sesuai jadwal — sambutan, presentasi visi merger di layar besar, tepuk tangan sopan dari ratusan tamu yang lebih peduli pada kanapé dan koneksi bisnis daripada isi presentasi itu sendiri. Tapi di balik semua kesopanan itu, Raka merasakan setiap detik berjalan seperti hitungan mundur yang hanya ia dan Setiawan yang benar-benar mendengar.

Kesempatan itu datang saat jeda sebelum sesi penandatanganan resmi, ketika tamu-tamu bergerak menuju area koktail di sisi ballroom. Setiawan melepaskan diri sejenak dari kerumunan pengagumnya, berjalan santai menuju sudut zona merah — tepat ke arah Raka berdiri.

"Air mineral, Pak?" tanya Raka datar, mengambil peran petugas keamanannya dengan sempurna, menawarkan gelas dari nampan yang kebetulan lewat.

Setiawan mengambil gelas itu, matanya menatap lurus, senyumnya tidak pernah pudar meski suaranya turun menjadi bisikan yang hanya bisa didengar mereka berdua. "Sudah lama sekali, Naga Hitam. Aku sempat berpikir kau benar-benar mati di reruntuhan gudang senjata itu."

Raka tidak menunjukkan reaksi apa pun, tubuhnya tetap dalam posisi hormat seorang petugas keamanan biasa. "Anda salah orang, Pak. Nama saya Bagas."

"Tentu saja." Setiawan menyesap air mineralnya, santai seperti sedang membahas cuaca. "Aku menghargai profesionalismemu, sungguh. Bahkan setelah tiga tahun berpura-pura jadi sopir yang tak berarti, kau masih menjaga penyamaran dengan sempurna."

"Anda ingin sesuatu, Pak?" Raka bertanya pelan, memilih untuk tidak lagi menyangkal — percuma di hadapan seseorang yang sudah memiliki laporan lengkap dua hari lebih awal darinya sendiri.

Setiawan tersenyum lebih lebar, meletakkan gelasnya di nampan yang dipegang Raka. "Aku ingin menawarkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada dendam murahan, Raka. Kau pikir aku ingin membunuhmu di sini, di tengah ratusan saksi? Aku bukan orang bodoh yang akan mengulangi kesalahan lama."

"Lalu apa maumu?"

"Aku ingin kau bergabung." Kata-kata itu meluncur ringan, seolah menawarkan pekerjaan biasa. "Kau adalah salah satu operator terbaik yang pernah aku pimpin, Raka. Sayang sekali kemampuan seperti itu dihabiskan untuk membuka pintu mobil dan membawakan payung untuk keluarga yang bahkan tidak menghargaimu."

"Kau mengkhianati seluruh timku." Suara Raka tetap rendah, tapi dingin seperti baja. "Kau membunuh delapan orang yang mempercayaimu sepenuhnya."

"Aku menyelamatkan diriku dan membuka jalan untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari unit kecil kita yang dibayar murah oleh negara yang bahkan tidak pernah benar-benar menghargai pengorbanan kalian." Untuk pertama kalinya, nada Setiawan mengeras, kepahitan lama tersembunyi di balik kesuksesannya yang gemilang. "Aku menawarkanmu kesempatan yang sama, Raka. Bergabunglah, dan aku jamin keluarga istrimu — termasuk Cinta — akan aman selamanya, dilindungi oleh kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar kekayaan Handoko Wijayakusuma."

Raka menatap mata pria yang dulu ia hormati sebagai komandannya, mencari jejak manusia yang dulu ia kenal, dan menemukan hanya kekosongan yang dibungkus ambisi. "Kau pikir aku akan menjual sisa hidupku demi keamanan yang kau tawarkan, setelah kau menghancurkan seluruh hidupku sekali?"

"Aku pikir," Setiawan mendekat setengah langkah, suaranya nyaris berbisik, "kau akan mempertimbangkannya, begitu kau tahu bahwa penolakanmu malam ini berarti aku tidak lagi perlu menjaga kesabaran soal keluarga yang selama ini kau lindungi diam-diam."

Ancaman itu tergantung di udara di antara mereka, halus tapi jelas seperti pisau yang disodorkan dengan sarung tangan sutra.

"Raka," suara Bara masuk mendadak lewat earpiece, tegang. "Dua tamu tanpa nama baru masuk lewat pintu eksekutif. Wulan berhasil menangkap wajah salah satunya lewat kamera koridor — dan Raka, kau perlu lihat ini begitu bisa."

Raka mempertahankan wajah datarnya di hadapan Setiawan, meski pikirannya kini terbagi dua arah sekaligus. "Aku tidak butuh waktu untuk mempertimbangkan, Pak. Jawabanku tidak."

Senyum Setiawan tidak goyah, tapi matanya mengeras sejenak — kekecewaan seorang pemain catur yang baru saja kehilangan bidak yang ia kira sudah pasti miliknya. "Sayang sekali." Ia mengambil kembali gelasnya dari nampan Raka, berbalik menuju kerumunan tamu dengan senyum ramah yang kembali terpasang sempurna. "Nikmati sisa malammu, Bagas. Semoga kau membuat pilihan yang tepat sebelum semuanya berakhir."

Setiawan melangkah pergi, kembali menyapa tamu-tamu lain seolah percakapan mengerikan itu tidak pernah terjadi.

Raka menghembuskan napas panjang yang selama ini ia tahan, menekan earpiece di telinganya. "Bara. Kirimkan gambar itu sekarang."

Sedetik kemudian, gambar kecil muncul di layar kacamata pintar yang tersembunyi di balik lensa kaca biasa miliknya — wajah salah satu tamu misterius yang baru memasuki ruang eksekutif.

Raka merasakan darahnya membeku sepenuhnya untuk pertama kalinya malam itu — bukan karena ancaman Setiawan, tapi karena wajah di layar itu adalah wajah yang seharusnya, menurut catatan resmi negara, sudah dikuburkan lima tahun lalu.

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!