NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Wajah yang Kita Percaya

Gue natap layar HP sampai matanya panas. "Ada orang di sekolah... yang bantu dia?"

Farhan langsung maju. "Lo yakin, Mir? Siapa yang berani?"

"Bu Sari bilang dia udah di depan rumah. Bawa bukti dan saksi." Gue langsung lari ke pintu. "Yuk, sekarang juga."

Di depan pagar, ada mobil kecil berwarna abu-abu terparkir. Seorang perempuan turun — wajahnya pucat tapi matanya tegas. Di sebelahnya berdiri Tante Ratna. Dan di belakang... ada seseorang yang bikin gue kaget setengah mati.

Pak Guru Wali Kelas kita.

"Pak Budianto?" Farhan sama gue berseru hampir bareng.

Beliau mengangguk pelan, wajahnya serius banget. "Saya turut serta karena saya tidak mau ada lagi yang celaka. Saya sudah diam terlalu lama."

Bu Sari mendekat, matanya berkaca-kaca natap Farhan. "Nak... saya Ibumu. Maafkan saya karena baru berani sekarang."

Farhan berdiri kaku, napasnya tertahan. "Ibu..."

"Saya tidak pergi karena tidak sayang." Beliau ulurkan tangan pelan, takut ditolak. "Saya pergi supaya kamu bisa hidup aman. Tapi ternyata saya salah. Diam justru bikin dia makin kuat."

Mereka semua masuk ke ruang tamu. Bapak dan Ibu langsung bangun, kaget lihat siapa yang datang.

"Pak Budianto?" tanya Bapak. "Anda..."

"Saya adalah saudara sepupu ayah Farhan," kata Pak Budianto pelan tapi jelas. "Saya masuk ke sekolah ini, saya jadi wali kelas kalian... supaya saya bisa awasi dari dekat. Supaya kalau Paman Budi mau apa-apa, saya bisa cegah sebelum terlambat."

"Jadi selama ini..." gue gak percaya, "Pak yang selalu bantu, yang selalu bela Farhan diam-diam... itu bukan kebetulan?"

"Bukan kebetulan." Pak Budianto natap Farhan. "Saya tahu namamu bersih. Saya tahu kamu menanggung bukan salahmu. Tapi saya belum bisa bicara — karena kalau Paman Budi tahu, dia bisa celakai banyak orang."

"Terus siapa yang bantu dia di sekolah?" tanya Farhan tegas. "Kalau Bapak di sini buat awasi... siapa yang di pihak dia?"

Pak Budianto hening sebentar, lalu tarik napas berat. "Saya harap kalian tidak salah sangka. Tapi buktinya sudah jelas."

Beliau keluarkan selembar kertas dari tas, taruh di meja.

"Orang itu... Kepala Sekolah kita."

Gue mundur selangkah. "Gak mungkin! Beliau selalu baik sama semua orang."

"Justru itu yang berbahaya," jawab Pak Budianto pelan. "Beliau berhutang nyawa sama Paman Budi. Dulu saat kecelakaan ayahmu... Kepala Sekolah ikut di dalam mobil itu. Paman Budi yang selamatkan beliau, dengan syarat beliau harus patuh seumur hidup. Mengubah laporan, menutupi nama, menunjuk siapa yang salah — semua atas perintah."

Farhan duduk pelan di kursi. "Jadi dari awal... semuanya sudah diatur. Siapa yang kelihatan bersalah, siapa yang kelihatan bersih... semua ditulis oleh orang yang sama."

"Termasuk kecelakaan Dimas?" tanya gue.

"Kecelakaan Dimas murni kesalahan sendiri. Tapi cara penanganannya, siapa yang ditunjuk, siapa yang dilindungi... diatur oleh Paman Budi lewat Kepala Sekolah." Pak Budianto natap kita satu-satu. "Dia manfaatkan kelemahan semua orang. Rasa bersalah, rasa takut, rasa sayang — dijadikan alat."

Tiba-tiba HP Pak Budianto berbunyi. Beliau langsung angkat, wajahnya berubah tegang.

"Apa? Sekarang? Baik, kami ke sana."

Beliau tutup telepon, langsung berdiri. "Paman Budianto udah di sekolah. Dia tau kita ketemu. Dia mau ambil semua arsip sebelum polisi datang."

"Kalau dia dapat..." gue gemetar, "semua bukti bakal hilang."

"Maka kita harus cepat." Farhan langsung berdiri, matanya tajam. "Pak, Bu... kami ikut."

"Terlalu berbahaya, Nak," kata Bapak khawatir.

"Justru di sana tempatnya berakhir." Farhan natap Bapak dan Ibu mantap. "Saya bukan anak yang harus dilindungi diam-diam lagi. Saya Farhan. Saya juga Raka. Dan saya mau hadapi orang yang mainkan hidup saya."

Bu Sari pegang tangan Farhan pelan. "Ibu ikut. Kali ini Ibu tidak akan lari lagi."

Kita berangkat beriringan — dua mobil, menuju sekolah yang biasanya tempat aman, sekarang jadi tempat semua harus selesai.

Di gerbang, suasana sepi tapi mencekam. Pintu utama masih terbuka. Lampu ruang Kepala Sekolah menyala terang di tengah malam.

"Lo tunggu di sini ya," kata Farhan ke gue pelan. "Kalau ada apa-apa, lari."

"Gak." Gue genggam tangannya erat. "Gue ikut. Sampai kapan pun."

Kita naik ke lantai dua. Dari jauh udah kedengaran suara tinggi.

"Kau tidak berhak melakukan ini!" suara Kepala Sekolah gemetar. "Saya sudah cukup lama menurut!"

"Sudah terlambat untuk menyesal," jawab suara berat — Paman Budi. "Semua ini akan hilang dalam satu jam. Dan tidak ada yang bisa buktikan apa-apa."

Farhan buka pintu lebar-lebar.

"Kami bisa."

Paman Budi menoleh kaget, lalu tertawa sinis. "Kau bawa pengawal? Bagus. Semakin banyak saksi, semakin baik."

"Ini bukan pengawal," kata Farhan maju selangkah, tidak mundur sedikit pun. "Ini keluarga saya. Orang-orang yang selama ini kau anggap tidak berharga. Dan kami datang untuk menutup buku yang kau buka paksa."

"Kau pikir dengan siapa kau bicara?" Paman Budi maju, matanya menyala marah. "Saya yang berikan tempat tinggalmu. Saya yang pastikan kau sekolah. Tanpa saya, kau tidak ada apa-apanya!"

"Tanpa saya..." suara pelan terdengar dari belakang pintu yang masih terbuka. "Tanpa saya, kau sudah di penjara tiga belas tahun lalu."

Semua menoleh.

Di ambang pintu berdiri seseorang dengan wajah lelah tapi tegas.

"Dimas?" gue berseru kaget.

Dia melangkah masuk, di belakangnya dua orang berseragam polisi.

"Saya minta izin tadi sore," kata Dimas, natap Paman Budi lurus ke mata. "Saya cerita semuanya. Termasuk hal yang saya dengar dari Paman waktu itu. Saat Paman datang ke rumah dan bilang — 'bagus, semua tertutup rapat'."

Paman Budi mundur selangkah, wajahnya pucat. "Kau... anak tidak tahu diuntung..."

"Saya tahu kenyataan," potong Dimas tenang. "Dan kenyataan itu yang bikin saya berani bicara. Bukan karena saya benci. Tapi karena saya mau semua orang bebas. Termasuk saya. Termasuk Farhan."

Polisi maju mendekat. "Kami minta ikut kami untuk pemeriksaan."

Paman Budi menatap semua orang satu per satu — Farhan, Dimas, Kepala Sekolah, Bu Sari, Pak Budianto, Bapak Ibu, lalu gue. Tidak ada yang menunduk. Tidak ada yang takut.

Dia menghela napas panjang, bahunya runtuh. "Sudah... semuanya sudah selesai."

Saat beliau dibawa keluar, ruangan hening. Kepala Sekolah duduk di kursi, menutup wajah. "Saya tahu saya salah. Saya siap menerima apa pun akibatnya."

Pak Budianto mendekat pelan. "Kami tidak menuntutmu dihukum seberat itu. Tapi kami menuntutmu jujur. Semua cerita."

"Semua..." Kepala Sekolah mengangguk lemah. "Saya akan ceritakan semuanya."

Di luar, langit mulai memutih di ufuk timur. Fajar datang pelan-pelan, membawa cahaya ke tempat yang selama ini gelap.

Farhan berbalik dari jendela, natap gue. Matanya masih basah, tapi senyumnya terang sekali.

"Sudah selesai," katanya pelan. "Benar-benar selesai."

Gue maju mendekat, pegang kedua tangannya. "Dan sekarang? Apa yang mau lo lakukan?"

Dia natap ke arah Dimas yang sedang bicara pelan sama Bapaknya, lalu balik ke gue.

"Jalan. Terus jalan. Sebagai Farhan. Sebagai Raka. Sebagai diri gue sendiri." Dia tarik napas dalam, udara pagi terasa segar di ruangan itu. "Dan kalau boleh... bareng sama lo."

Di saat itu, HP gue berdering. Pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Isinya singkat saja:

"Terima kasih sudah berani. Sekarang giliran kalian menulis cerita sendiri."

Gue senyum, hapus air mata di pipi.

"Bareng," jawab gue. "Selamanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!