Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang
..."Tidak semua kelahiran diawali tangis. Ada kehidupan yang lahir bersama nyanyian alam."...
Tak seorang pun di Banua Ginjang dapat mengingat kapan cahaya pertama kali bersinar.
Di sana, cahaya bukanlah lawan kegelapan, sebab kegelapan tidak pernah benar-benar ada. Cahaya adalah napas, adalah air, adalah udara yang memenuhi segala ruang. Ia mengalir lembut di antara pulau-pulau yang melayang tanpa penyangga, membelai dedaunan yang berkilau bagai helaian emas, lalu menetes menjadi embun yang setiap pagi berubah menjadi mutiara bening di ujung daun.
Langit Banua Ginjang bukan satu hamparan yang diam. Ia hidup.
Kadang berwarna keemasan seperti padi menjelang panen, kadang memerah laksana ulos sirara yang baru selesai ditenun, lalu perlahan berubah menjadi nila tua yang dipenuhi bintang-bintang hidup. Bintang-bintang itu tidak sekadar bercahaya; mereka bergerak perlahan, saling menyapa, seolah setiap titik cahaya memiliki jiwa dan kisahnya sendiri.
Di tengah keluasan langit itu menjulang Hariara Bolon, sang Pohon Kehidupan Agung.
Batangnya begitu besar sehingga seratus burung garuda langit terbang berdampingan pun belum mampu mengelilinginya. Kulit batangnya berkilau seperti tembaga yang disiram cahaya fajar. Dari cabang-cabangnya bergelantungan buah-buah bening sebesar kendi kecil. Bila masak, buah itu tidak jatuh ke tanah, melainkan berubah menjadi cahaya yang beterbangan, lalu menjelma bagaikan kupu-kupu berwarna keemasan yang sangat indah.
Akar Hariara Bolon tidak hanya menembus tanah Banua Ginjang.
Ia menjalar hingga Banua Tonga yang masih berupa samudra purba, lalu terus merambat ke Banua Toru yang sunyi. Melalui akar-akar itulah keseimbangan ketiga dunia dijaga. Orang-orang bijak di Banua Ginjang percaya bahwa bila satu akar terluka, ketiga dunia akan ikut merasakan sakitnya.
Karena itulah Hariara tidak pernah dipandang sekadar pohon. Ia adalah pengingat bahwa segala kehidupan saling terhubung.
...****************...
Pada suatu pagi yang tidak pernah tercatat oleh sang waktu, embun turun lebih banyak daripada biasanya. Burung-burung berhenti bernyanyi. Angin yang biasanya berlarian di antara taman-taman langit mendadak melambat, seolah takut mengganggu sesuatu yang agung.
Di sebuah taman yang disebut Sopo ni Hasurungan —Taman Permulaan— ribuan bunga cahaya bermekaran serentak.
Kelopaknya bukan hanya berwarna merah ataupun putih. Sebagian berwarna biru seperti langit setelah hujan. Sebagian lagi hijau seperti daun muda. Sebagian lagi memancarkan cahaya keemasan yang lembut.
Bunga-bunga itu hanya mekar ketika Banua Ginjang hendak menyambut sebuah kehidupan baru. Para penjaga taman saling berpandangan. Mereka telah menyaksikan banyak kelahiran. Namun tak pernah sekali pun seluruh bunga mekar bersamaan.
"Pertanda apakah ini?" bisik seorang penjaga tua.
Belum sempat pertanyaan itu dijawab, terdengarlah desir angin yang membawa aroma tanah basah —aroma yang belum pernah ada di Banua Ginjang sebelumnya, sebab di sana belum pernah turun hujan.
Aroma itu begitu asing, tetapi entah mengapa menghadirkan rasa rindu yang sulit untuk dijelaskan logika.
...****************...
Di istana cahaya, Mulajadi Nabolon berdiri memandang ke arah taman.
Takhta-Nya tidak dibuat dari emas ataupun batu mulia, namun terbuat dari sinar yang memadat. Sederhana, tapi memancarkan kewibawaan yang membuat siapa pun yang memandangnya menundukkan kepala, bukan karena takut, melainkan karena hormat.
Di hadapan-Nya berkumpul para penghuni Banua Ginjang. Ada penjaga mata angin. Ada penenun cahaya. Ada pembawa embun. Ada pemahat awan.
Masing-masing memiliki tugas menjaga keteraturan semesta. Mereka hidup tanpa iri hati. Tanpa rasa rakus. Tanpa niat perang. Sebab mereka memahami satu ajaran yang kelak akan menjadi dasar kebijaksanaan banyak keturunan manusia:
..."Tidak ada kehidupan yang berdiri sendiri."...
...Segala sesuatu hanya dapat menjadi utuh ketika semuanya saling menopang....
Dalam budaya Batak kelak, kebijaksanaan itu akan hidup dalam banyak bentuk —dalam gotong royong, dalam penghormatan kepada keluarga dan dalam keseimbangan hubungan antar-manusia.
Benihnya telah tumbuh sejak Banua Ginjang ada.
...****************...
"Sudah waktunya." Suara Mulajadi Nabolon mengalun lembut. Tidak keras. Tetapi setiap daun Hariara bergetar mendengarnya.
Setiap tetes embun berkilau lebih terang. Setiap burung mengepakkan sayapnya bersamaan. Lalu, cahaya turun dari langit seperti hujan.
Bukan seperti cahaya yang menyilaukan mata. Melainkan ribuan benang-benang halus berwarna emas. Benang itu berkumpul di tengah taman. Berputar seakan sedang menari. Semakin lama semakin padat. Sampai akhirnya membentuk sebuah kepompong bercahaya.
Seluruh Banua Ginjang menahan napas ketika retakan kecil muncul di permukaan kepompong. Satu. Dua. Tiga. Lalu perlahan, kelopaknya terbuka.
Di dalamnya terbaring seorang bayi perempuan. Kulitnya secerah embun pagi. Rambutnya hitam legam seperti warna langit persis sebelum fajar. Matanya masih terpejam. Namun senyum kecil telah menghiasi wajahnya.
Anehnya, bayi itu tidak menangis. Ia justru menghela napas pelan. Dan ketika napas kecil itu akhirnya keluar, ribuan bunga di seluruh Banua Ginjang langsung bermekaran untuk kedua kalinya.
Burung-burung bernyanyi. Air terjun cahaya mengalir lebih deras. Pelangi-pelangi kecil bermunculan di udara.
Bahkan Hariara Bolon menggugurkan satu helai daun emasnya. Daun itu melayang perlahan. Turun. Hingga menutupi dada bayi tersebut seperti selimut.
Para tetua Banua Ginjang saling berpandangan. Belum pernah Hariara melakukan itu.
"Anak ini..." bisik seorang tetua, "...telah dipilih oleh semesta."
Mulajadi Nabolon mendekat. Untuk pertama kalinya sejak terciptanya tiga banua, senyum tipis menghiasi wajah Sang Pencipta. Ia mengangkat bayi itu dengan kedua tangan.
Mulanya mata si-bayi masih terpejam, namun sesaat kemudian, mata bayi mungil itu terbuka. Tatapan mereka bertemu.
Bukan cahaya yang terpancar dari kedua matanya. Melainkan rasa ingin tahu. Seolah-olah ia sedang bertanya kepada seluruh alam: "Dunia apakah ini?"
Mulajadi Nabolon menjawab dengan suara yang hanya dapat didengar oleh angin. "Ini adalah rumahmu... untuk sementara."
Kalimat terakhir itu tidak dipahami siapa pun. Namun angin menyimpan informasi itu rapat-rapat.
Sebab suatu hari nanti, ketika sang putri harus meninggalkan Banua Ginjang, angin akan mengembalikan kalimat itu sebagai pengingat, bahwa takdir sering kali memaksa seseorang meninggalkan rumahnya agar dapat membangun rumah bagi banyak orang lainnya.
Sang Pencipta lalu mengangkat bayi itu tinggi ke arah langit sambil berkata: "Namamu adalah Si Boru Deak Parujar."
Begitu nama itu diucapkan, seluruh Banua Ginjang bergema. Bukan oleh suara para penghuni langit. Melainkan oleh suara alam itu sendiri. Hariara Bolon berdesir. Air terjun cahaya bernyanyi. Bintang-bintang berkelip serempak.
Dan jauh... sangat jauh... di dasar Banua Toru, seekor naga purba yang telah tertidur selama ribuan zaman perlahan membuka sebelah matanya.
Belum ada yang mengetahui bahwa pada saat nama Deak Parujar pertama kali menggema di langit, takdir telah mengetuk pintu dunia bawah.
Naga Padoha juga telah mendengar nama itu.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 2: Taman Para Dewa dan Ramalan Sang Burung Erung.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/