Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 MENEMBUS GERBANG DAN BADAI DI IBU KOTA
Lin Mo melangkah menjauh dari gerbang perbatasan yang tetap tertutup rapat itu. Chen Yu berjalan berdampingan di sampingnya dengan wajah yang penuh kecemasan namun tetap tenang karena percaya sepenuhnya pada kemampuan saudaranya. Cahaya ungu keemasan yang samar namun kokoh perlahan meredup tersembunyi kembali ke dalam kedalaman kulit Lin Mo, namun aura agung dan perkasa yang memancar dari tubuhnya tak pernah hilang sedikit pun. Langkah kakinya tetap tegak dan mantap seakan tanah di bawahnya bukan lagi tanah biasa melainkan jalan yang terbentang khusus baginya.
"Mereka tak berani membuka gerbang... Karena ketakutan yang ditanamkan penguasa jahat itu terlalu dalam..." Chen Yu berbicara perlahan dengan suara yang penuh kekhawatiran. Ia menoleh kepada Lin Mo dan menatap wajah saudaranya yang tetap tenang tanpa sedikit pun tampak marah atau kecewa. "Tanpa gerbang terbuka... bagaimana kita bisa masuk ke dalam ibu kota? Seluruh jalan darat dijaga ketat... dan tembok perbatasan itu terlalu tinggi dan terlalu tebal untuk didaki..."
Lin Mo berhenti melangkah sejenak. Ia menatap tembok tinggi yang menjulang di hadapan mereka yang tampak hitam pekat dan kokoh tak tergoyahkan. Energi qi di dalam dadanya berdenyut lembut namun semakin kuat seakan memberi jawaban atas keraguan yang ada di hati saudaranya. Lin Mo menoleh kepada Chen Yu dan tersenyum samar senyum yang penuh keyakinan dan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
"Tembok ini dibangun oleh tangan manusia... dan tembok ini pun akan runtuh di hadapan kebenaran... Jika mereka tidak membukakan pintu... maka aku akan menembusnya... Biarlah mereka melihat sendiri... bahwa tak ada tembok apa pun yang mampu menghalangi langkah takdir..."
Lin Mo berbalik kembali menghadap gerbang besar yang tertutup rapat itu. Para prajurit yang berdiri di atas tembok melihatnya kembali dan segera memegang senjata mereka erat-erat dengan wajah yang penuh kebingungan dan ketakutan. Mereka tidak tahu apa yang hendak dilakukan pemuda itu. Namun hati mereka berdebar kencang seakan merasakan bahwa sesuatu yang luar biasa akan segera terjadi.
Lin Mo melangkah maju perlahan hingga berdiri tepat di hadapan gerbang tebal yang tertutup rapat itu. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan ke depan. Cahaya ungu keemasan yang terang benderang seketika meluncur keluar dari kedua telapak tangannya berubah menjadi energi spiritual yang murni dan kuat. Cahaya itu membentuk gelombang besar yang perlahan menyentuh permukaan gerbang batu yang tebal dan kokoh itu. Tidak ada suara ledakan yang keras. Tidak ada benturan yang menggelegar. Yang ada hanyalah suara retakan halus yang terdengar perlahan semakin lama semakin jelas terdengar oleh setiap orang yang berdiri di sana.
Retakan halus itu menjalar perlahan menyebar ke seluruh permukaan gerbang batu yang tebalnya berkali-kali lipat tinggi manusia. Cahaya ungu keemasan terus mengalir masuk ke dalam retakan itu seakan menyusup ke bagian terdalam tembok itu. Perlahan namun pasti, gerbang batu yang dianggap tak akan pernah bisa dirusak itu perlahan terbuka perlahan demi perlahan seakan ada tangan raksasa yang menariknya dari dalam. Tanpa suara benturan yang dahsyat. Tanpa serpihan batu yang berhamburan. Gerbang itu terbuka lebar sepenuhnya seakan tunduk dan memberi jalan kepada pemuda yang berdiri tenang di hadapannya.
Seluruh prajurit yang berdiri di atas tembok dan di halaman gerbang terpaku diam tak mampu bergerak sedikit pun. Mulut mereka terbuka lebar tak percaya atas apa yang baru saja mereka saksikan dengan mata kepala sendiri. Gerbang batu yang dibangun dari batu terkeras dan diperkuat dengan sihir kuno ribuan tahun silam itu kini terbuka begitu saja tanpa kerusakan sedikit pun. Kekuatan apa yang dimiliki pemuda itu sehingga mampu menundukkan tembok yang tak mampu diruntuhkan oleh ribuan prajurit sekalipun?
Lin Mo menurunkan kedua tangannya perlahan. Cahaya ungu keemasan meredup kembali masuk ke dalam tubuhnya. Ia melangkah maju melewati gerbang yang terbuka lebar itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Chen Yu segera mengikuti di belakangnya dengan mata yang berkaca-kaca penuh kekaguman dan kebanggaan. Para prajurit yang berdiri di sana hanya mampu menundukkan kepala dalam-dalam sambil mengepalkan tangan di dada memberi hormat kepada pemuda yang melintas di hadapan mereka. Mereka tahu bahwa sejak hari ini, dunia yang lama tertindas akan segera berubah. Dan kekuasaan yang selama ini mereka takuti perlahan akan runtuh tak berbekas.
Setelah melewati gerbang perbatasan, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ibu kota yang letaknya masih jauh di tengah kekaisaran. Sepanjang jalan, Lin Mo melihat dengan mata kepalanya sendiri penderitaan rakyat yang hidup dalam ketakutan dan kemiskinan. Ladang-ladang yang dulu hijau dan subur kini banyak yang terbengkalai dan tandus. Penduduk desa tampak kurus dan pucat dengan pakaian yang lusuh dan penuh tambalan. Mereka berjalan menunduk takut dan saling berbisik pelan takut didengar oleh mata-mata penguasa yang tersebar di mana-mana.
Hati Lin Mo terasa perih dan pedih melihat keadaan rakyatnya yang begitu menderita di bawah kekuasaan yang zalim. Energi qi di dalam tubuhnya berdenyut cepat dan panas seakan ikut merasakan kemarahan dan kesedihan yang mendalam di hati tuannya. Ia berjanji di dalam lubuk hatinya yang paling dalam bahwa ia tak akan membiarkan rakyatnya menderita lebih lama lagi. Ia akan mengambil kembali takhta yang dirampas secara keji. Dan ia akan memulihkan kedamaian dan kemakmuran yang dulu pernah ada di tanah kelahirannya.
Beberapa hari kemudian, mereka akhirnya tiba di ibu kota yang luas dan megah namun tampak suram dan penuh ketegangan. Di tengah kota menjulang istana kekaisaran yang besar dan tinggi dengan tembok-tembok putih yang kini tampak kusam dan bernuansa gelap. Cahaya merah tua yang samar namun menekan kuat memancar dari dalam istana itu seakan menutupi seluruh langit ibu kota. Aura kejam dan haus darah yang memancar dari istana itu begitu kuat hingga membuat siapa pun yang melintas di bawahnya merasa sesak napas dan tak berani mendongak menatap ke arahnya.
Chen Yu berdiri di samping Lin Mo dan berbisik pelan dengan suara yang bergetar karena tekanan hawa yang berat di sekeliling mereka.
"Aura di dalam istana itu... begitu gelap dan begitu kejam... Musuh yang kita hadapi memiliki kekuatan yang luar biasa besar... Dia telah menyerap kekuatan ribuan makhluk hidup untuk memperkuat dirinya sendiri... Hati-hatilah Kakak Lin Mo..."
Lin Mo mengangguk perlahan. Ia menatap gerbang istana yang menjulang tinggi dan dijaga ketat oleh ratusan prajurit elit yang memancarkan kekuatan yang jauh lebih kuat dari prajurit di perbatasan. Cahaya ungu keemasan samar berkilauan di sepasang matanya yang menatap lurus ke arah gerbang istana itu tanpa sedikit pun tampak takut atau ragu.
"Semakin gelap cahayanya... semakin menunjukkan bahwa ia takut akan datangnya cahaya kebenaran... Biarlah ia mengumpulkan sebanyak apa pun kekuatan gelapnya... Ketika cahayaku bersinar terang sepenuhnya... kegelapan itu pasti akan lari terbirit-birit tak berbekas..."
Lin Mo melangkah maju perlahan menuju gerbang istana yang dijaga ketat itu. Belum sempat ia melangkah jauh, tiba-tiba langit di atas ibu kota berubah menjadi gelap gulita seketika. Awan hitam pekat berputar kencang di atas istana mengeluarkan suara guntur yang menggelegar memekakkan telinga. Cahaya merah tua yang pekat melesat keluar dari dalam istana membentuk bayangan raksasa yang berdiri di atas gerbang istana menatap ke bawah dengan mata yang menyala merah penuh amarah dan kebencian yang tak terhingga.
Suara yang berat dan menggelegar bergema dari bayangan raksasa itu membelah seluruh langit ibu kota hingga membuat tanah bergetar hebat dan penduduk yang bersembunyi di dalam rumah berlutut ketakutan sambil menutup telinga mereka.
"Anak haram... Kau berani kembali... Kau seharusnya mati bersama ibumu yang rendah itu... Apa yang kau harapkan? Bahwa aku akan menyerahkan takhta ini kepadamu? Bermimpilah... Takhta ini adalah milikku... Dan kau hanyalah sampah yang datang untuk mati..."
Lin Mo berdiri tegak di bawah bayangan raksasa itu. Ia tidak mundur selangkah pun. Ia mendongak menatap bayangan merah tua itu dengan pandangan yang tenang namun begitu tajam dan begitu berwibawa seakan menatap seorang pelayan yang kurang ajar bukan penguasa yang sedang berkuasa. Cahaya ungu keemasan perlahan bersinar dari tubuhnya semakin lama semakin terang semakin kuat hingga akhirnya menyala terang benderang bagaikan matahari terbit di bumi yang gelap gulita. Cahaya itu menembus kegelapan dan menekan bayangan raksasa itu hingga terpaksa mundur beberapa langkah ke atas.
"Takhta itu milik ayahku... dan milikku sebagai pewarisnya... Kau hanyalah pencuri yang mengambilnya saat tuannya lengah... Kau membunuh ibuku... Kau memenjarakan ayahku... Dan kau menindas rakyatku selama bertahun-tahun... Hari ini... Akulah yang datang untuk menuntut pertanggungjawabanmu... Keluarlah... dan hadapi aku dengan kemampuanmu sendiri... Jangan bersembunyi di balik bayangan busukmu itu..."
Bayangan raksasa itu mengaum marah seketika. Cahaya merah tua meledak menyapu ke arah Lin Mo dengan kekuatan yang begitu dahsyat seakan ingin menghancurkan seluruh kota menjadi debu seketika. Penduduk yang melihat dari kejauhan menutup mata mereka tak sanggup melihat pemuda yang baru kembali itu hancur lebur di bawah amarah penguasa yang kejam.
Namun saat cahaya merah tua itu melanda, Lin Mo tidak bergerak sedikit pun. Cahaya ungu keemasan dari tubuhnya melesat menyambut dan menahan serangan itu di udara tepat di depan dadanya. Dua kekuatan besar yang saling bertentangan bertemu di udara menciptakan ledakan dahsyat yang menyapu ke segala arah. Namun Lin Mo tetap berdiri tegak tak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri. Perlahan namun pasti, cahaya ungu keemasan mendesak mundur cahaya merah tua itu hingga kembali ke arah istana.
Bayangan raksasa itu tampak terkejut luar biasa. Ia tak menyangka bahwa pemuda yang dianggap belum beranjak dewasa itu memiliki kekuatan yang begitu dahsyat dan begitu murni hingga mampu menahan serangan penuh kekuatannya tanpa bergerak sedikit pun. Suaranya terdengar penuh ketakutan dan kemarahan yang bercampur aduk.
"Kekuatan apa itu... Darah apa yang mengalir di dalam tubuhmu... Tidak mungkin... Kau tidak mungkin sekuat ini..."
Lin Mo melangkah maju selangkah. Cahaya ungu keemasan semakin terang dan semakin kuat menekan bayangan itu hingga perlahan mengecil dan kembali masuk ke dalam istana. Suara Lin Mo terdengar lantang dan bergema di seluruh penjuru ibu kota hingga setiap orang yang mendengarnya merasa hatinya bergetar penuh harapan.
"Aku adalah Lin Mo... Putra Mahkota dari Kekaisaran Langit... Darah yang mengalir di dalam nadiku adalah darah kaisar yang paling murni dan paling agung... Kekuatan yang kau takuti itu adalah kekuatan langit yang tak akan pernah tunduk kepada kejahatan... Katakan kepada tuanmu... Aku menantangnya... Tiga hari dari sekarang... Aku akan datang mengambil kembali apa yang menjadi hakku... Dan jika ia berani... biarlah ia menungguku di atas halaman istana... dan kita selesaikan urusan ini sekali seumur hidup..."
Lin Mo berbalik perlahan dan melangkah pergi dari gerbang istana itu. Cahaya ungu keemasan perlahan meredup dan menghilang. Langit yang gelap perlahan kembali cerah dan matahari bersinar terang benderang menyinari ibu kota yang suram itu. Penduduk yang bersembunyi di dalam rumah perlahan keluar dan menatap punggung pemuda yang berjalan menjauh itu dengan mata yang penuh air mata dan harapan yang tak terhingga. Mereka tahu bahwa hari-hari gelap yang menindas mereka selama bertahun-tahun itu perlahan akan segera berakhir. Karena sang Putra Mahkota telah kembali. Dan kali ini ia datang bukan untuk bersembunyi melainkan untuk meluruskan segala yang bengkok dan menegakkan keadilan yang telah lama tertindas.