Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. Dapur, Sapu, dan Strategi
..."pedang memotong musuh. Dapur memberi makan kawan., pemimpin harus bisa kedua nya"...
Pagi yang sibuk. Dimulai dari Dapur
pada Jam 4 subuh. Awan gelap masih menutupi langit, tanpa kemunculan matahari.
Yun Shu narik tangan Jing yue. "Kak, bangun. Kata Guru, kalau mau ngerti Wudang, mulai dari dapur."
Di dapur sudah ada Paman Zhou. Usia nya sekitar 70. Tangan yang penuh kapalan. Di depan nya ada sayur, beras, dan 1 tungku.
"Kau utusan Emei?" tanya Paman Zhou. "Sini. aku akan mengajarkan mu bagaimana cara Kupas kentang."
Jing yue tidak tanya. Dia langsung mendekat dan duduk. Dia memperhatikan paman Zhou, dan mulai kupas kentang. Datar, dan rapi.
Bai Ling di sudut, ikut membantu dengan nyuci beras. Nyonya Yunshan lewat sambil memperhatikan mereka dan tersenyum lembut. "Wudang tidak tanya kau jago pedang. Wudang akan tanya 'apa kau bisa urus orang banyak makan atau tidak'."
pada siang hari. mereka masak untuk 200 murid wudang.
Paman Zhou nunjuk api. "Lihat. Api itu besar dengan cepat, tapi cepat gosong. Tapi kalau api kecil mungkin akan lama masak nya, tapi matang sampai dalam." paman Zhou kecil kan api. "Begitu juga dengan bagaimana cara kita urus sekte."
Yun Shu bisik ke Jing yue: "Guru bilang, Kakak ini seperti api kecil." Jing yue hanya mengangguk. Menyendok bubur ke mulut nya. Mencicipi. Menambah garam sedikit.
"enak." kata Paman Zhou. Dia mengangguk puas untuk pertama kali nya.
Selesai masak di dapur, Yun Shu ajak Jing yue nyapu daun.
Tempat latihan yang luas. Angin terus jatuh kan daun. "Sia-sia, Kak. Di sapu jatuh lagi." kata Yun Shu lelah.
Jing yue berhenti sebentar. Dia menatap pohon itu dengan tenang. "Tidak sia-sia Yun shu. Kita sapu bukan biar bersih selama nya. Kita sapu biar hari ini orang bisa jalan tanpa terpeleset."
Yun Shu diam dan menatap jing yue. Lalu tertawa oelan. "Kakak ini... bicara kayak kitab saja."
Dari kejauhan Nyonya Yunshan lihat interaksi antara Yun Shu dan jing yue. Dia mengangguk pelan ke Bai Ling. merasakan kehangatan yang di bawa jing yue ke wudang.
Saat Malam tiba, 3 orang makan sisa masakan yang di buat jing yue di dapur bersama paman zhou.
Nyonya Yunshan duduk dengan tenang. "Hari ini bagaimana?" Bai Ling menjawab dengan tenang "jing yue mengupas 1 karung kentang. Tidak ada keluhan. Dia melakukan nya dengan cepat dan lembut" Yun Shu juga menjawab dengan tenang "Dia juga ajarin aku cara bagaimana hemat air, Guru. Dia mengajarkan ku banyak hal"
Nyonya Yunshan menatap Jing yue. "Kau ngerti?"
Jing yue meletakkan sumpit. Datar. "Ngerti, Nyonya. Dapur mengajar kan ku untuk bisa pimpin orang banyak itu seperti masak. dengan bahan terbatas. membuat api harus sesuai dengan seberapa banyak makanan yang kita buat. Rasa harus cukup untuk semua. Tidak bisa cuma mikirin diri sendiri."
Nyonya Yunshan terdiam 3 detik. Lalu menuang teh untuk Jing yue. "Bagus. Itu yang Wudang mau dengar."
Nyonya yunshan mengeluarkan 1 kantong kain kecil. Isi nya biji teh Wudang. "Ini. Bawa. Kalau nanti Emei susah, seduh ini. Ingat kau harus selalu memperhatikan hal besar di mulai dari hal kecil. Dari dapur."