Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah sambung
Malam itu, Ayah sedang sibuk dengan telepon bisnisnya saat sebuah pesan singkat masuk dari Pak Ridwan. Sahabatnya itu meminta nomor telepon Alya agar Farhan bisa mulai menjalin komunikasi secara mandiri, sebagaimana proses ta’aruf yang sehat.
Tanpa melihat daftar kontak dengan teliti, jari Ayah menggeser layar dan menyalin nomor yang tersimpan di bawah nama "Anak". Ia lupa bahwa nomor Alika-lah yang paling sering ia hubungi belakangan ini hanya untuk memaki atau menyuruhnya pulang. Pesan itu terkirim begitu saja.
Di kamar sebelah, Alika sedang merebahkan diri sambil menatap langit-langit yang suram. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp dari nomor tidak dikenal muncul.
Farhan: "Assalamu’alaikum. Maaf mengganggu waktunya. Ini Farhan, putra Pak Ridwan. Tadi Ayah memberikan nomor ini. Apa benar ini dengan Alya?"
Alika terduduk tegak. Matanya membulat menatap layar. Ia tahu persis siapa Farhan, pria yang tadi duduk di ruang tamu dengan sopan sementara ia dikunci di kamar. Amarah dan rasa iseng bercampur aduk di benaknya.
"Jadi ini si Pangeran Teknik itu?" gumam Alika sinis.
Ia melirik pintu penghubung yang tertutup. Ia bisa saja memanggil Alya dan memberikan ponsel itu. Namun, rasa sakit hati karena diasingkan sepanjang sore tadi membuatnya ingin bermain-main sedikit. Ia ingin tahu, sejauh mana pria "suci" pilihan ayahnya ini bisa bertahan menghadapi kepribadiannya.
Alika: "Wa'alaikumussalam. Iya, ini saya. Ada apa ya?"
Alika sengaja tidak menggunakan gaya bahasa Alya yang lembut. Ia mengetik dengan lugas, persis seperti caranya bicara sehari-hari.
Farhan: "Hanya ingin menyapa. Saya harap pertemuan tadi tidak membuatmu merasa tertekan. Saya orangnya memang agak kaku, jadi mungkin tadi saya terlihat tidak banyak bicara."
Alika tersenyum miring. Kaku? Kita lihat seberapa kaku kamu kalau tahu sedang bicara dengan 'si hitam' di keluarga ini, pikirnya.
Alika: "Santai saja. Aku juga nggak suka yang terlalu formal. Jadi, kamu beneran mau kenal aku atau cuma karena disuruh orang tua?"
Di seberang sana, Farhan sempat terdiam beberapa menit. Ia merasa gaya bicara "Alya" di pesan singkat ini sangat berbeda dengan sosok gadis menunduk yang ia temui sore tadi. Namun, ia justru merasa sedikit lega karena suasana cair yang diciptakan gadis ini.
Farhan: "Sejujurnya, keduanya. Tapi setelah melihatmu tadi, saya rasa saya punya alasan sendiri untuk lanjut."
Alika tertawa renyah, sebuah tawa yang pahit. Ia belum tahu bahwa keisengannya ini akan menyeret Alya, dirinya sendiri, dan Farhan ke dalam jaring kebohongan yang rumit. Sementara itu, di kamar sebelah, Alya sedang khusyuk di atas sajadah, mendoakan agar takdir memberikan yang terbaik bagi keluarganya—tanpa tahu bahwa takdirnya baru saja "dicuri" oleh kembarannya sendiri.
Alika menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Akhirnya ia mengaku sendiri bahwa dirinya bukan Alya tapi kembarannya. Pengakuan jujurnya bahwa ia adalah "si kembar yang nakal" dan bukan Alya yang sholehah biasanya akan membuat pria-pria seperti Farhan segera mundur atau menceramahi dirinya. Namun, balasan Farhan justru di luar dugaan.
Farhan: "Terima kasih sudah jujur, Alika. Saya sempat terkejut, tapi saya menghargai keterbukaanmu. Tentang nomor Alya, simpan saja dulu. Biarkan saya berkomunikasi denganmu sebagai calon saudara."
Alika mendengus, jemarinya lincah mengetik balasan.
Alika: "Calon saudara? Percaya diri sekali kamu. Lagipula, kenapa nggak langsung chat Alya saja? Bukannya dia yang mau kamu nikahi?"
Farhan: "Justru karena saya menghormati Alya. Kami belum halal. Mengobrol terlalu jauh secara pribadi tanpa keperluan mendesak itu kurang baik bagi saya. Lewat kamu, mungkin saya bisa mengenal sosoknya dengan lebih objektif. Kamu kan kembarannya, pasti tahu dia luar dalam."
Alika tertegun. Ia melempar ponselnya ke bantal, lalu mengambilnya lagi. Ada rasa hangat yang aneh di dadanya—bukan karena jatuh cinta, tapi karena untuk pertama kalinya, ada orang dari "dunia Ayah" yang mau mengobrol dengannya tanpa nada menghakimi.
Alika: "Kamu aneh. Tapi terserah. Kamu mau tahu apa tentang si Anak Emas itu? Dia bangun jam empat pagi, baca Quran sampai subuh, dan nggak pernah lupa nyiapin teh buat Ayah. Hidupnya lurus banget sampai kadang aku bosan lihatnya."
Farhan: "Lalu bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu memilih jalan yang berbeda?"
Pertanyaan itu membuat Alika terdiam cukup lama. Ia tidak terbiasa ditanya tentang perasaannya; biasanya ia hanya menerima perintah atau makian.
Sementara itu, di kamar sebelah, Alya sedang merapikan mukenanya. Ia melihat lampu kamar Alika masih menyala dan mendengar suara tawa kecil yang jarang terdengar. Penasaran, Alya mengetuk pintu penghubung.
"Al? Belum tidur?" tanya Alya lembut.
Alika segera mematikan layar ponselnya. "Belum. Lagi baca... artikel saja."
"Besok Ibu mau kita belanja ke pasar bareng. Kamu ikut ya? Biar Ayah lihat kita kompak," ajak Alya dengan nada memohon.
Alika hanya bergumam tidak jelas. Di dalam hatinya, ia merasa sedang memegang rahasia besar. Farhan, pria yang dijodohkan dengan kakaknya, justru sedang sibuk bertanya tentang warna favorit Alya dan lagu apa yang sering Alya senandungkan saat sendirian kepadanya.
Tanpa disadari, Alika mulai menjadi "jembatan" bagi dua orang yang belum pernah bicara itu. Namun, ia juga mulai bertanya-tanya: Sampai kapan Farhan akan bertahan bicara denganku sebelum dia sadar bahwa aku jauh lebih menarik daripada sekadar pemberi informasi?
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...