NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Omongan yang Menjalar

Dua hari kemudian, nasi goreng itu sudah berubah bentuk.

Di rumah Bu Ratna, cerita yang awalnya hanya satu piring makan tengah malam berkembang menjadi Laras sengaja berdandan dan memasak khusus untuk Bima. Tambahan jatah makanan disebut hadiah rahasia. Kamar belakang yang terpisah dari kamar utama pun digambarkan seolah hanya berjarak satu pintu.

“Saya dengar dia sering menunggu Pak Bima pulang,” bisik seorang perempuan di teras arisan.

“Katanya Pak Bima sekarang lebih sering makan di rumah.”

“Pengasuh atau calon nyonya rumah?”

Tawa tertahan terdengar di antara bunyi sendok dan cangkir.

Bu Titin yang duduk dekat jendela meletakkan kue lapisnya. “Kalian lihat sendiri?”

Perempuan di sampingnya terdiam. “Ya tidak. Tapi Iwan sendiri yang bilang.”

“Iwan bilang Danyon makan nasi goreng. Bukan bilang dia melihat yang macam-macam.”

“Bu Titin membela?”

“Saya membela telinga saya. Cerita yang saya dengar kemarin tidak sepanjang cerita hari ini.”

Bu Ratna keluar dari ruang tengah membawa daftar arisan. “Cukup. Justru karena omongan sudah ke mana-mana, kita harus bertindak sebelum nama Persit ikut tercoreng.”

“Laras bukan anggota Persit,” kata Bu Titin.

“Tapi dia tinggal di rumah seorang Danyon. Apa pun yang terjadi di sana akan dikaitkan dengan satuan.”

Beberapa kepala mengangguk.

Bu Ratna meminta salah seorang perempuan memanggil Laras. Alasannya sederhana: Satya sudah waktunya dibawa keluar sebentar agar mendapat udara, dan para ibu ingin melihat perkembangan berat badannya.

Alasan itu terdengar seperti perhatian.

Iwan yang menerima pesan merasa ada yang tidak beres. “Mbak Laras tidak harus datang kalau tidak mau.”

Laras sedang memasang selendang untuk membawa Satya. “Kalau saya tidak datang, mereka bilang saya takut.”

“Kalau datang, mereka bisa cari-cari kesalahan.”

“Mereka sudah mencari tanpa saya datang.”

Iwan mengusap wajah. “Saya ikut.”

“Boleh. Bawa buku catatan Satya sekalian.”

Rumah Bu Ratna penuh ketika Laras tiba. Percakapan berhenti sesaat, lalu dimulai lagi dengan nada yang dibuat santai. Laras mencium aroma teh melati, gorengan, dan sesuatu yang lebih pahit daripada kopi.

Penilaian.

Bu Ratna menyambutnya dengan senyum. “Mbak Laras. Duduk. Kami cuma ingin lihat Satya. Katanya sekarang makin sehat.”

Laras duduk di kursi dekat pintu, memilih tempat yang mudah terlihat dari halaman. Iwan berdiri tidak jauh di teras.

“Alhamdulillah, beratnya mulai naik,” jawab Laras.

“Hebat sekali,” kata seorang perempuan. “Sampai Pak Bima memberi tambahan makanan khusus.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Laras menatap pembicara itu. “Tambahan makanan untuk ibu menyusui memang aneh, Bu?”

“Tidak aneh. Hanya istimewa.”

“Kalau air susu saya berkurang, Satya yang rugi. Jadi tambahan itu untuk kepentingan Satya.”

Bu Ratna mengangkat tangan seolah menenangkan suasana. “Kami tidak mempermasalahkan makanan. Yang kami pikirkan adalah batas.”

“Batas apa?”

“Mbak Laras pasti tahu omongan yang beredar.”

“Saya lebih suka mendengar dari orang yang menyebarkannya.”

Suasana mengencang.

Bu Ratna menarik napas. “Baik. Katanya kamu memasak tengah malam untuk Pak Bima. Hanya kalian berdua di dapur.”

“Satya ada di rumah. Iwan berada di kompleks dalam tugas resmi dan biasa keluar masuk. Piket juga lewat depan rumah.”

“Satya bayi. Tidak bisa menjadi saksi.”

“Saksi untuk apa, Bu Ratna? Untuk sepiring nasi goreng?”

Terdengar suara seseorang menahan tawa. Bu Ratna melirik tajam ke arah itu.

“Ini bukan soal nasi goreng. Ini soal nama baik,” katanya. “Seorang janda muda tinggal di rumah laki-laki yang bukan mahram. Sekarang ada cerita makan tengah malam. Kalau dibiarkan, besok cerita apa lagi?”

Laras merasakan panas naik ke wajah, tetapi ia menahan suaranya tetap rata.

“Saya tinggal di kamar belakang karena Satya menyusu malam. Rumah itu tidak pernah tertutup dari orang lain. Iwan datang sejak pagi. Petugas logistik, piket, dan tetangga keluar masuk. Kalau Bu Ratna ingin pengaturannya dibuat lebih jelas, silakan usulkan aturan yang bisa membuat Satya tetap mendapat susu.”

“Ada banyak pengasuh lain.”

Bu Ratna mengambil lembar kosong dari bawah daftar arisan. “Kalau perlu, kami bisa membuat usulan agar pengasuh diganti. Bukan karena kamu tidak becus merawat, tapi supaya tidak muncul fitnah.”

Laras menatap kertas itu. Ancaman tersebut dibungkus begitu rapi, seolah kehilangan pekerjaan dan meninggalkan bayi yang bergantung padanya hanya urusan administrasi.

“Siapa yang akan menyusui Satya malam ini kalau usulan itu diterima?” tanyanya.

“Bisa dicari.”

“Berapa lama?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Selama belum ada pengganti, justru itu urusan saya. Dia pernah menolak botol sampai demam. Kalau Bu Ratna meminta saya pergi hari ini, Bu Ratna juga harus menjelaskan siapa yang bertanggung jawab saat dia tidak mau minum.”

Bu Titin mengangguk. “Benar. Jangan pakai anak sakit untuk menyelesaikan omongan orang dewasa.”

“Saya tidak memakai siapa pun,” bantah Bu Ratna.

“Kertas di tangan Bu Ratna bilang lain.”

Beberapa perempuan mulai memperhatikan lembar kosong itu. Bu Ratna segera menutupinya dengan daftar arisan, tetapi gerakan tersebut justru membuat niatnya semakin jelas.

Satya yang sejak tadi tenang tiba-tiba bergerak. Seolah mengenali ketegangan, ia mencengkeram blus Laras dan mulai merengek.

“Tidak semua punya susu,” kata Laras. “Tidak semua bisa membuat dia berhenti demam.”

Bu Ratna bersandar. “Jadi karena anak itu membutuhkanmu, semua batas boleh diabaikan?”

“Saya tidak mengabaikan batas.”

“Mbak Laras bahkan tidak merasa perlu meminta izin kepada Persit sebelum tinggal di sana.”

Bu Titin menyela, “Sejak kapan ibu susuan harus minta izin Persit? Pengaturan rumah dinas tanggung jawab pemegang rumah dan satuan.”

“Saya sedang bicara soal kepatutan.”

“Kalau begitu bicara kepatutan. Jangan membuat aturan baru saat orangnya sudah duduk di depan kita.”

Beberapa perempuan mulai gelisah. Bu Titin tidak tersenyum, tetapi ia menggeser piring kue ke dekat Laras.

“Makan, Mbak. Kamu kelihatan pucat.”

Laras menggeleng sopan. “Terima kasih, Bu.”

Bu Ratna melihat gerakan itu. “Inilah masalahnya. Ada yang terlalu cepat kasihan, ada yang terlalu cepat memberi tempat. Nanti kalau nama Pak Bima rusak, siapa yang bertanggung jawab?”

Iwan melangkah dari teras. “Bu Ratna, soal nasi goreng itu saya yang salah bicara.”

“Kamu justru saksi, Wan.”

“Saya tidak melihat hal buruk. Saya cuma tahu Komandan makan nasi goreng buatan Mbak Laras. Saya tidak seharusnya membuat cerita rumah Komandan jadi bahan obrolan.”

“Nah, berarti benar mereka makan tengah malam.”

“Karena jatah Mbak Laras tidak sampai. Komandan menemukan dia belum makan.”

Laras menoleh cepat. Ia tidak tahu Iwan mengetahui bagian itu.

Bu Ratna tersenyum kecil. “Semakin aneh. Pak Bima sampai memperhatikan pengasuhnya makan atau tidak.”

“Bu Ratna,” kata Bu Titin, “kalau seorang komandan membiarkan ibu menyusui di rumahnya kelaparan, kita juga akan menyalahkannya.”

“Jangan putar kata-kata saya.”

“Saya cuma mengikuti arahnya.”

Ketukan sepatu terdengar dari halaman.

Iwan langsung menegakkan badan.

Bima berdiri di depan pagar dengan seragam lengkap. Di belakangnya ada seorang prajurit pengemudi. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, tetapi seluruh teras mendadak sunyi.

“Selamat siang,” sapanya.

Para perempuan menjawab hampir bersamaan.

Bu Ratna berdiri. “Pak Bima, kebetulan sekali. Kami sedang membicarakan pengaturan pengasuh Satya.”

“Saya tahu.”

Tatapan Bima jatuh pada Iwan.

“Maaf, Komandan. Saya kirim pesan karena situasinya...”

“Bagus.”

Satu kata itu membuat bahu Iwan turun sedikit.

Bima masuk ke teras, tetapi tetap berdiri di sisi yang terbuka. Ia melihat Satya di gendongan Laras. Bayi itu mengulurkan tangan ke arah kancing seragamnya.

“Apa masalahnya?”

Bu Ratna menjawab, “Kami mengkhawatirkan omongan. Laras tinggal di rumah Pak Bima, lalu ada kejadian makan tengah malam. Sebagai pengurus, saya harus menjaga nama baik keluarga besar satuan.”

“Kejadian?” Bima mengulang.

“Pak Bima paham maksud saya.”

“Tidak. Jelaskan.”

Bu Ratna tampak tidak nyaman. “Nasi goreng tengah malam.”

Bima menatap satu per satu wajah di teras. Beberapa orang menunduk.

“Nasi goreng itu saya yang minta.”

Bu Ratna terdiam.

“Laras belum makan karena jatahnya tidak diantar. Saya menemukan dia di dapur. Setelah dia makan, saya meminta dibuatkan satu piring.”

“Tapi soal kalian berdua...”

“Iwan berada dalam penugasan satuan dan kembali ke kompleks malam itu. Rumah saya dilalui piket. Ruang pengasuh terpisah dan pintu depan mengikuti aturan rumah dinas.” Suara Bima tetap rendah. “Kalau pengaturannya perlu diperbaiki, ajukan kepada saya melalui jalur satuan. Jangan mengadili ibu susuan anak saya di arisan.”

Bu Ratna memaksakan senyum. “Kami hanya mengingatkan.”

“Sudah diingatkan. Sekarang saya jawab.”

Bima melangkah ke sisi Laras. Ia tidak menyentuh perempuan itu, tetapi tubuhnya menjadi dinding yang nyata di antara Laras dan tatapan orang-orang.

“Saya yang mempekerjakan Laras. Saya yang meminta nasi goreng itu. Saya juga yang menambah jatah makannya karena Satya bergantung pada susunya.”

Matanya berhenti pada Bu Ratna.

“Kalau ada yang keberatan, sampaikan kepada saya. Jangan ganggu dia.”

Tak seorang pun bergerak.

Bu Titin menunduk, menyembunyikan senyum tipis. Iwan memandang lurus ke depan. Laras sendiri hampir lupa bernapas.

Bu Ratna menggenggam daftar arisan sampai kertasnya tertekuk.

“Tentu, Pak Bima,” katanya, meski wajahnya telah kehilangan warna.

Bima mengangguk satu kali.

Di tengah teras yang penuh perempuan, sepiring nasi goreng yang dipakai untuk mempermalukan Laras akhirnya diakui Bima sebagai permintaannya sendiri.

Dan ketika semua mata beralih kepada Bu Ratna, perempuan itu tidak lagi punya tempat untuk menyembunyikan wajahnya yang berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!