Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Setelah Badai
"Kak, kenapa nama kamu ada di video orang-orang?"
Bintang berdiri di depan meja makan vila dengan ponsel pinjaman Bibi Lestari di tangan. Layar kecil itu menampilkan potongan video ballroom: Raka berdiri di depan panggung, Vera menangis, Ahmad memegang mikrofon dengan wajah hancur.
Bibi cepat mengambil ponsel dari tangan Bintang. "Kamu sarapan dulu. Jangan baca komentar orang dewasa."
"Tapi ada yang bilang Kak Raka jahat."
Raka menaruh gelas air. "Ada juga yang bilang Kakak benar?"
Bintang mengangguk ragu. "Ada. Tapi yang jahat lebih keras."
"Orang yang salah sering berteriak supaya tidak terdengar kalah."
Fajar masuk dari pintu samping membawa laptop. Ia meletakkannya di meja, membuka grafik sederhana berisi penyebaran video. Tadi malam belum selesai, pagi ini Kota N sudah punya dua kubu: yang menyebut Raka pria miskin sakit hati, dan yang memuji keberaniannya membongkar pasangan penipu.
"Akun Vera mulai bermain korban," kata Fajar. "Dia unggah foto menangis. Narasinya: mantan obsesif mempermalukan wanita hamil. Ahmad belum bicara. Keluarganya menghapus semua foto pertunangan. Herman mengunci akun."
Bibi menatap Raka. "Kamu bisa tahan?"
"Saya tidak perlu disukai semua orang, Bi. Saya hanya perlu tidak bisa difitnah."
Raka membuka folder bukti yang sudah disiapkan. Fajar mengunggah versi publik: rekaman tanpa bagian medis sensitif, daftar transfer disensor, tanda terima legal CCTV, dan potongan pesan suara Vera yang meminta mahar. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada hinaan. Hanya urutan fakta.
Dalam dua puluh menit, arah komentar berubah.
Yang tadi membela Vera mulai bertanya kenapa seorang wanita yang sudah bertunangan dengan Ahmad masih meminta uang mahar dari mantan. Yang menyerang Raka mulai diam ketika dokumen transfer muncul.
[Mimpi mencatat: reputasi publik pulih sebagian. Ancaman narasi Vera melemah 62%.]
Bintang mencuri lihat dari balik kursi. "Berarti Kakak menang?"
"Belum," jawab Raka. "Menang itu bukan membuat mereka menangis. Menang itu memastikan mereka tidak bisa mengulanginya kepada orang lain."
Bibi menghela napas. "Kalau kamu bicara seperti itu, Bibi takut sekaligus lega."
Fajar menutup laptop. "Pak Raka, ada satu hal lagi. Sistem hotel mencatat siapa yang mencoba memutus layar semalam. Bukan Ahmad. Seorang teknisi eksternal yang dibayar Herman. Gagal karena tim Pak Hendra mengunci akses."
"Simpan. Jangan buka sekarang. Herman belum cukup panik."
[Mimpi membuka arsip tambahan: jadwal kontrol medis Vera empat bulan lalu, tersimpan sebagai bukti privat. Disarankan hanya digunakan jika pihak Vera menyerang lebih jauh.]
Raka mengangguk dalam hati. Ia tidak ingin menjadikan kehamilan sebagai tontonan lebih dari yang diperlukan. Vera sudah jatuh karena kebohongannya sendiri. Bayi dalam kandungannya tidak ikut bersalah.
Siang itu, setelah Bibi dan Bintang beristirahat, Raka mengunci diri di ruang olahraga vila. Manual Tai Chi Dasar dari sistem terbuka di kesadarannya seperti lembaran gerak yang tidak tertulis di kertas. Berbeda dari Wing Chun yang pendek dan tajam, Tai Chi terasa lambat, tetapi setiap putaran memindahkan pusat beratnya.
Ia mencoba gerakan pertama.
Lima menit kemudian, lututnya gemetar.
Sepuluh menit kemudian, keringat menetes dari dagu ke lantai.
Dua puluh menit kemudian, ia muntah air di wastafel.
"Ini dasar?" Raka menyeka mulut. "Mimpi, standar dasarmu menghina manusia."
[Manual Tai Chi Dasar meningkatkan kontrol tubuh, napas, dan stabilitas. Tubuh tuan rumah naik terlalu cepat, koordinasi belum mengejar atribut. Rasa sakit adalah penyesuaian.]
"Jawabanmu terdengar seperti dokter yang tidak mau digugat."
[Tidak ditemukan fitur takut digugat.]
Raka tertawa, lalu kembali berdiri.
Ia mengulang gerakan. Lambat. Satu tarikan napas, satu putaran bahu, satu langkah yang memindahkan seluruh berat tanpa suara. Setelah latihan berulang, tubuhnya mulai mengerti. Kekuatan tanpa kendali hanya akan membuatnya menjadi Herman versi lebih mahal. Ia butuh kendali.
Sore menjelang, Hendra datang bersama dua staf ke vila. Mereka membawa laporan peluang aset, struktur investasi, dan daftar kebutuhan untuk membentuk perusahaan baru atas nama Raka.
"Pak Raka," kata Hendra, "kalau Bapak ingin bergerak di properti, ritel, dan akuisisi, sebaiknya buat entitas sendiri. Jangan semua transaksi memakai nama pribadi."
Fajar menyetujui. "Juga untuk keamanan. Orang sudah mulai mencari alamat Pak Raka."
Raka membaca ringkasan. PT kosong bisa dibuat cepat melalui notaris, tetapi perusahaan besar butuh struktur: direktur, komisaris, alamat kantor, modal, rekening perusahaan, akta, NPWP, dan pengacara tetap.
"Saya ingin perusahaan yang orang dengar sekali lalu ingat."
Hendra menyiapkan beberapa nama. Raka menolak tiga pertama.
Mimpi menampilkan saran.
[Rekomendasi nama: PT Langit Sembilan. Makna komersial: puncak bertingkat, ambisi, mudah diingat.]
"PT Langit Sembilan," kata Raka.
Hendra mencatat. "Bagus. Kita perlu pengacara yang tidak takut menggigit. Saya punya beberapa nama aman."
Mimpi memunculkan profil seorang pria berambut berantakan dengan riwayat kasus tajam.
[Bayu Santoso, S.H. Pengacara litigasi dan korporat. Dipecat dari firma Keluarga Wijaya setelah menyebut putra ketiga klien tolol dalam rapat. Kompetensi tinggi, diplomasi rendah.]
Raka menunjuk nama itu.
"Panggil dia."
Hendra ragu setengah detik. "Bayu menang perkara, tapi mulutnya bisa membakar meja."
"Saya punya cukup meja. Saya butuh yang bisa menang."
Malamnya, Vera mengunggah klarifikasi kedua. Kali ini ia menuduh Raka membeli saksi dan menghancurkan hidup wanita hamil.
Raka membaca tanpa emosi.
Fajar menunggu perintah.
"Tidak usah balas," kata Raka. "Besok kita naik kelas. Kalau mereka ingin ribut di lantai bawah, biarkan. Kita bangun gedung dulu."
Pukul sembilan malam, Hendra mengirim jadwal notaris untuk pembentukan PT Langit Sembilan.
Di layar lain, Mimpi menampilkan misi baru.
[Misi rantai kekuasaan awal akan aktif setelah badan hukum terbentuk.]
Raka menutup laptop dan kembali ke ruang olahraga. Tubuhnya masih nyeri, tetapi matanya terang.
Besok, nama Raka tidak lagi berdiri sendirian.
Hendra juga memperingatkan satu hal: setelah video viral, orang-orang yang tidak mengenal Raka akan mulai menawarkan investasi palsu, kerja sama kosong, dan pertemanan mendadak. Bayu belum resmi masuk tim, tetapi Hendra sudah menyarankan agar semua nomor asing disaring.
Raka menyetujui. Ia meminta Fajar membuat tiga kategori kontak: keluarga dan staf inti, peluang bisnis legal, dan gangguan. Vera masuk kategori terakhir. Herman juga. Ahmad belum dikategorikan, karena pria itu masih punya keluarga yang mungkin bergerak setelah malu publik.
Keputusan kecil itu membuat meja kerja terasa seperti pusat komando. Raka belum punya kerajaan, tetapi ia mulai punya disiplin untuk tidak membiarkan siapa pun masuk lewat pintu emosi.
Malam itu, Raka juga memindahkan flashdisk utama ke Pocket Space. Satu benda kecil hilang dari meja dan masuk ke ruang tak terlihat di kesadarannya. Ia mencoba mengambilnya kembali, berhasil, lalu menyimpannya lagi. Fajar tidak melihat prosesnya, tetapi melihat ekspresi Raka.
"Ada trik baru?"
"Ruang penyimpanan kecil. Jangan tanya dulu."
Fajar mengangguk. "Selama tidak membuat bukti hilang saat dibutuhkan."
Besok, ia mulai memakai perusahaan sebagai tinju.