Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 002
Tatapan Asing
Ujung malam itu ternyata berkilau seperti pisau.
Mobil Ci Lucy berhenti di depan hotel bintang lima di kawasan SCBD tepat pukul delapan kurang sepuluh. Dari balik kaca, Kiara melihat karpet merah membentang di bawah lampu-lampu kamera. Wartawan infotainment berbaris di sisi pembatas, para tamu turun dari mobil mewah dengan senyum yang sudah dilatih, sementara petugas keamanan berjas hitam berdiri di setiap pintu.
Jakarta di malam hari selalu punya cara untuk terlihat cantik, bahkan saat siap menelan seseorang hidup-hidup.
"Kamu masih bisa berubah pikiran," ucap Ci Lucy dari kursi depan.
Kiara menatap undangan hitam keemasan di pangkuannya. Nama acaranya tercetak rapi, gala apresiasi insan film nasional. Dalam novel, kalimat-kalimat tentang acara ini ia baca sambil setengah mengantuk. Sekarang, bau parfum mahal dan suara kamera membuat semuanya terasa terlalu nyata.
"Kalau aku tidak datang, mereka akan tetap membicarakanku," jawab Kiara pelan.
Ci Lucy menoleh. Wajah manajer itu tidak selembut Lina, tapi matanya jauh lebih jujur.
"Kamu sempat pingsan pagi ini?"
Kiara terdiam.
"Mukamu pucat sekali." Ci Lucy menahan napas, lalu mengambil lipstik dari tas kecilnya. "Oke. Kalau begitu jangan berdiri terlalu lama. Jangan minum apa pun dari orang asing. Kalau ada yang memancing, senyum saja. Kita tidak punya tim PR sebesar Wenny."
Kiara menerima lipstik itu dan mengulas sedikit di bibirnya.
Warna merah muda membuat wajah di cermin kecil tampak lebih hidup.
"Aku tidak akan membuat keributan," katanya.
Ci Lucy memandangnya sejenak. "Itu yang justru membuatku takut. Kiara yang dulu pasti menangis duluan."
Kiara menutup cermin.
"Mungkin aku sudah capek menangis."
Mereka turun dari mobil.
Begitu nama Kiara terdengar dari salah satu wartawan, bisik-bisik langsung merambat seperti api kecil. Beberapa kamera berbalik. Ada yang memanggil namanya, ada yang sengaja menyebut Wenny lebih keras, ada pula yang bertanya soal kontrak endorsement yang katanya direbut.
Kiara berjalan pelan di samping Ci Lucy. Gaun satin warna champagne yang dipinjamkan manajernya terasa dingin di kulit. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup anggun untuk membuat orang-orang sadar bahwa ia tidak datang sebagai gadis yang kalah.
"Kiara, benar kamu iri pada Wenny?"
"Apa keluarga Tanuwijaya melarang kamu datang malam ini?"
"Katanya kamu ribut dengan kakakmu sendiri?"
Langkah Kiara berhenti sebentar.
Ci Lucy meremas lengannya, memberi peringatan tanpa suara.
Kiara menoleh ke arah kamera paling dekat. Bibirnya melengkung tipis.
"Malam ini acara film, bukan ruang makan keluarga saya," ucapnya lembut. "Saya datang untuk menghormati para pekerja film."
Beberapa wartawan terdiam sepersekian detik.
Lalu lampu kamera menyala lebih cepat.
Di ambang pintu ballroom, Wenny sudah berdiri bersama Lina. Gaun putihnya berkilau seperti embun, wajahnya tersenyum manis, tangan Lina bertumpu akrab di punggungnya. Keduanya tampak seperti ibu dan putri yang sempurna.
Begitu melihat Kiara, senyum Wenny membeku sesaat.
"Kiara?" Wenny segera mendekat, suaranya cukup keras untuk didengar orang sekitar. "Kamu datang juga? Aku kira kamu sedang kurang sehat."
Kiara menatap tangan Wenny yang seolah ingin menggenggamnya.
Ia mundur setengah langkah.
Gerakan kecil itu membuat Wenny terlihat canggung. Beberapa tamu mulai melirik.
"Aku memang kurang sehat," kata Kiara. "Tapi belum sampai tidak bisa berdiri."
Wenny tertawa kecil, terlalu ringan. "Kamu ini. Aku cuma khawatir."
"Terima kasih."
Hanya dua kata. Sopan, dingin, dan tidak memberi celah.
Wenny tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi suara di pintu utama membuat semua orang menoleh.
Keramaian yang sejak tadi berisik mendadak menipis, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan udara.
Seorang pria masuk ke ballroom.
Setelan hitamnya sederhana, tapi justru membuat orang lain terlihat berlebihan. Tinggi, wajah tajam, kulit pucat di bawah cahaya lampu, mata gelap yang tidak perlu mencari perhatian karena perhatian seluruh ruangan sudah jatuh padanya. Di belakangnya, seorang asisten muda berjalan setengah langkah lebih jauh dengan ekspresi tertutup.
Rayhan Purnawan.
Nama itu muncul di kepala Kiara seperti alarm.
Dalam novel, pria ini bukan pangeran penyelamat. Ia adalah lubang hitam. Orang yang tersenyum pada rapat bisnis sambil membuat lawannya kehilangan segalanya sebelum makan malam selesai. Pewaris Purnawan Group yang bahkan para pengusaha senior pun tidak berani panggil dengan nama depan.
Kiara pernah membaca adegan-adegan tentangnya.
Keji. Dingin. Tidak punya belas kasihan.
Tapi saat mata pria itu berhenti pada dirinya, semua kata dalam ingatan Kiara mendadak kehilangan bentuk.
Rayhan tidak melihat Wenny.
Tidak melihat Lina.
Tidak melihat para sosialita yang berusaha tampak tenang.
Ia hanya melihat Kiara.
Tatapannya tidak dingin.
Justru terlalu lembut.
Seperti seseorang yang akhirnya menemukan barang paling berharga setelah kehilangan begitu lama. Seperti ia takut jika berkedip, Kiara akan menghilang dari hadapannya.
Dada Kiara berdenyut nyeri.
Jantungnya berdetak cepat, lebih cepat dari suara kamera, lebih cepat dari langkah Rayhan yang kini mendekat.
"Bos," bisik asisten di belakangnya, nyaris tak terdengar. "Pak Gunawan menunggu di ruang VIP."
Rayhan tidak menjawab.
Ia berhenti tepat di depan Kiara.
Aroma kayu cendana yang samar menyentuh hidungnya. Bersih, dingin, dan entah kenapa membuat lutut Kiara hampir kehilangan tenaga.
Kiara tahu ia harus menunduk sopan. Atau menyapa dengan jarak aman. Atau pura-pura tidak mengenal nama besar di hadapannya.
Tetapi tatapan itu menahan semua geraknya.
Rayhan mengulurkan tangan.
Di telapak tangannya, ada anting kecil milik Kiara yang rupanya terlepas entah sejak kapan.
"Punyamu," katanya.
Suaranya rendah.
Kiara menerima anting itu. Ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh kulit Rayhan yang dingin.
Napasnya tersangkut.
"Terima kasih, Pak Rayhan."
Mata Rayhan sedikit berubah saat mendengar panggilan itu. Bukan marah. Lebih seperti terluka oleh jarak yang terlalu jauh.
"Rayhan saja."
Bisik-bisik di sekitar mereka langsung pecah lebih halus. Wenny menatap dengan wajah yang hampir tidak sempat ia rapikan. Lina juga membeku.
Kiara menggenggam anting itu sampai menusuk telapak tangannya.
Pria di depannya adalah villain. Ia harus mengingat itu.
Namun Rayhan menatapnya seolah seluruh ballroom lenyap, seolah tidak ada dunia lain selain dirinya.
"Kamu datang," ucapnya pelan.
Kiara mengangkat wajah.
"Anda menunggu saya?"
Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Rayhan bergerak sedikit.
Senyum itu terlalu indah untuk seseorang yang seharusnya kejam.
"Lebih lama dari yang kamu kira."