NovelToon NovelToon
RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anime / Game / Slice of Life
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: webnakama

Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.

Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).

Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 — Menuju Timur Laut

Beberapa hari setelah insiden sama Hayashi, Kaito sama Rin akhirnya mutusin buat ngecek titik yang sempet kedeteksi Fortune's Eye waktu itu, area timur laut yang katanya jarang banget disentuh pemain karena reputasinya yang terlalu berbahaya.

"Lo yakin kita udah siap?" tanya Kaito, pas mereka lagi packing perbekalan di gerbang kota.

"Nggak sepenuhnya," jawab Rin jujur, "tapi kita udah naik cukup banyak level minggu ini, dan gue udah siapin rencana mundur kalo emang kondisinya terlalu berat. Kita jalan pelan-pelan, evaluasi tiap beberapa ratus meter."

Kaito ngangguk, walau ada rasa deg-degan yang nggak bisa dia sembunyiin sepenuhnya. Bukan cuma soal bahaya monster, tapi lebih ke rasa penasaran yang udah numpuk sejak reruntuhan pertama, jangan-jangan apa pun yang nunggu di sana bakal ngasih jawaban lebih jelas soal apa sebenernya yang lagi kejadian sama dia.

Perjalanan ke sana makan waktu hampir dua jam, ngelewatin medan yang makin lama makin liar, padang rumput biasa berubah jadi hutan lebat dengan pohon-pohon tinggi yang akarnya nongol dari tanah kayak jaring raksasa, terus berubah lagi jadi tebing berbatu dengan jalur sempit yang cuma cukup buat satu orang lewat.

Di sepanjang jalan, mereka ketemu beberapa monster yang levelnya jauh lebih tinggi dari yang biasa mereka hadepin, sekali mereka sempet dikepung tiga ekor serigala bayangan yang gerakannya cepet banget, hampir bikin Kaito kewalahan sebelum Rin masuk dari sisi buta dan ngelumpuhin dua sekaligus dengan kombo cepatnya. Tapi kombinasi antara insting tempur Rin yang makin tajam dan keberuntungan absurd Kaito bikin mereka berhasil lewatin semuanya tanpa cedera parah.

"Lo oke?" tanya Rin, begitu serigala terakhir ambruk jadi partikel cahaya.

"Oke, cuma kaget aja tadi mereka nyerang bareng-bareng gitu." jawab Kaito dengan napasnya masih agak ngos-ngosan,

"Itu emang taktik khas monster tipe pack hunter. Untung lo cepet nyadar buat mundur ke tembok, jadi mereka nggak bisa ngepung dari belakang."

"Gue nggak sengaja sih, cuma refleks aja," akui Kaito, agak malu.

"Ya, tapi refleks lo lumayan bagus buat ukuran seminggu main," Rin ngangkat bahu, terus lanjut jalan.

Perjalanan mereka lanjut lewat medan yang makin lama makin terjal, sampai akhirnya mereka nemuin sungai kecil yang jadi titik istirahat pas buat ngatur napas sebentar.

"Lo makin nggak kaku lagi gerakannya," komentar Rin, sambil duduk di batu deket aliran air.

"Ada yang latih tiap hari," jawab Kaito, nyengir sambil ngambil botol air dari inventory.

"Serius, gue nggak nyangka progress lo secepat ini. Biasanya butuh bulanan buat orang bisa baca pola serangan musuh se-otomatis itu." Rin duduk di batu besar, natap air sungai yang mengalir tenang. "Kadang gue mikir, LUK lo itu nggak cuma ngaruh ke drop item atau critical hit doang. Kayak ada elemen lain yang bikin lo... gampang belajar. Atau mungkin cuma perasaan gue aja."

Kaito duduk di sampingnya, mikirin kata-kata itu. "Kalo dipikir-pikir, mungkin bukan cuma soal skill combat. Gue juga ngerasa... gue jadi lebih pede sekarang. Di dunia nyata juga."

Rin nengok ke arahnya. "Gimana maksudnya?"

"Entahlah," Kaito ngangkat bahu, "beberapa hari ini kerjaan gue lancar-lancar aja. Nggak ada drama kayak biasanya. Temen kantor yang biasanya nggak terlalu peduli, tiba-tiba jadi lebih baik ke gue. Mungkin cuma kebetulan, tapi..."

"Tapi lo curiga ada hubungannya sama keberuntungan lo di sini," potong Rin, ngerti arah pembicaraan.

"Yaa."

Rin diem sebentar, mikir. "Kalo emang bener kayak gitu, itu artinya efek lo lebih besar dari yang kita kira. Bukan cuma di dalam sistem game." Dia natap Kaito lebih lama, ekspresinya susah dibaca. "Itu... entah harus bikin gue makin penasaran atau makin khawatir."

Mereka lanjut jalan sampai akhirnya nyampe di ujung tebing yang nunjukin pemandangan lembah kecil tersembunyi di bawahnya dan di tengah lembah itu, berdiri reruntuhan kuil yang jauh lebih besar dan lebih megah dari yang mereka temuin sebelumnya, separuh tertutup kabut tebal yang nggak bergerak sama sekali walau angin lumayan kenceng di sekitar mereka.

"Ini dia, titik yang kedeteksi Fortune's Eye lo." gumam Rin, matanya berbinar antara excited dan waspada.

Mereka turun ke lembah lewat jalur setapak yang curam, dan begitu deket sama reruntuhan itu, Kaito ngerasain lagi sensasi yang sama kayak waktu di Hutan Cahaya Redup, tarikan halus yang kerasa familiar, kayak ada sesuatu di dalem sana yang ngenalin dia.

Interior kuil itu jauh lebih luas, dengan lorong-lorong yang bercabang ke berbagai arah, dan di dinding-dindingnya, ukiran-ukiran yang sama persis kayak yang pernah Kaito liat, pola garis yang mirip simbol yang berkedip di layarnya waktu konfirmasi stat.

Udara di dalem sana kerasa lebih dingin dari yang seharusnya, dan setiap langkah mereka bergema panjang di lorong-lorong kosong itu, kayak bangunan ini sengaja dibikin buat nunggu, bukan buat dihuni.

"Hati-hati, gue nggak liat monster satu pun sejak masuk sini. Itu nggak biasa buat reruntuhan seukuran ini." bisik Rin sambil ngarahin senter kecil dari item-nya ke lorong yang lebih gelap.

"Mungkin mereka takut sama sesuatu di dalem," gumam Kaito, setengah bercanda walau nadanya sendiri kedengeran nggak sepenuhnya yakin itu cuma bercanda.

Mereka jalan ke ruangan paling dalam, dan di sana, berdiri sebuah gerbang batu besar dengan ukiran rumit di sekelilingnya, bercahaya biru pucat yang lebih terang dari kristal-kristal di dinding lain.

"Ini gerbang apa?" tanya Kaito, mendekat.

Rin ngeluarin semacam alat scanning kecil dari inventory-nya, ngarahin ke gerbang itu. "Sistem nggak bisa baca ini sebagai objek biasa. Nggak ada nama, nggak ada level, nggak ada deskripsi standar." Dia natap Kaito. "Coba deket-in tangan lo."

Kaito ragu sebentar, terus ngulurin tangannya pelan-pelan ke arah ukiran di gerbang itu.

Begitu jarinya hampir nyentuh permukaan batu, seluruh ukiran itu tiba-tiba menyala terang, cahaya birunya nyebar cepet ke seluruh permukaan gerbang, dan suara dengung rendah kedengeran dari dalam batu, kayak sesuatu yang lagi "bangun" perlahan.

Rin mundur refleks, tangannya udah siap di gagang belati. "Kaito, mundur!"

Tapi Kaito nggak ngerasa ada ancaman. Justru sebaliknya, ada semacam ketenangan aneh yang ngalir masuk ke dalam dirinya, kayak lagi didekap sesuatu yang udah lama nggak dia rasain.

Sebuah panel muncul di depannya, beda dari notifikasi sistem biasa manapun:

Resonansi terdeteksi: 34% Gerbang belum dapat dibuka. Syarat belum terpenuhi.

Cahaya itu perlahan meredup lagi, dengungnya berhenti, dan gerbang kembali diem kayak semula.

Kaito berdiri diem, natap tangannya sendiri. "Tiga puluh empat persen," gumamnya, "persen dari apa?"

Rin yang masih agak tegang, perlahan nurunin tangannya dari gagang belati. "Gue nggak tau. Tapi itu artinya ada semacam ambang batas yang harus lo capai buat buka gerbang ini. Dan kita baru di sepertiga jalan."

Mereka berdua diem lama, natap gerbang yang sekarang keliatan diem lagi, seolah nggak pernah kejadian apa-apa.

"Rin, boleh gue tanya sesuatu?" kata Kaito pelan.

"Tanya aja."

"Kenapa lo sebegitu niatnya nyelidikin semua ini? Lo bilang ada alesan personal, tapi lo nggak pernah cerita detailnya."

Rin diem cukup lama, natap gerbang itu daripada natap Kaito. "Dulu, sebelum gue jadi pemain top-tier kayak sekarang, gue punya partner. Kita main bareng dari awal, ngebangun semuanya dari nol." Suaranya jadi lebih pelan. "Suatu hari, dia ngalamin sesuatu yang mirip kayak lo, anomali yang nggak wajar. Bedanya, dia nggak seberuntung lo. Efeknya justru kebalikannya, segala hal buruk yang ngga mungkin kejadian, kejadian ke dia, berturut-turut, sampe akhirnya dia mutusin berhenti main sama sekali."

Kaito diem, ngerasa berat denger cerita itu.

"Gue nggak pernah nemuin penjelasan yang masuk akal soal apa yang kejadian ke dia," lanjut Rin, "sampe gue denger soal lo. Dan gue mulai mikir, mungkin ini bukan cuma soal keberuntungan random biasa. Mungkin ada sistem yang lebih besar yang ngatur semua ini, dan kalo gue bisa ngerti itu, mungkin gue bisa ngerti juga apa yang sebenernya kejadian ke dia."

Kaito natap Rin lama, ngeliat sisi lain dari dirinya yang belum pernah dia liat sebelumnya, bukan cewek dingin dan analitis yang dia kenal selama ini, tapi seseorang yang nyimpen kekhawatiran yang udah lama dia pendem sendirian.

"Kita bakal cari tau bareng-bareng," kata Kaito dengan suaranya lebih tegas dari yang dia sangka sendiri. "Gue janji."

Rin natap dia, kaget sebentar sama ketegasan itu, terus senyum tipis muncul di wajahnya, senyum yang beda dari biasanya, lebih tulus, lebih rapuh.

"Makasih," katanya pelan.

Di belakang mereka, gerbang batu itu tanpa mereka sadari, berkedip sekali lagi sangat singkat, sangat pelan seolah ikut mendengar janji yang baru aja diucapkan.

1
Zyren Vale
ikut meramaikan 🔥
Zyren Vale
kena kutukan nih
Zyren Vale
inti bumi kah
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Semangat ya thor🙏👍💪
Tio Buki
Lanjut
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Mampir gan👍👍👍👍
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Ngak tau saya, yang hanya buang buang waktu saja
Tio Buki
Mungkin nama spesial
Tio Buki
Apa itu
Tio Buki
Tidak mengapa
Tio Buki
Bumi ya
Tio Buki
Siapakah dia
Tio Buki
Wow
Tio Buki
Seberapa jau kah
the virtuso
saling support yah thor👍
Giooooo
Keren ceritanya thorku 💪
Author Melda
salah suport kak mampir yah ke novel ak KKN DESA MATI👍
Author Melda: terimakasih kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!