Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Denganmu
Seminggu telah berlalu sejak Davina mendengar nama "Adit" dari mulut Zahra. Selama seminggu itu, Davina hidup dalam kecemasan. Setiap kali ia mengantar atau menjemput Zahra, matanya selalu waspada, mencari-cari sosok pria tinggi itu. Namun, Adit seolah menghilang. Kepala sekolah hanya menyebutkan bahwa Bapak Pemilik Yayasan sedang sibuk dengan urusan bisnis di luar kota.
Davina mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya kebetulan. Bahwa "Adit" yang dimaksud Zahra mungkin orang lain yang namanya sama. Ada banyak Adit di dunia ini. Tidak mungkin mantan pacarnya yang dulu ghosting dia secara kejam tiba-tiba menjadi pemilik yayasan pendidikan tempat anaknya bersekolah.
Namun, ketenangan itu hancur pada suatu pagi yang cerah.
Pintu gerbang PAUD Al-Ghajali dihiasi dengan balon warna-warni dan spanduk besar bertuliskan: "Gathering Orang Tua Murid & Siswa: Membangun Masa Depan Bersama."
Bu Sari, wali kelas Zahra, menghampiri Davina saat ia sedang melepas sepatu Zahra di loker.
"Ibu Davina, selamat pagi," sapa Bu Sari ramah. "Hari ini ada acara gathering khusus. Bapak Pemilik Yayasan ingin bertemu langsung dengan para orang tua murid untuk mendengarkan aspirasi dan memperkenalkan visi baru sekolah. Kehadiran Ibu sangat diharapkan."
Davina tersenyum tipis, meski perutnya merasa tidak enak. "Baik, Bu. Saya akan hadir."
"Acara dimulai pukul 09.00 pagi di Aula Utama. Mohon datang tepat waktu ya, Bu."
Davina mengangguk. Ia sebenarnya ingin menolak. Ia tidak suka keramaian, dan ia lebih suka menghindari sorotan. Tapi karena ini menyangkut pendidikan Zahra, ia merasa wajib datang. Lagipula, ia penasaran. Siapa sih pemilik sekolah ini yang begitu misterius?
Di Aula Utama, Pukul 09.00
Aula sekolah dipenuhi oleh puluhan orang tua murid. Suasana ramai namun tertib. Anak-anak duduk di karpet berwarna-warni di depan panggung, sementara para orang tua duduk di kursi yang disusun rapi di belakang mereka.
Davina duduk di barisan tengah, bersama Alya dan beberapa ibu lainnya. Kenzo duduk di samping Zahra, mereka saling berbisik dan tertawa kecil.
"Kamu tahu siapa yang bakal pidato hari ini, Dav?" tanya Alya sambil menyesap teh hangatnya.
"Nggak tahu. Kata Bu Sari cuma 'Bapak Pemilik Yayasan'," jawab Davina santai, meskipun jantungnya mulai berdegup sedikit lebih cepat tanpa alasan yang jelas.
"Aku dengar-dengar, beliau jarang muncul. Orang katanya dingin, serius, tapi sangat peduli sama kualitas pendidikan," lanjut Alya.
Davina hanya mengangguk. Matanya menatap ke arah panggung yang masih kosong, tertutup tirai merah velvet.
Tiba-tiba, lampu aula meredup sedikit. Musik instrumental yang lembut mulai mengalun. Seorang MC naik ke panggung.
"Selamat pagi, Bapak/Ibu sekalian. Terima kasih telah hadir. Hari ini, kami memiliki kehormatan untuk menyambut Bapak Pendiri dan Pemilik Yayasan Pendidikan Al-Ghajali, yang akan menyampaikan sambutan sekaligus mengumumkan program baru dan visi misi sekolah agar anak - anak bisa dapat prestasi dengan baik."
Hadirin bertepuk tangan sopan. Davina juga ikut bertepuk tangan, rasa penasarannya memuncak.
Tirai panggung perlahan terbuka.
Dan waktu seolah berhenti bagi Davina.
Dari balik tirai, melangkah keluar seorang pria. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang pas di tubuhnya, kemeja putih bersih, dan dasi biru navy. Rambutnya ditata rapi, wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas.
Pria itu berjalan menuju podium dengan langkah percaya diri. Saat ia berdiri di bawah sorotan lampu, wajahnya terlihat jelas oleh semua orang di aula.
Jantung Davina berhenti berdetak. Napasnya tercekat. Darahnya membeku.
Itu bukan orang lain.
Itu bukan kebetulan.
Itu bukan ilusi.
Itu Adit, mantannya 7 tahun yang lalu.
Aditya Praja Kusuma. Mantan kekasihnya. Pria yang menghilang tujuh tahun lalu tanpa penjelasan. Pria yang menghancurkan hatinya menjadi serpihan-serpihan kecil.
Davina terpaku di kursinya. Tangannya gemetar hebat hingga cangkir teh di pangkuannya hampir terjatuh. Matanya membelalak, menatap pria di atas panggung dengan campuran antara syok, kemarahan, dan ketakutan.
Adit...?
Di atas panggung, Adit menyesuaikan mikrofon. Matanya menyapu seluruh ruangan, seolah mencari seseorang. Tatapannya tajam, intens, dan penuh makna.
Selama beberapa detik, pandangan Adit dan Davina bertemu.
Dunia sekitar Davina menjadi kabur. Suara tepuk tangan, suara anak-anak, suara MC, semuanya hilang. Yang tersisa hanyalah detak jantungnya yang bergemuruh seperti gendang perang.
Adit tersenyum tipis. Senyum yang sangat familiar. Senyum yang dulu sering membuat Davina jatuh cinta, dan kini membuat Davina ingin lari sejauh-jauhnya.
"Selamat pagi, Bapak/Ibu sekalian," suara Adit terdengar berat dan berwibawa melalui speaker. "Terima kasih telah mempercayakan pendidikan putra-putri Anda kepada Yayasan Al-Ghajali."
Davina tidak mendengar kata-kata selanjutnya. Otaknya tidak bisa mencerna, Pikirannya berputar kencang.
Kenapa dia di sini?
Kenapa dia pemilik sekolah?
Apakah dia tahu aku ada di sini?
Apakah ini jebakan?
Atau suatu kebetulan.
Rasa panik mulai merayap naik dari dada ke tenggorokan. Davina merasa sesak. Ia ingin berdiri dan lari keluar dari aula itu. Ia ingin membawa Zahra dan pergi jauh dari tempat ini.
Tapi kakinya terasa seperti ditempeli lem. Ia tidak bisa bergerak.
Di sampingnya, Alya tampak antusias mendengarkan pidato Adit. "Wah, ternyata Om Adit yang tadi main sama Kenzo itu pemilik yayasan ya? Ganteng banget kalau pakai jas begini," bisik Alya pada Davina.
Davina tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, wajahnya pucat pasi.
Di atas panggung, Adit terus berbicara tentang visi misi sekolah. Namun, matanya sesekali kembali menatap ke arah barisan tengah, tepatnya ke arah Davina. Ia melihat betapa pucatnya wajah wanita itu. Ia melihat kegelisahan di mata Davina.
Adit tahu. Davina sudah tahu.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah langkah pertama Adit. Ia menciptakan acara ini dengan satu tujuan utama: Bertemu Davina. Tanpa paksaan. Tanpa konfrontasi langsung di jalan. Hanya sebuah pertemuan "kebetulan" dalam setting formal sebagai pemilik sekolah dan orang tua murid.
Setelah pidato selesai, Adit turun dari panggung dan disambut oleh para orang tua yang ingin bersalaman. Ia menjabat tangan satu per satu dengan sopan.
Davina melihat itu. Ia melihat bagaimana Adit bersikap hangat, profesional, dan dicintai oleh banyak orang. Berbeda dengan Adit yang menyakitinya dulu.Pria yang dingin, egois, dan pengecut.
"Mamah?"
Suara kecil Zahra memecah lamunan Davina.
Davina menoleh. Zahra menatapnya dengan wajah bingung. "Mamah kenapa? Mamah kelihatan sakit. Wajah Mamah pucat banget."
Davina menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan getaran di tubuhnya. Ia memaksakan senyum tipis pada putrinya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Mamah cuma... kaget sedikit. Panas di dalam aula mungkin," bohong Davina.
"Kita pulang aja yuk, Mah? Zahra udah mau pipis," rayu Zahra.
Davina mengangguk cepat. "Iya, ayo kita pulang."
Ia segera berdiri, mengambil tas Zahra, dan berjalan cepat menuju pintu keluar, menghindari kerumunan orang tua yang masih mengantri untuk bersalaman dengan Adit.
Saat ia melewati sisi samping panggung, ia merasa ada tatapan yang membakar punggungnya. Ia tidak berani menoleh. Ia tahu siapa yang menatapnya.
Adit.
Davina mempercepat langkahnya, hampir berlari kecil keluar dari gedung sekolah. Udara segar di luar membuatnya sedikit lega, tapi dadanya masih terasa sesak.
Ia memandang langit biru yang cerah, bertanya-tanya pada alam semesta.
Tuhan, mengapa Engkau mempertemukan kami lagi? Aku sudah berusaha move on. Aku sudah berusaha melupakan. Mengapa dia harus muncul lagi, justru di tempat yang seharusnya menjadi zona aman untuk Zahra? Ucap Davina Gelisah.
Sementara itu, di dalam aula, Adit melihat punggung Davina yang menghilang di balik pintu. Ia menghela napas panjang.
Langkah pertama sudah dia ambi , dan seperti dugaan adit semua berjalan mulus sesuai rencananya. Davina tahu kebenarannya. Sekarang, giliran Adit untuk menunjukkan bahwa ia bukan lagi pria yang sama dari tujuh tahun lalu.
"Davina," gumam Adit pelan. "Aku melakukan semua demi bisa bertemu dengan mu"