Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
happy reading guys
------------------------------
BAB 2: Kelahiran Elena Vance
Malam itu, di dalam limosin hitam mewah yang membelah banjir Jakarta, suasananya mencekam bagai ruang operasi berjalan.
Nicholas Syailendra memangku tubuh Adeline Wijaya yang sudah separuh membeku.
Setelan jas mahalnya kini basah kuyup, tercoreng noda darah pekat yang terus merembes dari gaun tidur putih Adeline.
Tangan Nicholas yang biasanya kokoh saat menandatangani kontrak miliaran rupiah, kini bergetar samar ketika menekan luka di perut Adeline menggunakan saputangan sutranya.
"Lebih cepat, Yan! Dia kehilangan terlalu banyak darah!"
bentak Nicholas pada asisten pribadi sekaligus sopirnya.
Suaranya yang biasa tenang kini naik satu oktav, dipenuhi kepanikan yang jarang ia tunjukkan.
"Baik, Tuan Besar! Lima menit lagi kita sampai di Rumah Sakit Medika Syailendra!"
sahut Yan dari balik kemudi, menginjak pedal gas lebih dalam hingga limosin itu melesat membelah rintik hujan badai.
Nicholas menatap wajah Adeline yang bersandar di dadanya.
Kelopak mata wanita itu tertutup rapat, bibirnya membiru, dan napasnya sangat tipis.
"Bertahanlah, Adeline... jangan berani-berani kamu mati setelah apa yang mereka lakukan padamu," bisik Nicholas tajam, menyeka helai rambut basah yang menempel di dahi Adeline dengan ibu jarinya.
Begitu mobil berhenti tajam di lobi khusus VVIP rumah sakit, pintu langsung ditarik terbuka dari luar.
Tim dokter spesialis yang sudah dihubungi sejak di jalan langsung bergerak sigap.
Tubuh Adeline dipindahkan ke atas brankar dengan cepat.
"Detak jantung lemah! Tekanan darah menurun drastis! Siapkan ruang operasi satu sekarang juga!"
teriak dokter jaga memberikan instruksi darurat sembari mendorong brankar itu melintasi koridor rumah sakit yang sunyi.
Nicholas ikut berlari di samping brankar, terus menggenggam tangan Adeline yang sedingin es hingga ke depan pintu ruang operasi bertuliskan lampu merah 'ON AIR'.
Pintu tertutup rapat, memisahkan Nicholas dari wanita yang baru saja ia selamatkan dari maut.
Pria itu berdiri mematung di koridor, menatap kedua telapak tangannya yang kini dipenuhi darah segar Adeline.
------------------------------
Beberapa jam kemudian, bau menyengat cairan antiseptik menjadi hal pertama yang menyengat indra penciuman begitu kesadaran Adeline perlahan kembali.
Kelopak matanya terasa sangat berat.
Saat ia berhasil membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit ruangan putih bersih yang asing, diikuti oleh bunyi teratur dari mesin pemantau detak jantung di samping ranjangnya.
"Sshhh..."
Adeline meringis kesakitan.
Rasa perih yang luar biasa hebat langsung menghantam perutnya begitu ia mencoba menggeser posisi duduk.
Secara refleks, tangan kanannya yang tertancap jarum infus langsung bergerak menyentuh perutnya yang kini terasa mendatar.
Kosong.
Tidak ada lagi kehangatan kecil yang biasanya ia rasakan di sana selama empat bulan terakhir.
Seketika itu juga, ingatan malam jahanam itu berputar hebat di kepalanya bagai kaset rusak.
Hujan badai, makian kejam Bram, senyum licik Siska, hantaman di aspal, hingga rasa sakit saat darahnya mengalir habis.
"Anakku..." bisik Adeline, suaranya parau dan bergetar hebat.
Air mata seketika merebak, membanjiri pipinya yang tirus.
"Di mana anakku?! Suster! Dokter!"
"Tenang, Adeline. Jangan banyak bergerak dulu. Jahitan di perutmu bisa robek."
Sebuah suara berat dan penuh wibawa terdengar dari arah sudut ruangan.
Adeline menoleh dengan cepat, mengabaikan rasa pening yang menusuk kepalanya.
Di sana, duduk seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku.
Wajahnya luar biasa tampan, namun tatapan matanya sedingin es yang membeku.
"Nicholas... Syailendra?" Adeline mengenali pria itu.
Siapa yang tidak tahu Nicholas? Pria penguasa ekonomi negeri ini.
"Kenapa... kenapa aku ada di sini? Di mana bayiku, Nicholas? Tolong katakan padaku kalau dia baik-baik saja!"
Nicholas bangkit dari kursinya.
Langkah kakinya yang tegas bergaung di ruangan VVIP tersebut.
Ia berdiri di samping ranjang Adeline, menatap wanita itu dengan pandangan yang sulit diartikan—ada kemarahan yang tertahan, namun juga ada secercah rasa iba yang mendalam.
Nicholas menggelengkan kepalanya pelan.
"Maaf. Tim dokter sudah berjuang sekuat tenaga di ruang operasi semalam, tapi kamu kehilangan terlalu banyak darah di jalanan. Janinmu... tidak bisa diselamatkan."
Dunia Adeline runtuh seketika.
Ia menjerit histeris, mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi.
Isak tangis yang memilukan memenuhi ruangan mewah itu.
Kehilangan anak yang begitu ia harapkan oleh perbuatan suami yang begitu ia cintai rasanya jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.
"Bram... Siska... kalian pembunuh! Kalian membunuh anakku!"
teriak Adeline di sela-sela tangisnya yang liar.
Ia mencoba mencabut paksa jarum infus di tangannya, mengabaikan darah yang mencuat keluar dari kulitnya.
"Aku harus keluar! Aku harus membunuh mereka dengan tanganku sendiri!"
"Cukup, Adeline!"
Nicholas mencengkeram kedua pergelangan tangan Adeline dengan kuat, menghentikan aksi nekat wanita itu.
Tatapannya menembus langsung ke manik mata Adeline yang dipenuhi kegilaan.
"Kamu mau keluar dengan kondisi mengenaskan seperti ini? Mau datang ke rumah Bramantara dan membiarkan dirimu diinjak-injak lagi oleh mereka, hah?!"
"Lalu aku harus bagaimana?!"
raung Adeline, menatap Nicholas dengan mata merah penuh amarah.
"Aku tidak punya apa-apa lagi! Anakku sudah mati! Keluargaku mengkhianatiku!"
"Makanya, gunakan otakmu, bukan cuma otot dan emosimu,"
ucap Nicholas, suaranya mendadak merendah namun penuh penekanan yang menusuk.
Ia melepaskan cengkeramannya, lalu melemparkan sebuah tablet pintar ke atas pangkuan Adeline.
"Lihat itu."
Dengan tangan gemetar, Adeline melihat layar tablet tersebut.
Di sana terpampang berita online yang dirilis baru beberapa jam yang lalu.
‘Berita Duka: Adeline Wijaya, Istri dari CEO Bram Corp, Dinyatakan Tewas Terseret Arus Banjir Bandang Semalam. Pihak Keluarga Menggelar Doa Bersama.’
Di bawah berita itu, ada foto Bram yang sedang merangkul Siska yang menangis di depan para wartawan.
Bram memasang wajah berduka yang sangat palsu, sementara Siska menyembunyikan wajahnya di dada Bram—seolah-olah mereka adalah korban yang paling kehilangan.
Adeline tertawa getir.
Tawa yang terdengar sangat mengerikan dan penuh keputusasaan.
"Mereka... mereka mengumumkan kematianku bahkan sebelum mencari jasadku? Mereka sekadar ingin menyingkirkanku secepat mungkin agar bisa bersama."
"Benar. Secara hukum dan di mata dunia, Adeline Wijaya sudah mati malam itu,"
Nicholas bersedekap, bersandar pada dinding kamar.
"Jika kamu kembali sekarang sebagai Adeline, mereka hanya perlu membuat skenario lain untuk melenyapkanmu lagi. Kamu tidak punya kekuasaan, tidak punya uang, dan tidak punya kekuatan untuk melawan aliansi keluarga Bramantara dan Wijaya."
Adeline meremas pinggiran selimut rumah sakit hingga buku-buku jarinya memutih.
Kebencian di dalam dadanya kini mengkristal, menghapus seluruh air mata yang tersisa.
Matanya menatap Nicholas dengan tajam.
"Lalu kenapa kamu menyelamatkanku? Apa maumu, Nicholas? Kita tidak pernah saling kenal sebelumnya."
Nicholas terdiam sejenak.
Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang misterius.
"Aku punya dendam sendiri pada keluarga Bramantara. Dan aku melihat... kamu adalah senjata paling tajam yang bisa kugunakan untuk menghancurkan mereka sampai ke akarnya."
Nicholas merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah paspor baru dan beberapa dokumen identitas resmi berwarna hitam elegan.
Ia meletakkannya tepat di atas dada Adeline.
"Mulai detik ini, kubur nama Adeline Wijaya yang lemah dan bodoh itu di dasar jurang,"
kata Nicholas, suaranya terdengar magis dan penuh dominasi.
"Di dalam dokumen itu, namamu adalah Elena Vance. Seorang desainer perhiasan lulusan terbaik dari Prancis, anak angkat dari sekutu bisnisku di luar negeri. Aku sudah menyiapkan segalanya untukmu. Uang, identitas, koneksi, dan kekuasaan."
Adeline—tidak, kini namanya adalah Elena—menatap paspor di tangannya.
Foto di dalam paspor itu adalah wajahnya, namun tatapan matanya di foto itu terasa sangat berbeda.
Dingin dan tak tersuntuh.
"Apa jaminannya kalau aku bisa memercayaimu?"
tanya Elena dengan suara yang kini berubah drastis menjadi datar dan dingin.
Nicholas membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
Aroma parfum maskulin yang mahal bercampur tembakau tipis langsung mengepung indra penciuman Elena.
"Jaminannya adalah posisiku,"
bisik Nicholas tepat di depan kepalanya.
"Bulan depan, Bram Corp akan mengadakan pameran berlian tahunan terbesar mereka untuk merayakan posisi Siska sebagai desainer utama baru. Aku akan membawamu ke sana sebagai tamu kehormatan dari Syailendra Group. Kita akan hancurkan pameran itu, dan kita buat mantan suamimu merangkak di bawah kakimu."
Elena menatap Nicholas lama, mencari kebohongan di mata elang pria itu.
Namun, yang ia temukan hanyalah tekad yang sama besarnya dengan dendam miliknya.
Elena mengulas senyum miring—senyuman pertama yang terlihat sangat kejam di wajah cantiknya.
"Baik. Aku terima tawaranmu, Nicholas," ucap Elena tegas.
"Jadikan aku Elena Vance. Aku akan memastikan... malam pameran itu akan menjadi awal dari neraka dunia bagi mereka berdua."
Nicholas menegakkan tubuhnya kembali, merasa puas dengan jawaban wanita di hadapannya.
Permainan catur raksasa di Kota Jakarta baru saja dimulai, dan bidak paling mematikan kini sudah berada di dalam genggamannya.
------------------------------
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalin jejak dulu yaa