Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETRIKA UNTUK SUAMI PEMALAS
Pesan pertama untuk jasa servis panggilan kami terdengar seperti ancaman rumah tangga yang ditulis dengan sopan: Setrika saya nyetrum suami. Bisa diperbaiki, jangan terlalu bagus.
Liza membaca pesan itu tiga kali. Bukan karena tulisannya sulit, melainkan karena ia sedang memutuskan apakah pelanggan kami sungguh ingin memperbaiki setrika atau sedang mencari cara membunuh suami dengan anggaran terbatas.
“Kita tanya alamat,” kataku.
“Kita tanya gejalanya dulu.”
“Gejalanya jelas. Suaminya kesetrum.”
Liza mengangkat wajah dari ponsel. “Itu korban, bukan gejala alat.”
Fadli, yang sedang memasang kembali knalpot motornya dengan baut baru, menyela, “Tanya juga suaminya masih hidup atau tidak. Kalau tidak, tarif malam.”
Liza mengetik balasan tanpa menanggapi. Lima menit kemudian kami mendapat alamat sebuah rumah di Medan Denai, foto setrika warna merah muda, serta penjelasan bahwa sengatan muncul setiap kali suami Kak Sri mencoba membantu menyetrika pakaian sekolah anak.
“Berarti setrikanya pilih kasih,” kata Fadli.
“Berarti ada kebocoran arus,” jawabku.
“Sama saja. Pilih kasih itu kebocoran perasaan.”
Aku naik ke belakang motornya membawa kotak alat. Liza menyusul dengan motor pinjaman Tia karena ia tidak percaya kuitansi, uang, dan keselamatan usaha dititipkan kepada dua orang yang mengikat armada operasional dengan tali rafia. Tia ikut di belakangnya sambil membawa ponsel dan tripod kecil.
“Kenapa dia ikut?” tanyaku ketika kami berhenti di lampu merah.
Liza menjawab dari samping, “Katanya mau mendokumentasikan pekerjaan pertama.”
“Sudah minta izin?”
“Makanya nanti ditanya.”
Tia mengangkat ibu jari. Aku menganggap itu jawaban. Kesalahan dalam hidupku sering dimulai dari anggapan bahwa gerakan tangan orang lain berarti persetujuan lengkap.
Rumah Kak Sri berada di ujung gang sempit dengan jemuran memenuhi teras. Seorang perempuan berkaus hijau membuka pintu sambil memegang setrika yang kabelnya digulung seperti ular habis dipukul.
“Bang Jepot?” tanyanya.
Aku menarik napas. “Jefri juga boleh, Kak.”
“Oh, iya. Masuklah, Bang Jepot.”
Di ruang tengah, suaminya duduk menonton pertandingan sepak bola. Namanya Bang Ramli. Begitu kami datang, ia menunjuk setrika dari sofa seolah sedang mengidentifikasi tersangka.
“Alat itu memang rusak,” katanya. “Aku sudah bilang dari awal.”
Kak Sri meletakkan kedua tangan di pinggang. “Dari awal apanya? Kau pegang baru dua kali sepanjang menikah.”
“Dua kali itu sudah cukup untuk penelitian.”
Aku berjongkok dekat stopkontak dan memeriksa kabel. Bagian dekat pangkal steker tampak kusam. Ada bekas gigitan kecil pada kulit kabel, tetapi belum cukup untuk memastikan sumber masalah. Aku mencabut steker, membuka rumah setrika, lalu mengukur tahanan isolasi dengan alat yang kubawa dari bengkel.
Liza berdiri di samping meja sambil mencatat. Tia merekam tangan dan peralatan dari sudut pintu. Kak Sri sesekali melirik kamera, tetapi tak ada satu pun dari kami yang mengucapkan pertanyaan sederhana tentang izin. Saat itu, aku lebih sibuk menikmati perasaan dianggap profesional.
“Jangan cemberut kali, Za,” kataku ketika Liza menyuruhku mengecek stopkontak juga.
“Aku sedang menghitung biaya wajah tenang setelah keputusanmu,” jawabnya.
Bang Ramli tertawa paling keras, lalu berhenti ketika Kak Sri menatapnya.
Aku menemukan dua masalah. Kulit kabel digigit tikus, dan sambungan pembumian di stopkontak sudah lepas. Saat tubuh setrika menyentuh papan lembap, arus bocor mencari jalan lain. Bang Ramli kebetulan menjadi jalan yang tersedia.
“Jadi memang alatnya yang tidak suka aku?” tanyanya.
“Listrik tidak punya perasaan, Bang.”
Kak Sri menyahut, “Syukurlah. Kalau punya, makin banyak yang tak suka dia.”
Aku mengganti kabel, memperbaiki terminal, lalu meminta listrik rumah diputus sebentar agar stopkontak dapat diperbaiki. Bang Ramli mengeluh pertandingan sedang memasuki babak kedua. Kak Sri mencabut colokan televisi sebelum aku sempat menjelaskan.
“Keselamatan lebih penting,” katanya.
“Tapi skor masih seri.”
“Kalau kau kesetrum lagi, skor hidupmu bisa nol.”
Setelah semua selesai, aku menguji setrika di meja kayu kering. Lampu indikator menyala. Tidak ada kebocoran arus pada bodi. Aku menyerahkan gagangnya kepada Bang Ramli.
Ia mundur setengah langkah. “Kau saja.”
“Tadi katanya mau membantu.”
“Aku membantu dengan mengawasi.”
Liza menahan senyum. “Pengawasan dari sofa termasuk posisi struktural, ya?”
Bang Ramli mengambil gagang setrika dengan dua jari, menyentuhnya sebentar, lalu melepaskan. Ketika tidak terjadi apa-apa, ia berdiri lebih tegak.
“Aman,” katanya, seolah dialah yang memperbaiki.
Kak Sri mengambil seragam sekolah dari tumpukan dan meletakkannya di depan suaminya. “Bagus. Lanjutkan pengujian sampai licin.”
Bang Ramli menatapku dengan permintaan tolong yang tidak pernah masuk dalam daftar layanan. “Secara teknis, setrika ini mungkin hanya aman dipakai perempuan, kan?”
Kak Sri membuka dompet. “Kalau abang bisa bilang begitu dengan istilah listrik, aku tambah bayar.”
Aku menerima uang jasa, tetapi menggeleng. “Tak bisa, Kak. Aman dipakai siapa pun selama kabelnya baik, stopkontaknya benar, dan orangnya tidak berdiri di lantai basah.”
Liza menambahkan, “Aman dipakai siapa pun yang tak malas, Bang.”
Tia tertawa di belakang ponselnya. Bang Ramli akhirnya menyetrika satu lengan seragam dengan gerakan kaku. Hasilnya malah membuat kain berlipat seperti peta jalan yang salah cetak, tetapi Kak Sri tampak puas karena masalah utama rumah itu ternyata bukan listrik.
Sebelum pulang, Kak Sri memberi kami air dingin dan dua bungkus pisang goreng. Ia berkata boleh saja usaha kami memakai hasil pekerjaan itu untuk promosi selama rumahnya tidak dijadikan bahan lelucon. Tia mengangguk cepat. Aku mendengar kata boleh, tetapi tidak mencatat batas setelahnya.
Di atas motor, aku merasa pekerjaan pertama kami berhasil. Tidak ada ledakan, tidak ada orang marah, dan bayarannya lebih besar daripada harga satu gelas kopi. Aku bahkan mulai membayangkan seragam kerja dengan nama Jefri tercetak di dada.
Ponsel Liza berbunyi sebelum kami sampai ujung gang. Lalu berbunyi lagi. Tiga kali. Lima kali.
Ia berhenti di pinggir jalan dan membuka layar.
“Ada apa?” tanyaku.
Liza menunjukkan lima pesan dari nomor berbeda. Semuanya menyebut video servis setrika yang baru diunggah Tia.
Di layar, judulnya tertulis besar: BANG JEPOT MEMPERBAIKI RUMAH TANGGA.