Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Bobon Gendut yang Aneh
Pagi hari di Desa Windu Sari dimulai dengan cerah setelah hujan semalam. Daun-daun berglitter dengan butiran air, dan aroma tanah basah masih terasa di udara. Burung-burung bernyanyi lebih merdu dari biasanya, seolah ikut bergembira dengan datangnya mentari.
Bobon terbangun dengan perut keroncongan seperti biasa. Dia menggeliat di tempat tidurnya yang sederhana dan mengucek matanya. Beberapa saat dia hanya berbaring menatap langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Pikirannya kosong. Tidak ada mimpi yang diingat, tidak ada pikiran rumit. Hanya rasa lapar yang mendominasi.
"Nenek, aku lapar," teriak Bobon sambil duduk.
Dari dapur, Nenek Mira menjawab dengan suara ceria. "Sudah bangun? Ayo cuci muka dulu. Ada tahu goreng hangat di meja."
Mendengar kata tahu goreng, Bobon seperti mendapat suntikan energi. Dia melompat dari tempat tidur dan berlari ke dapur dengan langkah berat. Tubuhnya yang gemuk berguncang, tapi anehnya dia bergerak sangat cepat untuk ukuran orang sebesar dia.
Di dapur, Nenek Mira sudah menyiapkan sepiring tahu goreng dan semangkuk bubur. Bobon duduk dan langsung menyantap semuanya tanpa bicara. Nenek Mira tersenyum melihatnya. Ada kehangatan di matanya, tapi juga ada sedikit kekhawatiran yang tersembunyi.
"Bobon, Nenek mau pergi ke pasar lebih pagi hari ini. Ada pesanan tahu dari tetangga seberang gunung. Kau bisa menjaga rumah sendiri?"
Bobon mendongak dari makanannya. "Nenek pergi sendiri? Aku ikut."
"Tidak usah. Kau kan masih harus pergi ke sekolah."
Bobon mengerutkan kening. "Sekolah, Nek?"
"Sekolah, Bobon. Sudah seminggu kau bolos. Guru Mulya pasti sudah marah."
"Oh ya. Sekolah."
Bobon sama sekali tidak suka sekolah. Bukan karena dia malas, tapi karena dia sulit mengerti pelajaran. Huruf-huruf bergerak di depannya. Angka-angka selalu membuatnya bingung. Guru Mulya sering menggeleng-gelengkan kepala melihat kebodohan Bobon. Tapi Bobon tidak pernah marah. Dia hanya tersenyum dan mengangguk meskipun tidak mengerti.
"Baiklah, Nenek. Aku ke sekolah."
Nenek Mira mengangguk puas. "Bagus. Nenek pergi dulu. Jangan lupa makan siang nanti."
"Pasti, Nek."
Nenek Mira meninggalkan rumah dengan keranjang tahunya. Bobon menyelesaikan sarapannya dan duduk termenung. Dia tidak ingin pergi ke sekolah. Ada sesuatu di hatinya yang merasa tidak nyaman di sekolah. Bukan karena guru atau pelajaran, tapi karena anak-anak lain.
Mereka selalu mengejeknya.
Dengan langkah malas, Bobon berjalan menuju sekolah yang terletak di tengah desa. Sepanjang jalan, dia bertemu beberapa anak yang sedang bermain. Mereka memanggilnya dengan nada mengejek.
"Hei, Bobon Gendut! Mau ke mana?"
"Mau belajar apa, Bobon? Cara makan?"
"Lihat perutnya, besar sekali. Berapa mangkuk kau makan tadi pagi?"
Bobon menjawab semua ejekan dengan senyuman. "Aku sarapan tiga mangkuk bubur dan sepuluh tahu goreng," katanya polos. Anak-anak itu tertawa keras. Bobon ikut tertawa. Dia tidak mengerti bahwa mereka mengejeknya. Dia menganggap semua itu sebagai candaan.
Saat tiba di sekolah, Guru Mulya sudah menunggu di depan kelas. Guru Mulya adalah pria paruh baya dengan kumis tipis dan mata yang selalu menyipit. Dia adalah satu-satunya guru di desa itu, mengajar semua mata pelajaran untuk anak-anak berusia tujuh hingga lima belas tahun.
"Bobon, kau datang terlambat lagi," tegur Guru Mulya dengan nada kesal.
"Maaf, Pak. Tadi makan dulu."
"Kau selalu makan. Masuklah. Jangan mengganggu pelajaran."
Bobon masuk ke kelas dan duduk di kursi paling belakang. Anak-anak lain menoleh dan menyeringai. Ada yang menirukan cara Bobon berjalan dengan mengembungkan perut. Bobon hanya tersenyum.
Pelajaran dimulai. Guru Mulya mengajarkan tentang angka dan huruf. Bobon mencoba memperhatikan, tapi pikirannya melayang. Angka-angka di papan tulis berubah menjadi bentuk-bentuk aneh. Kadang dia melihat bunga, kadang dia melihat pedang. Dia mengedipkan mata dan semuanya hilang.
"Bobon!" panggil Guru Mulya.
Bobon tersentak. "Ya, Pak."
"Apa hasil dari dua belas ditambah tiga belas?"
Bobon menggaruk kepalanya. "Dua belas... tiga belas... dua puluh?"
Guru Mulya menghela napas panjang. "Dua puluh lima, Bobon. Ini sudah yang kesekian kalinya."
"Aduh, maaf, Pak. Lupa."
Anak-anak lain tertawa. Darman, anak yang kemarin di pasar, tertawa paling keras. Dia masih mengingat kejadian kemarin dan merasa malu. Hari ini dia berniat membalas dendam pada Bobon, tapi dengan cara yang berbeda.
"Pak Guru, bolehkah saya membantu Bobon?" tanya Darman dengan nada manis.
Guru Mulya mengangguk. "Baiklah, Darman. Kau ajari dia."
Darman berjalan ke belakang dan duduk di samping Bobon. Dia menatap Bobon dengan mata licik. "Kau bodoh, Bobon," bisiknya. "Kau tahu? Semua orang tahu kau bodoh. Tapi kau tidak apa-apa, kan?"
Bobon mengangguk. "Aku tidak bisa belajar, Darm. Aku cuma bisa makan."
"Ya, kau hanya bisa makan. Tapi kemarin kau bisa mendorongku."
"Kemarin? Aku tidak mendorongmu, Darm. Kau jatuh sendiri."
Darman mengepalkan tangannya. "Kau bohong! Kau mendorongku dengan kekuatan aneh. Aku mau tahu bagaimana caranya."
"Aku tidak tahu, Darm. Aku benar-benar tidak tahu."
Darman tidak percaya. Dia mendekatkan wajahnya ke Bobon. "Kau iblis, Bobon. Kau pasti iblis."
Bobon menggaruk kepalanya. "Aku bukan iblis. Aku Bobon."
Darman menatap Bobon lama. Tidak ada ketakutan di mata Bobon, tidak ada kebohongan. Hanya kepolosan yang tulus. Darman mundur dan kembali ke tempat duduknya dengan perasaan frustrasi. Dia tidak bisa membalas dendam pada seseorang yang bahkan tidak mengerti bahwa ada dendam.
Pelajaran berlanjut. Guru Mulya mengajarkan tentang sejarah desa dan kerajaan di kejauhan. Bobon mencoba mendengarkan, tapi kata-kata itu melayang seperti dedaunan. Dia mendengar tentang Kerajaan Kencana, tentang 10 Sekte Besar, tentang dunia persilatan. Tapi semua itu terasa seperti dongeng.
Jam istirahat tiba. Anak-anak berhamburan ke luar kelas untuk bermain. Bobon duduk sendirian di bangkunya. Dia mengeluarkan bekal yang disiapkan Nenek Mira, sekantong kecil tahu goreng. Dia memakannya perlahan sambil menatap ke luar jendela.
Di luar, anak-anak sedang bermain sepak bola dengan bola kulit bekas. Darman dan teman-temannya menguasai lapangan. Mereka tidak mengizinkan Bobon bermain. Bobon tidak peduli. Dia lebih suka melihat pohon-pohon di kejauhan.
Tapi saat itulah sesuatu terjadi.
Seorang anak kecil bernama Tono, usia tujuh tahun dengan tubuh kurus, sedang mencoba bergabung dalam permainan. Tono adalah anak dari keluarga miskin. Ayahnya adalah buruh tani dan ibunya menjual sayuran di pasar. Tono sering menjadi korban ejekan karena pakaiannya lusuh dan badannya kecil.
"Kau mau main?" tanya Darman dengan nada mengejek. "Kau terlalu kecil untuk main bola. Pergi sana."
"Tapi aku mau main," kata Tono dengan suara pelan.
Darman mendorong Tono. Tubuh kecil itu jatuh ke tanah dan menangis. Anak-anak lain tertawa. Darman menginjak bola dan menatap Tono dengan sombong.
"Kau tidak pantas main dengan kami. Pergi ke Bobon. Kalian berdua sama tolol."
Tono menangis lebih keras. Tidak ada yang membantu. Semua anak hanya menonton. Ada yang ikut tertawa, ada yang diam, tapi tidak ada yang berani melawan Darman.
Bobon melihat semua ini dari dalam kelas. Matanya berubah. Senyumnya menghilang. Sesuatu bergerak di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Dia merasakan panas di dadanya dan dingin di punggungnya.
Tanpa sadar, Bobon berdiri dan berjalan keluar. Langkahnya berat tapi pasti. Dia mendekati Darman dan Tono. Darman melihat Bobon mendekat dan mengepalkan tangannya.
"Kau mau apa, gendut? Ini urusanku."
Bobon tidak menjawab. Dia berjalan melewati Darman dan membungkuk di hadapan Tono. Tangannya yang gemuk mengulur untuk membantu Tono berdiri.
"Jangan menangis," kata Bobon dengan suara lembut. "Nanti aku beri tahu goreng. Enak."
Tono berhenti menangis. Dia menatap Bobon dengan mata bercampur rasa terima kasih dan kebingungan. Tono tidak mengerti mengapa Bobon membantu, padahal mereka bukan teman.
Darman marah. "Kau merusak permainan, Bobon! Aku mau kau pergi dari sini!"
Bobon menggeleng. "Tono mau main. Biarkan dia main."
"Tidak! Dia tidak boleh main. Dan kau juga tidak boleh main."
Darman mendorong Bobon. Tapi Bobon tidak bergerak. Tubuhnya yang gemuk terasa seperti batu. Darman mendorong lebih keras, tapi tetap tidak berhasil. Teman-teman Darman mulai mendekat.
"Kau ini apa, Bobon?" teriak Darman frustrasi. "Kenapa kau tidak jatuh?"
"Aku tidak tahu, Darm. Aku hanya tidak mau jatuh."
Darman mengepalkan tinjunya dan memukul perut Bobon. Pukulan itu keras. Di bawah pukulan itu, seorang anak normal pasti akan terjatuh dan kesakitan. Tapi Bobon tidak bergerak. Tidak ada ekspresi sakit di wajahnya. Hanya kebingungan.
"Kenapa kau memukulku?" tanya Bobon.
Darman terkejut. "Kau... kau tidak sakit?"
"Tidak. Kenapa?"
Darman memukul lagi. Dan lagi. Dan lagi. Setiap pukulan membentur perut Bobon seperti membentur dinding. Bobon hanya berdiri di sana, menatap Darman dengan mata polos.
Akhirnya tangan Darman sakit. Dia berhenti dan mundur. Wajahnya pucat. "Kau... kau setan, Bobon. Kau pasti setan!"
Darman berlari pergi. Teman-temannya mengikuti. Anak-anak lain yang menonton diam-diam juga mulai menjauh. Mereka semua takut. Mereka melihat pukulan-pukulan keras yang seharusnya melukai Bobon, tapi Bobon tidak bereaksi.
Yang tersisa hanyalah Bobon dan Tono.
"Terima kasih, Bobon," kata Tono dengan suara bergetar. "Kau... kau hebat."
Bobon menggaruk kepalanya. "Aku hebat? Aku tidak tahu. Tapi aku lapar. Mau tahu goreng? Aku punya."
Tono tersenyum. "Mau."
Mereka berdua duduk di bawah pohon dan membagi tahu goreng. Bobon makan dengan lahap sementara Tono makan perlahan. Tono terus menatap Bobon dengan kagum.
"Bobon, kenapa kau tidak sakit? Darman memukulmu keras sekali."
"Entahlah. Mungkin karena aku gemuk. Gemuk itu tebal, jadi tidak sakit."
Tono tertawa. "Kau lucu, Bobon."
"Lucu? Aku? Tapi banyak orang bilang aku tolol."
"Tidak, Bobon. Kau baik. Kau baik sekali."
Bobon tersenyum. "Kau juga baik, Tono. Karena kau mau makan tahu denganku."
Hari itu, untuk pertama kalinya, Bobon merasa ada sesuatu di hatinya. Bukan rasa lapar, tapi rasa hangat. Rasa senang karena bisa membantu orang lain.
Setelah sekolah, Bobon berjalan pulang dengan langkah lebih ringan dari biasanya. Dia melambai ke arah Tono yang masih di depan sekolah. Tono melambai balik. Itu adalah teman pertama yang Bobon dapatkan di sekolah.
Di rumah, Nenek Mira belum pulang. Rumah itu sepi. Bobon duduk di teras dan menatap langit sore. Warna jingga mulai menghiasi cakrawala. Angin berhembus lembut.
Tiba-tiba Bobon merasakan sakit di kepalanya. Sakit yang aneh. Seperti ada sesuatu yang menekan otaknya dari dalam. Dia mengerang dan memegangi kepalanya. Dan dalam sekejap, dia melihat sesuatu.
Pemandangan itu tidak jelas. Seperti mimpi di siang bolong. Dia melihat seorang pria tua dengan jubah putih mengajarinya sesuatu. Pria itu tersenyum ramah dan mengelus kepalanya. Lalu tiba-tiba pria itu berlumuran darah. Tubuhnya robek, matanya kosong. Pria itu jatuh di depannya dan tidak bergerak.
"TIDAK!"
Bobon berteriak. Dia terbangun dari penglihatannya dengan keringat dingin. Dia berada di teras rumahnya sendiri. Tidak ada pria berjubah putih. Tidak ada darah. Hanya langit sore yang tenang.
Tapi air mata mengalir di pipinya.
Bobon mengusap air matanya dengan tangan gemetar. Dia tidak mengerti mengapa dia menangis. Dia tidak ingat siapa pria itu. Dia tidak ingat apa yang terjadi.
"Kenapa aku menangis?" bisik Bobon pada dirinya sendiri. "Aku tidak sedih. Tapi kenapa air mataku keluar?"
Di dahi Bobon, pola segel itu kembali muncul. Kali ini garis pertama terlihat lebih retak dari sebelumnya. Tapi Bobon tidak tahu. Dia hanya merasakan sakit yang perlahan mereda.
Saat itu, Nenek Mira pulang. Dia melihat Bobon duduk di teras dengan wajah pucat dan bekas air mata. Nenek Mira segera mendekat dan memeluk Bobon.
"Bobon, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"
"Aku tidak tahu, Nek. Aku tiba-tiba sedih. Ada pria berjubah putih. Dia mati."
Nenek Mira terdiam. Dia memeluk Bobon lebih erat. "Tidak apa-apa, Nak. Itu hanya mimpi. Nenek di sini. Kau tidak sendiri."
"Tapi Nenek, aku kenapa? Kenapa aku berbeda?"
Nenek Mira tidak menjawab. Dia hanya mengelus rambut Bobon dan mencium keningnya. Di dalam hatinya, dia tahu waktunya semakin dekat.
"Bobon," kata Nenek Mira pelan. "Kau memang berbeda. Tapi itu bukan hal buruk. Kau hanya... seseorang yang memiliki takdir besar."
"Takdir besar? Aku hanya ingin makan, Nek."
Nenek Mira tersenyum. "Kau akan tetap makan, Nak. Tapi suatu hari kau akan mengerti. Untuk sekarang, mari kita makan malam. Aku beli ikan di pasar."
Mendengar kata ikan, mata Bobon berbinar kembali. "Ikan? Enak, Nek. Aku suka ikan."
Mereka masuk ke rumah. Nenek Mira menyiapkan makan malam sementara Bobon membantu sebisanya. Kebahagiaan sederhana mengisi rumah itu. Suara tawa dan canda mewarnai malam.
Tapi di luar, di balik kegelapan, sesosok bayangan mengintai. Pengemis tua dari kemarin masih di sana. Kali ini dia membawa sesuatu. Sebuah tongkat kayu sederhana.
"Segel pertama hampir terbuka sepenuhnya," bisik pengemis itu. "Dunia persilatan harus tahu. Tapi... tidak sekarang."
Pengemis itu menghilang, tapi meninggalkan sesuatu di depan pagar rumah. Sebuah gulungan kecil yang diikat tali merah.
Besok paginya, Bobon akan menemukan gulungan itu. Dan hidupnya akan mulai berubah dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan.
Tapi untuk malam ini, Bobon hanya Bobon. Bocah gendut yang suka tahu dan tidak mengerti apa-apa. Dia tertidur dengan perut kenyang dan senyuman di bibirnya.
Dan di dalam tidurnya, dia bermimpi lagi. Kali ini tentang seorang wanita cantik dengan selendang biru. Wanita itu menangis dan berkata, "Kembalilah padaku."
Bobon tidak mengerti. Dia hanya bocah gendut yang suka tahu. Tapi di suatu tempat, di sudut pikirannya yang tersegel, ada gema yang menjawab.
"Aku akan kembali. Tunggulah."