NovelToon NovelToon
Tak Terkalahkan Sejak Awal

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.

Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.

Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.

Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:

Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.

Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.

Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Hampir Diterkam

"Aku juga manusia biasa."

Ucapan Chu Xuan membuat gadis muda yang berlari ke arahnya terpaku.

"A-apa?"

Dia sempat mengira pemuda yang berdiri santai di tengah jalan itu adalah seorang senior tersembunyi.

Namun, jawaban itu menghancurkan harapannya.

Chu Xuan mengangkat bahu.

"Aku tidak bisa mengalahkan serigala itu."

Wajah gadis itu semakin pucat.

"Lalu kenapa kau tidak lari?!"

Chu Xuan menoleh ke belakang. Serigala Roh itu sudah berada tidak sampai tiga puluh langkah dari mereka.

Kemudian dia kembali menatap gadis itu.

"Karena sepertinya sudah terlambat."

"..."

Gadis itu benar-benar ingin menangis.

Di belakang mereka, Serigala Roh berbulu abu-abu keluar dari balik pepohonan.

Tubuhnya sebesar kerbau muda.

Taringnya yang tajam masih meneteskan darah.

Tatapan buasnya hanya memiliki satu tujuan.

Memburu.

【Analisis Sistem.】

【Target: Serigala Roh.】

【Kultivasi: Penempaan Tubuh Tingkat Kesembilan.】

【Kemungkinan kemenangan Tuan Rumah: 0%.】

Chu Xuan mengangguk pelan.

"Setidaknya kau jujur."

Serigala Roh menggeram rendah.

Suara itu membuat dedaunan di sekitar mereka ikut bergetar.

Gadis muda itu segera mencabut pedang pendeknya.

Pedang itu sudah dipenuhi retakan.

Bahkan gagangnya berlumuran darah.

Tangannya gemetar hebat.

Namun, dia tetap melangkah maju dan berdiri di depan Chu Xuan.

"Kalau begitu..."

"...kau lari saja."

Chu Xuan memandang punggung gadis itu.

Bajunya robek di beberapa bagian.

Luka cakaran memenuhi lengan kirinya.

Napasnya kacau.

Tetapi dia tetap memilih melindungi orang yang baru ditemuinya.

"Kenapa?"

Tanya Chu Xuan.

Gadis itu tidak menoleh.

"Ayahku pernah berkata..."

"Kalau masih bisa menyelamatkan seseorang..."

"...jangan pernah ragu."

"Meski yang harus dikorbankan adalah dirimu sendiri."

Mata Chu Xuan sedikit bergetar.

Kalimat itu...

...terlalu mirip dengan apa yang pernah dia lakukan di kehidupan sebelumnya.

Saat itu dia juga bisa memilih untuk diam.

Namun akhirnya dia berlari.

Mendorong seorang anak kecil menjauh.

Dan sebagai gantinya...

Dia kehilangan nyawanya sendiri.

Chu Xuan tersenyum tipis.

"Dasar bodoh."

Entah untuk gadis itu.

Atau dirinya sendiri.

RAAAAWWWRR!!

Serigala Roh menerjang.

Tanah bergetar.

Gadis itu menggertakkan giginya dan mengangkat pedangnya.

Dia tahu...

Serangan ini tidak mungkin bisa ditahannya.

Namun, tepat ketika cakar Serigala Roh tinggal beberapa meter lagi—

WHOOSH!!

Kilatan cahaya biru melintas secepat kilat.

CRAAAT!!

Tubuh Serigala Roh langsung terbelah menjadi dua.

Darah segar membasahi tanah.

Suasana kembali sunyi.

Seekor burung beterbangan ketakutan dari atas pepohonan.

Gadis muda itu membelalakkan mata.

Chu Xuan berkedip pelan.

"...Selamat."

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjubah biru turun perlahan dari langit.

Sebuah pedang terbang melayang tenang di belakang punggungnya.

Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam.

Dia hanya melirik bangkai Serigala Roh sebelum memandang keduanya.

"Kalian terluka?"

Gadis muda itu buru-buru membungkuk.

"Terima kasih telah menyelamatkan kami, Senior."

Pria itu mengangguk.

"Hanya kebetulan aku sedang melewati jalur ini."

Kemudian pandangannya beralih kepada Chu Xuan.

"Kau..."

"...tidak memiliki fluktuasi energi spiritual."

Chu Xuan mengangguk.

"Karena aku memang belum berkultivasi."

Pria itu sedikit terkejut.

"Belum berkultivasi, tetapi berani melintasi Pegunungan Tianyun sendirian?"

Chu Xuan menjawab dengan wajah datar.

"Aku baru tahu tempat ini ternyata berbahaya."

"..."

Pria berjubah biru terdiam cukup lama.

Lalu dia tertawa lepas.

"Hahaha!"

"Anak muda..."

"Kau benar-benar diberkati keberuntungan."

Chu Xuan mengangguk setuju.

"Mungkin memang begitu."

Pria itu memperhatikan Chu Xuan beberapa saat lagi.

Pemuda ini aneh.

Tidak memiliki kultivasi.

Baru saja lolos dari maut.

Namun denyut jantungnya tetap stabil.

Tatapannya juga tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.

Entah karena terlalu pemberani...

Atau memang terlalu santai menghadapi hidup.

Pria berjubah biru itu menyimpan pedang terbangnya ke dalam sarung.

Kemudian ia menangkupkan kedua tangan.

"Han Zhen."

"Kultivator pengembara."

Chu Xuan membalas salam itu.

"Chu Xuan."

Gadis muda di samping mereka ikut membungkuk.

"...Luo Ning."

Han Zhen mengangguk pelan.

"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan."

"Gerbang Kota Canglan sudah tidak terlalu jauh."

Mereka bertiga kembali berjalan menyusuri jalan setapak pegunungan.

Suasana sempat hening.

Han Zhen sesekali melirik Chu Xuan.

Semakin diperhatikan, pemuda itu semakin aneh.

Baru saja lolos dari maut.

Namun wajahnya tetap datar.

Tidak terlihat ketakutan.

Tidak pula berusaha mencari perhatian.

Akhirnya Han Zhen membuka percakapan.

"Kau benar-benar belum berkultivasi?"

"Belum."

"Lalu bagaimana kau bisa sampai ke Pegunungan Tianyun?"

Chu Xuan berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Aku tinggal di atas gunung."

"Sendirian."

Han Zhen mengangguk pelan.

Tak heran pemuda ini tidak mengenal bahaya dunia luar.

Namun satu hal masih mengganjal pikirannya.

"Kalau begitu..."

"Kenapa kau ingin pergi ke Kota Canglan?"

Chu Xuan menjawab tanpa ragu.

"Membeli beras."

"..."

Han Zhen berhenti melangkah.

"Beras?"

"Iya."

"Persediaan di kuil habis."

Luo Ning yang berjalan di belakang mereka berkedip beberapa kali.

Selama hidupnya...

Ini pertama kalinya dia bertemu seseorang yang pergi ke kota kultivator hanya untuk membeli beras.

Han Zhen tertawa pelan.

"Hahaha..."

"Baiklah."

"Jawabanmu di luar dugaanku."

Setelah tawanya mereda, ekspresinya berubah sedikit lebih serius.

"Kalau begitu, izinkan aku memberimu sedikit nasihat."

Chu Xuan menoleh.

"Silakan."

"Di Kota Canglan, jangan mudah percaya siapa pun."

"Terutama jika mereka terlalu ramah."

"Banyak orang mendekati pendatang baru demi batu roh, teknik kultivasi, atau keuntungan lainnya."

Chu Xuan mengangguk.

"Aku mengerti."

Han Zhen melanjutkan.

"Dan satu lagi."

"Jangan sembarangan memperlihatkan harta."

"Dunia kultivasi jauh lebih kejam daripada yang terlihat."

"Keserakahan bisa mengubah sahabat menjadi musuh dalam semalam."

Chu Xuan kembali mengangguk.

Nasihat itu memang tidak tercatat dalam pengetahuan yang diberikan Sistem.

Itu adalah pengalaman hidup.

Dan pengalaman seperti itulah yang paling berharga.

【Catatan ditambahkan.】

【Pengalaman praktis dunia kultivasi berhasil direkam.】

Chu Xuan tersenyum tipis.

"Terima kasih."

Han Zhen tersenyum membalas.

"Setidaknya kau mau mendengarkan."

Banyak kultivator muda terlalu percaya diri hingga mengabaikan nasihat orang yang lebih tua.

Namun Chu Xuan berbeda.

Dia tidak pernah menyela.

Tidak membantah.

Dan hanya berbicara jika memang perlu.

Di waktu yang sama.

Rumah Minum Awan Merah di Kota Canglan dipenuhi para kultivator.

"Apa benar ada seorang ahli tersembunyi di Pegunungan Tianyun?"

Seorang pria bertanya penasaran.

Tetua berjubah hijau yang baru tiba mengangguk perlahan.

"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

"Senior itu bahkan tidak bergerak."

"Tetua Api Merah sudah lenyap."

Ruangan langsung menjadi sunyi.

"Dan..."

Tetua itu menarik napas panjang.

"Beliau hanya mengatakan satu kalimat."

"'Karena kalian datang membawa niat membunuh...'"

"'Maka bayar kompensasinya.'"

Beberapa orang saling berpandangan.

Mereka belum pernah mendengar ahli seperti itu.

Membunuh musuh tanpa ragu...

Namun tidak mengambil nyawa orang lain yang menyerah.

Seorang kultivator tua bergumam pelan,

"Orang seperti itu..."

"...biasanya memiliki prinsip yang tidak boleh dilanggar."

Hari itu...

Nama Penjaga Kuil Qingfeng mulai menyebar perlahan di Kota Canglan.

Belum menjadi legenda.

Namun cukup untuk membuat banyak orang mengingat satu hal.

Jangan pernah datang ke Kuil Qingfeng dengan niat buruk.

Sementara itu...

Di ujung jalan pegunungan.

Han Zhen berhenti melangkah.

"Sudah sampai."

Chu Xuan mengangkat kepalanya.

Di hadapannya berdiri gerbang batu raksasa setinggi puluhan meter.

Di atasnya terukir tiga huruf besar yang tampak gagah.

Kota Canglan.

Chu Xuan memandanginya beberapa saat.

Lalu tersenyum tipis.

"Semoga harga beras di sini tidak mahal."

Bersambung...

1
obeng min
tambah banyak up-nya tambah jos pula ketua mantap👍👍👍👍👍
obeng min
selalu top
obeng min
top👍👍👍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
sikat😍
Hadi Hadi
bantai💪💪
obeng min
selalu dedepan mantap🤣🤣🤣👍
obeng min
upnya kurg banyak ketua👍👍👍👍👍
andi widya
kerennn
obeng min
mantao ketua 💪💪💪💪💪
Hadi Hadi
bantai
Hadi Hadi
semangat🤭🤭
Hadi Hadi
is good😍😍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
is good💪💪
Hadi Hadi
semangat💪💪
Hadi Hadi
up up💪💪
obeng min
👍👍👍👍👍👍
obeng min
💪💪💪
obeng min
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!