Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : PERSAHABATAN YANG SEMAKIN DALAM DENGAN ANISA
Kemenangan Rangga dalam lomba matematika tingkat kabupaten membuat namanya semakin dikenal dan disegani di sekolah. Guru-guru memujinya di setiap kesempatan, siswa-siswa lain mulai menghormatinya dengan tulus, dan bahkan beberapa orang tua siswa mulai meliriknya sebagai calon menantu yang potensial untuk anak-anak mereka. Namun Rangga tetap rendah hati dan tidak berubah menjadi sombong atau angkuh. Ia tetap sama seperti dulu—rajin belajar, membantu teman-teman yang kesulitan dalam pelajaran, selalu tersenyum meskipun ada masalah, dan tidak pernah lupa untuk berterima kasih kepada siapa pun yang membantunya. Ia tahu bahwa semua prestasinya tidak akan berarti tanpa dukungan dari orang-orang di sekitarnya, terutama Nenek Saroh dan Anisa.
Anisa semakin dekat dengan Rangga seiring berjalannya waktu. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama—belajar di perpustakaan setiap hari setelah jam sekolah usai, makan siang di kantin sekolah sambil berbagi cerita dan tawa, dan berjalan pulang bersama ke terminal angkutan umum setiap sore. Anisa sering bercerita tentang keluarganya dengan penuh kehangatan dan keceriaan. Ia menceritakan tentang ayahnya, Pak Lurah Mardiono, yang meskipun sibuk dengan urusan pemerintahan desa, selalu menyempatkan waktu untuk keluarganya setiap malam. Ia menceritakan tentang ibunya, Bu Lurah, yang suka memasak makanan tradisional dengan penuh cinta dan selalu menyambutnya dengan pelukan hangat setiap kali ia pulang sekolah. Dan ia menceritakan tentang impian besarnya untuk menjadi guru seperti Bu Siti—sosok yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk pendidikan anak-anak desa dengan penuh dedikasi dan kasih sayang.
"Rangga, kau tahu? Aku sangat mengagumi Bu Siti," kata Anisa suatu hari saat mereka berjalan pulang dari sekolah, langit sore berwarna jingga keemasan yang indah. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, dan angin sore berhembus sejuk membawa aroma tanah basah dari sawah-sawah di kejauhan. "Dia rela mengajar di desa terpencil dengan gaji yang sangat kecil, hanya karena cintanya yang tulus pada pendidikan dan anak-anak. Dia tidak pernah mengeluh, selalu tersenyum, dan selalu memberi yang terbaik untuk murid-muridnya. Aku ingin menjadi seperti dia. Aku ingin mengajar anak-anak di desa, membantu mereka meraih mimpi seperti kau meraih mimpimu. Aku ingin membawa perubahan bagi mereka, memberi mereka harapan."
Rangga tersenyum mendengar semangat Anisa yang membara. "Kau akan menjadi guru yang hebat, Anisa. Aku yakin itu. Kau sabar, baik hati, dan peduli pada orang lain. Itu adalah kualitas-kualitas yang sangat dibutuhkan seorang guru. Anak-anak akan beruntung memiliki guru sepertimu. Mereka akan mendapatkan pendidikan yang penuh cinta dan perhatian."
"Kau benar-benar tahu cara membuatku tersenyum, Rangga," kata Anisa, pipinya memerah karena tersipu malu. "Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana bisa anak sekampung sepertimu memiliki kata-kata seindah ini. Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuat orang lain merasa lebih baik."
Rangga tersenyum, tetapi di dalam hatinya ada perasaan yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia semakin menyukai Anisa setiap hari, setiap jam, setiap menit. Namun ia masih ragu untuk mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya. Ia takut ditolak, takut kehilangan persahabatan yang sudah mereka bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun, dan takut ia belum layak untuk Anisa—seorang gadis dari keluarga terpandang dan terhormat, sementara ia hanya anak miskin dari desa terpencil yang tinggal di gubuk reot.
Suatu hari, saat mereka sedang duduk di taman sekolah di bawah pohon rindang yang teduh, dengan daun-daun yang bergoyang lembut ditiup angin, Anisa tiba-tiba bertanya dengan mata yang menatap langsung ke arah Rangga, penuh rasa ingin tahu. "Rangga, kau pernah jatuh cinta?"
Rangga terkejut seperti tersambar petir di siang bolong. Ia tidak menyangka Anisa akan bertanya hal itu secara tiba-tiba dan tanpa peringatan. Wajahnya memerah seperti tomat matang, dan ia kesulitan menemukan kata-kata yang tepat. "Aku… aku tidak tahu. Mungkin… mungkin pernah. Tapi aku tidak yakin apa itu cinta."
"Siapa?" tanya Anisa penasaran, matanya berbinar-binar ingin tahu, menatap Rangga dengan penuh perhatian.
Rangga menunduk dalam-dalam, memainkan ujung bajunya yang sudah usang dengan gugup. "Kau, Anisa," katanya pelan, nyaris berbisik seperti angin malam yang lembut. "Sejak kita masih di SD, aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan. Aku selalu suka caramu tersenyum, caramu berbicara, caramu peduli pada orang lain. Aku selalu merasa berbeda setiap kali aku melihatmu."
Anisa terdiam. Udara di sekitar mereka terasa berubah menjadi lebih hangat dan lebih intim. Rangga berani menatap Anisa, dan ia melihat senyum di wajah Anisa—senyum yang lembut, tulus, dan penuh kebahagiaan. Matanya berbinar-binar, dan pipinya memerah.
"Rangga, aku juga menyukaimu," kata Anisa, suaranya lembut seperti sutra yang menyentuh kulit. "Sejak kita masih di SD, aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan. Kau berbeda dari anak-anak lain. Kau kuat, kau gigih, dan kau tidak pernah menyerah pada keadaan. Kau selalu berjuang untuk mimpimu, tidak peduli seberapa sulitnya. Aku mengagumi semua itu. Aku mengagumi dirimu."
Rangga tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia merasa seperti sedang bermimpi indah yang tidak ingin ia bangun. "Benarkah, Anisa? Kau tidak bercanda? Ini nyata?"
"Aku tidak bercanda," kata Anisa sambil tertawa kecil, tawanya seperti gemericik air sungai yang menenangkan. "Tapi Rangga, kita masih muda. Kita masih sekolah. Kita harus fokus pada pendidikan dulu. Bolehkah kita menjalani hubungan ini dengan perlahan? Tanpa terburu-buru? Aku tidak ingin hubungan kita mengganggu masa depan kita. Aku ingin kita berdua sukses dulu."
Rangga mengangguk dengan penuh semangat, merasa sangat bahagia seperti bisa terbang ke langit. "Tentu, Anisa. Aku akan menunggumu dengan sabar. Aku akan belajar dengan giat, meraih semua mimpiku, dan suatu hari, ketika kita sudah dewasa dan sudah siap, kita akan bersama. Aku berjanji padamu."
Mereka berpegangan tangan dengan erat, merasakan hangatnya perasaan yang baru saja terungkap. Di bawah pohon rindang di taman sekolah yang sepi, mereka berjanji untuk saling mendukung dan saling menguatkan, apa pun yang terjadi di masa depan. Rangga merasa seperti memiliki alasan baru untuk terus berjuang—bukan hanya untuk Nenek dan mimpinya, tetapi juga untuk Anisa.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu hari, Rizki mendengar kabar tentang hubungan Rangga dan Anisa dari teman-temannya yang bergosip di kantin. Ia merasa iri dan marah besar. Anisa adalah gadis yang juga ia sukai dari kejauhan selama bertahun-tahun, tetapi Anisa selalu mengabaikannya dan tidak pernah menanggapinya. Kini, Anisa memilih Rangga—seorang anak desa miskin yang tidak punya apa-apa. Rasa harga diri Rizki terluka sangat dalam, dan ia bertekad untuk membalas dendam dengan cara apa pun.
"Kau akan menyesal, Rangga," bisik Rizki saat berpapasan dengan Rangga di koridor sekolah, matanya menyala seperti api kemarahan. "Aku akan membuatmu sengsara. Aku akan membuatmu menyesal pernah lahir di dunia ini."
Rangga tidak menghiraukannya. Ia sudah terbiasa dengan ancaman Rizki yang kosong selama ini. Namun ia tidak tahu bahwa Rizki akan melakukan sesuatu yang jauh lebih kejam dan terencana untuk menghancurkannya, sesuatu yang akan menguji keteguhan hati dan karakternya.
---
[Bersambung...]
---