Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beban Yang Terlalu Berat
Pekerjaan ayahku hanyalah seorang petani — dan itupun ia menggarap kebun milik pamannya sendiri. Kami tak punya sebidang tanah pun untuk dijadikan sumber penghidupan sendiri. Setiap pagi buta, ayah sudah berjalan jauh menyusuri jalan setapak menuju kebun, membanting tulang dari matahari terbit hingga terbenam hanya agar kami bisa mendapatkan sesuap nasi. Tubuhnya tampak tegap dan kuat selama bertahun-tahun, namun tanpa terasa, tenaganya perlahan habis terkikis oleh lelah dan usia. Hingga akhirnya tubuhnya menyerah; ia jatuh sakit parah, tak sanggup lagi berdiri tegak seperti dulu. Meski tabungan kami nyaris kosong, ibu tak berpikir dua kali — ia segera memutuskan membawa ayah ke rumah sakit besar di kota.
Sebuah mobil Avanza berwarna putih berhenti perlahan tepat di depan gedung yang menjulang tinggi. Di mataku, rumah sakit itu terasa begitu asing, megah, dan jauh berbeda dari segala hal yang pernah kulihat di desa. Dindingnya dilapisi kaca bening yang memantulkan cahaya, tiang-tiangnya kokoh berdiri rapi, dan pintu masuknya terasa luas serta bersih, seolah menyambut orang-orang yang datang dengan harapan.
Begitu melangkah masuk, hawa sejuk langsung menyelimuti kulitku, berbeda dengan udara panas dan berdebu di jalan luar sana. Lantai keramiknya licin dan mengkilap, bersih tanpa noda sedikit pun. Di bagian depan ada meja pendaftaran panjang, tempat dua orang petugas sibuk bekerja dengan tenang. Suasana tenang, teratur namun tak kaku, dan udaranya terasa segar, jauh dari bau yang biasa membuatku mual.
Ibu segera menghampiri meja itu, mengisi semua berkas dengan tangan yang sedikit tergesa, seolah tak ingin membuang waktu. Setelah semuanya selesai, ayah pun dibawa lewat lorong panjang menuju ruang periksa.
Lorong itu terasa tak berujung bagiku. Dindingnya dicat putih bersih, lampu di langit-langit menyebarkan cahaya lembut yang tak menyilaukan. Di sepanjang sisi kiri berjajar kursi tunggu, empuk dan kokoh, tempat keluarga pasien biasanya duduk menunggu dengan hati berdebar. Di kanan sana ada pintu-pintu ruangan dengan nomor yang tertulis jelas, sesekali terlihat perawat lewat dengan langkah cepat namun sopan. Semuanya terawat baik, tapi entah kenapa bagi kami, tempat ini terasa begitu dingin dan menakutkan.
Setelah diperiksa, ayah dimasukkan ke ruang rawat kelas dua. Hanya pasien yang boleh masuk, jadi kami terpaksa menunggu di luar, berjalan mondar-mandir atau duduk diam sambil menahan rasa cemas yang terus menggelayut di dada.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang dokter keluar dengan wajah yang serius.
“Permisi, siapakah keluarga Bapak Arman?” suaranya tenang namun terdengar berat.
“Saya istrinya, Dokter,” jawab ibu segera sambil berdiri tegak.
“Silakan ikut saya ke ruang konsultasi. Ada hal penting yang perlu saya sampaikan.”
Ibu mengangguk perlahan, lalu mengikuti langkah dokter dengan hati yang mulai berdebar kencang. Begitu pintu tertutup rapat, dokter mulai bicara dengan nada hati-hati, seolah memilih kata-kata agar tak terlalu menyakitkan.
“Ibu, dari hasil pemeriksaan, suami Ibu menderita tumor di paru-paru yang sudah cukup parah, ditambah penyakit jantung yang sudah lama dideritanya. Kondisinya makin hari makin lemah — sesak napas sering datang, nyeri dada terasa menusuk, berat badannya terus turun drastis. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya adalah operasi besar, mengangkat tumor sekaligus memperbaiki pembuluh darah jantungnya. Masih ada harapan, tapi tindakan ini harus dilakukan secepat mungkin sebelum kondisinya makin kritis.”
“Operasi?” ulang ibu dengan suara yang sedikit tercekat, matanya terbelalak tak percaya. Lalu ia bertanya lirih, “Kalau begitu… berapa biaya yang dibutuhkan, Dokter?”
Dokter menarik napas panjang, lalu menjawab jujur, “Perkiraan keseluruhannya sekitar dua ratus dua puluh juta rupiah.”
Seketika itu juga, rasanya seluruh dunia ibu berhenti berputar. Ia tertegun kaku, matanya memandang kosong ke dinding di hadapannya. Dua ratus dua puluh juta? batinnya menjerit pelan. Bahkan sepuluh juta pun tak pernah terlihat utuh di tangannya. Hari ini ia hanya membawa dua juta rupiah, cukup untuk pemeriksaan saja, dan ia kira itu sudah lebih dari cukup. Dari mana ia harus mengumpulkan uang sebesar itu dalam waktu singkat?
Wajah ibu perlahan memucat, sudut matanya mulai basah, namun ia menggigit bibir dalam-dalam berusaha menahan air mata agar tak jatuh. Tangannya terasa dingin dan gemetar, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dada. Pikirannya kosong, bingung, tak tahu harus melangkah ke mana.
Melihat itu, dokter melunakkan suaranya, “Saya mengerti beban berat ini, Bu. Memang tak mudah, tapi saya berikan waktu dua minggu. Gunakanlah itu sebaik mungkin, sebelum kondisinya berubah menjadi lebih buruk.”
Ibu mengangguk pelan, berdiri dengan kaki yang terasa lemas. “Terima kasih, Dokter… kami akan berusaha.”
Begitu keluar dari ruangan itu, ibu langsung duduk di kursi terdekat. Ia menunduk dalam, pandangannya tertancap ke lantai yang mengkilap, seolah pikirannya melayang jauh ke tempat yang gelap dan sunyi. Tempat duduk itu terasa kokoh, tapi tak sanggup menahan beban yang kini membebani hatinya. Saat aku mendekat, ia duduk diam, tak bergerak sedikit pun.
Dadaku terasa sesak. Ada apa dengan ibu? Wajahnya terlihat begitu lelah, pucat, dan kosong, meski tak ada setetes air mata yang mengalir di pipinya.
Aku mendekat pelan, lalu menggenggam tangan ibu yang terasa sedingin es batu. “Ibu… ada apa? Kenapa Ibu diam saja seperti ini?”
Ibu terkejut sejenak, lalu berusaha mengangkat wajah dan menarik senyum tipis yang terasa dipaksakan sekuat tenaga. “Tidak apa-apa, Nak. Ibu cuma lelah saja, itu saja.” Ia menepuk pundakku pelan, suaranya bergetar halus. “Ayo kita masuk, temani ayah.”
Ruangan kelas dua itu tak terlalu luas, berisi empat tempat tidur yang dipisahkan sekat kain tipis agar tak terlalu terasa sempit. Kasurnya cukup empuk, bisa diatur posisinya, dan di sampingnya ada lemari kecil untuk menyimpan barang. Udara di dalamnya terasa sejuk meski tak senyaman ruangan lain, hanya ada satu kursi kayu sederhana untuk kami duduk bergantian, dan kamar mandinya harus dipakai bersama di ujung lorong.
“Baik, Bu.”
Malam pun mulai turun. Suara azan Maghrib terdengar samar dari arah masjid di sebelah rumah sakit. Ibu pergi ke sana bersama adikku Asland untuk beribadah, sedangkan aku harus tinggal di ruangan karena sedang dalam masa haid. Aku duduk diam di samping tempat tidur, memandangi wajah ayah yang terbaring lelap, napasnya terlihat berat dan tak teratur.
Tak lama kemudian, keduanya kembali membawa satu kantong plastik berwarna hitam berisi makanan. Di dalamnya ada tiga bungkus nasi sederhana, dengan lauk ikan goreng dan sambal yang terlihat biasa saja, tapi baunya cukup mengenyangkan perut yang sudah keroncongan.
Aku menyantapnya dengan lahap, tapi begitu selesai meletakkan bekas makananku, mataku menangkap satu hal yang membuat hatiku terasa perih — porsi milik ibu masih utuh, tak disentuh sedikit pun.
“Ibu, kenapa belum dimakan? Masih hangat dan rasanya enak, Bu,” tanyaku lembut sambil menatap wajahnya.
Ibu hanya menggeleng pelan, lalu kembali menyunggingkan senyum yang terasa hambar. “Terima kasih, sayang. Ibu tadi sudah makan sedikit di luar, jadi perut sudah kenyang. Lebih baik kamu habiskan saja, biar tubuhmu tetap kuat menjaga ayah.”
Namun aku tahu, hatiku berbisik jujur — ibu tak makan bukan karena kenyang, tapi karena ia mulai menghemat setiap rupiah yang tersisa, menyimpan sedikit demi sedikit meski jumlahnya terasa tak akan pernah cukup untuk menutupi angka besar itu.