Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Perangkap yang Berderit
Layar laptop Xavi masih menampilkan kedipan hijau konstan dari log aktivitas Breathed, memantulkan cahaya redup pada wajah Olin yang seketika pias. Di luar ruangan, suara ketukan palu para pekerja galeri mendadak terdengar seperti detak bom waktu.
Olin mencengkeram tepi meja kayu jati tempat gawai putranya bertumpu. Buku-buku jarinya memutih. "Xavi, matikan urutan pelacakannya sekarang. Tarik kembali berkasnya."
"Tidak bisa, Mommy," sahut Xavi tenang. Dia mengambil potongan roti isi yang dibawa Olin, menggigitnya sedikit hingga remahannya jatuh di atas jins kodoknya. "Protokol pengiriman siber itu bersifat satu arah begitu menyentuh peladen pusat tingkat VIP mereka. Jika aku mencoba memutusnya sekarang, sistem pertahanan mereka yang bernama Iron Sentry akan langsung mengunci posisi koordinat satelit kamar ini. Itu justru lebih berbahaya."
Olin memejamkan mata, meremas pangkal hidungnya yang berdenyut kencang. Udara di dalam ruang kerja sementara itu mendadak terasa begitu tipis dan menyesakkan. Tujuh tahun dia membangun dinding pembatas setinggi langit, berpindah dari satu kota kecil ke kota lain, mengganti identitas digitalnya demi menjauhkan Xavi dari radar pusaran kekuasaan keluarga El-Ghazali. Namun malam ini, putranya sendiri yang baru berusia tujuh tahun justru membukakan pintu gerbang besi itu dengan seulas senyuman tak berdosa.
"Kenapa, Xavi?" Suara Olin merosot menjadi bisikan yang gemetar. "Kenapa kau melakukan ini tanpa bicara pada Mommy?"
Xavi mengunyah rotinya lambat-lambat, lalu menatap ibunya dari balik lensa kacamata bundarnya. Kilat kejeniusan di matanya meredup, berganti dengan binar kalkulatif yang sangat dewasa, sekaligus menyiratkan rasa protektif yang mendalam.
"Karena pria itu mengutus tiga orang berpakaian setelan gelap untuk mengambil gambar Mommy dari jarak jauh di pasar swalayan dua hari lalu," jawab Xavi datar. Jemari mungilnya mengetuk pelan pinggiran laptop. "Mereka mengira mereka bersih, tapi mereka meninggalkan jejak nomor pelat mobil yang terdaftar atas nama anak perusahaan El-Ghazali Corp. Pria bernama Zayyan itu sudah mulai mencari kita, Mommy. Daripada membiarkan dia berburu di dalam gelap, lebih baik aku menariknya ke bawah lampu sorot galeri ini. Di sini, kita yang memegang kendali medan."
Olin tertegun. Jantungnya berlubang oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Dia mengira pergerakannya selama ini sudah cukup rapi, namun dia melupakan satu hal: Zayyan El-Ghazali bukanlah pemburu yang mudah menyerah begitu mencium bau mangsanya.
Bzzzt.
Ponsel Olin di atas meja bergetar hebat. Nama salah satu kurator senior, mendarat di layar penanda panggilan masuk. Olin menarik napas panjang, menelan seluruh kepanikannya ke dalam perut sebelum menekan tombol terima.
"Iya, Sandra?" ucap Olin, mencoba menjaga suaranya tetap berada di nada profesional yang datar.
"Olin, kau harus ke aula depan sekarang," suara Sandra terdengar panik bercampur gugup melalui pengeras suara. "Sesi peninjauan awal belum resmi dibuka, tapi tiga mobil SUV hitam pekat baru saja melewati gerbang barikade barat. Pengawal pribadi mereka langsung mensterilkan koridor lukisan utama. Ini... ini di luar daftar tamu kita."
Olin melirik Xavi. Bocah itu hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu kembali fokus pada layar laptop, jemarinya mulai mengetik skrip enkripsi baru untuk mengamankan kamera pengawas internal galeri.
"Aku keluar sekarang, Sandra. Tetap di posisimu," Olin menutup panggilan. Dia membungkuk, memegang kedua pundak kecil Xavi dengan tatapan yang sangat serius. "Xavi, tetap di dalam ruangan ini. Jangan mengunci pintu dari dalam, tapi jangan biarkan siapa pun melihat wajahmu. Kau mengerti?"
"Aku mengerti, Mommy. Aku akan menjadi hantu digital dari sini," janji Xavi dengan kedipan mata yang menenangkan.
Olin menegakkan tubuhnya, merapikan gaun kerja sederhananya yang sedikit kusut di bagian pinggang. Dia melangkah keluar dari ruangan remang-remang itu, menembus koridor yang memisahkan area staf dengan aula utama galeri.
Begitu kakinya menginjak lantai marmer aula barat, atmosfer hangat pameran seni seketika lenyap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk kulit. Di tengah ruangan, di depan deretan lukisan cat minyak bertema siluet sunyi, berdiri sesosok pria tegap dengan setelan jas hitam tiga potong yang melekat sempurna di tubuh tegapnya.
Zayyan El-Ghazali.
Pria itu berdiri diam dengan kedua tangan terbenam di saku celana, memunggungi Olin. Potongan rambutnya yang rapi memperlihatkan garis tengkuknya yang kokoh. Dari jarak sepuluh meter, Olin bisa merasakan dominasi mutlak yang menguar dari tubuh pria itu—sebuah aura yang sanggup membungkam seluruh ruangan tanpa perlu mengucapkan satu patah kata pun.
Zayyan perlahan membalikkan tubuhnya. Sepasang mata elangnya yang tajam dan pekat langsung bergerak lurus, mengunci pandangan pada sosok Olin yang berdiri membeku di ujung koridor. Tidak ada keterkejutan di wajah tampannya yang sedingin pahatan es, hanya ada kilatan kepemilikan yang berbahaya yang selama tujuh tahun ini selalu menghantui mimpi buruk Olin.
Umpan sang arsitek kecil telah ditelan sepenuhnya, dan kini sang pemangsa telah berdiri di depan mata.