NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

valentine days

Di pagi hari, alunan musik pop akustik terdengar lembut di Toko Bunga Ibusya. Wulan sedang sibuk membereskan dan membersihkan toko sebelum jam operasional dimulai.

Tettttttt...

Sebelum memulai cerita lebih jauh, perkenalkan, aku Wulan, 19 tahun, zodiak Virgo. Ehh, aku anak ketiga dari empat bersaudara. Dan sekarang aku kerja di Toko Bunga Ibusya.

Aku pekerja keras, guys.

Saat ini aku jadi tulang punggung keluarga buat mama dan adikku.

Kakak pertamaku perempuan dan sudah menikah. Kakak keduaku laki-laki dan sekarang juga bekerja. Sedangkan adikku masih sekolah.

Bapaku sudah meninggal.

Al-Fatihah buat Bapa. 🤍

Okeee, segitu aja perkenalannya. Dari aku, Wulan alias Pu. Ceritanya lanjutttt!

TRINGGG!

Bunyi lonceng di pintu menandakan ada seseorang yang masuk atau keluar dari toko.

"Semangat banget nih. Gajian, ya?" Seorang perempuan paruh baya menghampiri Wulan. Ia adalah pemilik Toko Bunga Ibusya.

"Iya dong, Kak! Ahh, nggak sabar banget mau beli semua wishlist aku. Huhu. Lihat tuh, Kakak aja jadi tambah kinclong mukanya."

Namanya juga karyawan, ya, guys. Jadi memuji bos adalah salah satu kewajiban... apalagi kalau mau gajian. Hehe.

"Ihh, kamu tuh ya. Bisa aja deh. Apalagi kalau mau gajian, manis banget kata-katanya."

"Kan aku emang manis, Buuu," jawabku sambil memasang muka imut yang menurutku sangat menggemaskan.

"Isttt... iya deh. Lanjut kerja, ya. Bentar lagi waktu buka." Sarah menyubit pipi Wulan lalu berjalan menuju ruangannya.

"Auchh! Siap, Kak Sarah yang cantik. Saking cantiknya, orang nggak bakal percaya kalau Kak Sarah udah 57 tahun," ucap Wulan hormat dengan tingkah tengilnya.

Kak Sarah yang mendengar ucapan itu menoleh ke arah Wulan. Ia mengangkat telunjuknya sambil mengedipkan mata sebelum masuk ke dalam ruangan.

Kalian pasti heran kenapa aku nggak manggil beliau 'Ibu' atau 'Bos'. Soalnya beliau sendiri yang minta dipanggil Kak Sarah. Dan ya ampun, gaulnya kebangetan. Aku aja kalah.

"Okeee, semuanya udah selesai. Tinggal buka toko," ucap Wulan sambil membalik papan bertuliskan CLOSED menjadi OPEN.

Aku nggak punya rekan kerja. Tapi kadang-kadang Kak Sarah suka bantuin aku, apalagi kalau lagi banyak pelanggan.

Sambil menunggu pelanggan datang, aku menyibukkan diri membuat buket yang sudah dipesan. Kali ini ada lima pesanan yang harus diantar siang nanti, ditambah beberapa pesanan lagi untuk sore hari.

Biasanya nggak sebanyak ini. Tapi karena hari ini Valentine, jadi rame banget.

"Happy Valentine, sayang... ihhhh, aku juga pengen," gumam Wulan saat membaca salah satu kartu ucapan untuk buket yang sedang ia buat.

"Selesai juga. Saatnya antar!" Wulan membawa beberapa buket ke depan toko. Di sana sudah ada kurir yang siap mengantarkan pesanan.

"Mas, buketnya jangan dibalik! Itu bunga, bukan galon!" teriak Wulan.

Kurir itu hanya tertawa.

Hari Valentine memang selalu kacau.

Ada yang memesan buket seminggu sebelumnya.

Ada juga yang datang lima menit sebelum toko tutup sambil berkata, "Mbak, bisa bikin buket yang keliatan mahal tapi budget seratus ribu?"

Hiss... ada-ada aja deh.

TRINGGG!

Wulan yang belum sempat sampai ke meja kasir langsung berlari kecil.

"Selamat datang di Toko Bunga Ibusyaaa!"

"Saya mau buket Valentine full mawar merah asli."

Jir lah... ganteng banget.

Sial.

Fakkk.

AAAAA!

Tipe aku banget.

Itu yang cuma bisa aku ucapkan dalam hati saat melihat wajah customer di depanku.

"Baik, Kak. Mau berapa tangkai?" tanyaku sambil berusaha terlihat profesional.

"Dua puluh lima."

Dua puluh lima?!

Ya Allah.

Ini kalau bukan buat pacar, ya buat istri.

"Pesannya, Kak, mau ditulis apa di suratnya?" tanyaku sambil memberikan ponsel yang terhubung ke mesin pencetak kartu ucapan.

Lelaki itu menerima ponsel tersebut.

"Sebentar."

"Baik."

Wulan mengangguk kecil.

Diam-diam, matanya mengarah ke customer di depannya.

Ganteng banget, gilaaa.

Dari dekat malah tambah bahaya.

"Aduh, Wulan. Fokus kerja, fokus kerja," batinnya.

"Nah, sudah."

"Baik."

Wulan menerima kembali ponsel itu.

Matanya tanpa sengaja membaca isi kartu ucapan tersebut.

Happy Valentine's Day. Thank you for always being by my side.

Wulan berkedip.

Hah?

Nggak ada 'sayang'.

Nggak ada 'cinta'.

Nggak ada emoji hati.

Masa buat mama?

Ah, tapi dua puluh lima tangkai mawar merah?

Ya nggak tahu juga sih.

"Baik, Kak. Mau diambil sendiri atau dikirim langsung?" tanya Wulan.

"Saya ambil sendiri. Tapi saya tinggal dulu."

"Baik."

Wulan mulai memasukkan detail pesanan.

"Jadi totalnya Rp375.000. Mau cash atau debit?"

"Debit."

Setelah pembayaran selesai, Wulan menyerahkan struk pembelian.

"Terima kasih sudah berbelanja di Toko Bunga Ibusya."

Lelaki itu mengangguk pelan.

"Terima kasih."

TRINGGG!

Pintu toko kembali tertutup.

Wulan masih menatap ke arah pintu selama beberapa detik.

Lalu perlahan menunduk melihat struk pembayaran di tangannya.

Daigarsaka.

"Daigarsaka..." gumamnya pelan.

"Kira-kira manggilnya siapa ya?"

"Daigar?"

Wulan mengernyit.

"Nggak lucu."

"Saka?"

Mata Wulan langsung berbinar.

"Saka..."

Ia langsung menepuk pipinya sendiri.

"Ya Allah, baru juga kenal."

"Oke, Wulan. Saatnya merangkai buket Babang Saka," gumamnya sambil membawa mawar-mawar merah ke meja perakitan.

Tak lama kemudian, pintu ruang kerja terbuka.

Kak Sarah keluar sambil membawa segelas kopi.

"Kok senyum-senyum sendiri?" tanyanya curiga.

Wulan langsung mendekat.

"Kak Sarah..."

"Hmm?"

"Tadi ada customer ganteng banget."

"Terus?"

"Kayaknya aku jatuh cinta."

Kak Sarah melirik Wulan sekilas.

"Berapa lama?"

"Tiga menit."

"Syukurlah. Masih bisa diselamatkan."

"Huhuhu..."

"Aduh, Kak. Perutku mules. Aku mau ke toilet dulu!"

Tanpa menunggu balasan dari Kak Sarah, aku langsung cuss ke WC.

"Ya Allah... kenapa harus mules sekarang sih?" Wulan mengusap wajahnya sambil duduk di kloset.

Hari Valentine memang selalu sibuk di Toko Bunga Ibusya. Belum lagi tadi muncul customer super ganteng yang sukses bikin jantungnya olahraga pagi.

"Daigarsaka..." Ia menggumamkan nama itu pelan.

"Cakep banget, sih."

Wulan menggeleng keras.

"Wulan! Fokus! Dia beli buket Valentine gede. Udah pasti punya pacar."

Hening beberapa detik.

"Tapi kalau buat mama gimana?"

Wulan mengangguk-angguk sendiri.

"Iya juga..."

Lalu terdiam lagi.

"Tapi mawar merah dua puluh lima tangkai?"

"Yaudah sih. Paling istrinya."

Seketika bahunya turun lesu.

"Huhuhu... baru juga jatuh cinta tiga menit."

Dua puluh menit Wulan habiskan di kamar mandi. Saat kembali, ia melihat Kak Sarah sedang merapikan bunga. Namun, buket pesanan Babang Saka sudah tidak ada.

Dengan cepat Wulan menghampiri Kak Sarah.

"Kak Sarah, buket mawar yang gede banget ke mana?"

"Udah diambil," jawab Kak Sarah santai sambil melanjutkan pekerjaannya.

"Kapan, Kak? Ishh... perasaan aku bentaran doang di WC deh. Ahh, Bang Ganteng..." ucap Wulan lesu.

"Eh, tapi iya loh. Ganteng. Inget, lho, dia udah punya pacar. Eh, kayaknya bukan pacar lagi deh... tapi istri."

"Yaaa, gapapa sih. Aku kan cuma mengagumi tok. Syukur deh," jawab Wulan.

Ya mau gimana lagi? Aku cuma sekadar mengagumi... nggak sih. Lebih kayaknya. Hehe.

Kumenangis membayangkan Babang Saka bersama istrinya. Huhuhu.

It's okay. Siapa tahu nanti ada yang lebih dari Bang Saka.

Tapi tenang, Bang Saka... kamu tetap di hati adek.

Huhuhu.

Suasana hati Wulan mendadak berubah. Kini ia resmi masuk ke mode lesu.

TRINGGG!

Bunyi lonceng kembali terdengar.

"Selamat datang di Toko Bunga Ibusyaaa-"

Kalimat Wulan terhenti di tengah jalan.

"Loh..."

Daigarsaka.

Lelaki itu kembali datang.

"Mbak, maaf..."

Deg.

"Saya mau minta tolong."

Wulan berkedip.

"Hah?"

"Kayaknya ada masalah."

Seketika mata Wulan membulat sempurna.

Masalah?

Jangan-jangan...

Dia putus sebelum sempat ngasih bunganya?

Hancur sudah proses move on Wulan yang bahkan belum dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!