Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Bab 22: Langkah Menjadi Bagian dari Keluarga
Matahari pagi baru saja menampakkan sinarnya yang lembut, menerobos celah jendela kamar dan menyinari ruangan yang masih terasa hangat.
Para pelayan sudah mulai beraktivitas, selain Bi Mari, ada juga beberapa pelayan yang bekerja di sini, tetapi mereka tinggal di paviliun belakang, dan hanya Bi Mari yang tinggal di rumah utama.
Tepat pukul tujuh.
.
Radit, asisten kepercayaan Arga, dia sudah datang untuk menjemput tuannya.
"Mas Radit, selamat pagi !" Pak Heru menyapa sambil membuka gerbang.
"Pagi, Pak!" Radit tersenyum, dia memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu.
Begitu turun, Nyonya Amara yang melihat Radit langsung menghampiri.
"Kamu tidak mau menikah, Radit?" Tanya Nyonya Amara tanpa basa-basi.
Nadanya terdengar sangat santai, tetapi bagi Radit, itu menyebalkan.
Radit menggaruk lehernya, berusaha tersenyum meski hatinya sedikit dongkol.
"Saya masih belum siap Nyonya, dan juga... Calon nya belum ada!" Ujar Radit
Nyonya Amara mengerling sinis,
"Hah.. bilang saja kamu tidak laku!" Ujar sang Nyonya sambil berlalu pergi
Astaga.....
Radit tidak habis pikir, tidak ada yang tau, kalau sebenarnya keluarga Wijaya ini aslinya orang-orang random, yang terkadang membuat Radit pusing.
Di luar, terlihat kejam dan di takuti. Tetapi yang sesungguhnya, mereka menyebalkan. pikir Radit.
Dia masuk ke dalam, lalu duduk di ruang tamu menunggu tuannya.
Tak lama kemudian, Seorang pelayan muda bernama Lili datang membawa nampan.
"Kopinya, Mas Radit" Lili meletakkan cangkir di meja
"Hmm.."
Di dalam kamar, Arga sudah terjaga sejak tadi, duduk di tepi tempat tidur sambil memijat pelipisnya.
Ia menoleh melihat Diana yang baru saja selesai merapikan rambutnya, wajah istrinya terlihat segar — luka di pipi dan bibirnya sudah jauh membaik, hanya menyisakan bekas kemerahan samar.
“Hari ini Mas harus ke kantor, Sayang. ” ujar Arga lembut, lalu mendekati Diana. “Mas minta maaf yah, gak bisa temenin kamu di rumah.”
Diana tersenyum lembut, lalu mengangguk. “,Iya, Mas. nggak usah khawatir, urusan kantor lebih penting. Lagian kan di sini ada Ibu.”
"Atau kamu mau ikut Mas ke kantor!" Ujar Arga dengan mata berbinar. Berharap Diana mau ikut serta,
Di dalam kepalanya, dia sudah membayangkan pasti menyenangkan bisa bermesraan dengan istrinya di kantor.
Astaga.... Pikiran mu sungguh kotor sekali Arga.
"Ngapain Mas? Nanti malah ganggu kamu kerja, terus juga masa ibu di tinggal sendiri!" Ujar Diana
"Justru aku makin semangat kerja kalau ada kamu, lagian di sini banyak pelayan, Bi Mari juga ada, jadi ibu gak sendirian" Rayu Arga
Diana memeluk Arga, tangannya melingkar di pinggang liat dan berotot milik suaminya.
"Mas, ibu kan selama ini tinggal sendirian di rumahnya, masa di sini juga di tinggal pergi. Udah... Kamu semangat kerjanya, aku tunggu di rumah!" Ujar Diana menjelaskan
Arga merasa terharu mendengar nya, dia merapatkan tubuhnya, mereka saling berpelukan.
Diana mendongak karena Arga begitu tinggi, sedangkan Arga menunduk melihat wajah cantik istrinya.
"Terimakasih, karena kamu sudah menerima ibu dan menyayanginya seperti ibu kamu sendiri " Arga mencium kening Diana
"Justru aku yang berterimakasih sama ibu, karena udah terima aku di keluarga ini. dulu aku sempet mikir, gimana kalau ibu kamu gak suka sama aku, aku gak mau pisah sama Mas" Ujar Diana pelan
"Kamu cinta sama aku ?" Tanya Arga , tangannya masih erat memeluk istrinya
"Kenapa nggak? Kamu baik, pengertian, terus sayang sama aku. Dimana lagi aku bisa dapetin suami yang gagah dan perkasa seperti Mas Arga !" Kekeh Diana
"Kenapa kamu jadi Nakal sayang !" Arga mencium wajah istrinya bertubi-tubi membuat Diana geli.
Setelah puas, Arga segera membersihkan diri.
"Mas, mau mandi dulu!" Ujarnya
"Mau aku bantu, Mas!" Ujar Diana sambil mengedipkan matanya genit lalu pergi ke ruang ganti
Kalau saja Arga tidak sedang buru-buru, dia akan mengurung istri nakalnya itu seharian di ranjang.
Awas saja nanti malam, aku tidak akan melepaskan kamu, istriku
Tetapi dia tau, Radit sudah menunggu di bawah, karena semalam dia sudah memberitahu bahwa dia akan ke kantor.
Dengan sigap, Diana segera bergerak menyiapkan kebutuhan suaminya.
Ia mengeluarkan jas dan kemeja dari lemari, melipatnya dengan hati-hati, lalu meletakkan dasi dan aksesori lainnya di tempat yang sudah di sediakan.
Tidak butuh waktu lama, Arga segera bersiap.
Dia mengenakan kemeja dan celana yang sudah di siapkan sang istri,
Diana berdiri di depannya untuk memasangkan dasi.
Ia berdiri sedikit berjinjit, jari-jarinya yang lentik bergerak cekatan melingkarkan dan menyusun simpul dasi dengan rapi.
Wajahnya terlihat fokus, matanya sedikit menunduk agar tidak salah posisi.
Arga merasa terpesona melihat wajah dekat istrinya itu dan tidak bisa menahan diri.
Tangan kekarnya melingkar di pinggang ramping Diana, lalu dengan cepat ia mencondongkan tubuhnya dan mencuri sebuah ciuman singkat namun hangat di bibir Diana yang sudah sembuh.
“Mas!” seru Diana kaget, wajahnya seketika memerah padam.
Belum sempat ia melanjutkan protes, tangan Arga yang berada di pinggangnya perlahan meremas bagian belakang tubuh Diana dengan lembut.
“Kamu sangat cantik, Sayang. Aku jadi enggan pergi, sepertinya aku hari ini tidak usah ke kantor,” bisik Arga dengan suara rendah dan menggoda, matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang.
Diana tersipu malu, lalu dengan ringan menepuk lengan kekar suaminya itu. “Kamu ternyata jago gombal, Mas. Diem dulu, nanti dasinya jadi berantakan lagi.”
Arga hanya tertawa pelan, lalu melepaskan sedikit pelukannya agar Diana bisa menyelesaikan pekerjaannya.
Dalam hitungan detik, dasi itu sudah terpasang rapi dan pas di leher Arga.
Diana menatapnya dengan pandangan puas, lalu menyentuh bahu jas suaminya agar terlihat lebih sempurna.
“Sudah, sekarang Mas sudah sangat tampan,” ujarnya sambil tersenyum.
“Mas memang tampan,” jawab Arga dengan pedenya, lalu memegang kedua bahu Diana yang tertawa pelan.
“Tunggu Mas pulang yah, jangan melakukan apapun. Kalau butuh apa-apa, panggil Bi Mari atau satpam. Aku akan pulang secepat mungkin.”
"Iya Mas...."
Keduanya pun segera turun ke lantai bawah menuju ruang makan.
Di meja makan, Nyonya Amara sudah duduk menunggu dengan secangkir teh hangat di hadapannya.
Ia menoleh mendengar langkah kaki mereka, lalu mengangguk singkat.
“Pagi, Bu,” sapa Arga dan Diana hampir bersamaan.
“Pagi. Kalian lama sekali, Kamu jangan membuat menantu ibu kurang tidur Arga, Sudah tua tidak tau malu” jawab Nyonya Amara dengan nada ibu-ibu julid
"Terserah aku dong Bu, ini kan istriku sendiri"
Ingin rasanya Arga mengomel panjang lebar, tetapi Diana memegang tangannya lembut.
"Tenang, Mas" Bisik Diana
Arga mendengus, lalu dia menyeret kursi ke belakang untuk di duduki istrinya, setelah Diana duduk dengan nyaman, barulah dia duduk di kursi utama.
Suasana sarapan berlangsung sangat tenang dan damai. Tidak ada percakapan yang berlebihan, hanya suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar.
Arga sesekali menyuapi Diana atau mengisi gelas air istrinya, perhatiannya yang tulus terlihat jelas meski di hadapan ibunya.
Nyonya Amara hanya mengamati dari samping, sesekali mengangkat sudut bibirnya sedikit, seolah merasa lega melihat putranya akhirnya menemukan pendamping yang baik.
Setelah selesai makan, Arga berdiri dan merapikan bajunya.
Diana mengantar suaminya sampai ke depan, sedangkan nyonya Amara juga pergi, tapi entah kemana.
Di halaman, Arga melangkah mendekati Diana, lalu mencium kening istrinya dengan lembut. “Aku pergi dulu ya, Sayang.”
“Hati-hati di jalan, Mas. Jangan terlalu lelah bekerja,” pesan Diana sambil menatap suaminya.
Arga mengangguk, lalu melangkah keluar menuju halaman depan. Di sana, Radit sudah menunggu dengan mobil yang siap melaju.
Saat Arga masuk ke dalam mobil dan kendaraan itu mulai melaju,
Diana masih berdiri di ambang pintu sambil melambaikan tangan.
Namun, ia seketika merasa malu ketika menyadari bahwa ibu mertuanya ternyata sedang duduk santai di gazebo depan, memperhatikan semua gerak-geriknya dengan pandangan yang tidak bisa ditebak.
Wajah Diana kembali memerah, ia segera menunduk dan berjalan ingin kembali ke dalam rumah.
“Kenapa terburu-buru? Apakah malu dilihat oleh mertuamu sendiri?” tanya Nyonya Amara sambil tersenyum tipis, memecah keheningan.
Diana berhenti, lalu menoleh dengan wajah tersipu. “Hmm .. Sedikit Bu.”
Nyonya Amara tertawa kecil, suara tawanya terdengar lembut dan jarang didengar. “Sudah biasa saja. Di rumah ini, tidak ada yang perlu disembunyikan. Ayo, ikut aku ke perpustakaan. Ada hal penting yang harus kau pelajari mulai hari ini.”
Diana mengangguk patuh, lalu mengikuti langkah Nyonya Amara menuju sayap kanan rumah yang jarang dikunjungi orang.
Begitu pintu perpustakaan terbuka, terlihatlah ruangan yang luas dengan dinding-dinding penuh rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit.
Udara di dalamnya terasa sejuk dan beraroma kertas tua yang khas.
Nyonya Amara duduk di kursi besar yang terbuat dari kayu jati, lalu menunjuk kursi di sampingnya untuk Diana.
“Duduklah. Mulai hari ini, kau bukan lagi tamu atau orang asing di sini.
Kau adalah istri Arga, menantuku, dan bagian sah dari keluarga Wijaya.
Oleh karena itu, kau harus mengenal keluarga ini sepenuhnya — dari asal-usul, silsilah, hingga lingkungan yang akan sering berhubungan dengan kita.”
Beliau kemudian mengambil sebuah buku tebal bersampul kulit cokelat tua dari rak terdekat, lalu meletakkannya di meja.
“Ini adalah buku silsilah keluarga Wijaya, yang ditulis dan dijaga sejak generasi keempat. Di sini tercatat semua nama, dan hubungan setiap anggota keluarga.”
Diana membuka buku itu dengan hati-hati, matanya memperhatikan tulisan tangan yang rapi namun sudah agak pudar karena usia.
Nyonya Amara mulai menjelaskan satu per satu, mulai dari kakek moyang pendiri keluarga, hingga almarhum suaminya, Tuan Wijaya, yang namanya masih sangat dihormati di lingkungan bisnis dan sosial.
“Selain silsilah, kau juga harus mengerti tata krama dan adat yang berlaku di lingkungan kita. Kita tidak hidup sendirian, Diana. Keluarga Wijaya memiliki nama baik yang telah dibangun selama puluhan tahun. Setiap tindakan dan perkataan kita akan selalu menjadi sorotan,” lanjut Nyonya Amara dengan nada serius namun lembut.
Diana mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mencatat poin-poin penting di dalam hati agar tidak lupa.
Ia menyadari bahwa menjadi istri Arga bukan hanya soal hidup bersama, tetapi juga membawa tanggung jawab besar untuk menjaga nama baik keluarga ini.
“Jangan merasa terbebani,” ujar Nyonya Amara melihat raut wajah Diana yang serius.
“Aku mengajari ini agar kau siap dan percaya diri. Aku melihat ketulusan di hatimu, Diana. Selama kau berpegang pada kebenaran dan ketulusan, semua hal ini akan terasa lebih mudah.”
Diana mengangkat wajahnya, menatap mertuanya dengan rasa hormat dan terima kasih. “Terima kasih banyak, Bu. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan Ibu dan Mas Arga.”
Nyonya Amara tersenyum lebar, senyum yang tulus dan hangat. “Bagus. Mulai hari ini, pelajaran ini akan berlanjut setiap pagi. Sekarang, mari kita minum teh dulu. Jangan sampai kepalamu pusing terlalu banyak menerima informasi baru.”
Sementara itu, di perjalanan menuju kantor, Arga duduk di dalam mobil sambil memandang ke luar jendela.
Ia merasa tenang mengetahui Diana sudah mulai diterima oleh ibunya,
namun di sisi lain, pikirannya juga teringat pada masalah Gilang dan kehamilan Clara — sebuah rahasia yang harus diselesaikan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan masalah baru bagi keluarga mereka.