DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PULANG**
**
Pagi itu, David berdiri di depan gerbang rumah dengan pakaian sederhana, kaos polos sama jaket jeans yang sengaja dia pilih biar gak terlalu mencolok, dan begitu Anto sama Rambo sudah siap di pinggir jalan, David malah jalan ke arah halte angkot yang ada di ujung gang.
"Vid, lah, ngapain ke halte? Mobil ada di garasi, banyak malah," Anto bingung, menyusul dari belakang.
"Gue mau naik angkot, Tot. Udah lama banget gak ngerasain duduk sempit-sempitan sama bau keringet orang banyak, kangen."
"Itu kerinduan paling absurd yang pernah gue denger seumur hidup."
Belum sempat mereka benar-benar berangkat, sebuah mobil sedan putih berhenti mendadak di depan gerbang, kaca jendela diturunkan, dan muncul wajah Camelia yang sudah dandan rapi, lengkap dengan kacamata hitam yang dipasang di kepala.
"Eh, mau ke Lembang tanpa ngajak aku?" Camelia turun dari mobil, tangan dilipat di dada, "Anto cerita semua, jangan macem-macem deh kalian."
"Lah, ini kan urusan keluarga gue, Cam," David mencoba mengelak.
"Justru karena itu aku harus ikut. Lagian," Camelia melirik ke arah halte angkot yang catnya sudah kusam, "kalian mau naik angkot? Gak usah, pakai mobil aku aja, lebih nyaman."
Akhirnya mereka berangkat menggunakan mobil Camelia, dengan Rambo yang badannya kebesaran duduk di kursi kemudi, kelihatan agak lucu karena harus menundukkan kepala sedikit biar gak kebentur atap mobil.
Di kursi belakang, David dan Camelia duduk berseberangan, sementara Anto memilih duduk di tengah, entah karena memang ingin di tengah atau karena dia merasa harus jadi penjaga jarak yang tidak diminta.
Perjalanan yang panjang itu membuat Camelia perlahan terkantuk-kantuk, kepalanya bergerak-gerak mencari posisi nyaman, sampai akhirnya jatuh bersandar di bahu David, napasnya teratur, tertidur lelap tanpa dia sadari sendiri.
Anto, yang melihat itu dari sudut matanya, berdehem keras-keras, "Ehem. EHEM."
David hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap pemandangan luar jendela yang mulai berubah dari gedung-gedung tinggi jadi perbukitan hijau, mengacuhkan dehemman sahabatnya itu sepenuhnya.
"EHEM!" Anto mengulang lebih keras, sampai suaranya hampir seperti orang tersedak.
"Berhenti dehem, Tot, lo kira ini lagi syuting iklan obat batuk."
***
Begitu mobil memasuki jalanan Lembang yang mulai diapit sawah-sawah hijau, dengan udara yang terasa lebih sejuk dari Jakarta, David menatap keluar jendela dengan dada yang mulai berdebar, mengenali setiap tikungan, setiap pohon, setiap warung kecil yang dulu sering dia lewati.
Tapi belum sampai ke rumah, matanya menangkap sesuatu di gang sempit pinggir jalan, sebuah kerumunan kecil, dan di tengahnya, seorang anak kecil yang sudah jatuh terduduk, badannya ditendang-tendang oleh beberapa orang yang lebih besar.
"BERHENTI!" David berteriak ke arah Rambo, dan begitu mobil berhenti, dia langsung membuka pintu, berlari ke arah kerumunan itu.
Dan begitu dia lebih dekat, jantungnya seperti dihantam sesuatu yang jauh lebih keras dari pukulan apapun yang pernah dia rasakan.
Itu Dudung.
"Mana duitnya, anjing! Lo kira gue mau nungguin lo lama-lama!" suara itu, suara yang Dadang kenal betul, suara yang dulu penuh hormat memanggil "Kang Dadang", sekarang berubah jadi suara penuh kebencian yang dilontarkan ke arah anak yang dulu dia panggil "adik kecil seperguruan".
Ujang.
David tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Tubuhnya bergerak otomatis, secepat angin, dan begitu Ujang mengangkat tangan untuk memukul Dudung sekali lagi, David sudah berada di belakangnya, menangkap pergelangan tangan itu, memutarnya dengan tenaga yang membuat Ujang menjerit.
"AAAAKH!"
Empat orang lain yang ikut mengeroyok langsung kaget, mencoba menyerang balik, tapi David bergerak seperti air yang mengalir di antara batu, satu tendangan menghantam perut orang pertama, "DUGH", satu pukulan tepat di rahang orang kedua membuatnya tersungkur, dan dua orang sisanya, begitu melihat kecepatan dan kekuatan yang tidak masuk akal dari tubuh kurus David, langsung lari terbirit-birit tanpa menengok ke belakang.
Ujang, yang masih meringis memegangi pergelangan tangannya, menatap David dengan mata melebar, lalu ikut lari secepat yang kakinya bisa bawa, meninggalkan Dudung yang masih terduduk di tanah, badannya penuh debu dan beberapa lebam baru.
Rambo, yang berdiri tidak jauh dari situ menyaksikan semuanya, mengangguk-angguk sendiri, menyimpulkan dalam hatinya bahwa ini pasti bentuk balas budi David sebagai murid Kang Dadang yang dulu, jadi dia tidak bertanya lebih jauh, hanya berdiri menjaga jarak dengan rasa hormat yang makin bertambah.
David berlutut di depan Dudung, tangannya bergerak menarik anak itu ke dalam pelukan, erat, terlalu erat sampai Dudung sendiri kaget.
Dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Tidak bisa bilang, "Dung, ini Aa." Tidak bisa bilang apapun yang akan membuat semuanya semakin rumit. Jadi dia hanya memeluk, membiarkan dadanya yang sesak menyampaikan apa yang mulutnya tidak bisa ucapkan.
Dan entah kenapa, di dalam pelukan itu, Dudung merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang familiar, hangat seperti pelukan yang dulu sering dia rasakan dari kakaknya sendiri.
"Aa..." gumam Dudung pelan, lalu air matanya pecah, deras, tanpa bisa ditahan lagi.
"Kenapa nangis, Dung?" David bertanya, suaranya bergetar menahan emosinya sendiri.
"Inget sama Aa Dadang," Dudung berkata di antara isakan, "pelukan ini, kayak pelukan Aa Dadang dulu."
David memejamkan mata, menahan air mata yang sudah memenuhi pelupuk, dadanya terasa diremas habis-habisan.
Setelah Dudung agak tenang, David membantunya berdiri, membersihkan debu di seragamnya, dan baru sadar, ada surat di saku tas Dudung yang terjatuh, surat tagihan SPP yang sudah menunggak tiga bulan.
"Ini apa, Dung?"
Dudung dengan cepat mengambil surat itu, mukanya merah malu, "Bukan apa-apa, Kak."
"Dung, ini SPP nunggak ya?"
Dudung menunduk, tidak menjawab, dan jawabannya sudah cukup jelas tanpa perlu kata-kata.
David menghela napas panjang, lalu memutuskan, walaupun hatinya sudah tidak sabar ingin segera bertemu Mak Inah, "Yuk, Aa, eh, kakak antar pulang dulu."
***
Sepanjang jalan menuju rumah, suasana di mobil berubah jadi sunyi, hanya suara mesin dan napas Dudung yang masih sesekali tersedu. Begitu mobil berhenti di depan gang kecil yang menuju rumah petak itu, David merasa dadanya makin sesak melihat keadaan yang jauh berubah dari yang dia ingat.
Gerobak sayur yang dulu setiap pagi diisi penuh dengan sayuran segar, sekarang teronggok di pojok halaman, rodanya berkarat, kainnya robek dimakan waktu, tidak pernah lagi digunakan sejak pemiliknya tidak ada.
Cat rumah yang dulu sudah pudar, sekarang semakin kusam, beberapa genteng terlihat bergeser, dan halaman yang dulu rapi, sekarang dipenuhi rumput liar yang tidak terurus.
David berjalan pelan menuju pintu, tapi belum sampai, matanya menangkap sosok di samping rumah, di bawah pohon jambu, di depan sebuah batu nisan kecil yang sengaja dibawa pulang sebagai pengingat.
Mak Inah, dengan rambut yang sudah hampir semua putih, duduk bersimpuh di sana, kedua tangannya memeluk batu nisan itu erat, badannya bergoyang pelan, dan suaranya yang serak terdengar mengiris.
"Kenapa atuh, Dang, kenapa kamu harus pergi cepet-cepet. Mak masih butuh kamu, Dang. Mak masih pengen liat kamu nikah, liat kamu punya anak, kenapa cepet banget, kenapa..."
David berdiri mematung, dadanya seperti diiris sembilu, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, deras, membasahi pipinya yang bukan pipi aslinya tapi menampung kesedihan yang sepenuhnya nyata.
Tanpa sadar, mulutnya terbuka, ingin memanggil nama yang paling sering dia ucapkan dalam hati setiap malam, tapi yang keluar justru kata lain, refleks dari kebiasaan yang sudah dia pelajari selama berbulan-bulan tinggal di tubuh David.
"...Ibu?"
Mak Inah menengok, matanya yang sembab langsung melebar, dan dia berdiri, badannya gemetar, berjalan mendekat dengan langkah yang semakin cepat.
Dan begitu dia berdiri tepat di depan David, menatap wajah yang sebenarnya bukan wajah anaknya itu, sesuatu yang aneh terjadi. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika apapun, sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh ikatan batin seorang ibu yang sudah kehilangan terlalu banyak.
"Dadang," dia berkata pelan, tangannya terangkat, menyentuh pipi David dengan lembut, "Dadang anak Mak."
"Bukan, Mak, ini—"
"Diem, Dang," Mak Inah memotong, suaranya lembut tapi penuh keyakinan yang tidak bisa digoyahkan, "Mak teh tau, Mak ngerasa. Ini Dadang. Mak gak peduli muka kamu berubah kayak apa. Hati Mak gak akan pernah salah."
Anto dan Camelia, yang baru sampai dari mobil, berdiri di belakang, saling pandang, dan tanpa perlu kata-kata, mereka memilih untuk diam, membiarkan momen itu berlangsung tanpa interupsi, walau mereka berdua tahu kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih rumit dari sekadar kepercayaan seorang ibu.
David, dengan air mata yang sudah tidak bisa lagi disembunyikan, akhirnya membalas pelukan itu, memeluk Mak Inah erat-erat, membiarkan dirinya, untuk sesaat, menjadi Dadang lagi, anak yang pulang ke rumah, walau dengan wajah yang berbeda.
"Iya, Mak," gumamnya, suaranya pecah, "ini Dadang. Dadang udah pulang."
Malam itu, setelah perjalanan panjang dan emosi yang menguras habis tenaga semua orang, mereka memutuskan untuk menginap di rumah sederhana itu, di rumah yang walau kecil dan penuh kenangan pahit, tetap menjadi satu-satunya tempat di dunia yang benar-benar terasa seperti rumah bagi seseorang yang sudah lama merasa tersesat dalam tubuh yang bukan miliknya.
*(bersambung)*