NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Tedjakusuma

"Tapi pertama-tama, bagaimana kabarmu, Mai Kecil?"

Amaia tertegun. Sudah lama sekali dia tak mendengar panggilan itu dari bibir Widitama.

Pria itu melirknya karena Amaia tak kunjung menjawab. Tersadar dari lamunan, Amaia segera mengalihkan pandang ke sembarang arah. Gemuruh di langit mengiringi perjalanan mereka dan pertemuan setelah sekian bulan.

"B-baik. Mas Widi gimana?" tanya Amaia berusaha menangkan diri.

"Bagaimana kabar saya, itu nggak penting." Widitama menyeringai. "Mau tau alasan saya meminta bertemu?" Pertanyaan itu dibalas gelengan oleh Amaia. "Karena saya merindukan kamu, Mai Kecil."

Sepasang mata Amaia melotot.

Widitama terkekeh sembari mengibaskan tangan di depan wajah. "Saya tau kamu akan menikah dengan adik saya. Ternyata dari dulu kamu nggak berubah. Rakha adalah segalanya bagimu," imbuhnya, "tapi gimana, ya? Kamu akan dapat kejutan besar sebentar lagi."

"Maksud kamu?"

"Bukan kejutan namanya kalau saya yang ngasih tau sekarang." Widitama menatap Amaia selama sekian detik, lalu berkata, "Tapi yang pasti saya saya punya tawaran buat kamu. Kalau kamu dan Rakha batal menikah, menikahlah dengan saya, Mai Kecil."

—oOo—

Land Rover yang dikendarai Edgar akhirnya tiba di halaman luas rumah utama keluarga Tedjakusuma. Rumah berlantai dua bergaya Eropa dengan cat putih yang mendominasi tampak begitu kian familiar di mata Amaia. Sejak kecil—mungkin saat usianya 10 tahun—mendiang ayahnya acapkali mengajak ke rumah tersebut.

Sekarang pun rumah itu tak banyak berubah. Amaia merasa seluruh tata letak rumah bahkan sudah dihafalnya.

"Pikirkan baik-baik ucapan saya tadi," bisik Widitama setelah melepas seat belt.

Tanpa menunggu jawaban Amaia, pria 30 tahun itu keluar menemui nyonya rumah yang sudah menunggunya di luar. Tentu ditemani oleh adik bungsunya, Denara.

Amaia membeku di tempat. Kegilaan apa yang menghampiri Widitama sampai berani berkata seperti tadi? Tawaran katanya? Rakha dan Amaia bakal batal menikah? Yang benar saja! Pria itu pasti sudah gila.

Apa dia nggak tau kita akan makan malam untuk bahas rencana pernikahan? Amaia ingin tergelak karena pekataan super percaya diri calon kakak iparnya itu. Dia pasti kembali untuk membuat kekacauan! Amaia tak akan biarkan hal itu terjadi.

Menjadi istri Widitama? Amaia tak pernah memikirkan hal semacam itu. Selama ini dia hanya menganggap Widitama sebagai sosok kakak karena Rakha—calon suami Amaia—sangat menghormatinya.

"Kenapa kamu berangkat dengan Mas Widi?" Denara, putri bungsu keluarga Tedjakusuma, langsung menyeret Amaia sesaat setelah perempuan itu turun dari mobil dan mereka masuk rumah.

"Bukannya kalian yang minta Mas Edgar jemput aku ke kampus?"

"Bicara apa sih kamu?! Dengar, ya, kamu ini mau menikah dengan Kak Rakha, bukan dengan Mas Widi. Jadi, jangan dekat-dekat dengannya atau berusaha menggodanya!"

"Jangan asal menyimpulkan atau bicara seenaknya, Dena."

Denara melipat tangan di depan dada. Sepasang matanya menatap Amaia dengan nyalang. "Asal menyimpulkan gimana? Apa kata orang kalau melihat kamu dekat-dekat dengan Mas Widi, padahal calon suami kamu adalah Kak Rakha? Ini peringatan, ya, buat kamu! Fokus saja pada hubungan kamu dengan Kak Rakha. Awas aja kalau aku sampai dengar para pembantu bergosip tentang kamu dan Mas Widi."

Sampai detik ini Amaia tak mengerti jalan pikiran Denara. Ia menang sudah cukup lama mengenal keluarga Tedjakusuma, tapi hal itu tidak membuat dirinya akrab dengan Denara, putri bungsu keluarga tersebut. Denara juga seperti tak memiliki ketertarikan untuk menerima Amaia menjadi bagian dari keluarga mereka.

"Pikiran kamu terlalu berlebihan. Hanya karena aku datang dengan Mas Widi, bukan berarti ...," tukas Amaia.

"Mas Widi itu kakakku! Punyaku!"

Ucapan Denara membuat Amaia terkesiap. Bagaimana bisa dia mengecap seseorang seperti itu? Mengklaim saudaranya seperti sebuah kepemilikan yang utuh.

"Dena, kalian bersaudara."

"Saudra angkat! Ingat itu. Jadi, jangan macam-macam kamu." Denara menunjuk wajah calon iparnya dan bergegas menjauh.

Suara hentakan hak tinggi Denara kian menjauh membuat Amaia mengejap. Ia mendadak merinding karena ucapan Denara barusan. Hanya lantaran mereka saudara angkat, Denara berharap bisa menjadikan Widitama sebagai miliknya? Maksud Amaia, perasaan istimewa seperti dirinya yang mencintai Rakha, bukan?

Kalau memang iya, gadis itu benar-benar sudah gila.

"Mai," sapa Sasti yang tiba-tiba datang dari arah belakang. "Kenapa diam di sini, Sayang? Ayo, kita siap-siap makan malam. Tas kamu taruh di kamar saja." Dia menyuruh seorang pelayan untuk membawa tas Amaia ke salah satu ruang tamu.

"Terima kasih Tante atas undangannya. Apa mama saya udah sampai?" tanya Amaia.

"Mama kamu nggak bisa datang. Katanya masih ada urusan di rumah. Nggak masalah, 'kan?"

Amaia menggeleng walaupun sebenarnya ia berharap sang ibu datang. Belakangan ini ibunya jarang sekali membahas rencana pernikahan Amaia dengan Rakha. Entahlah, Amaia terusik, tapi tak mau banyak bertanya karena pikirannya juga sedang penuh oleh tugas akhir.

Sebelum beranjak menuju ruang makan bersama calon mertuanya, Amaia menghentikan langkahnya karena ponsel di saku celana bergetar. Satu pesa masuk dari Rakha menghampiri benda pipih itu. Amaia menatap sangsi wanita paruh baya yang selalu membentuk rambutnya seperti sanggul kecil.

"Kak Rakha nyuruh aku ke atas, Tante. Katanya ada yang mau dibicarakan," kata Amaia sambil melirik anak tangga menuju lantai dua.

"Oh iya, temui saja calon suami kamu itu. Kami tunggu di ruang makan, ya." Sasti mengelus lembut pundak Amaia.

Perempuan itu lantas bergegas menuju lantai dua. Dia sudah hafal betul tata-letak ruangan di rumah ini. Bahkan kamar sang calon suami pun sudah akrab dalam benaknya.

Kamar Rakha hanya berjarak beberapa langkah lagi dari tangga. Amaia melihat pintunya sedikit terbuka. Dari jarak yang kian dekat, ia bisa menyaksikan Rakha sedang berdiri di depan standing mirror sambil memperbaiki kancing lengan kemejanya.

"Kak, ini aku ...." Kalimat Amaia tertahan saat melihat Rakha menempelkan ponsel di antara kedua telinga.

Agaknya sang calon suami sedang menerima telepon khusus. Amaia jadi setengah sangsi untuk mendekat. Jadi, dia menunggu sampai pria itu selesai bertelepon.

Namun, detik berikutnya Amaia dibuat terkejut oleh suara Rakha dan dialognya dengan si penelepon. "Tolong sabar! Aku sedang mengusahakannya. Apa katamu? Aku kan cuma minta kamu sabar. Betahan sebentar lagi, apa susahnya, sih? Aku butuh waktu untuk melakukannya. Aku harus cari cara karena Amaia nggak tau tentang hal ini."

Ketika namanya dibawa-bawa, Amaia sedikit terkesiap. Sedang bicara dengan siapa Rakha? Hal apa yang Amaia tak ketahui? Apa selama beberapa hari saat mereka jarang bertukar kabar dan sedikit berdebat tentang rencana pernikahan, Rakha melakukan sesuatu yang tak diketahuinya? Tapi apa?

Amaia mengenggam kenop pintu hendak membukanya lebih lebar. Namun, Rakha sudah duluan berbalik melihat keberadannya dengan penuh keterkejutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!