Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGKAH DI BALIK BAYANGAN
Bel mekanis kuno gedung utama Akademi Nusantara berdentang tiga kali, menandakan dimulainya jam pelajaran pertama untuk seluruh murid tingkat satu. Setelah menghabiskan waktu di bangsal isolasi medis militer, Arkan kembali melangkah menyusuri lorong koridor Kelas 1-A dengan tangan kiri yang mengenakan gelang taktis hitam pemberian Pak Guntur. Di sampingnya, Sky berjalan dengan santai sambil membawa beberapa buku panduan manipulasi atmosfer.
Begitu pintu geser otomatis ruang kelas terbuka, keheningan mendadak menyerang ruangan tersebut selama tiga detik penuh, sebelum akhirnya ledakan suara riuh dari puluhan murid langsung pecah bergemuruh.
"Arkan! Sky! Kalian akhirnya kembali!" seorang murid bertubuh kurus bernama Rio langsung melompat dari bangkunya, memimpin rombongan anak-anak Kelas 1-A untuk mengerumuni meja mereka.
"Gila, kabar tentang kalian membantai kawanan monster di perbatasan Sektor Liar Utara sudah menyebar ke seluruh angkatan tahu!" murid lain menimpali dengan mata yang berbinar penuh kekaguman. "Bahkan anak-anak Kelas 1-S dari faksi elit yang biasanya sombong itu mendadak bungkam begitu melihat laporan poin ekspedisi kalian yang sempat bocor di papan pengumuman utama!"
Arkan hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat santai, meletakkan tas taktisnya di atas meja tanpa berniat membalas kehebohan tersebut secara berlebihan.
"Kalian terlalu berlebihan," Sky menyahut sambil mendudukkan tubuh manusianya dengan anggun di bangku sebelah Arkan. "Kami hanya melakukan pembersihan standar di area luar. Cuaca buruk yang membuat kami harus tertahan sedikit lebih lama di dalam fasilitas medis."
"Standar apanya!" Rio menunjuk ke arah lencana digital di dada Arkan yang mendadak memancarkan pendaran sinkronisasi otomatis dengan sistem ruangan kelas. Layar holografis kaku di atas meja Arkan menampilkan pembaruan data mitramu secara terbuka:
[ STATUS ASTRA: VOLT ]
Level: [ LEVEL 21 ]
Atribut: Petir Murni
Melihat angka Level 21 terpampang nyata, seisi ruangan Kelas 1-A langsung menelan ludah dengan susah payah. Bagi seorang murid baru yang belum genap satu semester, menyentuh level kepala dua adalah sebuah pencapaian yang sangat tidak masuk akal. Di saat murid lain masih berjuang menaikkan Astra mereka ke Level 11 atau 12, Volt milik Arkan sudah melesat jauh melampaui standar rata-anak tingkat satu di seluruh Nusantara.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa di bawah lengan jaket hitam Arkan, gelang taktis militer miliknya sedang bekerja keras mengisolasi keberadaan saku jiwa kedua. Kroak yang kini berada di Level 13 tersimpan sangat rapi di balik bayangan spiritual, sepenuhnya tidak terdeteksi oleh radar sensor sekolah yang paling sensitif sekalipun.
Pak Guntur melangkah masuk ke dalam kelas dengan ekspresi tegasnya yang biasa, membuat kerumunan murid di sekitar meja Arkan langsung bubar dan kembali ke bangku masing-masing dalam sekejap. Guru taktis itu sempat melirik ke arah pergelangan tangan kiri Arkan, memberikan anggukan kepala sangat tipis yang sarat akan kode rahasia sebelum memulai pelajaran teori dasar manipulasi elemen makro.
Ketika matahari akhirnya tenggelam di balik cakrawala dan seluruh aktivitas formal akademi selesai, Arkan tidak langsung kembali ke asrama. Di bawah siraman cahaya bulan yang samar, pemuda itu berjalan sendirian membelah hutan bukit belakang kompleks sekolah, menuju sebuah pondok kayu sederhana tempat Grandmaster Joshua berada.
BZZZZZT.
Begitu kaki Arkan menginjak halaman pondok, seberkas kilatan petir putih tipis menyambar tepat di depan ujung sepatunya, menyisakan bekas hangus kecil di atas tanah.
"Reaksi refleks sarafmu sudah jauh lebih tenang, Arkan," Grandmaster Joshua melangkah keluar dari kegelapan teras pondok dengan tangan bersedekap. Sepasang mata tuanya memancarkan binar listrik yang sangat tajam, menatap lurus ke arah dada Arkan. "Lepaskan gelang bodoh dari militer itu. Di dalam radius pondokku, tidak akan ada satu pun mata faksi luar yang bisa mengintip."
Arkan menarik pengait gelang hitam taktisnya. Seketika itu juga, tekanan udara di sekitar pondok mendadak berubah menjadi sangat lembap dan berat. Dua saku jiwa ganda di dalam dada Arkan bergetar serempak, melepaskan manifestasi dua Astra miliknya secara bersamaan.
Volt keluar dengan tubuh serigala peraknya yang diselimuti kilatan petir putih Level 21 yang berderit nyaring, sementara Kroak melompat turun di sisi lain dengan kulit biru safir Level 13 yang memancarkan uap air purba yang hangat.
Joshua berjalan mengitari tubuh Kroak, sesekali menyentuh guratan pola garis hitam di punggung amfibi tersebut dengan ekspresi wajah yang sangat serius. "Air Purba... ini bukan sekadar elemen air biasa yang sering digunakan oleh para kontraktor faksi komersial, Arkan. Cairan yang diproduksi oleh katak ini memiliki tingkat resistensi nol terhadap partikel elektron. Artinya, ini adalah konduktor mutlak yang diciptakan oleh alam purba."
Joshua membalikkan tubuh manusianya menghadap Arkan, ekspresi santainya kini digantikan oleh ketegasan seorang Grandmaster aliran tertinggi. "Aliran Petir Putih Ilahi yang selama ini aku kuasai berfokus pada kecepatan fase dan manipulasi internal. Selama ini, kelemahan terbesar dari pengguna petir adalah pemborosan energi saat melepaskan serangan jarak jauh skala luas karena partikel listrik cenderung buyar di udara terbuka."
Joshua mengangkat tangan kanannya, memicu setetes air murni melayang di atas jemarinya. "Tapi dengan adanya Kroak, kamu memiliki media perluasan cambuk petir yang sempurna. Teori konduksi air-petir pertama yang harus kamu kuasai adalah Resonansi Kapiler."
"Bagaimana cara kerjanya, Guru?" Arkan bertanya, matanya menatap fokus pada manipulasi energi di tangan Joshua.
"Kamu tidak boleh membiarkan Volt menembakkan petirnya secara acak ke arah air milik Kroak seperti yang kalian lakukan di Sektor Liar kemarin. Itu adalah metode kasar yang sangat memboroskan tenaga vital," Joshua menjelaskan dengan tajam. "Kamu harus mengalirkan Aura Statis Putih dari kulit manusiamu untuk menyatu dengan uap air yang dikeluarkan Kroak sebelum air itu menyentuh target. Jadikan butiran air itu sebagai jembatan tak terlihat bagi saraf motorik Volt."
Joshua memberikan instruksi taktis yang sangat berbobot. "Kroak, keluarkan kabut tipis radius lima meter di sekitar Arkan!"
CROAAAK!
Katak biru itu mengembangkan tenggorokannya, menyemburkan kabut uap air purba transparan yang langsung menyelimuti tubuh Arkan hingga pandangan mata manusianya sedikit membaur.
"Sekarang, Arkan! Aktifkan Lightning Reflex di Level 21 milik Volt, gunakan partikel uap air di sekelilingmu sebagai pijakan frekuensi listrikmu. Jangan biarkan petirmu meledak, melainkan biarkan tubuh manusiamu bergeser mengikuti molekul air tersebut!"
Arkan menarik napas panjang, menekan gejolak energi di dalam saku jiwa gandanya. Dia memusatkan pikirannya, memicu getaran elektron di permukaan kulit manusianya agar beresonansi dengan kelembapan kabut Kroak. Sensasi panas yang sangat pekat mulai membakar jaringan ototnya saat dia mencoba menyatukan dua aliran elemen yang bertolak belakang tersebut di dalam satu sirkulasi saraf pusat.
BZZZZT... CRACK!
Pada percobaan pertama, keseimbangan energinya pecah. Percikan petir Volt yang terlalu liar justru menguapkan seluruh kabut air Kroak dalam sekejap, menciptakan ledakan uap panas yang mementalkan tubuh Arkan dua langkah ke belakang dengan napas yang terengah-engah.
"Ulangi lagi! Kurangi output energetik dari Volt, biarkan Kroak yang memimpin jalur konduksinya!" Joshua berteriak tegas, memantau setiap pergeseran saku jiwa Arkan dengan cermat.
Arkan menyeka keringat di pelipis manusianya, menyunggingkan sebuah senyuman dingin yang sarat akan keras kepala yang mutlak. "Sekali lagi, Kroak."
Malam di bukit belakang akademi itu pun dihabiskan dengan ratusan kali percobaan kegagalan yang menguras tenaga. Di bawah pengawasan langsung sang Grandmaster, Arkan terus memeras sistem saraf manusianya untuk memahami fondasi baru dari aliran Petir Putih Ilahi. Langkahnya di balik bayangan akademi ini mungkin tidak terlihat oleh publik Kelas 1-A yang sedang memujanya, namun di dalam kesunyian pondok Joshua, fondasi badai sejati yang jauh lebih mengerikan sedang perlahan-lahan dirajut, siap untuk mengejutkan seluruh dunia Astra saat taring rahasia itu akhirnya dilepaskan sepenuhnya nanti.
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!