NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semangat Yang Baru Dan Hari Pertama Di Sekolah Elit

Saat Zara sedang sibuk mengaduk dan menyusun makanan di dapur, Fara datang menghampiri dengan rasa ingin tahu yang jelas terlihat di wajahnya. “Zara, kau kelihatan sangat cerah dan bahagia sekali hari ini. Ada kabar gembira apa ya?” tanyanya langsung.

Zara berhenti sejenak, menoleh dengan senyum yang mekar lebar dan matanya berbinar nyata. “Ah, ini kabar yang sangat indah, Kak Fara. Tadi… eh maksudku, Kak Adrian mengizinkanku untuk melanjutkan sekolah lagi. Mendengar itu saja rasanya hati terasa ringan sekali, senang sekali rasanya,” jawabnya dengan nada antusias yang tak bisa disembunyikan.

Namun di dalam benak Fara, sebuah pemikiran mencuat tajam: Jadi benar dugaanku… dia masih di bawah umur! Mengapa Adrian sampai mau menikah dengan gadis yang masih begitu muda? Sepertinya kisah hidupnya pun menyimpan luka dan keterpaksaan yang sama persis seperti diriku sendiri…

Tanpa banyak bicara lagi, Fara ikut membantu merapikan piring dan gelas agar pekerjaan selesai lebih cepat. Setelah mereka berdua makan, saat Zara baru saja menaiki tangga, Yamal muncul dari ujung lorong dan memanggilnya dengan sopan. “Nyonya Zara, saya datang membawa pesan langsung dari Tuan Adrian,” ujarnya membungkuk hormat. Zara hanya mengangguk pelan, siap mendengarkan.

Pagi harinya, tepat pukul enam lewat sepuluh, Zara sudah terbangun lebih dulu. Ia mengenakan kaos hitam polos yang longgar dan nyaman, dipadukan celana panjang krem gading yang jatuh santai — sederhana saja, tapi tetap terlihat rapi dan enak dipandang. Ia mengikat rambutnya asal saja cukup kuat agar tak mengganggu gerakan, lalu mulai bergerak: memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci, menyiapkan bahan untuk sarapan, menyapu debu yang terlihat di sudut ruangan, dan membiarkan alat pembersih lantai berjalan sendiri mengerjakan sisanya.

Tak lama kemudian Fara terbangun, dan melihat Zara sudah sibuk berkeliling rumah. Dalam hatinya ia bergumam: Wah, gadis ini sungguh rajin sekali. Kalau begini rasanya tak apa kalau aku sesekali bangun agak siang. Ia pun menghampiri dengan nada agak canggung: “Zara, maaf ya kalau kelihatan aku terlambat bangun. Rasa maluku timbul melihat kau sudah mengurus semuanya.”

Namun Zara hanya tersenyum lembut dan tulus. “Tak perlu dipikirkan, Kak Fara. Semua sudah beres kok, dan sarapan juga sudah hangat-hangat di meja. Silakan dimakan saja,” jawabnya ringan.

“Wah, terima kasih banyak ya! Perutku sudah keroncongan sejak tadi,” ujar Fara sambil tersenyum lega, lalu langsung berjalan menuju meja makan.

Setelah selesai membereskan ruang tamu, Zara melanjutkan ke halaman untuk memeriksa kolam renang, lalu naik ke lantai dua sekadar melihat-lihat ruangan yang belum pernah ia masuki. Di sana ada banyak ruang mewah: tempat bermain biliar, bioskop pribadi, ruang keluarga luas, hingga ruang kerja Adrian. Tapi ia tak berani melangkah masuk ke ruang kerja atau kamar tidur utama — masih ingat pesan tegas Adrian untuk tidak mendekatinya tanpa izin.

Ia sempat melihat ke halaman depan dan belakang, tapi tukang kebun sudah bekerja dengan baik, jadi ia hanya melihat dari kejauhan saja sambil kagum. Setelah merasa semua beres, ia kembali ke dapur, membungkus sedikit makanan ke dalam kotak bekal, lalu cepat-cepat masuk ke kamar untuk mandi dan membersihkan diri dari sisa keringat.

Beberapa saat kemudian ia turun kembali dengan penampilan yang jauh berbeda: mengenakan blus hitam berbahan lembut, dipadukan rok putih gading yang jatuh anggun dengan motif titik-titik halus — terlihat sopan, lembut, dan tetap memancarkan kesan berkelas tanpa berlebihan. Mengambil kotak bekal itu, ia pun berangkat menuju rumah sakit untuk menjenguk keluarganya.

Menjelang pukul tujuh malam, saat Zara melangkah masuk ke pintu utama, Yamal sudah menunggu dengan tenang. Ia segera menghampiri dan menyampaikan kabar: “Nyonya Zara, Tuan Adrian berpesan bahwa ia harus berangkat ke luar negeri untuk urusan bisnis yang sangat penting, kemungkinan tak akan pulang dalam beberapa hari ke depan. Selain itu, dokumen baru serta perlengkapan sekolah Anda sudah disiapkan dan diletakkan di atas sofa ruang tamu. Jika butuh apa saja nanti, cukup beritahu saya saja.”

“Terima kasih, itu sudah lebih dari cukup,” jawab Zara dengan hati yang tenang dan puas. Begitu Yamal pergi, ia mendekati sofa dan membuka berkas itu — ternyata hampir semua data dirinya tetap sama, hanya tanggal lahir yang disesuaikan sedikit agar sesuai syarat sekolah, dan statusnya tertulis sebagai gadis biasa yang belum menikah. Ia menyentuh buku-buku dan perlengkapannya dengan senyum bahagia, bergumam pelan: Besok hari pertamaku sekolah… semoga semuanya berjalan lancar. Aku harus tidur lebih awal biar tidak terlihat lelah.

Di tempat lain, suasana terasa jauh lebih gelap dan dingin. Adrian berdiri mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya, kerahnya sedikit terbuka memberi kesan gagah dan berwibawa. Di sudut bibir dan telapak tangannya terlihat sisa noda darah yang masih basah, sementara di hadapannya terbaring seorang pria yang sudah tak sadarkan diri akibat pukulan keras. Adrian hanya memberi isyarat singkat dengan tangannya, dan anak buahnya segera bergerak membersihkan segala jejak. Tak lama kemudian Yamal datang melapor: “Semua sudah beres dan aman, Tuan.” Tanpa banyak bicara lagi, Adrian pun berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.

Pagi berikutnya, usai melaksanakan shalat subuh, Zara tidak kembali tidur seperti biasanya. Ia langsung menyiapkan sarapan, memasukkan pakaian kotor ke tempatnya, dan menyapu debu yang terlihat menempel. Setelah semua selesai, ia mandi dan mengenakan seragam sekolah barunya: kemeja putih bersih, dasi biru keabu-abuan yang diikat secukupnya, rok lipit panjang berwarna kelabu yang jatuh rapi, serta sepatu kets putih yang masih terasa baru. Penampilannya sederhana, sopan, tapi terlihat sangat pas dan alami di tubuhnya.

Saat hendak melangkah keluar, Fara menyambutnya di pintu dengan senyum dan mengucapkan semangat. Zara sempat meminta sopir berhenti sebentar di rumah sakit untuk mengantar bekal dan memberi kabar pada keluarganya. Mendengar hal itu, ibunya terkejut lalu tersenyum lega sambil menggeleng pelan: “Pria itu memang sulit ditebak… tapi tak apa, Nak. Jangan sampai terlambat ya di hari pertamamu. Semoga kau bertemu teman-teman yang baik dan semuanya berjalan lancar.”

Sesampainya di depan gerbang sekolah, Zara tertegun melihat betapa megahnya gedung itu — luas, rapi, dengan halaman yang hijau dan pepohonan yang rindang, terlihat jelas ini tempat khusus anak-anak dari keluarga terpandang. Begitu ia turun dari mobil, rambut panjangnya yang berwarna cokelat kehitaman terurai jatuh bebas, berkilau lembut seperti benang sutra saat terkena sinar matahari pagi, membuat kulitnya yang seputih susu terlihat makin bersinar alami dan memukau.

“Sungguh besar dan indah sekolah ini… katanya hanya anak-anak orang terpandang yang bisa belajar di sini,” gumamnya dalam hati. Ia sadar hampir semua pandangan siswa lain tertuju padanya, membuat jantungnya berdegup sedikit kencang karena gugup. Tapi ia menarik napas panjang, menguatkan hatinya, lalu melangkah masuk dengan kepala terangkat tenang.

Begitu sampai di lorong utama, ia sempat berhenti sebentar bingung — tak tahu harus berjalan ke arah mana untuk menemukan kelasnya. Mungkin ada papan petunjuk di ujung sana ya? pikirnya sambil melihat sekeliling. Namun sebelum ia sempat berjalan jauh, sekelompok gadis melihat kebingungannya dan menghampiri. Salah satu di antaranya tersenyum ramah lalu bertanya: “Hai, apakah kau murid baru di sini?”

Zara menoleh dan melihat gadis itu: wajahnya halus, kulitnya bersih segar, matanya jernih berwarna cokelat lembut, rambutnya panjang berombak alami terlihat jatuh bebas dan tak diatur terlalu kaku — memancarkan kesan sopan, tulus, tapi tetap terlihat berkelas.

“Aku… ya, aku murid baru. Sedikit bingung mencari di mana letak kelasku,” jawab Zara sambil tersenyum malu-malu.

Gadis itu tertawa pelan, lalu menjawab dengan nada bersahabat: “Tenang saja, kita satu kelas kok. Ayo ikut aku saja.” Tanpa ragu, ia menyentuh pergelangan tangan Zara dengan lembut dan mengajaknya berjalan masuk ke dalam lorong sekolah itu.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!