Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Menyesal sudah. Harusnya dia tidak menggantikan Amel. Niat baik ingin meringankan pekerjaan temannya justru menghancurkan hidupnya sendiri.
Air mata yang berurai tak mengetuk pintu hati Zian. Pria itu tetap berkuasa menjelajahi tubuhnya. Melihat lekuk tubuh Amira semakin membuat Zian tergila-gila. Dia tak bisa mengontrol diri, hingga benar-benar menuntaskan nafsunya pada Amira tanpa peduli jeritan kesakitan gadis itu.
Setelah hampir dua puluh menit berusaha mempertahankan kehormatannya, Amira akhirnya kalah. Tubuhnya yang mungil tak bisa melawan tubuh besar dan kekar Zian. Tak ada lagi perlawanan yang bisa dia lakukan. Dia sudah lelah menangis, suaranya bahkan sudah parau.
Tak peduli apa dan siapa, Zian saat itu hanya merasakan kenikmatan yang membuat akalnya hilang. Tubuh Amira benar-benar candu. Dia tak bisa berhenti, bahkan tak sadar jika gadis di bawahnya sudah tak sadarkan diri.
Zian terus bergerak, mencari kenikmatannya sendiri. Hingga akhirnya dia lelah, dan berhenti.
Zian tumbang di samping Amira begitu saja, setelah mendapatkan kenikmatan luar biasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hingga berhasil mengantarkannya tidur nyenyak di sisi Amira.
---
Tidur nyenyak sekali memang.
Tapi ketika terbangun, Zian dibuat terkejut. Seolah dunia jungkir balik.
Kenikmatan yang didapatkan semalam berubah menjadi penyesalan yang menyesakkan dada, apalagi ketika dia melihat karyawannya itu terbaring di sisinya.
Zian tersadar sepenuhnya. Dia mengingat rentetan kejadian yang telah terjadi. Seketika dia gusar, memaki kebodohannya sendiri.
"Shitt!! Pasti ini karena minuman itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Zian bermonolog, seraya melihat Amira yang hingga saat ini tak sadarkan diri.
Sial. Apa yang harus dia lakukan pada karyawannya ini? Jika sampai berita ini menyebar, tamat sudah hidupnya di mata sang Daddy. Jelas, Khail tidak akan membiarkan Zian hidup.
Yah, dia melakukan hal yang dilarang keras oleh Daddy-nya. Khail pernah bilang pada putranya agar selalu menghormati seorang wanita, jangan pernah merendahkannya. Karena bagaimana pun, derajat seorang wanita jauh lebih besar di mata Tuhan. Setidaknya itulah yang diajarkan Khail pada Zian.
Cukup lama Zian memandangi Amira, hingga dia baru menyadari jika gadis itu pucat pasi. Hati kecil Zian menuntut untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Astaga! Panas sekali, apa yang terjadi?"
Menyadari suhu tubuh Amira panas, tanpa berpikir dua kali Zian langsung membawanya ke rumah sakit. Tak lupa, sebelum itu dia memakaikan pakaian Amira dengan lengkap, bahkan sampai pakaian dalam. Dia juga mengecek keadaan di luar kantor. Untung masih pagi buta, jadi belum ada orang yang datang.
Langkah Zian terburu-buru. Dia gelagapan mencari rumah sakit yang sekiranya aman untuk membawa gadis ini.
Begitu sampai di rumah sakit, dia disambut dengan cepat. Mungkin karena belum banyak pasien. Mereka langsung bertindak, dan selama Amira diperiksa, pria itu hanya bisa berdoa. Berharap tidak terjadi hal buruk padanya.
"Pengantin baru ya?"
Glek!
Zian menelan ludahnya saat mendengar pertanyaan itu. Dia bingung hendak menjawab bagaimana.
"I-iya, Dokter," jawab Zian akhirnya, sambil mengulas senyum terpaksa. Dia harus berbohong. Demi kebaikan. Dia tidak ingin dokter itu berpikir yang tidak-tidak.
Dokter itu tersenyum, mungkin sudah biasa menemukan pasangan seperti ini. Namun Zian yang tidak ingin meladeni memilih diam dan menunggu penjelasan dokter selanjutnya.
"Ada baiknya memperhatikan istri dulu sebelum melakukannya. Jangan sampai maag-nya jadi kumat seperti ini."
Habis sudah. Niat baik membawa Amira untuk mendapat pertolongan, justru malah kena semprot seperti ini. Zian tidak protes. Dia terus mendengarkan penjelasan dokter paruh baya tersebut.
"Maag?" Zian bergumam, menatap sekilas Amira yang masih terbaring di bangsal. Dia menghela napas kasar. Cukup banyak yang dokter sampaikan, dan Zian mengangguk berkali-kali seolah pesan untuk menjaga Amira benar-benar akan dia laksanakan.
"Dan, mohon kesabarannya untuk menunggu. Jangan disentuh dulu."
Terakhir, dokter itu menyampaikan pesan yang Zian angguki dengan mantap.
Tanpa diminta pun Zian tidak akan menyentuh gadis ini lagi. Cukup kejadian semalam saja yang menjadi kesalahan terakhirnya.
Zian merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu mengetik sesuatu dan mengirimnya pada salah satu kontak. Setelah itu, dia perlahan mendekati Amira.
Matanya terpejam, tapi bibirnya tampak berusaha mengucapkan sesuatu. Hingga Zian tertarik mendekatkan wajahnya, demi bisa mendengar ngigauan gadis itu.
"Ibu... tolong Amira."
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care