Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sedangkan di tempat lain, Aurel kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Mengantar Raka ke sekolah. Lalu berangkat ke kantor.
Bedanya, kali ini ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Saat melihat kolom status di aplikasi administrasi kantor yang sudah diperbarui, Aurel hanya tersenyum tipis. Kini, statusnya resmi berubah. Bukan lagi seorang istri. Melainkan seorang janda. Anehnya... Ia tidak merasa malu. Justru ada rasa lega yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Menjelang jam istirahat, beberapa rekan kerja mengajak Aurel makan siang bersama. Mereka memilih kantin kantor seperti biasa. Obrolan ringan mengalir dari pekerjaan hingga rencana akhir pekan.
Sampai akhirnya salah seorang rekan kerja, Sinta, bertanya, "Rel, kemarin kamu izin lagi ya? Sidang, kan?"
Aurel mengangguk. "Iya."
"Gimana hasilnya?"
Aurel tersenyum kecil. "Sudah selesai."
"Putusan cerainya sudah keluar."
Seketika meja makan menjadi sunyi. Beberapa rekan kerja saling berpandangan.
"Apa?"
"Kamu serius?"
"Kamu... cerai?"
Aurel mengangguk pelan. "Iya."
Semua terlihat benar-benar terkejut.
Selama ini, Aurel dikenal sebagai perempuan yang tenang. Tidak pernah mengumbar masalah pribadi. Kalau pun sedang sedih, ia tetap bekerja seperti biasa. Karena itulah, tidak ada seorang pun yang menyangka rumah tangganya sedang berada di ujung tanduk.
"Rel..."
"Maaf ya."
"Kami benar-benar nggak tahu."
Aurel hanya tersenyum. "Aku memang sengaja nggak cerita."
"Aku nggak mau masalah pribadiku mengganggu pekerjaan."
Rekan lainnya ikut bertanya dengan hati-hati.
"Kalau boleh tahu..."
"Kenapa sampai cerai?"
Aurel terdiam sesaat. Lalu menjawab singkat.
"Karena perselingkuhan."
Satu kalimat itu cukup membuat semua orang memahami. Tidak ada lagi pertanyaan yang berlebihan.
Sinta langsung menghela napas panjang.
"Kalau begitu..."
"Aku mendukung keputusanmu."
Rekan lain ikut mengangguk.
"Iya."
"Kalau kepercayaannya sudah hancur, memang sulit diperbaiki."
"Apalagi kalau perselingkuhannya sudah lama."
"Mempertahankan rumah tangga juga harus ada kemauan dari dua belah pihak."
Aurel mendengarkan semua itu dengan tenang. Ia tidak mencari pembenaran.
Namun mendengar dukungan dari teman-temannya membuat hatinya sedikit lebih ringan.
Salah satu rekan yang lebih senior tersenyum lembut.
"Rel."
"Status janda itu bukan aib."
"Yang penting kamu tetap menjadi ibu yang baik untuk Raka."
"Dan tetap menjadi dirimu sendiri."
Aurel mengangguk. "Terima kasih."
"Jujur..."
"Aku sempat takut orang-orang akan memandangku berbeda."
Sinta langsung menyenggol pelan lengan Aurel. "Yang salah itu yang selingkuh."
"Bukan yang memilih pergi setelah dikhianati."
Ucapan itu membuat beberapa rekan kerja lainnya ikut mengangguk.
"Benar."
"Kami justru salut."
"Nggak semua orang berani mengambil keputusan sebesar itu."
Aurel tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak semua masalah itu terbongkar, ia bisa berbicara tentang perceraiannya tanpa air mata. Mungkin lukanya memang belum sepenuhnya sembuh. Namun ia sudah tidak lagi merasa harus menyembunyikan kenyataan.
Sepulang dari kantin, langkah Aurel terasa lebih ringan. Ia sadar, menjadi janda bukanlah akhir dari hidupnya. Itu hanyalah awal dari babak baru.
Babak di mana ia tidak lagi hidup untuk mempertahankan pernikahan yang penuh kebohongan. Melainkan hidup untuk dirinya sendiri... dan untuk Raka, anak yang selalu menjadi alasan terbesarnya untuk tetap kuat.
Beberapa hari setelah putusan perceraian, Aurel akhirnya memberanikan diri kembali ke rumah yang dulu ia tempati bersama Mahesa.
Rumah itu tampak sama. Cat dindingnya masih berwarna krem. Tanaman di halaman masih tumbuh rapi. Bahkan keset di depan pintu masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan.
Namun... Rumah itu sudah tidak lagi terasa seperti rumah.
Aurel membuka pintu menggunakan kunci yang masih ia simpan.
Saat melangkah masuk, suasana sunyi langsung menyambutnya.
Ia berdiri beberapa saat di ruang tamu. Tatapannya berkeliling ke setiap sudut ruangan.
Di sofa itulah dulu mereka sering menonton televisi bertiga.
Di meja makan itu Raka pernah belajar mengeja huruf sambil ditemani ayahnya.
Di dapur itu pula, setiap pagi Aurel menyiapkan sarapan sebelum berangkat bekerja.
Begitu banyak kenangan. Baik maupun buruk.
Aurel mengembuskan napas panjang. "Sudah cukup." gumamnya pelan.
Ia tidak datang untuk mengenang masa lalu.
Ia datang untuk menutupnya.
Aurel mengambil beberapa kardus yang sudah disiapkan. Ia mulai memasukkan pakaian, dokumen penting, foto-foto Raka, serta barang-barang pribadi yang masih tertinggal.
Sesekali tangannya berhenti ketika menemukan benda-benda yang mengingatkannya pada Mahesa.
Seperti cangkir pasangan yang dulu mereka beli saat ulang tahun pernikahan. Bingkai foto keluarga. Dan jaket bengkel milik Mahesa yang masih tergantung di belakang pintu.
Aurel hanya memandang benda-benda itu beberapa detik. Lalu mengembalikannya ke tempat semula.
"Itu bukan milikku lagi."
Setelah hampir dua jam membereskan barang, rumah itu terasa semakin kosong.
Aurel duduk sejenak di ruang tamu. Matanya kembali menyapu seluruh ruangan. Dulu ia sempat bermimpi menjadi tua di rumah ini. Melihat Raka tumbuh dewasa. Menyambut cucu-cucunya berlarian di halaman. Namun semua rencana itu telah berubah.
Aurel tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Melainkan senyum seseorang yang akhirnya menerima kenyataan.
"Terima kasih..."
"Karena pernah menjadi tempat bahagiaku."
"Dan selamat tinggal." Ia berdiri, lalu mengangkat kardus terakhir menuju mobil.
Sebelum mengunci pintu, Aurel menatap rumah itu untuk terakhir kalinya. Ia sudah mengambil keputusan. Untuk sementara, ia akan tetap tinggal di rumah orang tuanya. Di sana ada ayah dan ibu yang selalu menguatkannya. Ada Raka yang setiap hari membutuhkan perhatian. Dan ada kehangatan keluarga yang selama ini membantunya bangkit.
Sedangkan rumah ini... Aurel tidak ingin membiarkannya kosong. Ia memutuskan untuk mengontrakkannya. Hasil uang kontrakan akan disimpan untuk masa depan Raka.
Baginya, rumah itu bukan lagi simbol kegagalan rumah tangga. Melainkan aset yang suatu hari nanti akan menjadi bekal bagi putranya.
Aurel mengunci pintu perlahan. Suara klik dari anak kunci terdengar sederhana. Namun baginya, itu seperti penutup dari satu bab kehidupan yang telah selesai. Ia kemudian berjalan menuju mobil tanpa menoleh lagi.
Hari itu, Aurel tidak hanya meninggalkan sebuah rumah. Ia juga meninggalkan seluruh harapan yang pernah ia gantungkan di dalamnya. Dan untuk pertama kalinya...Ia benar-benar melangkah menuju masa depan tanpa membawa bayang-bayang Mahesa di dalam hatinya.