NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Bab 12: Mas Bayu Sakit*

Tiga hari setelah live itu, Alya baru bisa tidur nyenyak.

Komentar di internet udah reda. Penjualan buku naik lagi.

Editor bahkan nambahin satu kota buat book tour.

Tapi kafe Senja terasa aneh.

Mas Bayu yang biasanya udah buka pintu jam 6 pagi, hari itu nggak muncul.

Jam 7 lewat, Alya nelpon. Nggak diangkat.

Jam 8, dia nyuruh karyawan buka kafe, terus langsung tancap gas ke rumah Mas Bayu di Kotagede.

Pintunya nggak dikunci.

Di dalam, Mas Bayu duduk di lantai ruang tamu, pegang dada, napas pendek-pendek.

Wajahnya pucat kayak kertas.

“Mas!” Alya lari, jongkok di sebelahnya.

“Jangan gerak. Aku panggil ambulans.”

Mas Bayu cuma geleng pelan. “Nggak usah… nggak usah heboh, Al.”

Tapi Alya udah nelpon 119.

10 menit kemudian, Mas Bayu dibawa ke RS Sardjito.

Diagnosa dokter: serangan jantung ringan. Stres, kurang tidur, dan nggak pernah periksa.

“Kafe itu udah kayak anak ketiga saya, Al,” kata Mas Bayu waktu sadar di ruang rawat.

“Nggak bisa ditinggal. Kalau ditinggal, dia mati.”

Alya duduk di pinggir ranjang, genggam tangan Mas Bayu yang keriput.

“Kalau Mas mati, kafe itu juga mati buat aku.”

Mas Bayu ketawa pelan, napasnya masih berat.

“Lebaay. Kamu bisa jalanin sendiri. Kamu udah kuat.”

Alya nggak jawab. Dia nggak merasa kuat sama sekali.

---

Kafe Senja tutup 2 hari.

Papan _‘Tutup Sementara’_ digantung di pintu.

Pembeli yang biasa nongkrong bingung, nanya-nanya di DM Instagram.

Alya ngurusin semua dari rumah sakit.

Transfer gaji karyawan, bales chat supplier, ngomong sama bank soal cicilan mesin kopi.

Dia nggak pernah tahu kalau jalanin kafe itu seribet ini.

Malam hari kedua, Revan video call dari Bali.

Wajahnya kusut. Kayaknya baru turun dari pesawat.

“Gue baru denger dari karyawan. Mas Bayu gimana?”

Alya nunjuk layar ke ranjang. Mas Bayu tidur, selang oksigen masih nempel.

“Stabil. Tapi dokter bilang nggak boleh capek 1 bulan ke depan.”

Revan diem lama.

“Terus kafenya?”

Alya ngelirik ke luar jendela. Hujan lagi.

“Gue nggak tahu, Van. Gue bisa jaga 2 minggu. Tapi abis itu gue harus ke Jakarta buat book tour.

Kalau kafe tutup, Mas Bayu hancur. Kalau kafe buka, Mas Bayu nggak bakal sembuh.”

Revan ngangguk pelan.

“Lo nggak sendiri, Al. Gue balik besok.”

“Lo baru 5 hari di Bali,” protes Alya.

“Dan lo nggak jadi Head Barista di sana?”

Revan ketawa kecil.

“Gue tolak. Gue bilang, kafe gue di Jogja lagi butuh gue.”

Alya ngerasa ada yang anget di dada.

“Van…”

“Udah. Tidur. Gue pesen tiket malam ini. Besok gue jaga kafe. Lo jaga Mas Bayu.”

---

Besoknya, Revan beneran datang.

Bawa koper kecil, kaos basah karena hujan, dan senyum lelah.

Dia langsung masuk dapur, nyalain mesin kopi, ngomong sama karyawan kayak dia nggak pernah pergi.

Mas Bayu yang denger dari HP Alya cuma ngangguk-angguk di ranjang.

“Anak itu… keras kepala kayak keledai,” gumamnya.

“Tapi keledai yang setia.”

Alya duduk di sebelahnya, ketawa pelan.

“Mas, jangan ngomong gitu. Nanti dia denger.”

“Bagus kalau denger,” jawab Mas Bayu.

“Supaya dia tahu, gue nggak salah milih orang buat jaga kafe ini.”

---

Hari kelima, kafe buka lagi.

Revan yang jaga bar. Alya yang jaga kasir dan meja 7.

Pelanggan yang tahu kabar Mas Bayu pada dateng, bawa buah, bawa kartu ucapan.

Di dinding kafe, ada satu kertas A4 ditempel pakai lakban.

Tulisannya pakai spidol hitam, tulisan tangan Mas Bayu:

> _Kafe ini mungkin kecil.

> Tapi di sini, orang-orang belajar buat nggak kabur lagi.

> Termasuk gue.

> —Bayu_

Alya baca itu sambil lap meja 7.

Tiba-tiba dia ngerti kenapa Mas Bayu nggak mau kafe ini mati.

Bukan soal uang.

Tapi soal tempat ini yang jadi rumah terakhir buat orang-orang yang nggak punya tempat pulang.

Malam itu, Mas Bayu pulang.

Dokter izinin rawat jalan.

Dia duduk di meja 7, minum wedang jahe, liatin Alya dan Revan yang lagi beresin meja.

“Kalian tahu nggak,” katanya pelan.

“Dulu waktu bini gue meninggal, gue mau jual kafe ini.

Tapi ada satu anak muda yang bilang, ‘Mas, jangan jual. Di sini orang bisa ketemu lagi.’

Itu Dara.”

Alya berhenti lap.

Revan juga diem.

“Jadi kalau sekarang kafe ini selamat, itu karena kalian berdua.

Karena kalian nggak kabur kayak gue dulu.”

Mas Bayu angkat gelasnya.

“Buat meja 7. Buat orang-orang yang milih tinggal.”

Alya dan Revan angkat gelas kopi dingin mereka.

“Buat meja 7.”

---

Malam itu, Alya pulang jam 11 malam.

Di jalan, dia nerima email dari editor.

Subject: _Update Book Tour Jakarta_

Di dalamnya cuma satu baris:

_“Kita tambah 1 sesi: Talkshow ‘Jujur Itu Berat, Tapi Ringan’. Pembicaranya kamu.”_

Alya baca itu sambil senyum.

Dia balas singkat:

_“Siap. Tapi aku bakal pulang sebelum kafe tutup.”_

---

*[Bersambung:

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Febriana Hanifah: huaaa maaf ya qhaqha ceritanya melow 🥺
total 1 replies
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!