Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Nama yang Mulai Terungkap
Malam itu, Nara tidak bisa tidur.
Ucapan Damar terus terngiang di kepalanya.
> "Aku menerima ancaman."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun dampaknya jauh lebih besar dari yang ingin ia akui.
Selama ini, penyelidikan tentang masa lalu ayahnya terasa seperti sesuatu yang jauh.
Seperti cerita lama yang perlahan dibuka kembali.
Tapi sekarang berbeda.
Ancaman itu membuktikan satu hal.
Ada seseorang yang masih aktif bergerak.
Seseorang yang takut rahasia tersebut terbongkar.
---
Pagi harinya, Nara datang ke kantor lebih awal.
Ia berharap bisa fokus bekerja.
Namun pikirannya terus melayang.
Bahkan saat sedang memeriksa laporan proyek, ia membaca angka yang sama berulang kali tanpa benar-benar memahami isinya.
---
"Nara."
Suara Siska membuatnya tersentak.
---
"Kamu kenapa akhir-akhir ini?"
tanya sahabatnya.
---
"Kelihatan banget ya?"
---
"Banget."
jawab Siska tanpa ragu.
---
Nara tersenyum lemah.
---
"Aku hanya sedikit lelah."
---
Siska menghela napas.
---
"Kamu tahu aku tidak akan memaksa kalau kamu belum mau cerita."
---
Nara menatap sahabatnya.
---
"Tapi jangan memikul semuanya sendirian."
---
Kalimat itu membuat dada Nara menghangat.
---
Kadang ia lupa bahwa tidak semua orang akan meninggalkannya saat masalah datang.
---
Di lantai atas.
Damar sedang menerima laporan dari Raka.
---
"Kita berhasil melacak sebagian aktivitas nomor itu."
ucap Raka.
---
Damar langsung mengangkat kepala.
---
"Hasilnya?"
---
"Pengirimnya sangat hati-hati."
---
Raka meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja.
---
"Tapi ada satu nama yang muncul berulang kali."
---
Tatapan Damar berubah serius.
---
"Siapa?"
---
Raka menarik napas.
---
"Surya Mahendra."
---
Ruangan langsung sunyi.
---
Nama itu kembali muncul.
---
Nama yang disebut Adrian.
Nama yang ada dalam foto lama.
Dan sekarang muncul dalam hasil pelacakan ancaman.
---
Terlalu banyak kebetulan.
---
"Apa yang kau temukan tentang dia?"
tanya Damar.
---
Raka membuka berkas.
---
"Pengusaha."
---
"Berpengaruh."
---
"Pernah menjadi rekan bisnis ayahmu."
---
Jantung Damar berdetak lebih cepat.
---
"Lalu?"
---
"Dia menghilang dari dunia bisnis sekitar lima belas tahun lalu."
---
"Menghilang?"
---
Raka mengangguk.
---
"Seolah menutup semua jejak."
---
Damar bersandar di kursinya.
---
Semakin banyak fakta yang muncul.
Semakin gelap gambaran yang terbentuk.
---
Sore harinya.
Nara menerima pesan dari Adrian.
---
> Datang ke kantorku.
Aku menemukan sesuatu tentang Surya Mahendra.
---
Setengah jam kemudian, ia sudah berada di sana.
---
Adrian terlihat lebih lelah dibanding biasanya.
---
Beberapa map dan dokumen memenuhi meja kerjanya.
---
"Ada perkembangan?"
tanya Nara.
---
Adrian mengangguk.
---
"Lumayan besar."
---
Ia menyerahkan sebuah foto lama.
---
Foto itu diambil di depan sebuah gedung perkantoran.
---
Empat pria berdiri berdampingan.
---
Ayah Nara.
Ayah Damar.
Adrian.
Dan Surya Mahendra.
---
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
---
Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan.
---
Nara membacanya perlahan.
---
> Empat sahabat.
Membangun masa depan bersama.
---
Tubuhnya langsung merinding.
---
"Jadi mereka memang sangat dekat."
gumamnya.
---
Adrian mengangguk pelan.
---
"Sangat dekat."
---
"Lalu apa yang terjadi?"
---
Untuk sesaat, pria itu terdiam.
---
Seolah sedang memutuskan seberapa banyak yang harus ia ungkapkan.
---
"Keserakahan."
jawabnya akhirnya.
---
Nara membeku.
---
"Apa maksud Bapak?"
---
"Perusahaan yang kami bangun bersama berkembang sangat cepat."
---
Tatapan Adrian berubah jauh.
Seolah kembali ke masa lalu.
---
"Lalu uang mulai mengubah banyak hal."
---
Keheningan memenuhi ruangan.
---
"Ayahmu mulai menemukan sesuatu yang tidak beres."
lanjut Adrian.
---
"Sesuatu yang berkaitan dengan laporan keuangan."
---
Nara menahan napas.
---
"Dan Surya?"
---
"Itulah masalahnya."
---
Adrian menatap foto itu.
---
"Semua petunjuk mengarah kepadanya."
---
Dunia Nara terasa semakin sempit.
---
Jika Surya benar-benar terlibat...
Maka kemungkinan besar ayahnya dihancurkan karena mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui.
---
Sementara itu.
Di kantor.
Bianca tanpa sengaja mendengar percakapan dua staf senior.
---
Mereka sedang membicarakan audit.
---
Dan nama Surya Mahendra disebut.
---
Bianca langsung memperhatikan.
---
Karena nama itu tidak asing lagi.
---
Beberapa hari terakhir ia terus mendengarnya.
---
Setelah kedua staf pergi, Bianca diam-diam mencari informasi sendiri.
---
Namun semakin banyak yang ia baca.
Semakin tidak nyaman perasaannya.
---
Karena nama Surya ternyata pernah terkait dengan beberapa skandal bisnis lama.
---
Dan salah satu perusahaan yang pernah bekerja sama dengannya adalah...
Grup Wijaya.
---
Malam itu.
Damar memutuskan pulang lebih larut.
---
Ia kembali memeriksa kotak kayu peninggalan ayahnya.
---
Perasaannya mengatakan masih ada sesuatu yang terlewat.
---
Dan firasatnya benar.
---
Di bagian dasar kotak terdapat lapisan ganda yang hampir tidak terlihat.
---
Setelah dibuka, sebuah kunci kecil muncul.
---
Damar mengernyit.
---
"Kunci apa ini?"
gumamnya.
---
Tak ada petunjuk.
Tak ada label.
---
Hanya sebuah kunci tua berwarna perak.
---
Namun satu hal langsung ia sadari.
---
Ayahnya sengaja menyembunyikannya.
---
Berarti benda itu penting.
---
Sangat penting.
---
Di tempat lain.
Seseorang sedang membaca laporan terbaru.
---
Laporan yang berisi nama Nara.
Damar.
Dan Adrian.
---
Pria itu tersenyum tipis.
---
"Mereka menemukan Surya."
gumamnya.
---
Tidak ada kepanikan di wajahnya.
---
Justru sebaliknya.
---
Ia terlihat tenang.
---
Karena masih ada satu rahasia yang belum diketahui siapa pun.
---
Rahasia yang jauh lebih besar daripada Surya Mahendra.
---
Sebuah rahasia yang mampu menghancurkan dua keluarga sekaligus.
---
Keesokan paginya.
Nara baru saja tiba di kantor ketika ponselnya berdering.
---
Nomor tidak dikenal.
---
Awalnya ia ingin mengabaikannya.
Namun entah kenapa ia mengangkat panggilan tersebut.
---
"Halo?"
---
Tidak ada jawaban.
---
Hanya suara napas.
---
Nara langsung merasakan firasat buruk.
---
"Halo?"
ulangnya.
---
Beberapa detik berlalu.
---
Lalu sebuah suara berat terdengar.
---
"Berhenti mencari tahu tentang Surya Mahendra."
---
Tubuh Nara langsung membeku.
---
Si penelepon melanjutkan.
---
"Kalau tidak..."
---
Suaranya terdengar dingin.
Sangat dingin.
---
"...kau akan bernasib sama seperti ayahmu."
---
Panggilan langsung terputus.
---
Ponsel di tangan Nara hampir terjatuh.
---
Darahnya terasa dingin.
---
Karena untuk pertama kalinya...
Seseorang menyebut ayahnya secara langsung.
---
Dan itu berarti satu hal.
---
Mereka semakin dekat dengan kebenaran.
---
Namun di saat yang sama...
Mereka juga semakin dekat dengan bahaya.
---
Sementara di ruang kerjanya, Damar menerima pesan dari Adrian.
---
> Kita harus bertemu malam ini.
Aku tahu siapa yang terakhir bertemu Arman sebelum semuanya hancur.
---
Tatapan Damar langsung menajam.
---
Karena jika informasi itu benar...
Maka mereka akhirnya akan menemukan orang yang mungkin menjadi kunci dari seluruh misteri ini.
Bersambung ke Bab 28