NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Bunga dari Jenna’s Bloom Café

Setelah hampir tiga puluh menit duduk di meja dekat rak lavender, Shaka akhirnya berdiri.

Rafa yang sedang menghabiskan potongan terakhir chicken pastry langsung mengangkat wajah. Matanya menyipit curiga ketika melihat arah langkah Shaka.

“Ke mana?”

“Beli bunga.”

Rafa tersenyum lebar. “Untuk Mama Aruna?”

Shaka tidak menoleh. “Iya.”

“Yakin cuma untuk Mama Aruna?”

Shaka berhenti sebentar, menatap Rafa dengan wajah datar.

“Kalau masih mau ikut, diam.”

Rafa mengangkat kedua tangannya. “Siap. Gue diam.”

Namun baru tiga langkah mengikuti Shaka menuju bagian toko bunga, Rafa kembali bergumam pelan.

“Tapi diam bukan berarti gue nggak menilai.”

Shaka mengabaikannya.

Bagian toko bunga berada di sisi kanan kafe, sedikit terpisah dari area tempat duduk. Rak-rak kayu tersusun rapi dengan berbagai jenis bunga segar. Ember-ember besi berisi mawar, lily, tulip, carnation, baby’s breath, eucalyptus, dan hydrangea memenuhi sudut ruangan dengan warna-warna lembut yang menenangkan.

Di balik meja rangkai bunga, Jenna sedang membantu Naya menyiapkan pesanan pelanggan. Tangannya memegang beberapa tangkai mawar putih, sementara Naya sibuk memilih pita di laci bawah.

Ketika Jenna menyadari ada pelanggan mendekat, ia segera meletakkan bunga yang sedang ia pegang, lalu menoleh dengan ramah.

“Selamat sore,” ucapnya lembut. “Ada yang bisa saya bantu?”

Shaka berhenti tepat di hadapannya.

Jarak mereka kini jauh lebih dekat dibandingkan saat hanya saling melihat dari meja kafe.

Dan untuk beberapa detik, Shaka lupa pada kalimat yang sudah ia siapkan.

Matanya bertemu lagi dengan mata Jenna.

Dari dekat, mata itu jauh lebih jelas. Cokelat terang, teduh, dan tenang. Tidak tajam seperti orang yang ingin menilai. Tidak gelisah seperti orang yang berusaha menyembunyikan sesuatu. Mata itu justru terlihat jernih, seperti permukaan teh hangat yang belum disentuh.

Kulit di sekitar matanya putih bersih, seputih susu, membuat warna cokelat matanya tampak semakin lembut. Cadar yang menutupi sebagian besar wajahnya tidak membuatnya terlihat jauh. Justru bagi Shaka, itu membuatnya semakin sulit ditebak.

Ia pernah melihat banyak wajah cantik.

Tetapi baru kali ini ia dibuat diam hanya karena sepasang mata.

Rafa yang berdiri sedikit di belakangnya menahan senyum.

Jenna menunggu dengan sabar. Karena pelanggan di depannya tidak segera bicara, ia bertanya lagi dengan suara lebih pelan.

“Kakak ingin membeli buket bunga?”

Shaka tersadar.

“Iya.”

Suaranya terdengar lebih rendah dari biasa.

Jenna mengangguk kecil. “Untuk acara tertentu, Kak? Ulang tahun, ucapan selamat, atau mungkin hadiah untuk seseorang?”

“Untuk Mama saya.”

Mata Jenna tampak melengkung lembut.

“Masyaallah. Kalau untuk ibu, biasanya bunga dengan warna hangat dan lembut lebih cocok. Apakah ibu Kakak menyukai bunga tertentu?”

Shaka diam sejenak.

Ia tahu ibunya menyukai banyak bunga. Namun saat itu, pikirannya terlalu sibuk memperhatikan cara Jenna berbicara. Lembut, sopan, dan tidak berlebihan. Ia tidak terdengar seperti sedang menjual sesuatu. Ia terdengar seperti benar-benar ingin membantu.

“Beliau suka lily,” jawab Shaka akhirnya.

Jenna mengangguk. “Lily putih bisa jadi pilihan yang bagus. Kita bisa padukan dengan mawar krem dan baby’s breath. Kesan buketnya akan elegan, bersih, dan tetap hangat.”

“Boleh.”

“Untuk ukuran buketnya mau yang sedang atau besar, Kak?”

“Besar.”

Rafa langsung tersenyum miring di belakang Shaka.

Jenna tidak menyadari itu. Ia mulai memilih bunga dengan hati-hati. Naya yang berdiri di sampingnya ikut membantu mengambil beberapa tangkai lily putih dari ember bunga.

“Pakai wrapping warna apa, Kak?” tanya Jenna.

“Terserah.”

Jenna menoleh sebentar. “Kalau untuk ibu, saya sarankan warna krem atau putih gading. Tidak terlalu mencolok, tapi tetap cantik.”

“Pakai yang menurut kamu bagus.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Jenna sempat terdiam sepersekian detik. Bukan karena kalimatnya aneh, tetapi karena cara Shaka mengatakannya terdengar lebih personal daripada sekadar percakapan pelanggan dan penjual.

Namun Jenna tetap menjaga sikap.

“Baik, Kak. Saya pilihkan yang paling cocok.”

Shaka mengangguk singkat.

Ia memperhatikan Jenna mulai merangkai bunga. Gerakan tangannya rapi dan tenang. Setiap tangkai dipotong, disusun, lalu diputar sedikit agar posisinya seimbang. Ia tidak tergesa-gesa meski kafe sedang ramai.

Rafa mendekat ke sisi Shaka, lalu berbisik, “Lo kelihatan kayak orang lagi lihat karya seni.”

Shaka tidak mengalihkan pandangan dari buket yang sedang dibuat.

“Diam.”

“Gue cuma observasi.”

“Observasi lo berisik.”

Rafa terkekeh pelan.

Jenna mendengar sedikit suara mereka, tetapi ia tidak menanggapi. Ia tetap fokus menyelesaikan buket. Setelah bunga tersusun indah, ia membungkusnya dengan kertas warna putih gading dan krem, lalu mengikatnya dengan pita satin.

“Sudah selesai, Kak.”

Jenna mengangkat buket itu dengan kedua tangan, lalu menyerahkannya kepada Shaka.

“Semoga ibu Kakak suka.”

Shaka menerima buket itu.

Untuk sesaat, jari mereka hampir bersentuhan. Tidak benar-benar bersentuhan, tetapi cukup dekat untuk membuat Shaka menyadari sesuatu yang tidak ingin ia sadari: ia terlalu memperhatikan hal kecil dari perempuan ini.

“Terima kasih,” ucapnya.

“Sama-sama, Kak.”

Jenna menundukkan kepala sedikit, sopan.

Alya dari kasir memanggil, “Kak Jenna, pembayaran bisa di kasir sini.”

Shaka menoleh ke arah kasir, lalu berjalan ke sana. Rafa mengikuti dengan wajah sangat menikmati situasi.

Setelah pembayaran selesai, Shaka dan Rafa keluar dari kafe.

Bel kecil di atas pintu berbunyi ketika mereka melangkah keluar. Udara sore menyambut mereka dengan lembut. Jalanan mulai ramai oleh kendaraan pulang kerja. Di tangan Shaka, buket lily putih dan mawar krem tampak terlalu lembut untuk seseorang dengan wajah sedingin dirinya.

Rafa tidak mampu menahan diri lebih lama.

“Gila.”

Shaka berjalan menuju mobilnya. “Apa?”

“Lo parah.”

“Gue cuma beli bunga.”

“Beli bunga, tapi mata lo kayak orang nemu jawaban hidup.”

Shaka membuka kunci mobilnya. “Dramatis.”

“Dramatis itu lo. Katanya nggak tertarik. Katanya cuma mau lihat tempatnya. Tahu-tahu beli buket besar dan bilang, ‘Pakai yang menurut kamu bagus.’”

Rafa menirukan suara Shaka dengan nada berat yang dibuat-buat.

Shaka menatapnya tajam. “Lo mau pulang atau mau gue tinggal?”

“Gue bawa mobil sendiri, Bos. Lo nggak bisa ninggalin gue.”

Shaka mendengus.

Rafa bersandar sebentar di pintu mobilnya, masih dengan senyum jahil.

“Ka, jujur aja. Jenna menarik, kan?”

Shaka diam.

Itu bukan pertanyaan sulit.

Justru terlalu mudah dijawab, dan karena itu ia enggan menjawabnya.

Rafa mengangguk sendiri. “Diam berarti iya.”

“Jangan menyimpulkan sendiri.”

“Gue bukan menyimpulkan. Gue membaca ekspresi manusia es yang mulai retak.”

Shaka masuk ke mobilnya tanpa membalas.

Rafa tertawa dari luar. “Sampai rumah, jangan mimpiin mata cokelat terang itu!”

Pintu mobil Shaka tertutup cukup keras.

Rafa tertawa semakin puas, lalu masuk ke mobilnya sendiri.

Mereka pulang menggunakan mobil masing-masing. Rafa melaju lebih dulu, masih sempat membunyikan klakson pendek dengan gaya mengejek. Shaka hanya menatapnya datar dari balik kaca depan.

Namun setelah mobil Rafa menghilang di belokan, Shaka menunduk sedikit, melirik buket bunga di kursi penumpang.

Bunga itu harum.

Lembut.

Dan entah mengapa, aromanya mengingatkannya pada suara Jenna.

Shaka segera mengalihkan pandangan ke jalan.

“Tidak penting,” gumamnya pada diri sendiri.

Tetapi sepanjang perjalanan pulang, ia gagal mengusir bayangan mata cokelat terang itu dari pikirannya.

 

Kediaman keluarga Kalandra tampak hangat ketika Shaka tiba.

Lampu taman sudah menyala. Beberapa pekerja rumah menyambutnya dengan sopan ketika ia masuk melalui pintu utama. Shaka menyerahkan kunci mobil kepada salah satu staf, lalu berjalan ke ruang keluarga sambil membawa buket bunga.

Di ruang tengah, Aruna sedang duduk di sofa sambil membaca majalah interior. Begitu melihat Shaka masuk membawa bunga, wajahnya langsung berubah cerah.

“Shaka?”

Shaka mendekat, lalu menyerahkan buket itu kepada ibunya.

“Untuk Mama.”

Aruna menerima buket itu dengan kedua tangan. Matanya langsung berkaca-kaca, seperti biasa setiap kali Shaka membelikannya bunga.

“Ya Allah, cantik sekali.” Aruna mencium aroma lily putih dalam buket itu. “Kamu ini, Nak. Pulang kerja masih sempat beli bunga untuk Mama.”

Shaka duduk di sofa seberang ibunya. “Kebetulan lewat.”

Aruna menatapnya dengan senyum lembut.

Ia tahu putranya bukan tipe laki-laki yang pandai mengungkapkan sayang dengan kata-kata. Shaka jarang berkata manis, jarang memeluk lebih dulu, jarang menunjukkan perasaan secara terbuka. Tetapi ia selalu punya caranya sendiri.

Membelikan bunga.

Mengganti obat ayahnya sebelum habis.

Memastikan jadwal kontrol kesehatan ibunya tidak terlewat.

Pulang untuk makan malam, sesibuk apa pun harinya.

Itulah bahasa cinta Shaka.

“Dari toko bunga mana?” tanya Aruna sambil masih memandangi buket itu.

Shaka menjawab tanpa berpikir panjang.

“Jenna’s Bloom Café.”

Satu detik.

Dua detik.

Ruang keluarga mendadak terasa terlalu hening.

Shaka baru menyadari kesalahannya ketika senyum di wajah Aruna perlahan melebar.

Ia mengangkat wajah dan menatap ibunya.

“Mama.”

Aruna memeluk buket itu di dadanya, matanya berbinar penuh kemenangan.

“Jadi kamu dari kafe Jenna?”

Shaka mengalihkan pandangan. “Kebetulan dekat kantor.”

“Kantor kamu di Sudirman, kafe Jenna di daerah yang berbeda arah dari rumah kita. Jangan coba-coba bohong sama Mama.”

Shaka terdiam.

Aruna tampak semakin senang.

“Katanya tidak tertarik.”

“Memang tidak.”

“Tidak tertarik, tapi diam-diam pergi ke kafenya?”

“Aku cuma ingin lihat.”

“Lihat apa?”

Shaka menatap ibunya datar. “Tempatnya.”

Aruna tertawa kecil.

“Tempatnya atau orangnya?”

“Mama.”

“Baik, baik. Mama tidak menggoda.” Aruna mencoba menahan senyum, tetapi gagal. “Tapi Mama ingin tahu. Bagaimana menurutmu tentang Jenna?”

Shaka tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak.

Ia bisa saja berkata biasa saja. Ia bisa saja berkata tidak ada yang istimewa. Ia bisa saja kembali memasang dinding dan menolak membicarakannya.

Namun ia tahu, ia akan berbohong.

Karena Jenna memang tidak biasa.

Setidaknya bagi pikirannya yang sejak tadi terlalu sulit diam.

“Dia…” Shaka berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “Sopan.”

Aruna menunggu.

“Lembut,” lanjut Shaka, lebih pelan.

Senyum Aruna melembut. “Lalu?”

Shaka menatap buket bunga di pangkuan ibunya.

“Dia terlihat serius dengan pekerjaannya.”

Aruna mengangguk pelan. “Mama juga melihat itu.”

“Dia memperlakukan pelanggan dengan baik. Karyawannya juga terlihat nyaman dengannya.”

Aruna menatap putranya lebih dalam.

“Berarti kamu memperhatikannya cukup lama.”

Shaka langsung diam.

Aruna tertawa kecil lagi.

“Shaka, Mama senang kamu mau melihat sendiri. Setidaknya sekarang kamu tahu Mama tidak asal memilih.”

“Aku belum bilang setuju.”

“Mama tahu.”

“Aku juga belum bilang mau dijodohkan.”

“Mama tahu.”

Shaka menatap ibunya curiga. “Tapi ekspresi Mama tidak seperti orang yang tahu.”

Aruna tersenyum penuh rahasia.

“Karena Mama punya kabar lain.”

Shaka merasa firasat buruk mulai datang.

“Apa?”

Aruna meletakkan buket bunga di meja dengan hati-hati, lalu duduk lebih tegak.

“Malam ini, kita akan mengunjungi rumah keluarga Nirankara.”

Wajah Shaka langsung mengeras.

“Malam ini?”

“Iya. Mama sudah menghubungi Bu Zahra. Mereka menerima kita dengan baik.”

Shaka menatap ibunya tidak percaya.

“Mama serius?”

“Sangat serius.”

“Tanpa bicara dulu denganku?”

“Kemarin kamu sudah bilang bersedia bertemu satu kali.”

“Aku bilang bertemu. Bukan langsung malam ini.”

Aruna tetap tenang. “Justru lebih cepat lebih baik. Kita hanya silaturahmi.”

Shaka menyipitkan mata. “Hanya silaturahmi?”

Aruna diam sebentar.

Terlalu sebentar untuk menyembunyikan sesuatu.

“Sekaligus mengajukan niat baik.”

“Ma.”

“Lamaran,” ucap Aruna akhirnya dengan suara lebih pelan, tetapi jelas. “Papa, Mama, dan kamu akan datang malam ini untuk bersilaturahmi sekaligus mengajukan lamaran untuk Jenna.”

Shaka berdiri dari sofa.

“Tidak.”

Aruna menatapnya.

“Shaka—”

“Aku belum mengenalnya.”

“Itulah gunanya proses setelah lamaran. Kita tidak langsung menentukan tanggal pernikahan besok pagi.”

“Lamaran bukan hal kecil, Ma.”

“Mama tahu.”

“Kalau Mama tahu, kenapa tetap secepat ini?”

Aruna ikut berdiri. Wajahnya masih lembut, tetapi matanya mulai serius.

“Karena Mama tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengenal perempuan baik hanya karena kamu terlalu takut membuka pintu.”

Shaka terdiam.

Kalimat itu menusuk tepat ke tempat yang paling ia jaga.

“Aku bukan takut.”

“Lalu apa?” tanya Aruna pelan. “Kalau bukan takut, kenapa kamu selalu menolak bahkan sebelum mencoba?”

Shaka memalingkan wajah.

Aruna menarik napas, lalu mendekat kepada putranya.

“Mama tidak memaksamu mencintai Jenna hari ini. Mama juga tidak memaksamu menikah dengannya tanpa proses. Tapi Mama ingin kamu memberi kesempatan. Bukan untuk Mama. Bukan untuk Papa. Untuk dirimu sendiri.”

Shaka menutup rahangnya rapat.

Di saat itu, Aditya masuk ke ruang keluarga. Rupanya ia sudah mendengar sebagian pembicaraan mereka.

“Shaka,” ucap Aditya tenang.

Shaka menoleh.

Aditya berjalan mendekat, lalu berdiri di samping Aruna.

“Kita datang malam ini dengan cara baik. Kalau keluarga Nirankara menerima, prosesnya tetap akan melibatkan persetujuan Jenna dan persetujuanmu. Tidak ada yang akan dipaksa.”

“Papa setuju dengan ini?” tanya Shaka.

“Papa setuju untuk mencoba jalan yang baik dengan keluarga yang baik.”

Shaka menatap kedua orang tuanya bergantian.

Ia bisa menolak.

Ia punya hak untuk menolak.

Namun wajah Aruna yang penuh harap dan tatapan Aditya yang tenang membuat kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Ia menyayangi mereka.

Terlalu menyayangi mereka sampai terkadang sulit membedakan mana keputusan yang benar-benar ia ambil untuk dirinya sendiri dan mana yang ia ambil karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya.

Shaka menghela napas panjang.

“Kalau aku datang malam ini,” katanya rendah, “bukan berarti aku setuju.”

Aruna langsung mengangguk. “Mama paham.”

“Bukan berarti aku menerima lamaran ini.”

“Iya.”

“Dan kalau nanti Jenna menolak, jangan paksa dia.”

Aruna tersenyum lembut.

“Justru Mama akan lebih menyukai dia kalau dia berani punya keputusan sendiri.”

Shaka terdiam.

Entah kenapa, bagian terakhir itu membuatnya sedikit tenang.

Aditya menepuk bahu putranya.

“Bersiaplah. Kita berangkat setelah Magrib.”

Shaka mengangguk singkat, lalu berjalan meninggalkan ruang keluarga.

Namun sebelum naik ke tangga, ia sempat berhenti.

Matanya melirik buket bunga yang kini berada di meja ruang keluarga.

Buket dari Jenna’s Bloom Café.

Buket yang dirangkai langsung oleh tangan Jenna.

Malam ini, ia akan datang ke rumah perempuan itu.

Bukan sebagai pelanggan.

Bukan sebagai pengamat.

Melainkan sebagai laki-laki yang keluarganya hendak meminta dirinya menjadi bagian dari hidup perempuan itu.

Shaka mengencangkan rahangnya.

Ia belum percaya cinta.

Belum percaya janji.

Belum percaya bahwa seseorang bisa datang tanpa membawa luka baru.

Namun wajah Jenna yang tertutup cadar, mata cokelatnya yang tenang, dan suaranya yang lembut saat berkata semoga ibu Kakak suka kembali terlintas begitu saja.

Untuk pertama kalinya, Shaka tidak tahu apakah rasa tidak nyaman di dadanya berasal dari penolakan.

Atau dari rasa penasaran yang semakin sulit ia sembunyikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!