NovelToon NovelToon
Teknisi Rendahan Sebenarnya Dewa Perang

Teknisi Rendahan Sebenarnya Dewa Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Plak!

​Sebuah tamparan keras menggema dengan jelas di tengah lobi utama kantor Grup Rajawali yang sibuk.

​"Mulai hari ini kita putus, Devan!" teriak Siska dengan wajah memerah karena marah.

​Devan hanya berdiri diam sambil memegang pipi kirinya yang terasa sedikit panas.

​Pria dengan seragam petugas kebersihan itu menatap wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun ini dengan tatapan datar.

​"Bisa kamu jelaskan kenapa mendadak seperti ini, Siska?" tanya Devan dengan nada suara yang anehnya sangat tenang dan stabil.

​"Apanya yang mendadak? Aku sudah sangat muak melihatmu terus-terusan menjadi pesuruh rendahan di kantor ini!" jawab Siska sambil melipat kedua tangannya di dada.

​"Aku ini butuh pria yang bisa menjamin masa depanku, bukan pria pecundang yang bahkan tidak sanggup membelikan sepotong gaun bagus untukku." lanjut wanita itu dengan nada yang sangat mengejek.

​Dari arah belakang Siska, perlahan muncul seorang pria berjas rapi yang menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

​Itu adalah Riko, seorang Manajer Pemasaran di perusahaan ini yang memang terkenal sering memanfaatkan jabatannya untuk merayu wanita.

​"Kamu dengar sendiri kan apa kata Siska, Devan? Wanita cantik seperti dia pantas mendapatkan pria mapan sepertiku." ucap Riko dengan bangga sambil merangkul pinggang ramping Siska.

​Siska sama sekali tidak menolak rangkulan itu, dia justru bersandar dengan manja di bahu Riko di depan mata Devan.

​"Lagipula, ibuku sekarang butuh biaya operasi jantung puluhan juta, apa kamu sanggup membayarnya dengan gaji kebersihanmu yang menyedihkan itu?" tambah Siska sambil mendengus sinis.

​Devan menarik napas panjang mendengar ucapan wanita di hadapannya.

​"Siska, tadi subuh aku baru saja mentransfer uang sebesar lima puluh juta ke rekeningmu untuk biaya penuh rumah sakit ibu." ucap Devan pelan.

​Mendengar ucapan Devan, Siska sempat terdiam dan terkejut sesaat sebelum akhirnya tawanya meledak.

​"Lima puluh juta? Kamu sedang bermimpi atau mabuk? Uang dari mana pria miskin sepertimu bisa memiliki lima puluh juta?" tawa Siska menggema dengan sangat meremehkan.

​"Kalaupun kamu benar mentransfernya, anggap saja uang itu sebagai biaya ganti rugi karena kamu sudah membuang masa mudaku selama dua tahun ini!" lanjut Siska tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.

​Devan hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

​"Bahkan seekor anjing jalanan pun tahu cara berterima kasih setelah diberi makan," batin Devan dalam hati.

​Dia sama sekali tidak merasa sedih atau ingin menangis, dia hanya merasa kecewa karena pengorbanannya menyamar menjadi orang biasa ternyata dibalas dengan pengkhianatan murahan.

​Selama dua tahun terakhir ini, dia sengaja membuang identitas lamanya dan hidup miskin demi menghindari radar musuh-musuh internasionalnya.

​Tapi sepertinya hidup damai memang hal yang paling mustahil didapatkan oleh seorang mantan Dewa Perang.

​Ting!

​Tiba-tiba, suara mekanik yang sangat familiar berdenging nyaring di dalam kepala Devan.

​[Peringatan: Deteksi pengkhianatan dan fluktuasi emosi target.]

​[Sistem Kehidupan Damai gagal dipertahankan.]

​[Sistem Dewa Perang diaktifkan kembali secara paksa.]

​[Misi Utama Baru: Berhenti menjadi pecundang dan hancurkan harga diri orang-orang yang merendahkan Anda.]

​[Hadiah Penyelesaian: Pembukaan segel kekuatan fisik tahap pertama.]

​Devan menatap kosong layar biru transparan yang melayang di depan matanya itu.

​Sudah sangat lama dia tidak melihat antarmuka sistem ini sejak dia memutuskan untuk keluar dari medan perang perbatasan berdarah.

​"Hei orang bodoh, kenapa kamu malah melamun menatap udara kosong? Cepat kembali mengepel lantai sana!" bentak Riko memecah lamunan Devan.

​Riko dengan sengaja menendang ember air pel di dekat kaki Devan dengan keras.

​Byur!

​Air pel yang kotor dan bau itu tumpah membasahi celana kerja dan sepatu kets usang milik Devan.

​Orang-orang di lobi yang sejak tadi berkerumun menonton drama itu kini mulai tertawa terbahak-bahak.

​"Ya ampun kasihan sekali si Devan, sudah miskin, diselingkuhi, disiram air kotor pula," ucap salah satu karyawan wanita sambil menutupi mulutnya yang tertawa.

​"Itu salahnya sendiri tidak tahu diri berani memacari Siska, level mereka itu ibarat bumi dan langit," sahut karyawan pria lainnya dengan nada mengejek.

​Devan menatap air kotor yang menetes dari sepatunya, lalu perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap mata Riko.

​Tatapan mata Devan yang sedari tadi terlihat sangat datar, kini perlahan berubah menjadi luar biasa tajam dan sedingin bongkahan es abadi.

​Riko tiba-tiba merasakan bulu kuduknya berdiri dan hawa dingin merayap cepat di tengkuknya saat bersitatap dengan Devan.

​Pria berjas itu merasa seolah-olah sedang ditatap oleh seekor monster buas yang siap merobek lehernya kapan saja.

​"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu mau memukulku? Coba saja pukul kalau kamu berani, pesuruh bodoh!" tantang Riko berusaha menutupi rasa takutnya yang tiba-tiba muncul.

​"Riko, kamu baru saja mengotori sepatuku dengan air pel ini." ucap Devan dengan suara bariton rendah yang sangat mengintimidasi.

​"Hah? Terus kenapa kalau sepatumu kotor? Kamu mau aku mengelapnya? Ngaca dong, sepatumu itu harganya tidak lebih mahal dari harga kaos kakiku!" balas Riko mencoba kembali meninggikan suaranya.

​Sebelum Devan sempat mengambil langkah maju untuk meremukkan rahang Riko, suara langkah sepatu yang tegas memecah keributan di lobi.

​Tap! Tap! Tap!

​Suasana lobi yang tadinya sangat bising penuh tawa, dalam sekejap berubah menjadi sunyi senyap seolah ada malaikat maut yang baru saja turun dari langit.

​Dari arah pintu kaca utama, seorang wanita berjalan masuk dengan membawa aura dominan yang luar biasa kuat dan menekan.

​Wajah wanita itu sangat cantik bagaikan pahatan dewi, namun ekspresinya terlihat sangat dingin tanpa ada emosi sedikit pun.

​Dia mengenakan setelan jas kerja wanita berwarna hitam pekat yang sangat pas membalut lekuk tubuh indahnya yang sempurna.

​Itu adalah Clarissa, CEO sekaligus pemegang saham terbesar dari Grup Rajawali yang terkenal bertangan besi dan kejam dalam dunia bisnis.

​Riko segera melepaskan tangannya dari pinggang Siska dan buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Selamat pagi, Bu Clarissa." sapa Riko dengan senyuman penjilat yang paling lebar dan suara yang dibuat seramah mungkin.

​Siska juga ikut menunduk ketakutan, dia sama sekali tidak berani menatap langsung wajah bos besar yang kecantikannya selalu membuat wanita mana pun merasa rendah diri itu.

​Namun, Clarissa sama sekali tidak mempedulikan sapaan Riko.

​Wanita super cantik itu terus melangkah ke depan melewati Riko dan Siska seolah-olah mereka berdua hanyalah seonggok sampah yang tidak terlihat.

​Langkah Clarissa akhirnya berhenti tepat di depan Devan yang masih memegang gagang pel di tangannya.

​Semua orang di lobi menahan napas mereka karena tegang.

​Mereka semua berpikir bahwa CEO dingin itu pasti akan langsung memecat Devan dengan tidak hormat karena membuat keributan bodoh di pagi hari.

​Clarissa menatap Devan dari ujung sepatu ketsnya yang basah, hingga ke ujung rambutnya yang sedikit berantakan.

​"Bawa KTP dan kartu keluargamu sekarang juga." ucap Clarissa dengan suara yang sangat merdu namun penuh dengan perintah mutlak.

​Devan mengerutkan keningnya karena merasa tidak mengerti dengan situasi ini.

​"Untuk apa saya harus membawa KTP saya, Bu CEO?" tanya Devan santai, dia menjadi satu-satunya orang di gedung ini yang berani membalas tatapan mata Clarissa secara langsung.

​Riko membelalakkan matanya ngeri melihat kelancangan Devan.

​"Heh pesuruh bodoh! Jaga nada bicaramu di depan Bu CEO, apa kamu mau mati!" bentak Riko berusaha mencari muka di depan Clarissa.

​"Diam kamu." desis Clarissa tajam tanpa menoleh sedikit pun pada Riko.

​Mendengar desisan sedingin es itu, Riko langsung kicep dan wajahnya berubah pucat pasi karena ketakutan.

​Clarissa kembali memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam mata hitam kelam milik Devan.

​"Kita akan pergi ke kantor catatan sipil sekarang juga." ucap Clarissa dengan nada datar seolah dia hanya sedang membicarakan menu makan siang.

​"Kamu akan menikah denganku hari ini juga, Devan."

​Brak!

​Seorang karyawan di sudut lobi tidak sengaja menjatuhkan tumpukan dokumennya saking terkejutnya mendengar ucapan Clarissa.

​Siska menganga lebar dengan mata melotot seolah bola matanya akan keluar dari sarangnya.

​Riko nyaris pingsan karena kedua kakinya mendadak lemas seperti jeli.

​Sementara itu Devan, sang mantan Dewa Perang yang namanya dulu membuat para jenderal musuh kencing di celana, untuk pertama kalinya dalam hidupnya merasa sangat bingung.

​"Apakah wanita gila ini sedang mabuk pagi-pagi begini?" batin Devan sambil menatap wajah cantik tanpa cacat di hadapannya.

1
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
🥰🥰🥰
Mamat Stone
🤩🤩🤩
Mamat Stone
😈😈😈
Mamat Stone
/Skull//Skull//Skull/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
👻👻👻
Mamat Stone
👊👊👊
Mamat Stone
/Skull//Skull//Skull/
Mamat Stone
/Bomb//Bomb//Skull/
Mamat Stone
👊👊/Skull/
Mamat Stone
🔪🔪/Skull/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
👊👊👊
Mamat Stone
🔪🔪🔪
Mamat Stone
👻👻👻
Mamat Stone
😈😈😈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!