NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dusta yang Dibangun di Atas Darah

Matahari pagi menembus kaca jendela yang retak, menyinari genangan darah kental di lantai ruang kerja. Aroma besi yang pekat membuat udara terasa sangat berat dan menyesakkan dada siapa pun yang bernapas.

Baron Kaelos masih meringkuk di sudut ruangan, tubuh tambunnya bergetar hebat memeluk lututnya sendiri. Pakaian sutranya yang mewah kini basah kuyup oleh keringat dingin dan noda darah yang mulai mengering.

Valerius berdiri dengan tenang di tengah lautan mayat, menatap ke luar jendela dengan mata hitamnya yang kosong. Ia sama sekali tidak merasakan secercah penyesalan atas pembantaian brutal yang baru saja ia selesaikan semalam.

Rasa dingin dari gagang pedang di tangannya memberikan kenyamanan aneh yang menenangkan jiwa gelapnya. Di dunia asalnya, ia membunuh dengan kertas dan manipulasi perintah, namun di Aethelgard, ia menari langsung dengan malaikat kematian.

"Berdirilah, Kaelos," perintah Valerius, suaranya memotong keheningan ruangan seperti pisau bedah yang sangat tajam.

Sang Baron tersentak keras, merangkak dengan susah payah menggunakan tangan dan lututnya yang masih bergetar. Air mata kembali menggenang di kelopak matanya yang bengkak, memancarkan teror absolut terhadap eksistensi pemuda di depannya.

"B-Baik, Tuan Muda," cicit Kaelos dengan suara serak, tak berani menatap langsung ke arah mata kelam Valerius. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, memperlihatkan kepatuhan total layaknya seekor anjing yang telah dipukuli habis-habisan.

Valerius menyeringai tipis, menikmati aura hijau redup yang kini sepenuhnya tergantikan oleh abu-abu keputusasaan dari tubuh Kaelos. Manipulasi mentalnya telah menancap sempurna hingga ke akar kesadaran terdalam milik sang penguasa benteng.

"Panggil prajurit penjaga terpercayamu untuk membersihkan sampah-sampah kotor di ruangan ini," ucap Valerius seraya menendang sebuah kepala terpenggal di dekatnya.

Kaelos menelan ludah dengan susah payah, wajahnya kembali memucat melihat potongan tubuh manusia yang berserakan di karpet merahnya. "A-Apa yang harus kukatakan pada mereka tentang... tentang semua kekacauan berdarah ini, Tuan?"

"Katakan pada mereka bahwa para utusan itu mencoba membunuhmu untuk merebut kekuasaan mutlak Benteng Besi Hitam," jawab Valerius dengan nada sangat tenang. "Lalu katakan bahwa para pengawal rahasia keluargaku yang bersembunyi di dalam bayangan telah turun tangan menyelamatkan nyawamu."

Otak Kaelos yang tumpul perlahan memproses kebohongan brilian yang disodorkan secara elegan oleh Valerius barusan. Ia mengangguk cepat dengan napas terengah-engah, menyadari bahwa dusta itu akan memulihkan dan menyelamatkan reputasinya di depan anak buahnya sendiri.

Valerius berjalan pelan ke arah pintu yang hancur, melangkah keluar meninggalkan Kaelos yang masih gemetar di tengah lautan mayat. Ia membutuhkan tempat yang sepi dan tenang untuk memeriksa hadiah baru yang diberikan oleh sistem terkutuknya.

Lorong batu benteng terasa sangat dingin pagi ini, namun tubuh Valerius kini dialiri oleh kehangatan Mana yang melimpah ruah. Ia berjalan kembali menuju kamarnya dengan elegan, memastikan setiap langkahnya tidak meninggalkan jejak sepatu berdarah yang mencurigakan.

Setibanya di dalam kamar, Valerius mengunci sisa pintu kayu yang rusak itu dengan sebuah palang besi berkarat tua. Ia duduk bersila di atas ranjang pesakitannya, memejamkan mata untuk memanggil layar antarmuka sistem di dalam pikirannya.

Layar merah darah langsung menyala terang benderang, menampilkan barisan teks holografik yang merangkum hasil manis pembantaiannya.

[Item Khusus: Belati Penyedot Jiwa (Tingkat Rendah) tersedia untuk ditarik dari ruang penyimpanan dimensi.]

Valerius memerintahkan sistem di otaknya untuk mengeluarkan senjata iblis tersebut menembus batas ke dunia nyata. Seketika, gumpalan asap hitam pekat yang berbau seperti belerang muncul berputar di atas telapak tangannya yang terbuka.

Asap magis itu memadat secara perlahan, membentuk sebuah belati pendek dengan desain melengkung yang sangat mengerikan. Bilah belati itu berwarna sehitam batu obsidian, sama sekali tidak memantulkan cahaya seolah menyerap segala keputusasaan di sekitarnya.

Gagangnya terbuat dari ukiran tulang monster tak dikenal yang dibentuk menyerupai jeritan wajah manusia yang sedang disiksa dalam neraka. Saat Valerius menggenggam gagang tulang yang kasar itu, ia bisa merasakan ada denyut nadi dingin yang berdesir di telapak tangannya.

Belati aneh ini bukan sekadar benda mati dari logam, melainkan sebuah entitas parasit yang haus akan energi kehidupan makhluk bernapas. Sistem kembali memberikan informasi tambahan melalui rentetan huruf merah bercahaya yang berkedip di sudut matanya.

[Efek Pasif Senjata: Setiap sayatan belati ini akan menyerap Mana target secara agresif dan mentransfernya langsung kepada Host.]

[Efek Aktif (Kutukan Agoni): Jika belati menusuk organ vital, target akan merasakan sakitnya jiwa yang ditarik paksa dari raga sebelum mati.]

"Senjata yang sangat pas dan puitis untuk seorang pendosa sepertiku," gumam Valerius dengan seringai iblis yang melebar di wajahnya. Ia memasukkan belati menakutkan itu ke dalam sarung kulit khusus di balik jubahnya, menyembunyikan taring barunya dari pandangan dunia.

Di luar kamar, suara teriakan panik dan derap langkah serampangan sepatu bot baja mulai terdengar saling bersahutan di lorong. Kaelos rupanya telah memanggil para prajurit jaga terpilih, dan mereka kini menemukan pemandangan neraka di ruang kerja sang Baron.

Valerius bisa membayangkan dengan jelas wajah pucat pasi para prajurit itu saat melihat sepuluh mayat pembunuh profesional tercincang tak keruan. Ketakutan itu dipastikan akan menyebar bagai wabah penyakit, menanamkan ilusi bahwa Valerius dilindungi oleh pasukan bayaran elit yang tak kasatmata.

Itulah inti utama dari teater boneka psikologis yang sedang ia mainkan di pos perbatasan yang terisolasi ini. Ia menciptakan ilusi pasukan hantu di benak musuh-musuhnya, membuat mereka menebak-nebak kekuatan aslinya yang sebenarnya sangat terbatas.

Menjelang waktu siang, langit Aethelgard yang biasanya memancarkan sinar cerah kini tertutup penuh oleh awan kelabu tebal yang muram. Hujan mulai turun dengan deras membasahi halaman berbatu, mencuci sisa-sisa darah yang sempat menetes di area luar gerbang benteng.

Pintu kamar Valerius diketuk dengan sangat pelan dan diiringi nada penuh keraguan dari arah luar. "T-Tuan Muda, ini saya... pelayan Anda, Kaelos," panggil suara serak sang Baron, secara sukarela merendahkan derajatnya sendiri.

"Masuklah," sahut Valerius tanpa beranjak sedikit pun dari posisi duduk meditasinya yang tenang di atas ranjang kayu.

Kaelos mendorong engsel pintu perlahan, wajahnya masih memucat ketakutan meski ia telah berganti pakaian dengan jubah sutra yang bersih. Di tangannya yang gemuk, ia membawa sebuah nampan perak berisi gulungan perkamen kosong, pena bulu, dan sebotol tinta hitam.

"Prajuritku telah mengubur sisa daging kotor mereka di dasar jurang beracun sesuai perintah Anda, Tuan," lapor Kaelos dengan suara bergetar pelan. Ia menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata kelam Valerius yang sedang mengamatinya lekat seperti seekor elang pemangsa.

"Kerja yang bagus," jawab Valerius singkat, nada suaranya mengisyaratkan sebuah otoritas mutlak milik raja yang tak bisa dibantah. "Sekarang letakkan nampan itu di atas meja kayu, kita harus segera merangkai balasan surat cinta untuk kakakku yang manis."

Kaelos bergegas meletakkan nampan tersebut, namun tangannya yang terus gemetar membuat botol tinta berdenting pelan beradu dengan nampan perak. "A-Apa yang harus kutulis untuknya, Tuan Muda?"

Valerius bangkit dari ranjang pesakitan, berjalan perlahan mendekati meja dengan langkah senyap yang membuat Kaelos secara naluriah menahan napas. Ia sama sekali tidak menyentuh tinta hitam yang dibawa oleh Baron, melainkan mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari saku celananya.

Botol kecil itu ternyata berisi cairan kental berwarna merah gelap, yang diam-diam ia kumpulkan dari darah pemimpin pembunuh bermata satu semalam. Ia membuka sumbat gabus botol itu santai, membiarkan bau anyir darah segar menyebar tajam memenuhi ruangan yang sempit tersebut.

Kaelos tersentak mundur menabrak dinding kayu karena terkejut, wajahnya memancarkan rasa jijik dan kengerian yang berbaur menjadi satu. "Dewa Keadilan... i-itu darah manusia sungguhan?" bisiknya ngeri meremas dadanya sendiri.

"Darah utusan kesayangan kakakku, lebih tepatnya," koreksi Valerius datar sambil mencelupkan ujung pena bulu ke dalam botol kaca tersebut. "Tinta berupa darah memberikan sentuhan emosional yang jauh lebih tulus untuk menyampaikan sebuah ancaman kematian berkelas."

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!