NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan

Di antara ribuan dewa dan dewi yang menghuni Alam Dewa, ada satu nama yang tidak pernah diucapkan sembarangan. Tapi sayangnya itu bukanlah karena tabu, melainkan karena rasa hormat yang terlalu dalam untuk diungkapkan dengan nada biasa. Nama itu adalah Zhao Fei, Yang Mulia Petir Abadi.

Selama sepuluh ribu tahun, langit Alam Dewa menjadi miliknya. Petir biru yang memancar dari telapak tangannya mampu membelah awan sejauh mata memandang, menghancurkan benteng dalam satu denyutan. Ketika dia berjalan melewati aula besar perguruan, para murid yang berjumlah ratusan itu kompak menunduk, dan ketika namanya disebut dalam pertemuan para dewa, tidak ada yang berani merespons dengan nada datar. Bahkan dewa-dewi yang usianya hampir setara pun memilih memperhalus suara mereka.

Perguruan yang dia pimpin adalah yang terbesar. Ratusan murid tingkat atas menganggapnya langit kedua mereka. Ratusan selir yang tinggal di pavilion timur tak pernah berhenti bersyukur atas nasib mereka. Hidupnya, dari sudut pandang siapa pun, adalah kesempurnaan yang tidak perlu ditambah apa-apa lagi.

Kendati demikian, dari semua yang ada di sekelilingnya, hanya satu yang benar-benar dia percaya, dan namanya adalah Li Tianming.

Murid itu datang ketika masih kecil, hampir tak punya apa-apa. Zhao Fei yang membesarkannya, membimbingnya, mengajarkan setiap teknik kultivasi yang dimilikinya. Selama ribuan tahun, Li Tianming tumbuh menjadi murid paling berbakat dan paling setia yang pernah ada. Jika Zhao Fei adalah langit, maka Li Tianming adalah bintang yang paling dekat dengannya, yang selalu ada setiap kali matanya memandang ke atas.

Hari itu tidak ada yang istimewa.

Zhao Fei sedang duduk bersila di ruang pribadinya, tenggelam dalam kultivasi sore yang sudah menjadi rutinitas sejak berabad-abad lalu. Tidak ada pertempuran, ancaman, atau firasat apa pun yang mengganggu ketenangan pikirannya. Angin di luar jendela bertiup seperti biasa. Suara gemerisik daun bambu di taman terdengar seperti bisikan yang menenangkan.

Li Tianming masuk tanpa mengetuk pintu, seperti yang selalu dia lakukan karena memang sudah diberi izin bertahun-tahun lalu. Zhao Fei tidak membuka matanya saat berkata dengan tenang, "Duduk saja dulu. Aku hampir selesai."

Meski tidak ada jawaban, Zhao Fei tetap menganggap itu hal biasa. Li Tianming memang bukan orang yang banyak bicara.

Sampai sesuatu yang dingin menembus punggungnya.

Rasa sakitnya bukan seperti ditusuk benda biasa. Rasanya seperti ribuan serpihan es yang menerobos masuk ke dalam rongga dadanya sekaligus, menghancurkan apa pun yang mereka sentuh. Zhao Fei membuka matanya untuk menatap ke depan, ke arah dinding ruangan yang tiba-tiba tampak asing, seolah baru pertama kali dia melihatnya.

Perlahan, dia menoleh ke belakang.

Li Tianming berdiri di sana dengan ekspresi hampa. Sementara belati di tangannya masih menancap kuat.

"Ke-kenapa?" Suara Zhao Fei keluar lebih pelan dari yang dia inginkan.

Lalu Li Tianming menarik belatinya. Darah mengalir. Matanya menatap gurunya dengan sesuatu yang menyerupai permohonan, tapi tanpa air mata.

"Maafkan aku, Guru."

Hanya itu. Dua kata. Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan. Seperti seseorang yang menutup buku setelah selesai membacanya, dingin dan tuntas.

Akhirnya Zhao Fei tumbang. Sepuluh ribu tahun berkultivasi, sepuluh ribu tahun berdiri di puncak, berakhir di sini. Di ruang pribadinya sendiri. Di tangan murid yang paling dia sayangi.

Kegelapan pun menyambutnya tanpa ada langit, bumi, tanpa adanya arah, selain genangan air tipis di bawah kakinya yang terasa nyata, memantulkan tidak ada apa pun. Zhao Fei berdiri di sana dengan napas yang entah masih ada entah tidak.

Lalu sebuah suara hadir dari mana-mana sekaligus, seperti udara yang tiba-tiba memutuskan untuk berbicara.

"Zhao Fei. Yang Mulia Petir Abadi."

Zhao Fei tidak menjawab segera. Dia menatap kegelapan di hadapannya dengan ekspresi yang selalu menjadi cirinya, tenang seperti danau sebelum badai yang tidak pernah benar-benar datang. "Apa yang terjadi padaku?"

"Hukum karma tidak buta," kata suara itu. "Pengkhianatan telah terjadi. Hutang darah telah tercatat. Kau mati dalam kondisi yang tidak sewajarnya."

"Lalu… apa maksudnya semua itu?"

"Maka kau diberi pilihan. Bukan karena kau layak dikasihani, melainkan karena keseimbangan menghendakinya." Suara itu berhenti beberapa hitungan jari. "Ada tubuh di dunia bawah. Seorang pemuda bernama Zhao Fei juga. Dia akan mati malam ini, dan rohmu bisa mengisinya."

Zhao Fei memejamkan matanya sebentar. "Bagaimana jika aku menolak?"

"Kau lenyap selamanya. Bahkan namamu tidak akan tersisa."

Tidak ada nada ancaman dalam kalimat itu selain pernyataan polos. Tapi justru karena itulah Zhao Fei tahu bahwa suara ini tidak sedang berbohong.

"Aku tidak punya pilihan lain," katanya setelah menimbang-nimbang. "Tidak."

Zhao Fei menghela napas. Sepuluh ribu tahun hidup telah mengajarinya satu hal, bahwa ada saatnya bertahan bukan berarti menang, melainkan hanya memastikan kau masih ada untuk bertarung di hari berikutnya.

"Baiklah kalau begitu."

Kesadarannya mulai pudar. Tapi sebelum sepenuhnya lenyap, suara itu menyampaikan satu kalimat terakhir yang terdengar seperti gema dari kedalaman yang tak terhingga.

"Jangan sia-siakan kesempatan ini."

Di pinggiran wilayah Klan Zhao, hidup seorang pemuda yang namanya hanya disebut orang-orang ketika ingin mencibir.

Zhao Fei berusia dua puluh tahun, tidak punya bakat kultivasi, tidak punya uang, tidak punya wajah yang membuat orang berpaling dua kali. Dia tumbuh besar di antara saudara-saudaranya yang menikah lebih dulu, sementara dia hanya bisa duduk di sudut pesta pernikahan mereka sambil mencoba sekeras mungkin agar tidak terlihat. Bahkan janda termiskin di kampung pun pernah menolaknya dengan alasan yang cukup untuk membuatnya tidak tidur seminggu.

Satu-satunya yang tidak memperlakukannya seperti sampah adalah ibunya yang bernama Ming Lianhua. Wanita empat puluh tujuh tahun yang sudah lama sakit-sakitan itu selalu menyiapkan nasi untuknya meski tubuhnya sendiri sering tidak kuat berdiri lama.

Ketika Ming Lianhua jatuh sakit lebih parah dari biasanya, Zhao Kun dan Zhao Jie datang menemui adik bungsu mereka dengan senyuman yang tidak pernah terlihat ramah.

"Sudah saatnya kau berguna untuk keluarga ini," kata Zhao Kun, menyerahkan selembar peta dengan tampilan seperti orang yang sedang beramal. "Di Hutan Terlarang ada bunga yang bisa menyembuhkan ibu. Lokasinya sudah kami tandai di kertas itu."

Zhao Jie menambahkan dengan nada yang terdengar tulus tapi terasa seperti menampar, "Masa iya kau mau biarkan ibu terus menderita?"

Zhao Fei yang bodoh dan polos itu mengambil peta tersebut tanpa curiga. Ditatapnya nama-nama tempat yang tertulis di sana. Lalu dia berangkat, karena baginya, tidak ada alasan lain yang lebih besar dari kesembuhan ibunya.

Tanpa sekalipun berpikiran jika peta itu palsu.

Di dalam Hutan Terlarang, tidak ada bunga. Yang ada hanya pohon-pohon gelap yang rapatnya seperti tembok penjara, dan aroma tanah basah yang menempel di setiap Langkah itu membuat dirinya tersesat dalam hitungan jam. Langkah kakinya makin berat, makin tidak yakin.

Hingga kemudian datanglah seekor makhluk rendahan yang bahkan tidak punya nama khusus di dalam naskah kultivasi mana pun. Tapi cukup untuk mengakhiri hidup seorang pemuda yang tidak punya pertahanan apa pun. Cakar beruang berkulit batu itu menembus dada Zhao Fei dengan mudah, seperti menembus kertas.

Zhao Fei jatuh ke tanah, diikuti darah yang mengalir hangat di bawah punggungnya. Sementara langit di atas Hutan Terlarang terlihat jauh sekali, saat napasnya makin pendek.

"Ibu… maafkan aku," bisiknya kepada langit yang tidak menjawab. "Anakmu telah gagal."

Matanya terpejam.

Tepat pada saat jantungnya berhenti, sesuatu menyambar dari langit.

Cahaya petir emas yang tidak seharusnya ada di tempat ini, tidak ada awan, apalagi hujan, turun lurus menghantam tubuh yang sudah tak bernyawa itu.

Kemudian mata Zhao Fei terbelalak.

Tapi bukan mata pemuda bodoh yang dulu. Yang ada di dalam mata itu sekarang adalah kedalaman sepuluh ribu tahun, ketenangan seorang dewa yang sudah melihat terlalu banyak untuk merasa takut pada hal-hal kecil.

Dadanya berlubang. Tubuh ini sakit luar biasa, seperti mengenakan baju yang tiga ukuran terlalu kecil. Tapi dia masih hidup.

Zhao Fei memandang tangannya sendiri dengan perasaan asing yang aneh. Kurus. Kotor. Penuh luka. Tangan seorang pemuda miskin yang tidak pernah menyentuh teknik kultivasi apa pun, alih-alih tangan dewa.

Jadi ini dunia bawah. Pikirannya bekerja untuk menyesuaikan diri. Dan tubuh ini rupanya baru saja mati.

Monster di depannya masih berdiri, bingung melihat mangsanya bangkit.

Zhao Fei menatap makhluk itu dengan tatapan datar. Lalu dia mengepalkan tangan kanannya. Kekuatannya tidak ada seperempat dari yang dulu. Bahkan seperseribu pun belum tentu. Tapi di ujung jarinya, petir biru menyala, berkedip seperti nyala lilin di tengah angin dan meledakkan binatang buas itu dalam satu kali serangan.

"Aku tidak tahu di mana aku berada," katanya kepada dirinya sendiri, suaranya serak karena tubuh ini belum terbiasa dengan penghuninya yang baru. "Aku tidak tahu apa yang menanti. Tapi satu hal yang sudah pasti..."

Petir di ujung jarinya makin terang.

"...aku tidak akan mati untuk kedua kali."

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!