NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 10

Pagii hari di rumah itu selalu berhasil menipu Siska. Setiap kali matahari terbit dan menyiram ruang tengah dengan cahayanya yang hangat, semua kengerian malam seolah-olah menguap tanpa bekas.

​Seperti pagi ini. Mas Ferdi sudah rapi dengan kemeja kerjanya, sedang duduk di meja makan sambil menikmati kopi hitam. Di dekatnya, Mbak Selfi tampak begitu segar dan anggun. Sambil menggendong bayi Doni, tangan kirinya dengan luwes menyuapi Mas Ferdi sepotong roti bakar. Senyumnya begitu tulus, suaranya lembut, dan wajah keibuannya memancarkan kebahagiaan yang sangat nyata.

​"Mas berangkat dulu ya, Sel. Siska, kalau pusing kuliahnya jangan dipaksakan, istirahat saja di rumah," pamit Ferdi sambil mengecup kening istri dan anaknya secara bergantian, lalu melangkah keluar.

​Siska yang duduk di sudut meja makan hanya bisa mengangguk pelan. Dia memandangi Mbak Selfi yang kini sedang menimang Doni dengan penuh kasih sayang. Jika ada orang asing yang masuk ke rumah ini pada jam delapan pagi, mereka pasti akan mengira keluarga ini adalah keluarga kecil paling bahagia di dunia.

​Namun, Siska tahu ada harga yang harus dibayar untuk ketenangan di pagi hari ini.

​Begitu malam menjemput dan jam dinding melewati angka dua belas, seluruh kehangatan itu mati. Rumah tua ini mendadak berubah menjadi tempat yang sangat dingin dan asing.

​Malam itu, Siska sengaja tidak tidur. Dia duduk mematung di kamarnya di lantai dua, sengaja mematikan lampu agar bisa mengawasi situasi dalam kegelapan. Tepat pukul satu dini hari, hawa sedingin es mulai menembus sela-sela pintu kamarnya. Dan benar saja, dari arah lantai bawah, suara itu terdengar lagi.

​Srek... srek... srek...

​Bukan di atas plafon, bukan pula suara tikus. Itu adalah suara seretan langkah kaki yang sangat lambat dari arah kamar utama. Siska memberanikan diri untuk turun. Tanpa alas kaki, dia melangkah satu demi satu melewati anak tangga kayu dengan napas tertahan.

​Siska mengintip dari celah pintu kamar utama yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit. Di dalam kamar yang remang-remang, Mas Ferdi tidur begitu nyenyak—atau lebih tepatnya, seperti sedang dibuat mati rasa oleh kekuatan gaib. Sementara itu, Mbak Selfi sedang berdiri di sudut kamar, tepat di depan cermin oval lemari rias kuno.

​Tubuh Mbak Selfi tampak sangat kaku. Tangan kanannya yang memakai cincin permata merah terangkat tinggi, menghadap langsung ke arah cermin. Kulit di jari manisnya kini sudah sepenuhnya berwarna abu-abu pucat, seperti kulit mayat yang sudah lama membusuk.

​Yang membuat Siska merinding, Mbak Selfi sedang berbicara dengan pantulan dirinya sendiri di cermin. Suaranya bukan lagi suara lembut yang Siska dengar tadi pagi, melainkan suara yang berat, serak, dan bergetar.

​"Darah... dia sudah meminum darahku..." bisik Mbak Selfi pada cermin kosong itu.

​Lalu, Mbak Selfi berjalan mendekati boks bayi. Tanpa ragu, dia mengarahkan jari manisnya yang abu-abu ke dalam mulut bayi Doni. Doni yang masih berumur satu bulan itu langsung menyusu pada jari yang pucat tersebut. Bayi itu tidak menangis, dia justru mengisapnya dengan rakus dalam kegelapan malam, seolah-olah apa yang keluar dari jari ibunya adalah makanan paling nikmat.

​Siska membekap mulutnya sendiri, air matanya menetes deras karena ngeri. Dia segera berlari kembali ke lantai atas dan mengunci diri hingga pagi tiba.

​Ketika pagi datang kembali, semuanya kembali normal secara ajaib. Mbak Selfi kembali tersenyum, menyapu rumah, dan membuatkan sarapan. Telapak tangannya bersih, tidak ada luka, dan tidak ada warna abu-abu di jarinya saat terkena sinar matahari. Dua wajah yang bertolak belakang ini membuat Siska mulai merasa seperti orang gila yang berhalusinasi.

​Namun, menginjak minggu kelima, keanehan itu tidak lagi hanya terjadi pada Mbak Selfi. Teror itu mulai menular pada bayi Doni, bahkan di siang hari yang terang benderang.

​Sore itu, Mas Ferdi belum pulang kerja. Mbak Selfi sedang mandi di kamar mandi bawah, dan Siska diminta untuk menjaga Doni di ruang tengah. Bayi mungil itu diletakkan di atas kasur lipat yang digelar di lantai.

​Siska duduk di samping keponakannya, mencoba menghibur diri dengan memandangi wajah lucu Doni. Bayi itu tampak tenang, mengenakan baju terusan bermotif beruang yang imut. Namun, ketika Siska mencoba meraih tangan mungil Doni untuk mengajaknya bermain, bayi itu tiba-tiba menggerakkan tubuhnya.

​Doni tidak menggeliat seperti bayi normal.

​Perlahan-lahan, bayi yang baru berumur beberapa minggu itu membalikkan badannya sendiri menjadi posisi telungkup. Gerakannya sangat cepat dan kaku, mirip seperti boneka yang digerakkan oleh tali tak kasat mata. Siska tertegun, menahan napasnya. Jantungnya mulai berdegup kencang karena tahu seorang bayi berumur satu bulan tidak mungkin bisa tengkurap sendiri dengan begitu lancar.

​Tidak sampai di situ, Doni mulai menggerakkan kedua kaki mungilnya.

​Siska menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua lutut bayi Doni mendadak menekuk ke arah yang salah. Tulang-tulang kakinya yang kecil bergeser secara gaib dari dalam kulitnya, meliuk patah ke dalam seperti huruf 'C'.

​Dengan kondisi kaki yang cacat dan patah itu, Doni mulai merangkak maju di atas kasur lantai. Setiap kali tubuh mungilnya bergeser, bagian kakinya yang bengkok bergesekan dengan kain kasur, menciptakan sebuah suara yang teramat sangat akrab di telinga Siska selama ini.

​Srek... srek... srek...

​Siska spontan berdiri dan mundur hingga menabrak meja tv. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, wajahnya memucat seketika. "Doni..." bisik Siska dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

​Bayi Doni menghentikan gerakannya tepat di ujung kasur. Dia mendongakkan kepalanya yang terasa terlalu berat, menatap lurus ke arah Siska. Perlahan, kelopak mata bayi itu terbuka lebar.

​Dua bola matanya yang semula hitam legam dan lucu, kini telah berubah total. Di siang hari yang cerah itu, sepasang mata Doni menyala dengan warna merah darah yang sangat pekat dan berkilau, menatap Siska dengan tatapan yang dingin, kosong, sekaligus penuh dengan rasa lapar yang mengerikan. Bayi itu membuka mulut mungilnya, mengeluarkan suara geraman rendah yang sangat serak, sama sekali bukan suara tangisan seorang bayi manusia.

​Siska ingin menjerit, namun suaranya hilang. Tepat pada saat ketakutannya memuncak, pintu kamar mandi terbuka.

​Cklek.

​Mbak Selfi keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Begitu mendengar suara pintu, bayi Doni dengan gerakan secepat kilat kembali membalikkan tubuhnya menjadi terlentang. Kaki-kakinya kembali lurus dan normal dalam sekejap, dan matanya kembali menjadi hitam legam yang suci. Doni kemudian mengeluarkan suara rengekan kecil yang sangat menggemaskan, seolah-olah dia baru saja terbangun dari tidur siangnya.

​Mbak Selfi berjalan menghampiri kasur, lalu menggendong bayinya dengan penuh kasih sayang. "Eh, anak pintar sudah bangun ya? Haus ya sayang?" kata Mbak Selfi dengan suara lembutnya yang biasa di pagi hari.

​Siska masih berdiri mematung di dekat meja tv dengan napas yang terengah-engah. Dia memandangi keponakannya yang kini sedang tersenyum lucu di pelukan ibunya. Siska tahu pasti, apa yang baru saja dia lihat bukanlah mimpi ataupun halusinasi.

​Teror pesugihan cincin kuno itu tidak lagi bersembunyi di dalam lemari rias atau di dalam kegelapan malam. Kutukan itu kini telah merasuki darah daging di rumah ini, dan secara perlahan tapi pasti, makhluk di dalam tubuh bayi Doni sedang tumbuh menanti hari keseratusnya tiba.

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!