Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Perburuan di Hutan Salju
Terompet tanduk kerbau bergema keras, memecah kesunyian Hutan Perburuan Kekaisaran yang berselimut salju tebal. Kuda-kuda jantan milik para pangeran dan jenderal meringkik, melesat maju membelah badai putih tak lama setelah kaisar melepaskan anak panah pertama sebagai tanda dimulainya ritual perburuan musim dingin.
Lin Meilin berjalan dengan tenang di atas tumpukan salju yang membeku. Ia tidak menunggangi kuda, melainkan melangkah perlahan dengan alasan "tubuhnya masih terlalu lemah untuk menunggang kuda" kepada pengawas Ibu Suri. Di tangannya, ia memegang sebuah busur kayu ringan kuno yang sengaja dipilihkan oleh pelayan Selir Hua—busur dengan tali busur yang sudah agak kendur dan rapuh, hampir tidak berguna untuk menjatuhkan seekor kelinci sekalipun.
"Permaisuri, kita sudah terlalu jauh memisahkan diri dari rombongan utama. Area di depan ini adalah Zona Barat," bisik Xiao Cui dengan suara bergetar karena hawa dingin dan ketakutan.
Meilin berhenti, menatap barisan pohon pinus yang rapat di depannya. Salju yang menempel di dahan-dahan pohon tampak berguguran pelan, tertiup angin malam yang membawa firasat buruk.
"Xiao Cui, tunggu di balik batu besar di dekat perbatasan sana. Jangan keluar sampai aku memanggilmu," perintah Meilin, nadanya sangat tenang namun tidak menerima bantahan.
"Tapi, Permaisuri—"
"Pergilah. Kau hanya akan menghambat gerakanku jika tetap di sini," potong Meilin tajam.
Setelah Xiao Cui bersembunyi dengan aman, Meilin melangkah sendirian memasuki kegelapan Zona Barat. Setiap langkah kakinya sengaja dibuat menyisakan jejak yang jelas di atas salju, sebuah umpan matang untuk memancing para pemburu yang bersembunyi di balik bayang-bayang.
Syuut!
Suara desingan tipis membelah udara dingin dari arah jam dua. Kecepatan reaksi Meilin yang terlatih sebagai mantan agen elit The Ghost langsung bangkit. Ia menekuk lututnya, menjatuhkan tubuhnya ke samping dengan gerakan berguling yang sangat lincah di atas salju.
Tleb!
Sebuah anak panah dengan ujung besi hitam legam menancap dalam di batang pohon pinus tepat di tempat Meilin berdiri satu detik yang lalu. Cairan hijau pekat yang merembes di ujung anak panah tersebut langsung membuat kulit pohon menghitam—Racun Kala Jengking Hitam, racun mati rasa instan yang sangat mematikan.
"Target menghindar! Kepung dia!" sebuah teriakan serak terdengar dari balik semak-semak.
Lima pria bertubuh kekar mengenakan pakaian pelindung kulit tanpa lencana militer melompat keluar dengan pedang terhunus di tangan mereka. Mereka adalah para pembunuh bayaran profesional yang disewa khusus oleh Menteri Hua untuk memastikan jasad Permaisuri Lin ditemukan terkubur di bawah tumpukan salju hutan ini.
Meilin bangkit berdiri, menyeka sisa salju yang menempel di jubah putih pudar miliknya. Alih-alih panik atau berteriak meminta tolong, sepasang mata elangnya justru memancarkan kilatan kegembiraan bertempur yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak bertransmigrasi.
"Hanya lima orang?" Meilin mencemooh, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat meremehkan. "Selir Hua benar-benar terlalu pelit dalam menghargai nyawaku."
"Mati saja kau, jalang!" Pemimpin pembunuh itu menerjang maju dengan tebasan pedang vertikal yang kuat, berniat membelah tubuh ramping Meilin menjadi dua bagian.
Namun, Meilin tidak menggunakan busur rapuh di tangannya untuk menangkis. Ia melempar busur itu tepat ke arah wajah sang pembunuh untuk merusak fokus pandangannya. Saat penglihatan musuh terganggu selama setengah detik, Meilin melangkah maju dengan cepat masuk ke zona buta musuh, menangkap pergelangan tangan pria itu, dan memutarnya dengan memanfaatkan berat tubuh lawan.
Klek! Ahkk!
Bunyi patah tulang yang mengerikan terdengar disusul teriakan kesakitan. Meilin merebut pedang baja dari tangan pria itu, lalu dengan satu gerakan putaran tubuh yang sangat anggun dan terukur, ia menebaskan mata pedang tersebut tepat ke arah tenggorokan pembunuh kedua yang mencoba menyerangnya dari samping.
Sleb!
Darah segar menyembur keluar, menodongkan warna merah kontras di atas hamparan salju putih yang suci. Pembunuh kedua langsung ambruk, tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan suara.
Tiga pembunuh yang tersisa tertegun ngeri. Kecepatan eksekusi, akurasi gerakan, dan ketenangan dingin yang ditunjukkan oleh wanita di depan mereka sama sekali tidak menyerupai manusia biasa. Ini adalah teknik pembantaian paling efisien yang pernah mereka lihat seumur hidup mereka.
---
Sementara itu, di atas dahan pohon ek tua raksasa yang tidak jauh dari lokasi pertempuran, sesosok pria tinggi jangkung berjubah bulu hitam pekat sedang duduk bertumpu pada satu kaki sambil memegang busur naga emasnya. Pria itu adalah Kaisar Long Feng. Ia telah mengikuti Meilin secara rahasia semenjak wanita itu memisahkan diri dari rombongan utama.
Long Feng menatap jalannya pertempuran di bawahnya dengan mata elang yang berkilat penuh ketakutan yang bercampur takjub.
Ia melihat bagaimana permaisurinya bergerak seolah-olah sedang menari di tengah badai salju. Setiap ayunan pedang Meilin tidak membuang tenaga sedikit pun; gerakan merunduk, memutar, dan menikam semuanya didasari oleh perhitungan mekanis tubuh yang sangat sempurna. Ditambah dengan aliran Qi dasar yang mulai matang di tubuh wanita itu, Meilin menjelma menjadi dewa kematian yang sangat indah di dalam hutan ini.
"Luar biasa..." bisik Long Feng, suara baritonnya bergetar rendah oleh gairah ketertarikan yang semakin tidak terbendung. "Lin Meilin, kau benar-benar permata paling berbahaya yang pernah kusimpan di dalam istanaku."
Di bawah, pembunuh ketiga mencoba menembakkan panah dari jarak dekat ke arah punggung Meilin saat wanita itu sedang melumpuhkan pembunuh keempat.
Melihat bahaya yang mengancam rubah kecilnya, mata Long Feng menyipit tajam. Tanpa ragu, ia menarik tali busur naga emasnya dengan satu gerakan halus, menyalurkan Qi internalnya yang padat ke ujung anak panah.
Syuuut! Blar!
Anak panah milik Kaisar melesat secepat kilat, menghantam dada pembunuh ketiga dengan kekuatan ledakan angin Qi yang begitu besar hingga tubuh pria itu terlempar beberapa meter ke belakang dan menabrak pohon dengan keras sebelum akhirnya tewas.
Meilin tersentak, refleks berputar dan menatap ke arah dahan pohon ek tua tempat anak panah itu berasal. Di sana, ia melihat siluet tinggi besar Long Feng yang berdiri tegak di bawah siraman cahaya matahari musim dingin yang menembus sela-sela dahan pohon.
Long Feng melompat turun dari dahan pohon setinggi sepuluh meter tersebut, mendarat di atas salju tanpa menimbulkan suara sedikit pun, membuktikan tingkat kultivasi kekuatan dalamnya yang sudah mencapai taraf puncak. Ia berjalan mendekati Meilin dengan senyuman misterius yang sarat akan dominasi.
"Tampaknya aku datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkan permaisuriku yang 'lemah dan sakit-sakitan' ini," ujar Long Feng dengan nada menyindir yang sangat kental, matanya menyapu empat mayat pembunuh yang berserakan di sekitar kaki Meilin.
Meilin menurunkan pedang berdarah di tangannya, matanya menyipit penuh kewaspadaan. "Tuan Sipir... atau haruskah aku memanggilmu Yang Mulia Kaisar Long Feng sekarang?" tembak Meilin langsung, mengunci pandangan matanya pada lencana naga kecil yang kini sengaja dipasang Long Feng di sabuk jubah hitamnya.
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
semangat ya
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?
Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.
Hamba butuh dukungan kalian
semangat thor nulisnya nya🤭
kalo berkenan mampir thor😉